LOGINTOK! TOK! TOK!
Gedoran pintu beruntun menggelegar di sepanjang koridor lantai empat sebuah gedung apartemen. Anton sudah mengetuknya berkali-kali, tetapi penghuni di balik pintu kayu berlapis vinil cokelat tua di hadapannya ini tak kunjung merespons tamunya. David yang berdiri di samping Anton mulai kehilangan kesabaran. Matanya berkilat tajam, rahangnya mengeras, dan napasnya memburu. “Menyingkir,” geramnya dingin. Sebelum Anton sempat merespons, David sudah mengambil alih. Ia mengangkat lengannya lalu menghantamkan buku-buku jarinya ke pintu dengan sangat brutal. BAM! BAM! BAM! Suara benturan keras itu bergema hebat di sepanjang lorong. Sampai-sampai beberapa pintu unit di sekitar mereka mendadak terbuka sedikit. Wajah-wajah tetangga yang penasaran sekaligus cemas mengintip keluar, memandangi David yang seperti orang kesetanan. Namun, tatapan maut yang dilayangkan Anton ke arah mereka cukup untuk membuat orang-orang itu kembali menutup pintu rapat-rapat. Usaha kasar David ternyata membuahkan hasil. “Ya, ya, aku datang! Tunggu sebentar!” Tidak lama setelah sahutan bernada kesal itu terdengar dari dalam, menyusul suara kunci berputar secara kasar. Hingga akhirnya pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Bobi dengan wajah merah padam. Pria bertubuh agak gempal itu berdiri tanpa mengenakan baju—hanya memakai celana pendek linen yang kusut. Rambutnya berantakan dan matanya menyipit, jelas-jelas baru saja dibangunkan secara paksa dari tidur nyenyaknya. “Anjing gila mana yang berani mengganggu....” Kalimat Bobi terhenti seketika. Matanya membelalak lebar saat kesadarannya terkumpul penuh dan mengenali siapa yang berdiri di ambang pintu. Umpatan yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak tertelan kembali. “Bo-Bos... Bos Besar!?” bisik Bobi, suaranya mendadak menciut. Ujung matanya melirik Anton yang berdiri kaku di belakang David dengan ekspresi prihatin. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tiba-tiba David maju menerjang dada telanjang Bobi dengan begitu kuat. Bobi yang tenaganya belum genap terkumpul, terdorong ke belakang, lalu terjengkang di kaki meja. Belum sempat Bobi mencerna apa yang terjadi, sebuah pukulan mentah mendarat mulus di pipi kirinya. BUGH! Bobi semakin tersungkur ke kolong meja makan kecilnya. Rasa panas dan nyeri membakar wajahnya seketika. Dia memegang pipinya yang mulai membengkak, menatap David dengan tatapan penuh kebingungan bercampur ketakutan. “Bos! Ada apa ini sebenarnya?! Kenapa Bos tiba-tiba memukulku?!” seru Bobi panik, mencoba bangkit sambil mundur menjauhi David. David tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya kembali, siap menerjang. Melihat situasi makin tidak terkendali, Anton segera maju dan menahan lengan David. Ia sadar ia sudah harus menenangkan tuan mudanya. Sebelum dia membuat Bobi pingsan, padahal mereka butuh informasi mengenai gadis pelayan yang sedang digilainya itu. “Tuan Muda, tahan dulu,” bisik Anton pelan, lalu menoleh ke arah Bobi yang masih merayap di lantai. Anton mengambil napas pendek sebelum bersuara dengan nada datar namun menekan. “Kenapa kau memecat gadis pelayan yang bernama Valeria?” Bobi tampak mencerna sejenak. Ia berkedip beberapa kali, memproses pertanyaan Anton. “Valeria... oh! Val maksudmu? Pelayan yang suka bikin ulah dengan para tamu kelab?” “Jawab saja