MasukSuasana di dalam butik kelas atas itu terasa mencekam, meskipun dinding-dindingnya dihiasi oleh deretan gaun sutra yang indah dan lampu gantung kristal yang mewah.Di sebuah ruang VIP yang tertutup bagi publik, dua wanita dari kelas sosial tertinggi duduk saling berhadapan dengan ekspresi yang penuh dengan amarah yang tertahan.“Aku sudah yakin kalau wanita itu sedang mendekati Daniel, Tante!” ucap Sera dengan nada yang tajam dan bergetar karena emosi.Dia kemudian menghempaskan majalah fashion di tangannya ke atas meja marmer hingga menimbulkan suara dentuman keras.Wajah cantiknya yang biasanya tenang kini memerah, matanya menyiratkan kecemburuan yang mendalam setelah mendengar cerita Manda tentang penolakan keras Daniel di rumah tadi pagi.Manda mengangguk pelan, menyesap teh kamomilnya dengan gerakan yang kaku.“Daniel bukan hanya menolakmu, Sera. Dia mengancamku. Dia mengancam mamanya sendiri demi melindungi ego atau mungkin melindungi wanita itu. Aku bisa melihat dari matanya, a
Udara di ruang tengah yang luas itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen tersedot habis oleh ketegangan yang memuncak di antara ibu dan anak itu.Daniel menyandarkan punggungnya ke sofa, namun tubuhnya tidak tampak rileks. Garis-garis otot di rahangnya mengeras, dan matanya yang sedingin es menatap lurus ke dalam manik mata Manda.“Aku tidak akan bertunangan,” suara Daniel keluar dengan nada rendah, namun setiap katanya memiliki bobot yang mampu menghancurkan keheningan.“Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun, termasuk dengan Sera. Jadi, berhentilah mengatur hidupku seolah-olah aku adalah salah satu bidak di papan catur bisnismu, Ma.”Manda tersentak, punggungnya yang tegak semakin menegang. Ia tidak menyangka penolakan Daniel akan sekeras dan sefrontal itu.“Apa katamu? Tidak ingin menikah?” Manda tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan ketidakpercayaan.“Daniel, aku ini mamamu! Semua yang aku lakukan adalah demi kebaikanmu. Aku ingin melihat anak sulungku membangun keluarg
Jarum jam besar di dinding ruang tengah berdenting sepuluh kali, suaranya menggema di seluruh ruangan yang langit-langitnya menjulang tinggi itu.Di atas sofa beludru berwarna abu-abu arang, duduk seorang wanita dengan aura yang mampu membekukan udara di sekitarnya.Manda, ibu kandung Daniel, duduk dengan punggung tegak sempurna. Tas kulit buaya bermerek ternama diletakkan dengan presisi di sampingnya.Diana melangkah mendekat dengan langkah yang dijaga agar tidak menimbulkan suara. Jantungnya berdegup kencang, seolah tahu bahwa kehadiran wanita ini bukanlah pertanda baik.“Selamat pagi, Nyonya Besar,” sapa Diana dengan suara lembut, mencoba bersikap seprofesional mungkin.“Tuan Daniel masih di dalam kamarnya, Nyonya. Sembari menunggu beliau tiba, apakah Nyonya ingin saya buatkan kopi atau teh hangat?”Manda tidak segera menjawab. Dia justru perlahan menolehkan kepalanya, dan menatap Diana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang menghina.Alih-alih menjawab tawaran min
Malam di kediaman Daniel bukan lagi sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah selubung hitam yang mengaburkan batas antara pengabdian dan gairah.Meski peringatan Daniel di tepi danau tadi pagi masih terngiang, sebuah ultimatum tentang lubang neraka yang kian mendalam, Diana memilih untuk tetap tinggal.Ada magnet yang tak kasatmata, sebuah gravitasi yang menariknya pada sosok pria yang penuh luka dan kuasa itu.Di dalam kamar utama yang luas dengan penerangan remang dari lampu tidur berwarna kekuningan, udara terasa tebal oleh ketegangan yang berbeda.Bukan lagi ketegangan penuh amarah, melainkan hasrat yang sudah mencapai titik didih.Daniel menarik Diana ke dalam dekapannya dengan posesif. Tidak ada ruang tersisa di antara mereka.Kulit bertemu kulit, menghantarkan panas yang menjalar ke seluruh saraf. Daniel membenamkan wajahnya di ceruk leher Diana, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu berhasil mengacaukan nalar logisnya.“Aku sudah memberimu jalan keluar, Diana,” bisik
Waktu sudah menunjuk angka sepuluh pagi.Matahari di pagi itu tidak terasa terik. Cahayanya justru jatuh dengan lembut, menyelinap di antara celah daun pepohonan besar yang memagari tepian danau.Permukaan air danau itu tampak seperti cermin raksasa yang tidak terusik, hanya sesekali bergetar ketika angin pegunungan bertiup rendah, membawa aroma tanah basah dan pinus.Diana berdiri beberapa langkah di belakang Daniel. Pria itu tegak mematung, menatap garis cakrawala di mana air bertemu dengan kabut tipis.Diana merapatkan kardigan tipisnya. Meski tempat ini indah, ada aura kesepian yang pekat yang seolah memancar dari punggung tegap majikannya itu.“Tuan,” panggil Diana memecah kesunyian.Daniel tidak menoleh. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya yang mahal.“Apakah ... Tuan sering datang ke sini?” tanya Diana kemudian.Matanya menyapu area sekitar yang tampak tak terjamah oleh langkah kaki manusia lain. Hanya ada mereka berdua.Daniel terdiam sejenak, kem
Daniel menatap lekat wajah Diana, mencari sisa-sisa keraguan di sana, namun yang dia temukan hanyalah binar ketulusan yang menenggelamkan logika.Dalam keremangan cahaya lampu tidur, suasana kamar yang dingin mendadak terasa panas oleh ketegangan yang tak lagi bisa dibendung.“Kalau begitu, layani aku malam ini,” ucapnya dengan suara beratnya.Perlahan, Daniel menarik tengkuk Diana dan memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga napas mereka menyatu.Ciuman itu dimulai dengan lembut, sebuah pertautan bibir yang penuh gairah dan rasa ingin memiliki yang dalam.Namun, kelembutan itu segera berubah menjadi lumatan yang menuntut saat gairah mulai mengambil alih kendali.Diana membalasnya dengan intensitas yang sama, jemarinya meremas bahu kokoh Daniel, seolah ingin memastikan bahwa pria ini nyata dan tidak akan membuangnya seperti yang dia takutkan tadi.Lidah mereka saling menari dalam sebuah simfoni bisu, mengecap rasa satu sama lain di tengah degup jantung yang kian berpacu li







