ログインWaktu sudah menunjuk angka sepuluh pagi.Matahari di pagi itu tidak terasa terik. Cahayanya justru jatuh dengan lembut, menyelinap di antara celah daun pepohonan besar yang memagari tepian danau.Permukaan air danau itu tampak seperti cermin raksasa yang tidak terusik, hanya sesekali bergetar ketika angin pegunungan bertiup rendah, membawa aroma tanah basah dan pinus.Diana berdiri beberapa langkah di belakang Daniel. Pria itu tegak mematung, menatap garis cakrawala di mana air bertemu dengan kabut tipis.Diana merapatkan kardigan tipisnya. Meski tempat ini indah, ada aura kesepian yang pekat yang seolah memancar dari punggung tegap majikannya itu.“Tuan,” panggil Diana memecah kesunyian.Daniel tidak menoleh. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya yang mahal.“Apakah ... Tuan sering datang ke sini?” tanya Diana kemudian.Matanya menyapu area sekitar yang tampak tak terjamah oleh langkah kaki manusia lain. Hanya ada mereka berdua.Daniel terdiam sejenak, kem
Daniel menatap lekat wajah Diana, mencari sisa-sisa keraguan di sana, namun yang dia temukan hanyalah binar ketulusan yang menenggelamkan logika.Dalam keremangan cahaya lampu tidur, suasana kamar yang dingin mendadak terasa panas oleh ketegangan yang tak lagi bisa dibendung.“Kalau begitu, layani aku malam ini,” ucapnya dengan suara beratnya.Perlahan, Daniel menarik tengkuk Diana dan memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga napas mereka menyatu.Ciuman itu dimulai dengan lembut, sebuah pertautan bibir yang penuh gairah dan rasa ingin memiliki yang dalam.Namun, kelembutan itu segera berubah menjadi lumatan yang menuntut saat gairah mulai mengambil alih kendali.Diana membalasnya dengan intensitas yang sama, jemarinya meremas bahu kokoh Daniel, seolah ingin memastikan bahwa pria ini nyata dan tidak akan membuangnya seperti yang dia takutkan tadi.Lidah mereka saling menari dalam sebuah simfoni bisu, mengecap rasa satu sama lain di tengah degup jantung yang kian berpacu li
Daniel menatap lekat wajah Diana yang masih duduk mematung di hadapannya.Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal, hampir bisa disentuh, sampai akhirnya Daniel kembali bersuara dengan nada yang lebih rendah, namun membawa bobot yang luar biasa berat.“Aku akan memberikanmu pilihan, Diana. Sesuatu yang mungkin sudah kamu harapkan sejak hari pertama menginjakkan kaki di rumah ini,” ujar Daniel dengan nada dingin.“Andra menemuiku. Dia bersedia membayar sisa uang kontrakmu, berapa pun nominal yang aku minta. Dia ingin menarikmu kembali, menjadikanmu bagian dari hidupnya, bukan lagi sebagai bawahan yang terikat perjanjian hitam di atas putih.”Daniel menjeda sejenak, memperhatikan setiap inci ekspresi di wajah Diana. “Jika memang kamu ingin lepas dariku, pergilah. Aku tidak akan menahanmu. Besok pagi, kamu bisa mengepak barang-barangmu dan kembali pada Andra.”Diana terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah semua kosa kata yang ia miliki menguap begitu saja.Namun,
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam dan Daniel baru tiba di rumah.“Makan malam sudah siap, Tuan,” ucap Diana sembari menyapa Daniel di ujung lorong dapur dengan nada sopan.Tanpa berkata apa-apa lagi, Daniel duduk di ujung meja, memegang pisau dan garpu dengan presisi yang menakutkan. Di hadapannya, sebuah kursi kosong menanti."Duduklah, Diana," ucap Daniel dengan nada datarnya dan tidak menerima bantahan.Diana yang tengah berdiri sontak mematung di dekat pintu dapur. Jemarinya meremas ujung celemek putih yang masih dia kenakan. Dia tampak ragu.Tidak biasanya majikannya itu memintanya duduk satu meja, apalagi saat jam makan malam pribadi seperti ini. Namun, tatapan tajam Daniel seolah mengunci pergerakannya.Dengan langkah kaki yang terasa berat, Diana akhirnya mendekat. Dia pun menarik kursi kayu ek itu dengan pelan, sambil berusaha tidak menimbulkan suara gesekan yang mengganggu.Saat dia duduk, jantungnya mulai berdebar tak karuan, seperti genderang yang dipukul bertalu-talu
Beberapa hari kemudian, suasana kantor Daniel kembali berjalan seperti biasa, yang begitu dingin, rapi, dan penuh ketegangan yang tak kasatmata.Langit di luar jendela kaca besar tampak mendung, seolah mencerminkan suasana hati pemilik ruangan itu.Daniel duduk di balik meja kerjanya yang luas, setumpuk dokumen tersusun rapi di hadapannya. Tangannya bergerak cepat menandatangani berkas, sementara wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.Pintu ruang kerja terbuka setelah ketukan singkat.Andra melangkah masuk dengan langkah mantap. Setelan jas yang dikenakannya sederhana, tetapi raut wajahnya menunjukkan kesungguhan.Dia kemudian berdiri di depan meja Daniel sembari menatap pria itu dengan sorot mata tegas.Namun Daniel sama sekali tidak mengangkat kepala. Ia tetap fokus pada dokumen di tangannya, seolah kehadiran Andra hanyalah gangguan kecil.“Ada apa?” tanya Daniel singkat, tanpa menoleh sedikit pun.Andra menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Aku datang ke sini untuk menyampaik
Diana menelan salivanya dengan susah payah begitu melihat Sari di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering ketika ia menatap Sari yang berdiri tepat di depan pintu ruang kerja Daniel yang tertutup rapat.Tatapan Sari tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat Diana merasa terintimidasi, sebuah tatapan penuh selidik khas seseorang yang sudah lama bekerja di rumah itu dan mengenal setiap sudut serta rahasianya.“Sa-saya …,” suara Diana sempat terhenti. Bibirnya mengatup kembali, sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar wajar dan tidak mencurigakan.Jantungnya berdetak kencang, seolah takut kebohongan kecil yang akan ia ucapkan terdengar terlalu rapuh.Beberapa detik kemudian, Diana akhirnya memberanikan diri melanjutkan. “Saya diminta membersihkan lemari buku,” ujarnya pelan. “Atas perintah Tuan Daniel, Mbak.”Sari mengerutkan keningnya. Kedua alisnya terangkat, lalu matanya melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Daniel.Ada jeda singkat sebelum ia kembali menatap







