Home / Romansa / Pelayan Cantik Milik Tuan Muda / 5. Daniel sudah Punya Kekasih?

Share

5. Daniel sudah Punya Kekasih?

Author: CeliiCaaca
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-12 00:55:06

“Pu-puaskan, Tuan?”

“Ya.” Daniel mengangguk singkat. “Puaskan hasratku sampai tuntas.”

Diana menelan ludahnya dan keringat dingin membasahi keningnya. “Ta-tapi, saya–”

“Aku tidak butuh pelayan yang tidak berguna. Kalau tidak mau melayani sesuai perintahku, angkat kaki dari rumah ini sekarang juga. Kalau mau, kamu tetap akan dapat gaji, dan aku akan memberimu bonus jika berhasil membuatku puas.” 

Dia lalu menyandarkan tubuh ke sofa dengan malas, seperti seorang hakim yang hanya menunggu vonis dijatuhkan.

Mata gelapnya menatap Diana tanpa berkedip. Alkohol membuat sorot itu semakin tidak stabil, tetapi juga semakin berbahaya.

“Jika kamu mau,” lanjut Daniel pelan dan berat, “kamu tetap bekerja di sini. Malam harinya, kamu datang padaku dan melayaniku. Pagi harinya, kamu kembali bekerja seperti biasa.”

Diana terperangah mendengar ucapan Daniel barusan. Bagaimana mungkin Diana melakukan hal itu sedangkan dia sama sekali belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapa pun. Bahkan menjalin hubungan dengan pria mana pun belum pernah dia lakukan. 

Hidupnya sibuk dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Namun, datang ke rumah mewah dan bertemu dengan Daniel justru membuatnya harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupnya. 

Diana menggigit bibirnya keras-keras sampai hampir terasa asin. Tangannya sibuk meremas jari-jari sendiri, kebiasaan yang selalu muncul kalau dia takut dan tidak tahu harus bagaimana.

“Tolong beri saya waktu untuk berpikir, Tuan,” bisiknya lirih.

“Tidak bisa,” jawab Daniel pendek. 

Pria itu mencondongkan tubuh sedikit ke depan dan menatap wajah Diana seolah ingin mengupas reaksi wanita itu hingga lapisan paling dalam.

“Kenapa harus berpikir, huh? Aku tahu kamu sangat butuh pekerjaan ini, Diana.”

Diana sontak terhenyak. Daniel mengucapkannya dengan tenang, tapi justru ketenangan itu membuat semuanya lebih menyesakkan.

Diana memejamkan matanya sejenak dan bayangan tentang Citra yang harus membayar uang sekolahnya dalam minggu ini, sewa rumah yang sudah menunggu diperpanjang. 

Daniel mengangkat botol whiskey itu dan memutar-mutar cairan di dalamnya sebelum menenggaknya. Dia lalu menaruh botol itu di meja dengan bunyi dentingan keras yang membuat Diana tersentak.

Diana rasanya ingin runtuh di tempat. Dia lalu memejamkan mata sebentar, menarik napas gemetar, lalu membukanya lagi dengan tatapan yang tidak stabil.

Dengan suara hampir tidak terdengar, dia akhirnya mengangguk. “Baik, Tuan.”

Daniel mengangkat dagunya sedikit, seolah memastikan ia tidak salah lihat. “Kamu menerima?”

Diana menelan ludah dengan susah payah. “Kalau Anda menepati janji untuk membayarku.”

Senyum tipis muncul di wajah Daniel. Senyum yang tidak sepenuhnya hangat, tidak sepenuhnya puas, tapi senyum seseorang yang mendapatkan apa yang dia mau.

“Kalau begitu,” ujar Daniel sambil bersandar, “kita lakukan sekarang juga.”

Jantung Diana seperti berhenti berdetak. “A-apa?”

Daniel meletakkan foto mantan tunangannya di meja dan mulai hendak bangkit dari sofa. “Sekarang.”

Diana melangkah mundur refleks. Dia belum bersiap, belum benar-benar memproses apa yang telah dia setujui. Napasnya tercekat dan kulit tengkuknya merinding ketakutan.

Namun baru saja Daniel berdiri setengah, gedoran keras menghantam pintu.

BRAK! BRAK! BRAK!

Daniel memaki kasar. “Shitt! Siapa bedebah yang datang di malam-malam begini?!”

BRAK!

“Buka pintu itu!” serunya kepada Diana.

Diana tersentak dan langsung bergerak dengan tubuh masih gemetar. Dia membuka kunci pintu dengan tangan yang hampir tidak bisa mengontrol diri.

Begitu pintu terbuka sedikit, seseorang langsung mendorongnya dari luar. Seorang wanita masuk dengan aura menggelegar.

Cantik. Sangat cantik. Kulit putih, rambut panjang bergelombang sempurna, lipstick merah, gaun hitam ketat yang memeluk tubuhnya. Wangi parfumnya langsung memenuhi ruangan.

Wanita itu memicingkan mata ke arah Diana dan menatapnya dari kepala sampai kaki.

Pandangan itu penuh penilaian dan penuh meremehkan.

Diana baru sadar dia masih memakai seragam pelayan hingga membuat wanita itu mengangkat satu alisnya.

“Kau siapa?” tanyanya dengan suara datarnya.

Diana hendak membuka mulut, namun tidak ada suara yang keluar.

Wanita itu tidak menunggunya menjawab. Dia memerhatikan ruangan, kemudian menatap pintu yang tadi terkunci.

“Tadi pintunya terkunci.” Suaranya tajam. “Kenapa? Apa yang kau lakukan di dalam sini dengan Daniel, huh? Kau pasti sedang merayunya, kan? Pembantu murahan!”

Diana langsung membeku mendengarnya. Ingin rasanya dia membalas ucapan itu, namun lidahnya mati rasa. Dia tidak bisa menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa.

Wanita itu mendecak, seolah sudah cukup melihat semuanya. Dia berlalu begitu saja dari Diana dan melangkah cepat menuju Daniel.

“Sayang,” ucap wanita itu manja namun penuh tekanan, “kau tidak mengangkat teleponku sejak tadi.”

Diana mengerutkan kening.

Sayang? Daniel punya kekasih? Lalu, kenapa Daniel ingin Diana melayaninya padahal Daniel sudah punya kekasih?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   201. Our Happy Ending - Tamat

    Dua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   200. Debat Kecil Sebelum Pernikahan

    Lampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   199. Pengakuan Diana

    “Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   198. Garis Merah di Pagi Hari

    Tiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   197. Bukan Seorang Monster

    Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   196. Keadilan dalam Pengasingan

    Kantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status