Share

Bab 15

Author: Rita Tatha
last update Last Updated: 2026-01-05 19:56:24

Suasana di ruangan Danuarta mendadak hening dan menegang. Tidak ada yang membuka suara. Kegugupan memenuhi wajah Danuarta, sedangkan Feri berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang susah dijelaskan. Antara terkejut dan tidak percaya begitu susah dijelaskan.

“Tuan, apakah saya mengganggu Anda?” Kalimat yang terlontar dari bibir Feri, bukan seperti sebuah pertanyaan. Melainkan lebih ke sebuah sindiran yang dikemas halus.

“Tidak. Jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” sanggah Danuarta. Dia bukanlah orang bodoh yang tidak paham maksud ucapan Feri. Ia tahu kejadian tadi, bisa saja memicu kesalahpahaman.

Dengan langkah tegas dan wibawa. Danuarta melangkah keluar meninggalkan ruangan. Ketika melewati Feri pun, pria itu terlihat tanpa ekspresi apa pun.

Melihat sang majikan sudah pergi, Gisela segera menyusul di belakang. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat berdiri berhadapan dengan Feri. Ia bisa melihat sorot mata pria itu penuh dengan kilatan amarah. Seperti petir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 17

    “Gisela, setelah Tuan berangkat ke kantor nanti. Tolong, kamu bersihkan kamar Tuan Danu sama kamar mandinya sekalian,” perintah Mbok Minah. Gisela mengangguk mengiyakan. Walaupun sebenarnya itu bukanlah tugasnya karena pelayan yang biasa membersihkan kamar utama belum juga berangkat kerja. Dengan telaten ia meladeni Danuarta seperti biasa. Menyiapkan sarapan, sambil menunggu Gisela akan berdiri di belakang pria itu. Berjaga-jaga jika sang majikan membutuhkan sesuatu. Saat Danuarta telah selesai sarapan, Gisela segera membersihkan meja makan. Mencuci piring kotor. Lalu berjalan menuju ke lantai dua. Lebih tepatnya di kamar utama sang majikan. Tubuhnya bergeming di depan pintu. Menatapnya dengan sangat lekat sebelum akhirnya menarik gagang pintu tersebut. Ketika pintu ruangan terbuka, pandangan Gisela langsung menuju ke laci. Di mana kalung berkilau yang ia lihat tempo hari, begitu mengusik pikiran. Langkahnya pelan, tapi tegas. Menuju ke samping nakas dan membukanya. Kotak itu masi

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 16

    Malam sudah hampir larut. Mata Gisela tidak mau terpejam karena memikirkan ucapan Mbok Minah. Soal ruangan privasi Cindy di belakang. Ia benar-benar penasaran, sebenarnya ada apakah gerangan di dalamnya. Kenapa Cindy begitu merahasiakan. Sampai dirinya benar-benar tidak boleh ke sana. “Sebenarnya apa isi ruangan itu? Dan di mana?” Gisela mengetuk pelipis perlahan. Memikirkan wilayah mana yang belum ia jamah. Terutama bagian belakang. Untuk menghilangkan rasa penasaran, Gisela segera turun dari ranjang dan melangkah pelan keluar kamar. Tidak ingin kepergiannya diketahui oleh pelayan lain. Langkahnya pun mengendap-endap seperti maling. Suasana di belakang hanya temaram. Remang-remang. Namun, Gisela tidak merasa takut sama sekali. Ia terus melangkah menuju ke wilayah belakang. Mencari ruangan yang disembunyikan oleh Cindy. “Astaga,” keluh Gisela. “Aku sudah memutari semua daerah ini, tapi kenapa aku tidak melihat ada ruangan kosong sama sekali.”Helaan napas panjang Gisela memecah k

