LOGIN“Saya Jessica, kepala pelayan di mansion ini. Kamu bisa memanggil saya Bibi,” ucapnya, memperkenalkan diri singkat sebelum kemudian lanjut menjelaskan.
“Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini bersama kami. Tuan Calvin bilang saya harus menjaga kamu dan beliau juga berpesan agar saya mengajari kamu untuk melayani Tuan Max.” “Me-melayani Tuan Max?” Ekspresi bingung dan takut tercetak jelas di wajah polos Serena. Tangan Serena mengepal di depan dada. Kalau dibeli oleh Max berarti dia harus melayani pria itu di ranjang, bukankah … itu berarti sama saja dengan dijual ke rumah bordil? Namun, seakan bisa membaca isi pikiran Serena, Jessica melanjutkan penjelasan, “Ya, kamu akan mengurus apa yang Tuan Max butuhkan di rumah ini. Pakaian kerjanya, makanannya, dan segala yang Tuan Max ingin lakukan di rumah ini, kamu nanti yang akan bertanggung jawab. Ke depannya jika ada hal yang tidak dimengerti kamu bisa langsung bertanya kepada saya.” Mata bening Serena menatap Jessica. Bibirnya sedikit bergetar. “Tuan Max tidak akan memaksa saya untuk—” “Jika yang kamu takutkan Tuan Max akan melampaui batas, dia tidak akan melakukan itu,” potong Jessica. “Kamu hanya akan dijadikan pelayan di sini." Mendengar itu, perasaan Serena sedikit lega. Setidaknya dia masih memiliki sedikit harapan— "Meski begitu jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri. Karena itu akan merugikan kamu sendiri." Pandangan Serena kontan menunduk. "Saya tidak berani, Bi." "Baik. Sekarang kamu ikut saya. Akan saya tunjukkan kamarmu." Dengan patuh Serena mengikuti Jessica. Berbeda dengan wanita paruh baya itu yang berjalan cepat dan tegap, Serena berjalan penuh kebimbangan. Sesekali langkahnya tertinggal karena matanya sibuk mengawasi keadaan sekitar. Rumah ini begitu luas dan besar. Dia melewati beberapa ruangan yang Serena tidak mengerti fungsinya apa. Bukan hanya itu, beberapa kali dia berpapasan dengan pelayan wanita yang memberi hormat pada Jessica. Setengah berlari Serena mengejar langkah kepala pelayan itu yang sudah berbelok. Sampai akhirnya dia tiba di depan sebuah ruangan yang pintunya terbuka. "Ini kamar yang akan kamu tempati," ujar Jessica, lantas memasuki kamar itu terlebih dulu. Serena menyusul kemudian. Dia disuguhi nuansa kamar yang serba putih. Luas dan bersih, sangat berbeda dengan kamarnya yang ada di rumah Jack Gilbert. "Ini kamar saya?" tanyanya ragu, matanya tak lepas memandangi ranjang tidur yang kasurnya terlihat empuk. Di atas kasur tersebut terhampar duvert cover paduan warna kuning gading dan kopi. Seumur-umur Serena tidak pernah tidur di tempat yang senyaman itu. Tatapnya lantas beredar ke furnitur lainnya. Ada meja rias juga lemari besar yang tingginya mencapai atap. Sofa panjang berwarna mocca berdiri cantik di dekat jendela tinggi. "Ya, mulai sekarang kamu akan tidur di sini," ujar Jessica melangkah mendekati jendela, lantas membuka tirainya sehingga cahaya matahari sore berpendar masuk menyinari ruangan. "Kamu suka? Di saat pelayan lain tinggal di paviliun belakang, Tuan Max memilihkan kamar ini untuk kamu tinggali." Serena masih sibuk mengawasi setiap sudut kamar dengan matanya. Kakinya bergerak pelan menuju sebuah pintu lain di sudut kamar. "Itu kamar mandi. Oh, sebaiknya kamu bersihkan diri dulu, lalu menyusul ke depan untuk makan." Ah, Serena hampir lupa perutnya yang tak nyaman karena kelaparan. Diingatkan soal makan, perutnya kembali mengeluarkan bunyi. Wajahnya memerah malu saat melihat Jessica tersenyum. "Baiklah. Saya tunggu kamu di dapur depan. Oh iya, di lemari itu ada beberapa pakaian sehari-hari dan seragam pelayan yang harus kamu pakai selama jam kerja. Di luar jam kerja kamu bisa berpakaian biasa." Serena mengangguk senang. Saat Jessica