Share

156. Papa

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 22:29:09
Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang.

Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan.

"Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat.

"Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?"

Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su
Yuli F. Riyadi

Bab 154 kemarin yang tanpa sengaja double up, udah direvisi ya, Gaes. Jadi sekarang isinya udah jadi bab 155. Oh iya, yang belum mampir review di cover depan. Bantu review dong, biar bintang Serena nyala. Hiks... Satu lagi, aku baru up cerita baru, semoga di-acc agar bisa up lagi di sini.

| 4
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anies
makasih up'nya thor... di tunggu rilis nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   156. Papa

    Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang. Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan. "Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat. "Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?" Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   155. Pertengkaran

    Kontras dengan wajah Serena yang tampak murung, Max terlihat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Dokter bilang usia kandungan Serena sudah memasuki minggu ke-13 dengan kata lain benar-benar sudah menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa Serena tidak merasakan tanda-tandanya? Bahkan anggota tubuh janin sudah terbentuk sempurna. "Kalau dibawa terbang jauh nggak masalah kan, dok?" tanya Serena. Karena itulah yang dia pikirkan. Dia ingin tetap bisa kembali ke Cambridge meskipun sedang mengandung. "Melihat kondisi ibu dan janin, saya yakin akan baik-baik saja. Anda tidak mengalami efek kehamilan yang berlebihan kan?" Serena menggeleng. Jangankan efek, tahu dirinya hamil saja tidak. Dia tampak lega saat dokter memberinya izin. "Serena, kamu beneran akan kembali ke Cambridge meskipun sedang hamil?" tanya Max tak percaya. Max cukup tahu kesibukan Serena di sana. Membiarkan dia kembali sangat berisiko. Jika sedang sibuk, Serena bahkan lupa waktu makan. "Aku nggak mungkin mengh

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   154. Tidak Mungkin

    "Dia memang pantas mendapatkannya." Ucapan sadis itu diucapkan seorang wanita sehalus Helen. Kabar Thomas yang tertikam dengan cepat sampai ke telinganya. Terdengar kejam, tapi Helen tampak puas mendengar kabar itu. "Ma," tegur Serena. Lantas menarik napas panjang. Dia tahu ibunya itu masih menyimpan dendam tapi rasanya keterlaluan mengucapkan hal itu saat seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Serena menarik lembut tangan ibunya. "Aku tahu Mama masih sangat kecewa dan benci sama dia. Tapi, dia seperti itu karena menyelematkan nyawaku, Ma. Kalau nggak ada dia, mungkin aku yang sedang terbaring di sana. Ah, nggak. Bahkan mungkin mama sedang menangisiku karena aku nggak mungkin bisa bertahan hidup.""Kamu bicara apa sih, Sayang." Helen terlihat tak terima. Dia meremas tangan Serena dengan wajah masam. "Sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Mama rasanya apa yang dialami cukup sepadan atas apa yang sudah dia lakukan ke kita.""Tapi Mama tetap nggak boleh bicara begitu."

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   153. Aku Menyesal

    Suara debuman keras terdengar memenuhi ruang temaram nan dingin. Jeritan kesakitan berbaur dengan aroma darah membuat situasi tampak mencekam. Orang-orang bertubuh tinggi, berbaju hitam dan berwajah seram berdiri di hampir setiap sudut ruangan. Kehadiran sosok-sosok itu cukup mengintimidasi enam orang yang terduduk tak berdaya dan penuh luka. Namun di antara semuanya, ada sesosok dominan yang hanya sekali melihat saja sudah membuat kuduk merinding. Duduk di tempat paling tinggi dalam ruangan itu. Hanya dengan gerakan ringan tangan dan matanya, dia bisa memerintah tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia Max Evans, yang dengan sekuat hati menahan diri untuk tidak membunuh orang-orang kurang ajar yang berani menyentuh istrinya. "Tuan, apa ini masih belum cukup?" tanya Calvin yang setia berdiri di sampingnya. "Belum."Jawaban singkat tapi sanggup membuat enam pasang mata yang sudah tidak berdaya di bawah sana ketakutan luar biasa. "Tuan! Ampuni kami, kami menyesal! Kami benar-benar menye

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   152. Ayah Akan Baik-baik Saja

    Suara berisik mengusik lelap Serena. Kelopak matanya berkedut, dua alisnya berkerut. Suara berisik, dan juga rasa sakit yang mendera kepala membuatnya mengernyit. Suara teriakan dan debuman silih berganti memenuhi pendengaran. Serena juga mendengar kaki dan tangan yang mengentak. Menahan rasa sakit di kepala, wanita itu membuka mata secara perlahan. Samar dia melihat pergerakan cepat beberapa kaki yang saling beradu. Teriakan demi teriakan juga semakin jelas terdengar. Pusing membuatnya tidak bisa mencerna keadaan. Dia kembali memejamkan mata, mencoba mengambil napas pelan-pelan. Seingatnya dia sedang bersama Asher di sebuah kafe, lantas Thomas muncul. Setelah itu... Serena kembali membuka mata dan menemukan dirinya tergeletak di atas tanah. Tangan dan pakaiannya kotor, dan badannya lumayan nyeri. Suara debuman benda jatuh yang mengenai tanah membuatnya cukup terkejut. Dia melihat orang terkapar di depan mata dengan wajah lebam. Saat tatapannya bergulir dia melihat Asher dan juga

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   151. Ayah itu Momok

    "Ya, aku tahu. Kamu akan sulit memaafkan aku."Pria itu menunduk. Wajahnya tampak sendu dan terlihat putus asa. Meskipun semua sudah berlalu luka itu masih membekas di hati Helen. Itu yang membuat Serena ragu untuk menerima laki-laki itu. "Bukan aku yang seharusnya Anda mintai maaf, tapi ibuku." Serena menarik napas panjang sebelum meraih tasnya. "Aku harus pergi." Thomas mendongak cepat. "Serena, apa kamu benar-benar tidak ingin menerimaku sebagai ayah?" tanya pria itu, yang cukup membuat kening Serena berkerut samar. Ingin rasanya Serena berteriak : betapa tidak tahu dirinya Anda! Tapi yang dia lakukan hanya membuang napas kasar sebelum benar-benar pergi meninggalkan Thomas. "Serena, tunggu--" Tidak peduli panggilan Thomas, Serena melangkahkan kaki lebar-lebar. Sepertinya dia butuh ketenangan sekarang. Ada pergulatan batin yang mengusik jiwanya. Perkara manusia yang bernama 'ayah' sedikit menjadi momok baginya. Mengingatkan pada sosok Jack Gilbert yang tidak pernah menjadi sos

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status