Mag-log inPagi datang terlalu cepat bagi Diana. Wanita itu kembali mengenakan seragam pelayan berharap Daniel tidak jadi memecatnya.
“Tolong antarkan kopi untuk Tuan Daniel,” ucap Angela sambil memberikan nampan berisi kopi kepada Diana.
Wanita itu menerima nampan tersebut dan berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang kerja Daniel. Tangannya gemetar meski dia berusaha menggenggam nampan kopi itu sekuat mungkin.
Aroma kopi hitam yang masih mengepul hangat tidak mampu menenangkan debar jantungnya.
Setiap langkah mendekati pintu itu membuat kepalanya semakin penuh dengan ingatan malam sebelumnya, kata-kata Daniel, pintu yang terkunci, tawaran yang tak pernah benar-benar dia pahami sepenuhnya.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
“Masuk.”
Dia lalu membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Daniel duduk di balik meja kerjanya, mengenakan kemeja rapi dengan lengan digulung setengah.
Rambutnya tersisir rapi, wajahnya bersih bahkan Diana sempat terpana karena penampilan Daniel jauh lebih baik daripada semalam yang tampak lusuh, mata merah, dan tatapan yang tajam.
Diana menunduk sopan. “Selamat pagi, Tuan. Kopi Anda.”
Dia melangkah mendekat dan meletakkan cangkir kopi di sisi meja. Tangannya bergetar kecil, tapi dia memaksa diri untuk tetap tenang. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan pria itu.
Daniel tidak langsung menyentuh kopi itu. Matanya justru mengangkat menatap Diana tanpa senyum, tanpa emosi yang mudah dibaca.
“Kenapa kamu tidak datang ke kamarku semalam?” tanyanya dengan datar dan dingin.
Pertanyaan itu jatuh langsung begitu saja dengan tajam dan tanpa basa-basi.
Diana langsung membeku.
Jantungnya seperti terhantam dinding. Dia tahu pertanyaan itu akan datang, tapi tidak menyangka Daniel akan mengatakannya secepat dan setegas itu dan enggorokannya terasa kering.
“Saya ….” Diana menarik napas dan memaksa suaranya keluar. “Saya minta maaf, Tuan.”
Daniel menyandarkan punggung ke kursinya sambil melipat tangan di depan dada. “Aku sudah mengatakan dengan jelas. Aku menunggumu tapi kamu tidak datang. Kenapa?”
Diana menunduk lebih dalam. “Karena semalam Anda kedatangan tamu, Tuan.”
Daniel mengangkat alisnya sedikit. “Dan?”
“Wanita itu,” lanjut Diana dengan suara pelan namun berusaha tegas, “datang ke ruang kerja. Dia terlihat sangat yakin bahwa dia berhak ada di sini. Saat saya membawakan minuman itu, dia mengusir saya dan jangan datang ke ruangan Anda lagi.”
Daniel menghela napas pendek, seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu.
“Dia menyebut Anda dengan kata ‘Sayang’,” ucap Diana hati-hati, lalu memberanikan diri mengangkat pandangan. “Saya pikir dia adalah kekasih Anda.”
Daniel menatap datar wajah Diana. “Dia bukan kekasihku,” katanya memberitahu.
Diana mengerutkan kening tanpa sadar. “Tapi—”
“Aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya,” potong Daniel. Nada suaranya tenang, namun ada ketegangan tersembunyi di baliknya. “Dia yang menyukaiku. Bukan sebaliknya.”
Diana langsung terdiam. Kata-kata itu terasa dingin, seolah hubungan manusia bisa dipisahkan hanya dengan satu kalimat sederhana.
Daniel melirik jendela sejenak sebelum kembali menatap Diana. “Sera mengenal orang tuaku. Keluarganya dekat dengan keluargaku. Setelah tunanganku pergi ….”
Daniel berhenti sejenak dan rahangnya mulai mengeras. “Orang tuaku meminta seseorang untuk ‘mengalihkan perhatianku’. Agar aku melupakan wanita yang sudah pergi meninggalkanku.”
Diana tidak berkata apa-apa, lebih tepatnya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Dia mau melakukannya,” lanjut Daniel datar. “Itu saja.”
“Tapi, Tuan. Jika sudah ada wanita lain di hidup Anda, kenapa Anda menginginkan saya menjadi pelayan pribadi Anda? Melayani Anda untuk memuaskan hasrat Anda?” tanya Diana dengan hati-hati dan juga sebenarnya dia sangat ingin tahu.
Dia kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan mengitari meja lalu mendekati Diana. Setiap langkahnya membuat Diana refleks menegakkan tubuh, sementara jantungnya kembali berpacu.
Daniel berhenti tepat di hadapannya. “Karena aku tidak menginginkannya.”
“Lalu, dengan saya?” tanya Diana kembali.
“Karena kamu butuh uang dan aku butuh wanita yang hanya akan kujadikan sebagai teman tidurku. It’s so simple, Diana.”
Diana langsung menelan ludahnya dan akhirnya dia paham. Bahwa pria itu hanya menginginkan tubuhnya, hanya ingin melampiaskan hasratnya dengan cara membayarnya dengan harga yang sudah mereka sepakati semalam.
“Jadi, kamu tidak bisa lari dariku lagi karena kamu sudah menyepakati perjanjian itu semalam, Diana,” ucap Daniel dengan suara dinginnya.
Diana menelan ludah. “Saya tidak bermaksud melanggar janji, Tuan. Saya hanya melihat situasi semalam sangat tidak memungkinkan karena wanita itu tidak pulang hingga pukul satu pagi.”
Daniel menatap wajah Diana lekat-lekat. “Aku tidak mau mendengar alasan apa pun dari mulutmu,” katanya. “Aku tidak peduli siapa yang datang dan apa yang terjadi semalam. Kamu sudah mengatakan kamu setuju.”
Diana menelan ludahnya kembali dan menatap wajah Daniel. “Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Tuan?” tanyanya dengan pelan.
“Lakukan tugasmu seperti perjanjian semalam,” ucap Daniel dengan nada yang tidak memberi ruang tawar-menawar.
“Selesaikan pekerjaanmu sampai sore, kemudian datang ke kamarku malam ini. Pukul sepuluh malam!”
Dua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal
Lampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D
“Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.
Tiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un
Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin
Kantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb







