共有

4. Puaskan Aku

作者: CeliiCaaca
last update 公開日: 2025-12-12 00:43:49

Tanpa berkata apa pun, Daniel kembali berjalan masuk ke dalam dan duduk di sofa sambil melipat tangan di dadanya.

Kemeja kerjanya terbuka dua kancing di atas, lengan yang tergulung asal, dan sebuah botol whiskey kaca setengah kosong di meja kopi.

“Tuan, saya bisa belajar. Saya bisa memperbaiki semua kesalahan saya. Tolong jangan pecat saya. Saya melakukan ini untuk keluarga saya. Saya … saya akan melakukan apa saja asalkan tetap bekerja di sini.”

Kata terakhir itu seperti terlepas tanpa bisa ia tarik kembali.

“Apa saja.”

Daniel akhirnya mengalihkan pandangan menatap Diana. Dia memandangnya dari atas ke bawah secara perlahan.

Bukan tatapan kejam seperti siang tadi, tapi tatapan seseorang yang tidak sepenuhnya sadar karena terpeleset di antara mabuk dan kesedihan yang menahun.

Wanita di foto itu masih berada di tangannya.

“Apa saja, huh?” gumam Daniel seraya menyunggingkan senyum penuh misterius.

Diana menelan ludahnya karena dia tidak mengerti arah pembicaraan ini, tetapi ketakutan dan putus asa mendorongnya maju.

“Ya, apa saja. Asal saya bisa tetap bekerja di sini,” ucap Diana sambil mengangguk dan memainkan jarinya karena gugup.

Daniel terdiam sejenak.

Lalu dia menggerakkan kepalanya sedikit dan menatap pintu di belakang Diana.

“Tutup pintunya.”

Diana mengerjap. “A-apa, Tuan?”

“Tutup pintu,” ulang Daniel dengan nada yang lebih rendah dan tegas. “Dan kunci.”

Diana hanya bisa menelan salivanya karena dia tidak tahu apa maksud Daniel barusan.

Apakah ini hanya reaksi orang mabuk? Perintah kosong? Atau sesuatu yang lain?

Namun dia sudah berjanji, apa saja akan dia lakukan asal tetap bekerja di sana.

Dan dia tidak bisa kehilangan pekerjaan ini.

Dengan tangan gemetar, Diana berbalik dan menutup pintu perlahan. Suara klik ketika pintu tertutup terdengar terlalu keras di telinganya.

Tangannya terhenti di atas kunci.

Dia menoleh dan berharap Daniel membatalkan perintah itu. Tetapi pria itu hanya menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca.

“Pintunya dikunci, Tuan?” tanya Diana sekali lagi, untuk memastikan.

Daniel hanya mengangkat kedua alisnya sedikit, sebuah gerakan kecil, namun cukup memberi jawaban pada Diana.

Wanita itu akhirnya memutar kunci hingga bunyi klik kedua terdengar jauh lebih menakutkan dari yang pertama.

Dia berbalik kembali dengan debar jantung yang menghantam dadanya seperti ingin keluar.

Daniel mengangkat botol whiskey dan meminumnya lagi, lalu menaruhnya tanpa hati-hati di meja. Suara dentingan kaca membelah keheningan.

“Apa saja, ya?” Daniel mengulang kata itu dengan lambat, lalu menyandarkan tubuh ke sofa.

Foto wanita itu masih digenggamannya, jari-jarinya menelusuri bingkai seolah itu satu-satunya hal yang menahan dirinya untuk tidak hancur.

Diana berdiri di depan sofa, dan tidak tahu harus memulai dari mana, atau apa yang sebenarnya terjadi.

Daniel menatap fotonya lama, sangat lama, hingga akhirnya dia mengalihkan pandangan kembali pada Diana.

Tatapan itu kosong namun terselimuti luka. “Dia bilang hal yang sama,” gumam Daniel dengan pelan. “Bahwa dia akan melakukan apa saja asal tetap bersamaku.”

Daniel mengangkat fotonya sehingga cahaya jatuh tepat pada wajah wanita itu.

“Kau tahu apa akhirnya?” ucapnya lalu tertawa getir. “Dia pergi. Menikah dengan orang lain. Menyebut semua waktu yang dia habiskan denganku hanyalah sebuah kesalahan.”

Diana menunduk dan tidak tahu apakah dia berhak mendengar semua ini. Namun, satu hal yang Diana pahami bahwa Daniel sedang merasakan sakit karena dikhianati oleh wanita itu.

“Tuan … saya—”

“Tidak ada yang bertahan,” potong Daniel dengan tatapan yang semakin menajam.

“Tidak ada yang sungguh-sungguh. Semuanya hanya bicara sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Kau pun begitu, bukan?”

Diana menelan salivanya dengan pelan. “Ta-tapi, Tuan. Saya hanya ingin bekerja di sini, bukan untuk … sesuatu yang sudah membuat Anda ….”

Entah apa yang harus Diana katakan setelah itu. Karena Diana hanya ingin bekerja, bukan untuk menjadi calon istri Daniel.

“Saya hanya ingin bekerja di sini, Tuan. Sungguh. Saya bisa melakukan apa saja, memasak apa pun yang Anda inginkan, saya akan melakukannya.”

Daniel menatap datar wajah Diana tanpa mengatakan apa pun. Matanya semakin sayu akibat alkohol yang dia tenggak berulang kali.

“Saya sedang kesulitan ekonomi, Tuan. Sewa rumah orang tua saya, biaya sekolah adik saya. Saya mohon dengan sangat agar Anda tidak memecat saya, Tuan.”

Daniel memiringkan kepalanya dan akhirnya paham bahwa wanita di hadapannya ini sedang membutuhkan dirinya.

Dengan senyum miring dan misterius, Daniel akhirnya berkata, “Kalau begitu, puaskan aku.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   201. Our Happy Ending - Tamat

    Dua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   200. Debat Kecil Sebelum Pernikahan

    Lampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   199. Pengakuan Diana

    “Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   198. Garis Merah di Pagi Hari

    Tiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   197. Bukan Seorang Monster

    Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   196. Keadilan dalam Pengasingan

    Kantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status