Share

Bab 10 - Perintah Bos Besar

Author: Andriyani
last update publish date: 2026-08-11 22:51:03

TOK! TOK! TOK!

Gedoran pintu beruntun menggelegar di sepanjang koridor lantai empat sebuah gedung apartemen. Anton sudah mengetuknya berkali-kali, tetapi penghuni di balik pintu kayu berlapis vinil cokelat tua di hadapannya ini tak kunjung merespons tamunya.

David yang berdiri di samping Anton mulai kehilangan kesabaran. Matanya berkilat tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu.

“Menyingkir,” geramnya dingin.

Sebelum Anton sempat merespons, David sudah mengambil alih. Ia mengangkat lengannya lalu menghantamkan buku-buku jarinya ke pintu dengan sangat brutal.

BAM! BAM! BAM!

Suara benturan keras itu bergema hebat di sepanjang lorong. Sampai-sampai beberapa pintu unit di sekitar mereka mendadak terbuka sedikit. Wajah-wajah tetangga yang penasaran sekaligus cemas mengintip keluar, memandangi David yang seperti orang kesetanan. Namun, tatapan maut yang dilayangkan Anton ke arah mereka cukup untuk membuat orang-orang itu kembali menutup pintu rapat-rapat.

Usaha kasar David ternyata membuahkan hasil.

“Ya, ya, aku datang! Tunggu sebentar!”

Tidak lama setelah sahutan bernada kesal itu terdengar dari dalam, menyusul suara kunci berputar secara kasar. Hingga akhirnya pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Bobi dengan wajah merah padam.

Pria bertubuh agak gempal itu berdiri tanpa mengenakan baju—hanya memakai celana pendek linen yang kusut. Rambutnya berantakan dan matanya menyipit, jelas-jelas baru saja dibangunkan secara paksa dari tidur nyenyaknya.

“Anjing gila mana yang berani mengganggu....”

Kalimat Bobi terhenti seketika. Matanya membelalak lebar saat kesadarannya terkumpul penuh dan mengenali siapa yang berdiri di ambang pintu. Umpatan yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak tertelan kembali.

“Bo-Bos... Bos Besar!?” bisik Bobi, suaranya mendadak menciut. Ujung matanya melirik Anton yang berdiri kaku di belakang David dengan ekspresi prihatin.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, tiba-tiba David maju menerjang dada telanjang Bobi dengan begitu kuat. Bobi yang tenaganya belum genap terkumpul, terdorong ke belakang, lalu terjengkang di kaki meja.

Belum sempat Bobi mencerna apa yang terjadi, sebuah pukulan mentah mendarat mulus di pipi kirinya.

BUGH!

Bobi semakin tersungkur ke kolong meja makan kecilnya. Rasa panas dan nyeri membakar wajahnya seketika. Dia memegang pipinya yang mulai membengkak, menatap David dengan tatapan penuh kebingungan bercampur ketakutan.

“Bos! Ada apa ini sebenarnya?! Kenapa Bos tiba-tiba memukulku?!” seru Bobi panik, mencoba bangkit sambil mundur menjauhi David.

David tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya kembali, siap menerjang.

Melihat situasi makin tidak terkendali, Anton segera maju dan menahan lengan David. Ia sadar ia sudah harus menenangkan tuan mudanya. Sebelum dia membuat Bobi pingsan, padahal mereka butuh informasi mengenai gadis pelayan yang sedang digilainya itu.

“Tuan Muda, tahan dulu,” bisik Anton pelan, lalu menoleh ke arah Bobi yang masih merayap di lantai.

Anton mengambil napas pendek sebelum bersuara dengan nada datar namun menekan. “Kenapa kau memecat gadis pelayan yang bernama Valeria?”

Bobi tampak mencerna sejenak. Ia berkedip beberapa kali, memproses pertanyaan Anton.

“Valeria... oh! Val maksudmu? Pelayan yang suka bikin ulah dengan para tamu kelab?”

“Jawab saja pertanyaannya, Babi!” bentak David. Suaranya bergema di ruangan apartemen Bobi yang lumayan luas.

David menepis tangan Anton yang sedari tadi menghadangnya supaya tidak menghajar Bobi lagi. Kemudian melangkah dan membungkuk mendekatinya, sampai wajahnya berada tepat di hadapan wajah bulat Bobi. Kilat matanya yang dingin sampai membuat Bobi merinding.

“Siapa yang memberimu izin untuk memecatnya?” tanya David pelan namun sarat akan ancaman.

Bobi refleks memundurkan kepala. Ia meneguk saliva, ia betul-betul tegang.

