Masuk"Nina! Siapa yang menyuruh kamu bicara?!" Kembali Jessica menegur keras, membuat perempuan bernama Nina itu langsung menunduk.
Suasana kembali hening di bawah tatapan menghujam Jessica. "Dengar! Saya tidak mau mendengar kalian bergosip atau membicarakan hal-hal di luar kerjaan kalian. Sekali lagi saya mendengar lagi ucapan-ucapan yang tidak masuk akal, saya akan bertindak tegas kepada kalian. Kalian cukup bekerja dengan benar, jangan membuat masalah yang bisa memantik kemarahan Tuan Max. Paham?!" "Paham, Bi!" Semua kompak menjawab. Tidak ada yang berani bersuara lagi sampai briefing pagi bubar. "Serena," panggil Jessica memutar badan menghadap gadis itu. "Semua pelayan di sini punya tugasnya masing-masing. Seperti yang kemarin saya bilang kamu akan bertugas melayani keperluan Tuan Max." Wanita paruh baya itu menunjukkan satu bundel kertas. "Semua kebiasaan Tuan Max dari bangun tidur hingga tidur lagi tertulis di sini. Kamu bisa baca, dan jika ada yang tidak kamu mengerti bisa langsung tanya ke saya." "Baik, Bi." Serena menerima bundelan kertas tersebut dan membaca isi di bagian depannya. Bukan hanya kebiasaan Tuan Max yang tertulis, bahkan gambar denah mansion ini pun ada. "Rumah besar ini punya desain yang lumayan membingungkan." Jessica mengedipkan mata pelan, membenarkan. "Saya akan menyuruh Lety mengantar kamu berkeliling mansion. Kamu harus hafal tiap ruangan yang ada di sini." Tangan wanita itu terulur dan menepuk pelan pundak Serena. Tatapannya melembut. "Bekerja yang rajin, dan jangan membuat masalah di sini. Tuan Max agak sulit dihadapi." "Saya akan berusaha, Bi." Tidak ada pilihan lain. Setidaknya saat ini Serena memiliki tempat bernaung yang aman. *** "Tidak ada yang istimewa. Bahkan dadamu sangat rata." Ucapan sinis itu terlontar dari mulut Lety. Saat ini Serena sedang berkeliling mansion ditemani wanita itu. Wanita dewasa yang seragamnya kekecilan. "Berapa usiamu?" Masih dengan nada angkuh Lety bertanya. "Tujuh belas tahun." "Apa?! Bahkan usiamu baru 17 tahun, bisa-bisanya Tuan Max menerimamu." Mata Lety memelotot syok. "Kamu benar-benar dibeli Tuan Max? Kamu belum cukup umur untuk bekerja sebagai pelayan di sini." Wanita di depannya terlalu cerewet. Sebelumnya Jessica sudah berpesan untuk tidak terlalu menghiraukan Lety jika terlalu banyak bicara. "Kak Lety, sebaiknya kita segera berkeliling. Jangan sampai kita kena omelan Bibi Jessi," ujar Serena mengingatkan. Dia kembali fokus pada gambar denah yang dia pegang. Lety melengos kesal. Lantas menunjuk malas ruangan di sebelahnya. "Ini gym room. Setiap pagi sebelum sarapan biasanya Tuan Max nge-gym dulu di sini." Serena mengangguk senang akhirnya Lety bisa fokus kembali. "Aku heran kenapa Tuan Max mau membeli kamu. Demi apa pun selain warna mata kamu, tidak ada yang istimewa sama sekali." Refleks Serena membuang napas. Dia pikir Lety sudah melupakan rasa penasarannya. "Apalagi Tuan mengizinkan kamu tinggal di mansion ini! Aku yang sudah tiga tahun di sini hanya sekedar numpang tidur siang saja dilarang. Bagaimana bisa gadis kecil seperti kamu—Hei!" Lety berseru kesal saat Serena mengabaikan dirinya dan memilih meninggalkan wanita itu. Serena tertawa kecil sambil terus berjalan cepat. Pura-pura tidak mendengar Lety yang terus mengomel di belakangnya. Hingga— "Ah!" Tanpa sadar tubuhnya menghantam benda keras. Saking kerasnya Serena sampai terjungkal ke lantai. Di belakang gadis itu, Lety yang sejak tadi mengomel sontak bungkam dengan wajah terkejut. Serena mengusap kepalanya yang sempat terantuk benda keras itu sambil meringis. "Kenapa tiba-tiba ada beton di sini?" gumamnya pelan. Saat tatapnya bergulir ke atas untuk melihat apa yang dia tabrak, ringisan di wajahnya mendadak raib. Dia terkejut mendapati— "Apa Tuan Max baik-baik saja?" tanya Lety yang segera sadar situasi. Kuduknya meremang melihat wajah masam tuannya itu. Max tidak menjawab, tapi iris mata abunya melirik tajam Serena yang jatuh terduduk di lantai. Sama halnya dengan Lety, Serena pun bisa merasakan kuduknya meremang. Wajah dingin Max bahkan mampu mengalahkan dinginnya pagi ini. Dada Serena berdebar kencang penuh ketakutan. Terlebih saat kaki Max maju selangkah. Tanpa sadar Serena menelan ludah yang mendadak pahit ketika melihat pria yang menjulang di depannya itu membungkuk, mengulurkan sebelah tangan ke arahnya. Serena pikir, Max akan memukulnya seperti saat ayahnya menemukan dirinya berbuat salah. Tapi— "Ayo, bangun." Mata Serena mengerjap. Bukan ingin memukul, tapi ternyata pria itu ingin membantunya. Meski masih dilingkupi rasa takut, Serena menerima uluran tangan Max. "Terima kasih, Tuan," ucapnya seraya menundukkan pandang. "Apa ada yang sakit?" tanya Max. Serena menggeleng. Dengan terbata dia menjawab. "Ti-tidak ada, Tuan. Maaf atas kecerobohan saya." Kepalanya makin menunduk dalam. "Lain kali hati-hati." Max memperhatikan gadis itu dalam diam selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan beranjak menuju ruang gym. Kepergian Max membuat Serena menemukan kembali udara sekitar yang sempat menipis. Dia mengusap dada dan membuang napas pelan dari mulut. Baru hari pertama tapi sudah melakukan kesalahan. "Serena!" pekik Lety. Membuat Serena serta merta menoleh. Ah, dia hampir lupa dengan keberadaan seniornya itu. Mulut Lety ternganga tak percaya. Dia berjalan mendekati Serena sambil memindai gadis itu dari ujung rambut hingga kaki. "Ada apa, Kak?" tanya Serena bingung dengan tingkah pelayan seksi itu. "Apa aku tidak salah lihat?" Lety menunjuk ruangan yang di dalamnya ada Max Evans, lantas menunjuk Serena Dengan mata melebar. "Ajaib sekali Tuan Max tidak marah. Biasanya kesalahan sedikit saja bisa jadi masalah besar. Tapi kamu? Pelayan under training bisa dimaafkan begitu saja?" Lety menggeleng masih tak percaya. Serena hanya nyengir mendengar ucapan seniornya itu. Baginya lolos dari amukan tuannya sudah sangat bersyukur. Tiba-tiba mata Lety menyipit dan senyumnya yang penuh makna terbit. "Itu pasti karena Tuan Max memiliki perasaan spesial ke kamu." Hah? Spesial? Mustahil! "Kamu harus bisa memanfaatkan ini dengan baik, Serena." "Maksud Kak Lety?" "Dekati Tuan Max. Buat dia tergila-gila sama kamu,” ucap Lety dengan wajah serius. “Dengan begitu, kamu bisa mengamankan posisimu di rumah ini, dan tidak perlu khawatir lagi harus hidup susah!” Mendengar itu, Serena tersentak. Apa itu berarti … pada akhirnya dia juga harus belajar cara untuk melayani Max di ranjang?"Ada apa? Kenapa kamu menatap kami, Boy?" tanya Max heran sembari menatap balik putranya. Tangannya meraih gelas berisi air putih. Mata bulat Luke mengerjap. Dia menoleh ke samping, tempat di mana Calvin duduk tengah menikmati makan malam juga. "Uncle Calv bilang, Mom and Dad sedang membuat adonan adik bayi." Wajah Luke kontan mengerut saat melihat ibunya tersedak, ayahnya mematung, dan Calvin terbatuk hebat. Orang dewasa benar-benar aneh. "Kenapa kalian tidak mengajakku? Mom tahu aku dan dad biasa membuat adonan di dapur." Wajah Calvin yang sudah memerah makin merah lantaran mendapatkan tatapan tajam dari Max dan juga Serena. Setelah berhasil mengatur kondisi diri, dia berusaha menenangkan para tuannya itu. "Serena, Tuan. Saya bisa jelaskan—" jantung Calvin seakan mau lepas ketika Max mengangkat tangannya. "Kalau kamu bosan menerima gaji dariku bilang saja, Calv." Calvin terperanjat, lantas menggeleng dengan perasaan tak enak. "Saya janji tidak akan bicara sembarangan lagi," kat
Untuk pertama kalinya Luke melihat rumah besar ayahnya. Tangan mungilnya menggandeng erat tangan Serena begitu turun dari mobil, sambil terus memandangi mansion Evans. Kepalanya lantas menoleh ketika sang ayah menyusul keluar dari mobil. "Welcome to our home, Son," ucap Max seraya mengambil berdiri di sisi kanan sang anak. "Home? I think it's a big palace." Komentar Luke membuat Max tertawa dan Serena tersenyum kecil. Kepolosan yang sangat lucu. Serena jadi ingat pemikirannya dulu juga sama dengan Luke. Entah untuk siapa Max membangun rumah semewah ini. "Kamu benar. My home, my palace, right?" Luke menyentak tangan ayahnya. "Then..." mata abu bulatnya menyisir satu per satu orang-orang yang berbaris rapi menyambut kedatangannya. Bagi Luke ini masih aneh. "Who are they?" Semua pelayan yang menyambut kedatangan ketiga tuannya masih memasang senyum. Berbaris rapi di bawah kepemimpinan Lety yang sekarang menjadi kepala pelayan. Mereka terlihat gemas melihat wujud bos kecilnya. Terle
3 TAHUN KEMUDIAN...===================="That's Mom!""You're right!" Max dengan seorang anak laki-laki di gendongannya bergerak mendekati Serena yang tengah mengobrol dengan rekan sesama wisudawan di halaman Senator House. Anak dua tahun di gendongannya membawa buket bunga pilihannya sendiri.Keduanya tidak langsung mendekat dan berhenti melangkah. Membiarkan Serena menyelesaikan urusannya selama beberapa saat. "Mom kamu cantik, kan?" "Yes, Dad! She's the most beautiful woman in the world.""Kamu benar." Senyum Max mengembang dikuti senyum menawan anak di gendongannya. "Put me down, Dad." Kaki kecil itu bergerak meminta sang ayah menurunkan. Dia tidak sabar untuk menemui Serena.Dan begitu kaki kecil berbalut sepatu menapak di tanah halaman, anak itu berlari kecil. "Mom!"Seolah sadar, wanita yang sedang berbincang tak jauh dari posisinya, menoleh. "Luke! No, don't run!"Serena segera meninggalkan teman-temannya dan berlari menyongsong anak dua tahun itu. Dia sontak berjongkok d
Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang. Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan. "Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat. "Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?" Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su
Kontras dengan wajah Serena yang tampak murung, Max terlihat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Dokter bilang usia kandungan Serena sudah memasuki minggu ke-13 dengan kata lain benar-benar sudah menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa Serena tidak merasakan tanda-tandanya? Bahkan anggota tubuh janin sudah terbentuk sempurna. "Kalau dibawa terbang jauh nggak masalah kan, dok?" tanya Serena. Karena itulah yang dia pikirkan. Dia ingin tetap bisa kembali ke Cambridge meskipun sedang mengandung. "Melihat kondisi ibu dan janin, saya yakin akan baik-baik saja. Anda tidak mengalami efek kehamilan yang berlebihan kan?" Serena menggeleng. Jangankan efek, tahu dirinya hamil saja tidak. Dia tampak lega saat dokter memberinya izin. "Serena, kamu beneran akan kembali ke Cambridge meskipun sedang hamil?" tanya Max tak percaya. Max cukup tahu kesibukan Serena di sana. Membiarkan dia kembali sangat berisiko. Jika sedang sibuk, Serena bahkan lupa waktu makan. "Aku nggak mungkin mengh
"Dia memang pantas mendapatkannya." Ucapan sadis itu diucapkan seorang wanita sehalus Helen. Kabar Thomas yang tertikam dengan cepat sampai ke telinganya. Terdengar kejam, tapi Helen tampak puas mendengar kabar itu. "Ma," tegur Serena. Lantas menarik napas panjang. Dia tahu ibunya itu masih menyimpan dendam tapi rasanya keterlaluan mengucapkan hal itu saat seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Serena menarik lembut tangan ibunya. "Aku tahu Mama masih sangat kecewa dan benci sama dia. Tapi, dia seperti itu karena menyelematkan nyawaku, Ma. Kalau nggak ada dia, mungkin aku yang sedang terbaring di sana. Ah, nggak. Bahkan mungkin mama sedang menangisiku karena aku nggak mungkin bisa bertahan hidup.""Kamu bicara apa sih, Sayang." Helen terlihat tak terima. Dia meremas tangan Serena dengan wajah masam. "Sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Mama rasanya apa yang dialami cukup sepadan atas apa yang sudah dia lakukan ke kita.""Tapi Mama tetap nggak boleh bicara begitu."