pamit pergi, dia memanggil. "Terima kasih, Bi," katanya lirih. "Saya hanya mengikuti perintah Tuan Max dan Calvin. Kamu bisa berterima kasih dengan bersikap baik di sini," sahut Jessica sebelum menghilang dari balik pintu. ** Pagi-pagi sekali Serena sudah rapi. Mengenakan seragam pelayan yang panjangnya sampai bawah lutut. Jenis seragam yang cukup sopan dan tidak ada aksesoris aneh. Atas arahan Jessica, dia ikut berkumpul bersama pekerja lain di aula mansion. Padahal matanya masih sangat berat. Bagaimana tidak? Sekarang baru pukul empat pagi, tapi mereka sudah berdiri rapi untuk mengikuti briefing. "Mohon perhatian semuanya. Per hari ini kita ada tambahan mainpower lagi," ujar Jessica dengan lantang di depan para pelayan wanita yang jumlahnya sembilan orang termasuk Serena. "Serena, kamu bisa maju ke depan untuk memperkenalkan diri." Gadis tujuh belas tahun itu mengangkat wajah. Hanya sebentar sebelum menunduk kembali dan berjalan ke depan. Di sisi Jessica, Serena berdiri lalu menghadap rekannya. Dia bisa merasakan semua kepala yang ada di sana memperhatikannya dengan berbagai macam ekspresi. Gugup sedikit menyerang, tapi dengan cepat segera dia enyahkan. Sebelum memberanikan diri menatap mereka, Serena menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik, sebelum mengembuskannya lewat mulut. "Se-selamat pagi. Saya Serena. Salam kenal semuanya, mohon bimbingannya," ucap Serena memperkenalkan diri. "Apa dia gadis yang katanya dibeli Tuan Max?" Sebuah suara menyelak. Membuat Serena segera melirik ke sumber suara tersebut. Pun dengan Jessica yang kontan menukikkan alis mendengar pertanyaan itu. "Lety! Jaga bicaramu!" tegur kepala pelayan itu. Wanita yang disebut Lety itu memasang wajah masam. "Aku kan cuma tanya. Gosipnya sudah menyebar kalau Bibi mau tau." "Pantas saja dia tinggal di mansion alih-alih di paviliun pelayan," celetuk lainnya. Wajah iri dengkinya terlihat begitu kental. "Kalau memang dia pelayan sama seperti kita seharusnya dia tinggal di tempat yang sama seperti kita." Serena bisa merasakan tubuhnya bergetar. Ini baru hari pertamanya, tapi sebuah masalah sudah muncul di depan mata. Apa … yang harus dia lakukan?"Ada apa? Kenapa kamu menatap kami, Boy?" tanya Max heran sembari menatap balik putranya. Tangannya meraih gelas berisi air putih. Mata bulat Luke mengerjap. Dia menoleh ke samping, tempat di mana Calvin duduk tengah menikmati makan malam juga. "Uncle Calv bilang, Mom and Dad sedang membuat adonan adik bayi." Wajah Luke kontan mengerut saat melihat ibunya tersedak, ayahnya mematung, dan Calvin terbatuk hebat. Orang dewasa benar-benar aneh. "Kenapa kalian tidak mengajakku? Mom tahu aku dan dad biasa membuat adonan di dapur." Wajah Calvin yang sudah memerah makin merah lantaran mendapatkan tatapan tajam dari Max dan juga Serena. Setelah berhasil mengatur kondisi diri, dia berusaha menenangkan para tuannya itu. "Serena, Tuan. Saya bisa jelaskan—" jantung Calvin seakan mau lepas ketika Max mengangkat tangannya. "Kalau kamu bosan menerima gaji dariku bilang saja, Calv." Calvin terperanjat, lantas menggeleng dengan perasaan tak enak. "Saya janji tidak akan bicara sembarangan lagi," kat
Untuk pertama kalinya Luke melihat rumah besar ayahnya. Tangan mungilnya menggandeng erat tangan Serena begitu turun dari mobil, sambil terus memandangi mansion Evans. Kepalanya lantas menoleh ketika sang ayah menyusul keluar dari mobil. "Welcome to our home, Son," ucap Max seraya mengambil berdiri di sisi kanan sang anak. "Home? I think it's a big palace." Komentar Luke membuat Max tertawa dan Serena tersenyum kecil. Kepolosan yang sangat lucu. Serena jadi ingat pemikirannya dulu juga sama dengan Luke. Entah untuk siapa Max membangun rumah semewah ini. "Kamu benar. My home, my palace, right?" Luke menyentak tangan ayahnya. "Then..." mata abu bulatnya menyisir satu per satu orang-orang yang berbaris rapi menyambut kedatangannya. Bagi Luke ini masih aneh. "Who are they?" Semua pelayan yang menyambut kedatangan ketiga tuannya masih memasang senyum. Berbaris rapi di bawah kepemimpinan Lety yang sekarang menjadi kepala pelayan. Mereka terlihat gemas melihat wujud bos kecilnya. Terle
3 TAHUN KEMUDIAN...===================="That's Mom!""You're right!" Max dengan seorang anak laki-laki di gendongannya bergerak mendekati Serena yang tengah mengobrol dengan rekan sesama wisudawan di halaman Senator House. Anak dua tahun di gendongannya membawa buket bunga pilihannya sendiri.Keduanya tidak langsung mendekat dan berhenti melangkah. Membiarkan Serena menyelesaikan urusannya selama beberapa saat. "Mom kamu cantik, kan?" "Yes, Dad! She's the most beautiful woman in the world.""Kamu benar." Senyum Max mengembang dikuti senyum menawan anak di gendongannya. "Put me down, Dad." Kaki kecil itu bergerak meminta sang ayah menurunkan. Dia tidak sabar untuk menemui Serena.Dan begitu kaki kecil berbalut sepatu menapak di tanah halaman, anak itu berlari kecil. "Mom!"Seolah sadar, wanita yang sedang berbincang tak jauh dari posisinya, menoleh. "Luke! No, don't run!"Serena segera meninggalkan teman-temannya dan berlari menyongsong anak dua tahun itu. Dia sontak berjongkok d
Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang. Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan. "Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat. "Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?" Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su
Kontras dengan wajah Serena yang tampak murung, Max terlihat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Dokter bilang usia kandungan Serena sudah memasuki minggu ke-13 dengan kata lain benar-benar sudah menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa Serena tidak merasakan tanda-tandanya? Bahkan anggota tubuh janin sudah terbentuk sempurna. "Kalau dibawa terbang jauh nggak masalah kan, dok?" tanya Serena. Karena itulah yang dia pikirkan. Dia ingin tetap bisa kembali ke Cambridge meskipun sedang mengandung. "Melihat kondisi ibu dan janin, saya yakin akan baik-baik saja. Anda tidak mengalami efek kehamilan yang berlebihan kan?" Serena menggeleng. Jangankan efek, tahu dirinya hamil saja tidak. Dia tampak lega saat dokter memberinya izin. "Serena, kamu beneran akan kembali ke Cambridge meskipun sedang hamil?" tanya Max tak percaya. Max cukup tahu kesibukan Serena di sana. Membiarkan dia kembali sangat berisiko. Jika sedang sibuk, Serena bahkan lupa waktu makan. "Aku nggak mungkin mengh
"Dia memang pantas mendapatkannya." Ucapan sadis itu diucapkan seorang wanita sehalus Helen. Kabar Thomas yang tertikam dengan cepat sampai ke telinganya. Terdengar kejam, tapi Helen tampak puas mendengar kabar itu. "Ma," tegur Serena. Lantas menarik napas panjang. Dia tahu ibunya itu masih menyimpan dendam tapi rasanya keterlaluan mengucapkan hal itu saat seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Serena menarik lembut tangan ibunya. "Aku tahu Mama masih sangat kecewa dan benci sama dia. Tapi, dia seperti itu karena menyelematkan nyawaku, Ma. Kalau nggak ada dia, mungkin aku yang sedang terbaring di sana. Ah, nggak. Bahkan mungkin mama sedang menangisiku karena aku nggak mungkin bisa bertahan hidup.""Kamu bicara apa sih, Sayang." Helen terlihat tak terima. Dia meremas tangan Serena dengan wajah masam. "Sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Mama rasanya apa yang dialami cukup sepadan atas apa yang sudah dia lakukan ke kita.""Tapi Mama tetap nggak boleh bicara begitu."







