Share

Bab 54

Author: Rita Tatha
last update Last Updated: 2026-01-29 22:02:51

"Maaf, sepertinya aku salah bertanya." William berucap setelah Gisela tidak menyahut sama sekali.

"Tidak, Tuan. Justru saya yang minta maaf, kalau saya tidak bisa memberi jawaban," sahut Gisela lirih.

Baginya, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya. Masih ada hal penting yang mesti diurus.

Cukup lama mereka berada di sana, setelah selesai mengirim beberapa doa, ketiga orang itu pun segera keluar dari pemakaman. Sebelum kembali, William ingin sekali berkunjung ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 85

    "Gis, apa kamu mencium bau bangkai di sekitar sini? Padahal tadi, belum ada ya." Ayunda mengibaskan tangan di depan hidung. Gisela terkekeh mendengar ucapan sahabatnya. Ia tahu maksudnya untuk menyindir Valeria. Wanita tidak tahu malu yang sekarang ini kembali muncul. Sudut bibir Gisela tertarik ketika melihat tangan Valeria yang mengepal kuat. "Memang, sepertinya ada bangkai yang sudah lama dipendam, busuk banget." Gisela menjawab sembari mengibaskan tangan seperti Ayunda. "Kalian!" Gisela dan Ayunda menoleh bersamaan ke arah Valeria. Tampak wanita itu menunjuk sembari melotot tajam. "Wah, jangan tajam-tajam, Nona. Bagaimana kalau bola matamu lepas." Gisela berbicara santai. Ia meminum jeruk hangat di depannya. "Valeria, apa ini gadis kampungan yang sudah merebut William darimu?" Seorang wanita yang berada di samping Valeria, berbicara. Gisela menyunggingkan senyum. Ia bangkit dan berdiri sejajar dengan kedua wanita itu. Ayunda pun melakukan hal yang sama. "Siap

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 84

    Satu Minggu sejak William melamar, Gisela sama sekali belum memberi jawaban. Ia masih saja bingung dengan perasaannya sendiri. Walaupun begitu, William tidak menjauhinya. Tidak menjaga jarak. Juga tidak menuntut Gisela untuk memberi jawaban segera. Pria itu begitu sabar menunggu kepastian. Libur akhir pekan ini, Gisela berencana untuk pergi ke pusat perbelanjaan dengan Ayunda. Ia sudah siap untuk menjemput sahabatnya. Namun, saat berada dalam perjalanan, pandangan matanya menangkap bayangan mobil William. Melaju di depannya. Gisela yang merasa penasaran pun mengikuti kemana mobil pria itu melaju. Ternyata, mobil tersebut masuk ke halaman rumah sakit jiwa. Tempat Cindy dirawat. Setelah cukup lama, Gisela pun ikut masuk ke sana. Memarkirkan mobilnya jauh dari William agar tidak terlihat. Lalu, Gisela melangkah sedikit mengendap menuju ke tempat Cindy dirawat. Ia berdiri di depan pintu ruangan. Mendengarkan obrolan pria itu dari dari depan pintu. Kebetulan sekali, pintu ruangan tida

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 83

    Di sebuah restoran, Gisela duduk sambil terus menatap kopi di depannya. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala sama sekali. Bukan karena takut, tetapi ia tidak ingin berada dalam situasi canggung karena harus berhadapan dengan Danuarta. Namun, Gisela bisa merasakan hawa di sekitarnya terasa dingin dan senyap. "Kenapa diam saja?" tanya Danuarta. Memecah keheningan di antara mereka. Dengan mengumpulkan keberanian, Gisela mendongak. Tatapan matanya bertemu langsung dengan Danuarta. Entah mengapa, Gisela seolah lumpuh hingga akhirnya ia kembali menunduk dalam. "Apa yang ingin Anda katakan, Tuan? Kenapa Anda mengajak saya ke sini?" "Em, sebenarnya, aku hanya ingin memastikan sendiri. Gisela ... Apa William melamar mu semalam?" Mendengar pertanyaan itu, Gisela terdiam. Bingung harus menjawab dari mana terlebih dahulu. Haruskah ia berbohong? Atau mengatakan yang sebenarnya. "William yang bicara padaku." Danuarta seolah sedang memberi penjelasan. Mendengar bahwa William