pertanyaannya, Babi!” bentak David. Suaranya bergema di ruangan apartemen Bobi yang lumayan luas. David menepis tangan Anton yang sedari tadi menghadangnya supaya tidak menghajar Bobi lagi. Kemudian melangkah dan membungkuk mendekatinya, sampai wajahnya berada tepat di hadapan wajah bulat Bobi. Kilat matanya yang dingin sampai membuat Bobi merinding. “Siapa yang memberimu izin untuk memecatnya?” tanya David pelan namun sarat akan ancaman. Bobi refleks memundurkan kepala. Ia meneguk saliva, ia betul-betul tegang. “Bu-bukannya aku bebas memecat siapa saja? A-aku ‘kan manajer kelab....” Belum sempat Bobi menyelesaikan perkataannya, ia melihat David menegakkan tubuhnya bersamaan dengan pandangannya yang bertambah mengerikan. Buru-buru Bobi mengubah arah perkataannya. “Dia membuat masalah besar, Bos! Dia pantas dipecat!” serunya cepat, berpikir itu akan meredakan amarah sang bos besar. Namun, rupanya ia salah besar. Karena kini wajah David berubah seperti banteng mengamuk, yang sudah siap untuk.... BUGH! David melayangkan tendangan ke perut Bobi. Membuat pria itu langsung merintih kesakitan. “Argh....” “Dasar bodoh!” pekiknya bersama emosi yang meledak-ledak. “Kau telah menghilangkan mainan kesayanganku!” Bobi masih kesakitan. Tetapi otaknya masih bingung mencerna situasi ini. “Mainan? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti—argh!” David melayangkan tendangannya lagi, kali ini di kepala Bobi. Sampai-sampai pria itu tersungkur tiduran di lantai sambil memegangi keningnya, yang perlahan mulai tampak kemerahan membentuk telapak sepatu David. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kau kembalikan dia malam ini juga! Buat dia bekerja lagi secepatnya!” Wajah Bobi panik. Ia mencoba bangkit berdiri. “Ta-tapi, Bos, dia punya gengsi yang tinggi. Aku ragu kalau dia mau aku suruh kembali bekerja.” “Berani menentangku?!” Bobi langsung meringkuk sambil melindungi kepala saat tinju David hendak menerjangnya lagi. “Ampun, Bos! Tolong jangan pukul aku lagi.” “Kalau begitu jangan membantah!” David masih bertahan dalam ancaman tinjunya. “Baik, baik! Aku akan mencoba membujuknya supaya mau bekerja lagi di Black Key Club.” “Ck! Kau belum mengerti juga ya....” Tampaknya David masih belum cukup puas. Bobi yang menyadari itu berdiri lebih siaga, supaya ia bisa langsung melindungi diri kalau-kalau sang bos besar menyerangnya lagi. Benar saja, tanpa aba-aba David meninju perutnya. Bobi tetap meringis kesakitan, tetapi setidaknya yang kali ini tidak separah sebelumnya karena ia berhasil sedikit mundur. “Aku bilang... gadis itu harus datang malam ini,” kata David penuh penekanan. “HARUS! Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti, ‘mencoba membujuk’. Itu terdengar meragukan. Dan aku benci janji yang terucap di tengah keraguan. Kau mengerti, Babi Dungu?!” Bobi langsung mengangguk-angguk dan berlutut. “Iya, iya, Bos, aku mengerti! Aku pastikan dia akan tetap datang bekerja malam ini seolah tidak pernah dipecat. Aku berjanji!” Baru akhirnya David menyeringai puas. “Nah, begitu dong dari tadi. Seharusnya kau tidak perlu babak belur begini.” David meneliti setiap inci pakaiannya. Kemeja putihnya tampak sedikit lusuh berkat segala luapan emosi tadi. Ia pun merapikannya, kemudian mengibas-ngibaskan lengan dan sepatunya seolah ada debu menumpuk di bagian-bagian itu. “Ayo, kita pergi