“Bu-bukannya aku bebas memecat siapa saja? A-aku ‘kan manajer kelab....”

Belum sempat Bobi menyelesaikan perkataannya, ia melihat David menegakkan tubuhnya bersamaan dengan pandangannya yang bertambah mengerikan. Buru-buru Bobi mengubah arah perkataannya.

“Dia membuat masalah besar, Bos! Dia pantas dipecat!” serunya cepat, berpikir itu akan meredakan amarah sang bos besar.

Namun, rupanya ia salah besar. Karena kini wajah David berubah seperti banteng mengamuk, yang sudah siap untuk....

BUGH!

David melayangkan tendangan ke perut Bobi. Membuat pria itu langsung merintih kesakitan. “Argh....”

“Dasar bodoh!” pekiknya bersama emosi yang meledak-ledak. “Kau telah menghilangkan mainan kesayanganku!”

Bobi masih kesakitan. Tetapi otaknya masih bingung mencerna situasi ini.

“Mainan? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti—argh!”

David melayangkan tendangannya lagi, kali ini di kepala Bobi. Sampai-sampai pria itu tersungkur tiduran di lantai sambil memegangi keningnya, yang perlahan mulai tampak kemerahan membentuk telapak sepatu David.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau kembalikan dia malam ini juga! Buat dia bekerja lagi secepatnya!”

Wajah Bobi panik. Ia mencoba bangkit berdiri.

“Ta-tapi, Bos, dia punya gengsi yang tinggi. Aku ragu kalau dia mau aku suruh kembali bekerja.”

“Berani menentangku?!”

Bobi langsung meringkuk sambil melindungi kepala saat tinju David hendak menerjangnya lagi.

“Ampun, Bos! Tolong jangan pukul aku lagi.”

“Kalau begitu jangan membantah!” David masih bertahan dalam ancaman tinjunya.

“Baik, baik! Aku akan mencoba membujuknya supaya mau bekerja lagi di Black Key Club.”

“Ck! Kau belum mengerti juga ya....”

Tampaknya David masih belum cukup puas. Bobi yang menyadari itu berdiri lebih siaga, supaya ia bisa langsung melindungi diri kalau-kalau sang bos besar menyerangnya lagi.

Benar saja, tanpa aba-aba David meninju perutnya. Bobi tetap meringis kesakitan, tetapi setidaknya yang kali ini tidak separah sebelumnya karena ia berhasil sedikit mundur.

“Aku bilang... gadis itu harus datang malam ini,” kata David penuh penekanan. “HARUS! Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti, ‘mencoba membujuk’. Itu terdengar meragukan. Dan aku benci janji yang terucap di tengah keraguan. Kau mengerti, Babi Dungu?!”

Bobi langsung mengangguk-angguk dan berlutut. “Iya, iya, Bos, aku mengerti! Aku pastikan dia akan tetap datang bekerja malam ini seolah tidak pernah dipecat. Aku berjanji!”

Baru akhirnya David menyeringai puas.

“Nah, begitu dong dari tadi. Seharusnya kau tidak perlu babak belur begini.”

David meneliti setiap inci pakaiannya. Kemeja putihnya tampak sedikit lusuh berkat segala luapan emosi tadi. Ia pun merapikannya, kemudian mengibas-ngibaskan lengan dan sepatunya seolah ada debu menumpuk di bagian-bagian itu.

“Ayo, kita pergi dari tempat menjijikkan ini, Anton,” titahnya seraya berbalik mengambil langkah lebih dulu.

Anton sempat melayangkan tatapan ancaman kepada Bobi sebelum mengekori David.

“Ingat, Bobi. Peringatan Tuan Muda tidak main-main. Gadis itu harus datang malam ini. Karena dia akan berperan dalam sebuah permainan besar.”

“Permainan...? Permainan apa?” Bobi tampak tertarik. Mendadak ia melupakan segala rasa nyeri di tubuhnya.

Namun, Anton hanya tersenyum miring. “Bawa saja dulu gadis itu, nanti kau akan lihat sendiri.”