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 15

    Suasana di ruangan Danuarta mendadak hening dan menegang. Tidak ada yang membuka suara. Kegugupan memenuhi wajah Danuarta, sedangkan Feri berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang susah dijelaskan. Antara terkejut dan tidak percaya begitu susah dijelaskan. “Tuan, apakah saya mengganggu Anda?” Kalimat yang terlontar dari bibir Feri, bukan seperti sebuah pertanyaan. Melainkan lebih ke sebuah sindiran yang dikemas halus. “Tidak. Jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” sanggah Danuarta. Dia bukanlah orang bodoh yang tidak paham maksud ucapan Feri. Ia tahu kejadian tadi, bisa saja memicu kesalahpahaman. Dengan langkah tegas dan wibawa. Danuarta melangkah keluar meninggalkan ruangan. Ketika melewati Feri pun, pria itu terlihat tanpa ekspresi apa pun. Melihat sang majikan sudah pergi, Gisela segera menyusul di belakang. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat berdiri berhadapan dengan Feri. Ia bisa melihat sorot mata pria itu penuh dengan kilatan amarah. Seperti petir

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 14

    “Tuan Danu.” Suara wanita itu bergetar saat memanggil sang atasan. Keberanian tadi saat melawan dan menghina Gisela seolah lenyap dalam sekejap. “Bangunlah,” perintah Danuarta. Suaranya terdengar hangat. Gisela mendongak hingga tatapan matanya bertemu dengan sorot mata teduh dari pria itu. Saat hendak bangkit, Gisela melihat uluran tangan Danuarta tepat di depan wajahnya. Ia pun tidak menyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, Gisela meraih tangan pria itu dan bangkit berdiri.Ketika Gisela sudah berdiri tegak, Danuarta segera melepaskannya. Menatap khawatir sesaat sebelum akhirnya menoleh dan melayangkan tatapan tajam ke arah resepsionis tadi. Sorot matanya begitu mengintimidasi hingga membuat nyali yang ditatapnya menciut. “Tuan, pelayan ini ....” “Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!” Suara Danuarta meninggi. Pria itu tampak melihat rantang yang sudah tergeletak di lantai. Bahkan, bubur di dalamnya pun sebagian tumpah mengotori lantai. “Maaf, Tuan. Ini bukan salah saya. Saya t

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 13

    Setelah mendapat tatapan tajam, Gisela justru berbalik dan hendak keluar kamar tanpa rasa berdosa. Tidak peduli meski Danuarta dan Cindy akan bertengkar. Ia yakin bahwa suaranya tadi, bisa didengar oleh Cindy.“Tunggu!” Suara bariton Danuarta menggema di kamar. Menghentikan langkah Gisela yang sudah satu langkah keluar dari pintu. Ia berbalik, menatap majikannya penuh tanya. Langkah tegas Danuarta terdengar mendekat. “Lain kali, kalau aku sedang telepon. Jangan pernah berbicara,” kata Danuarta tanpa ekspresi. “Iya, Tuan. Maaf.” Gisela setengah membungkuk. “Ya.” Danuarta melangkah melewati Gisela. Setelah sang majikan mulai menuruni tangga, ia segera menutup pintu kamar dan menyusul turun ke bawah. Dengan telaten, Gisela mengambilkan sarapan untuk majikannya. Di saat sedang menikmati sarapan, Feri masuk rumah itu dan berdiri di samping Gisela. Tidak ada sapaan, apalagi sekedar senyuman manis. “Anda mau sarapan?” tanya Gisela ramah. “Tidak perlu.” Justru mendapat jawaban ketus d

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 12

    “Ma ... Pa ...” Tubuh Gisela bergerak gelisah. Matanya masih terpejam rapat, tetapi bibirnya terus menyerukan panggilan untuk kedua orang tuanya. “Ma ... Pa ...” Ia semakin belingsatan tak karuan. Seiring keringat yang membanjir membasahi dahi. Bahkan, sebagian menetes sampai ke leher dan dagu. “Jangan tinggalin Gisela, Pa. Ma ... Gisela tidak mau sendirian. Arggghhh!” Gisela terduduk dengan keringat yang semakin mengalir deras. Napasnya tersengal, paru-parunya memompa dengan kekuatan penuh. Bahkan, kedua matanya langsung terbuka sempurna. Pandangan Gisela mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang remang-remang. Hanya lampu tidur yang menyala temaram. Ia tidak melihat siapa pun di sana. Tidak ada kedua orang tuanya. Tidak ada sang mama maupun papanya. Ia benar-benar sendirian. “Ya Tuhan, aku mimpi buruk lagi.” Ia mengusap wajah secara kasar. Menghapus bekas keringat yang terasa begitu lengket. Bayangan kedua orang tuanya tadi terasa seperti nyata. Namun, semua hanya lah ilu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status