dari tempat menjijikkan ini, Anton,” titahnya seraya berbalik mengambil langkah lebih dulu. Anton sempat melayangkan tatapan ancaman kepada Bobi sebelum mengekori David. “Ingat, Bobi. Peringatan Tuan Muda tidak main-main. Gadis itu harus datang malam ini. Karena dia akan berperan dalam sebuah permainan besar.” “Permainan...? Permainan apa?” Bobi tampak tertarik. Mendadak ia melupakan segala rasa nyeri di tubuhnya. Namun, Anton hanya tersenyum miring. “Bawa saja dulu gadis itu, nanti kau akan lihat sendiri.” Setelah mengucapkan itu, Anton ikut berbalik pergi. Meninggalkan Bobi bersama segala rasa penasaran serta nyeri-nyeri di tubuhnya. **“Dia mencekiknya,” ungkap Val. Kinar sontak diam lagi. Wajahnya tampak sangat tegang. “Aku sampai takut setengah mati,” lanjut Val. “Tapi yang lebih mengerikan, Nona Selina, meskipun di tengah kesulitan bernapas, masih tidak hentinya semakin menyindir David. Sehingga pria itu semakin gila lagi mencekiknya. Aku dan Bu Asnah sampai berteriak menyuruhnya berhenti, tapi dia tidak mendengarkan. Akhirnya, aku sendiri yang menarik tangannya.” “Ya ampun, Val! Kau berani sekali!” “Berani dari mana? Aku juga takut! Tapi kalau kubiarkan, bagaimana kalau dia benar-benar membunuh wanita itu di depanku?” Val mengembuskan napas panjang. “Aku tidak mau terlibat aksi pembunuhan. Lagi pula, aku sudah muak melihat sikapnya. Aku bilang kepadanya bahwa dia sendiri yang membuat Selina ingin mencelakaiku karena terlalu terang-terangan membelaku.” Kinar menatapnya lekat-lekat. “Dan reaksi Tuan David?” “Dia marah dan mengungkit bahwa dia sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Aku menjawab bahwa aku
“Jadi, ada cerita menarik apa saja hari ini? Tuan David berulah apa lagi padamu?” tanya Kinar begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh Tower A. Val mendesah berat. “Kali ini sih bukan soal itu lagi. Asal kau tahu saja, telah terjadi drama yang cukup gila di penthouse itu hampir sepanjang hari ini.” Kinar langsung menoleh dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil berjalan menyusuri koridor, ia memeriksa nomor unit yang tertera pada daftar pesanan di tangannya. “Wah, kedengarannya menarik. Cepat cerita!” “Menarik dari mana? Aku hampir kehilangan nyawa, tahu!” Langkah Kinar sontak terhenti. “Hah?! Demi apa...? Apa yang telah Tuan David lakukan padamu memangnya?” Val mengangkat sebelah tangan, menyuruhnya tenang. “Bukan, bukan... bukan dia pelakunya. Tapi seorang wanita gila yang datang tiba-tiba tanpa permisi. Dan ternyata, dia adalah tunangan David. Ya, David sudah bertunangan, Kinar.” Anehnya, Kinar berhenti terkejut di sini, malah menggaruk-garuk kepala. “Loh
Di bawah langit berbintang, di antara pemandangan deretan pohon bunga kamboja yang berguguran di sepanjang trotoar, langkah Val memijak santai. Tangannya ia masukkan ke dalam saku sweter yang dikenakannya, sementara kepalanya sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri, menikmati kesyahduan di sekitar yang terasa melankolis. Ditambah dengan lampu taman yang bersinar kuning temaram di sepanjang jalur yang ia lewati, rasanya sungguh damai dan nyaman.Sepulang dari penthouse David, Val memutuskan untuk jalan-jalan santai sebentar di sekitar kompleks apartemen luas ini. Walau hatinya masih gundah gulana tiap kali teringat pada kenyataan bahwa Selina-lah pemilik unit yang ditinggalinya, setidaknya Val ingin sekali-kali benar-benar menikmati fasilitas tempat tinggal barunya. Sebab, ia mulai sadar bahwa ia tidak akan selamanya bisa tinggal di lingkungan para orang berkantong tebal ini.Jika dipikir-pikir, ini juga kali pertama ia keluar gedung. Biasanya ia selalu pulang larut dan sangat lel
