LOGIN“Mbok! Mbok Minah!” Suara Cindy begitu melengking memenuhi penjuru ruangan. Setiap pelayan yang mendengar segera menghentikan kegiatan mereka. Lalu melangkah mendekati sang nyonya rumah untuk melihat ada apakah gerangan. Begitu juga dengan Gisela. Walaupun teriakan Cindy tidak membuatnya penasaran, tetapi kakinya tetap melangkah mendekat mengikuti yang lainnya. “Ada apa, Nyonya?” tanya Mbok Minah. Tatapannya terlihat begitu menelisik sang majikan. “Loh, kok ke sini semua? Sudah sana kalian kembali kerja,” perintah Cindy. Membubarkan para pelayan itu. Termasuk Gisela. Walaupun berbalik, Gisela justru bersembunyi di balik tembok untuk mendengar pembicaraan Cindy dengan Mbok Minah.“Tuan sudah berangkat?” tanya Cindy. “Sudah, Nyonya. Sekitar lima belas menit yang lalu.” “Dia tidak membangunkanku.” Suara Cindy terdengar manja saat di depan Mbok Minah seorang. Berbeda jauh saat ia sedang berhadapan dengan pelayan lain. Wanita itu akan terlihat galak dan menyeramkan. “Apa dia sarapan?
“Gisela, ayo ikut aku ke pasar,” ajak Mbok Minah. “Sebentar, Mbok. Saya ganti baju dulu.” Gisela menyahut dari kamar. Ini masih jam enam pagi, tetapi semua pelayan sudah bersiap dengan tugasnya masing-masing. Hampir tiga menit, Gisela keluar dengan memakai baju yang lebih rapi. Ia mengambil keranjang belanja dari Mbok Minah. Lalu bergegas pergi bersama wanita itu. Selama dalam perjalanan, Mbok Minah begitu antusias bercerita. Sementara Gisela hanya menanggapi dengan senyuman setiap kalimat yang terlontar dari mulut wanita itu. Mbok Minah baik dan penyayang. Gisela merasa bahwa hubungan mereka begitu dekat. Dari semua pelayan yang ada di rumah Danuarta, hanya Mbok Minah yang bersikap sangat baik padanya. “Mbok, saya belum masak untuk sarapan.” “Tidak apa. Hari ini Tuan tidak ke kantor, jadi tidak perlu memasak pagi-pagi,” ujar Mbok Minah. Tangannya tampak sibuk memilih-milih sayuran segar. Gisela pun ikut melakukan hal yang sama. Pintar memasak, membuat Gisela pun sangat pandai d
Gisela tersentak kaget, ia segera menyeimbangkan tubuh saat menyadari bahwa dirinya hampir saja terjatuh. Gerakan kasar Cindy yang begitu tiba-tiba membuat Gisela tidak memiliki persiapan apa pun untuk menahan diri. Helaan napas lega terdengar dari Gisela saat ia berhasil kembali menegakkan tubuhnya. “Cindy, apa yang kamu lakukan?” Suara Danuarta terdengar memenuhi setiap penjuru ruangan. Pria itu bahkan sudah berdiri dan hendak melangkah mendekati Gisela. Namun, langkahnya terhenti karena Cindy sudah menahan lengan suaminya. Tatapannya terlihat menajam hingga membuat pria itu bergeming. “Nyonya, saya minta maaf.” Gisela berdiri setengah membungkuk. Raut wajahnya tampak datar. Tidak menunjukkan ekspresi apa pun.“Jangan gunakan wajah jelekmu untuk menarik simpati suamiku! Kamu pikir aku tidak tahu!” tukas Cindy. Setiap kalimat yang terucap penuh dengan penekanan. “Nyonya, Anda jangan salah paham lagi. Saya ....” “Sudah. Jangan diperpanjang. Sayang...,” panggil Danuarta. Tatapanny
“Nyo-Nyonya.” Gisela tergagap. Saat membalik badan ia langsung berhadapan dengan Cindy yang sudah melayangkan tatapan tajam. Seketika kepala Gisela tertunduk dalam. Tangannya saling meremas saat mendengar langkah Cindy yang mendekat.“Apa yang sedang kamu lakukan!” tanya Cindy lagi. Kali ini, terdengar lebih penuh dengan penekanan. “Saya sedang bersih-bersih, Nyonya. “ Gisela menjawab lirih. Tanpa mengangkat kepala. “Bersih-bersih? Kamu yakin?” Cindy bertanya tidak percaya. “Sepertinya tadi aku melihat kamu mau memukul foto ini.”“Tidak, Nyonya. Anda salah lihat. Saat sedang membersihkan tadi, tiba-tiba tangan saya kram.” Gisela menatap Cindy sambil menunjukkan tangannya. Sedikit mengibaskan agar Cindy benar-benar percaya. “Awas saja kalau kamu berani macam-macam dengan apa pun yang ada di rumah ini!” Cindy menunjuk wajah Gisela. “Baik, Nyonya.” Gisela berusaha tetap terlihat tenang agar Cindy tidak menaruh curiga yang berlebihan lagi.Gisela meremas baju bagian samping s
“Tu-Tuan.” Gisela yang sedang mengambil minum di dapur, terkejut melihat kedatangan Danuarta tiba-tiba. “Kamu belum tidur?” tanya Danuarta. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. “Ini saya mau tidur, Tuan.” Gisela menunduk, tidak berani mengangkat kepala apalagi menatap Danuarta. Saat tidak mendapat respon, Gisela hendak melangkah pergi, tetapi Danuarta menahannya. “Aku minta maaf atas nama istriku. Aku tidak menyangka kalau dia akan menamparmu,” kata Danuarta. Gisela mengangkat kepala dan menunjukkan senyuman tipis. “Anda tidak perlu minta maaf, Tuan. Nyonya sama sekali tidak bersalah.” “Dia hanya salah paham.” Gisela mengangguk. Mengiyakan ucapan Danuarta. “Saya mengerti, Tuan. Kalau begitu saya kembali ke kamar. Saya khawatir kalau Nyonya akan salah paham lagi.” Danuarta hanya diam. Saat Gisela melangkah, tiba-tiba ia tersandung kakinya sendiri. Hampir saja ia terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Beruntung, Danuarta segera menangkap p
Kamar Gisela terasa hening saat kedua wanita itu saling diam. Terdengar helaan napas panjang Mbok Minah. Gisela hanya diam dan terus tertunduk dalam. Khawatir Mbokan Minah tidak percaya ucapannya. Namun, ternyata tidak. Dengan gerakan perlahan, Mbok Minah mengusap punggung Gisela, membuatnya merasa nyaman. “Aku percaya sama kamu,” kata Mbok Minah. Gisela menoleh, guratan wajahnya menunjukkan kelegaan. Bahkan, senyuman tipis tampak menghiasi bibir Gisela. “Mbok, terima kasih sudah percaya pada saya. Sungguh, saya tidak ada niatan untuk menggoda Tuan Danu. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Nyonya Cindy. Saya khawatir Nyonya Cindy terus salah paham pada saya,” kata Gisela lirih. Ia kembali menunduk dan meremas ujung baju yang dikenakan. “Jangan dipikirkan. Biar nanti aku bantu jelaskan kepada Nyonya Cindy.” “Terima kasih banyak, Mbok. Kalau tidak ada Mbok Minah, sudah pasti saya akan ....” “Sudah, lebih baik kamu istirahat saja. Baru besok kamu bisa mulai bekerja,” pungka