Setelah mengucapkan itu, Anton ikut berbalik pergi. Meninggalkan Bobi bersama segala rasa penasaran serta nyeri-nyeri di tubuhnya.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 28 - Istirahat Sejenak

    Sepanjang sisa hari ini, kebanyakan hanya Val lalui dengan mondar-mandir sok sibuk. Padahal nyatanya ia tidak berbuat apa-apa.Oh! Ada satu pekerjaan yang benar-benar dilakukannya, sih. Yaitu membuang sampah ke area khusus yang ada di dekat lift.Sejujurnya, ini terasa melegakan. Segala kecemasan Val mengenai pekerjaannya yang kemungkinan akan begitu menyusahkannya ternyata justru berjalan sangat-sangat santai. Meskipun ia belum bisa langsung menyimpulkan itu sekarang, karena ia sadar pekerjaannya baru akan terasa berat ketika David pulang.Val menatap jam di dinding. Pukul tiga sore. Saat ini ia dan Asnah sedang duduk santai di ruangan istirahat khusus pelayan, yang tidak disangka-sangka lumayan mewah dengan fasilitas yang memadai. Di sini Val berhasil dibuat terkesan pada seorang David. Ya, ternyata pria itu betul-betul menghargai setiap pekerja di tempatnya.Menyaksikan Asnah begitu sibuk menonton televisi, lama-lama Val mulai bosan. Dari kecil ia hampir tidak pernah menonton telev

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 27 - Di Balik Sebuah Nama

    “Tuan, kita harus segera berang—” Anton yang sejak tadi sudah keluar tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa pada detik-detik paling mendebarkan dalam hidup Val. Membuat David refleks menoleh, sementara Val melengos lemas. “Oh, maaf,” sambungnya buru-buru sambil memalingkan wajah. Diam-diam Val berterima kasih padanya. Kalau bukan karena kemunculan Anton, mungkin David akan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Val. Namun, berbeda dengan Val yang tampak lega, David justru memandang Anton kesal. “Tidak bisa, ya, kau mengetuk pintu atau memencet bel dulu sebelum masuk?” dumalnya. Lagi-lagi Anton tertunduk merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Muda. Lain kali saya akan mengetuk dulu.” David mendengus kasar, lalu merapikan kerah jasnya yang sedikit miring. Sebelum benar-benar beranjak pergi, sekali lagi ia memandang Val yang masih terpojok di dinding. Tidak lupa ia menyertakan senyum miring yang selalu berhasil mengintimidasi gadis itu. “Jangan pikir permainan kita berakhir di

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 26 - Terjebak Balasan Sendiri

    Untuk kali kedua, Val membawakan secangkir kopi ke hadapan David yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan tampang sombongnya. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Val tidak lagi malas dan terpaksa. Justru sebaliknya, ia begitu antusias.‘Lihat saja beberapa saat lagi, apa kau masih mampu mempertahankan wajah menyebalkan itu,’ gumam Val dalam hati.Val membungkuk begitu sopan ketika meletakkan secangkir kopi hitam super spesial buatannya ke atas meja.“Silakan diminum, Tuan Muda.”David memandangnya puas tanpa menaruh curiga. Pada dasarnya memang ini yang diinginkannya, yaitu Val bergerak sesuai kehendaknya seperti boneka yang bisa dimainkannya.Sayangnya, David sedang berhadapan dengan gadis paling keras kepala di dunia. Bukan gadis menye-menye yang akan diam saja diperlakukan seenaknya. Kepuasan di wajah itu pasti akan sirna sebentar lagi, berganti menjadi sesuatu yang akan membuat Val terbahak-bahak.“Bagus. Kau sudah mulai menurut. Pertahankan seperti ini, ya,” ujar David seraya men

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 25 - Pertarungan Segelas Kopi

    Sementara Val berjalan ke dapur dengan langkah setengah kesal, David yang sedari tadi duduk santai di sofa memandang Asnah yang masih bergeming di hadapannya.“Haruskah saya membantunya, Tuan Muda?” tanya wanita paruh baya itu.David menggeleng pelan. Senyumnya mengembang tipis, jelas sekali menyiratkan kejailan baru.“Tidak perlu. Kau boleh mengerjakan yang lain, apa saja terserah. Biar aku sendiri yang mengajari pelayan baru itu bekerja.”Asnah mengangguk patuh. “Baik, Tuan Muda. Saya permisi.”Wanita itu pun melangkah menuju pintu taman dan menghilang di baliknya. David masih memandang ke arah pintu yang baru saja tertutup sebelum kembali menyandarkan tubuhnya di sofa.Senyumnya semakin lebar.Asnah memang tidak pernah mengecewakannya. Tanpa perlu banyak penjelasan, wanita itu selalu tahu kapan harus memberinya kesempatan untuk melakukan apa yang diinginkannya.Apalagi pagi ini. David sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa reaksi Val terhadap permainan kecil yang mulai tergamb

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 24 - Masalah Lain yang Menanti

    Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam

  • Pelayan Angkuh Kesayangan Tuan Muda Obsesif   Bab 23 - Aturan Kerja yang Gila!

    Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status