“Kau pasti terkejut sekali ya, dengan intrik hubungan Tuan Muda David dan Nona Selina?” tanya Asnah tiba-tiba di tengah keheningan acara makan malam mereka sebelum pulang.Sejak siang tadi, tepatnya sejak Selina pergi, tak lama kemudian David juga ikut pamit pergi. Dia tidak mengajak Val berdebat lagi, tidak marah, tidak juga memprotes Val yang telah menghakiminya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk membebaskan gadis itu dari intimidasi Selina. Sehingga sisa hari ini menjadi sangat damai, bahkan Val dan Asnah diperbolehkan pulang cepat karena David bilang kemungkinan dia akan pulang sangat larut.Harusnya Val merasa lega, bukan? Tapi anehnya tidak. Kepergian David yang meninggalkan tatapan dalam dan datar yang aneh teruntuk Val, justru meninggalkan perasaan tidak biasa baginya. Entah kenapa ia merasa… resah. Seperti ada hal yang begitu mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang, tetapi ia bingung apa itu. Padahal para sumber masalah, yakni sepasang tunangan problematik itu
Botol kecil itu melayang cepat ke arah Val. Namun, refleks yang bekerja dalam dirinya hanya berpaling muka sambil mengangkat kedua lengan untuk menghalau pandangan. Tubuhnya sama sekali tidak menyingkir, meskipun ia tahu itu akan lebih efisien. Mungkin karena serangan itu datang terlalu mendadak, sampai-sampai Val tidak sempat merespons dengan baik. Pada sepersekian detik terakhir, Val sudah pasrah bersiap menerima rasa ngeri serta nyeri akibat hantaman botol wine berat itu ke tubuh atau bahkan kepalanya. Jantungnya berdebar. Sementara tubuhnya kaku, menegang bukan main. Satu detik, dua detik berlalu. Anehnya, rasa sakit itu tak kunjung datang. Tubuhnya masih baik-baik saja. Bahkan tidak terdengar suara botol pecah yang seharusnya sudah terjadi dari tadi. “Kau… kau benar-benar sudah keterlaluan, Selina.” Justru sebuah geraman mengudara di antara ketegangan. Suaranya lebih berat dari biasanya. Pelan dan menusuk, sampai rasanya siapa pun yang mendengarnya bisa merinding ngeri. Ya, it
Val membawa dirinya ke ruang istirahat pelayan. Ia menutup pintu cukup keras, lalu berjalan ke meja. Ia meraih teko berisi air, menuangnya ke gelas sampai meninggalkan jejak tetes berceceran cukup banyak di atas meja, sebelum menenggaknya cepat sampai habis. Ia terengah setelahnya. Dengan kedua tangan bertumpu di meja, matanya mulai terpejam. Napasnya yang menjadi lebih berat setelah berhadapan dengan David tadi, ditarik pelan dan hati-hati. Kemudian, diembuskan perlahan, berharap segala perasaan aneh yang tengah menggerogoti jiwanya juga ikut meluruh. Sayangnya, ternyata tidak semudah itu. Perasaan anehnya masih menempel lekat di dalam dada, membuatnya kesal pada diri sendiri dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya? Val membuka mata, merenung dalam tatapan kosong. Ia memikirkan pelan-pelan setiap hal yang kemungkinan besar menjadi penyebab pikirannya menjadi tidak karuan begini. Apalagi tadi saat berhadapan dengan David, demi apa pun, ia menyesal tiba-tiba be