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 82

    Hari ini Gisela berangkat ke kantor dengan tergesa. Ia mandi hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Memakai baju dengan segera dan tidak memoleskan apa pun ke wajahnya. Namun, walaupun tidak berdandan, Gisela tetap terlihat cantik natural. Untuk kali ini, Gisela tidak berangkat bersama William maupun Ayunda. Melainkan, ia menaiki motor sport miliknya. Sudah lama sekali ia tidak menggunakan motor tersebut. Dengan kelihaian yang dimiliki, Gisela mengebut. Baginya, menggunakan motor saat ke kantor itu lebih praktis karena bisa menghadapi kemacetan. Roda motor itu berputar cepat dan terkendali. Menyalip beberapa kendaraan tanpa keraguan. Sampai akhirnya berhenti di halaman Perusahaan Wiratmaja. Pertama kali menggunakan motor ke kantor, berhasil mengalihkan perhatian sebagian karyawan di perusahaan itu. Dengan tergesa, Gisela segera turun dari motor tersebut lalu berlari cepat masuk ke kantor. Ia masuk ke dalam lift khusus untuk direktur. Para karyawan di sana sudah paham ke

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 81

    Bola mata Gisela membulat penuh. Menatap tidak percaya ke arah pria di depannya. Ucapan William, seperti kejutan yang sangat mengejutkan. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Gisela sebelumnya. "K-Kamu serius?" tanyanya masih belum percaya. William mengangguk cepat. "Tentu saja. Kapan aku tidak serius, hm? Perusahaan itu seharusnya milikmu. Jadi, aku akan mengembalikan kepada pemilik yang seharusnya." "Tapi, selama bertahun-tahun ini, kamu sudah berjuang memajukan perusahaan itu. Aku bukan orang yang tidak tahu malu, mengambilnya begitu saja." "Eh, kamu bukan mengambil begitu saja. Anggap saja, selama ini kamu menitipkan perusahaan kepadaku. Jadi, kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." "Jangan bercanda, William. Lalu bagaimana aku membayar mu? Menggaji kamu berpuluh tahun sekaligus mana mungkin aku sanggup. Aku bukanlah seorang triliuner." "Ya sudah, kamu cicil saja. Simpel 'kan?" Gisela melepaskan genggaman tangannya. Lalu duduk. William pun ikut duduk d

  • Pelayan Baru Sang Tuan   Bab 80

    Melamar? Gisela masih belum percaya kalau sekarang ini William sedang melamarnya. Pria itu tersenyum. Tangannya masih menyodorkan cincin. Sementara Gisela hanya diam seribu bahasa. Ia sendiri bingung. Mau memberi jawaban apa. Hatinya belum sepenuhnya siap menerima lamaran William, tetapi jika menolak. Ia pun tidak mampu melakukannya. "Em, kalau kamu belum bisa menjawab sekarang. Tidak apa. Jawab saat kamu sudah siap saja. Apa pun jawabanmu, akan aku terima." William menaruh cincin itu di telapak tangan Gisela. Senyumnya sama sekali tidak surut. Dengan suasana yang seperti itu, Gisela merasa tidak enak hati. "William." Gisela hendak menolak menerima cincin tersebut, tetapi saat ia hendak memberikan pada William, pria itu justru mengeratkan kepalan tangan Gisela hingga tak mampu untuk bergerak. "Simpan kamu saja. Jangan dipikirkan soal tadi. Aku tidak mau membebani kamu. Lebih baik sekarang kita makan dan bersikap biasa saja. Kalau kamu sudah yakin dengan jawabanmu, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status