LOGINPukul 20.45.
Anya tersentak bangun. Tubuhnya terguncang kaget karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerbu seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu, kebingungan sesaat dengan apa yang baru saja terjadi dan di mana dirinya berada. "Akhirnya bangun juga!" sebuah suara ketus terdengar dari luar bilik, disusul bunyi kunci yang diputar dan pintu yang terbuka kasar. Berdiri di depannya seorang office girl berseragam abu-abu. Tangannya masih memegang ember kosong, sementara wajahnya tampak cemberut kesal. Namanya tertera jelas pada name tag yang dikenakannya: Yuli. "Ngapain sih tidur-tiduran di toilet orang? Nyusahin aja! Gue kira lo mayat, tau nggak!" omel Yuli. Nada suaranya galak, mirip banget sama gaya Chelsea dan kawan-kawannya. Anya yang masih setengah sadar mencoba bangkit sambil berpegangan pada dinding bilik toilet. Yuli menatapnya dari atas hingga bawah, kaus oversize lusuh yang sudah basah kuyup, celana sederhana, kacamata bulat yang melorot di ujung hidung, serta rambut acak-acakan tanpa bentuk. Alih-alih merasa iba, ekspresinya justru berubah menjadi semakin sinis. "Ish, ini anak siapa sih? Baju gembel gini, kacamata jadul kayak punya nenek-nenek," cibir Yuli sambil terkekeh dan menutup hidungnya dengan berlebihan. "Kaus segede karung beras, mana basah kuyup pula. Serius nih ada orang mau keluar rumah dandanan kayak abis dari kolong jembatan?" Anya menundukkan kepalanya. Wajahnya terasa memanas menahan malu, sementara kepalanya masih berputar terlalu lemas untuk membalas. "Untung gue baik masih mau nyiram lo," lanjut Yuli sambil memutar bola matanya. "Coba nggak, mana gue tau lo di situ sampai kapan. Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi. Pantesan aja kayaknya ke mana-mana sendirian. Siapa juga yang mau temenan sama yang penampilannya aja udah bikin males liat." Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam dari yang seharusnya. Anya menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia bertekad tidak akan menangis di depan orang asing yang bahkan tidak mengenalnya. "Udah sana, cepetan keluar! Gue mau tutup toilet ini!" Yuli mendorong bahu Anya sedikit kasar, lalu menambahkan sambil melangkah pergi, suaranya masih sempat terdengar mengejek, "Mandi yang bersih, terus dandan dikit napa. Masa iya cewek keluar rumah kayak abis lari dari kandang ayam gitu." Suara langkah Yuli perlahan menghilang di ujung koridor, meninggalkan gerutuan samar yang masih sempat terdengar, sesuatu tentang "zaman sekarang ada aja yang nggak niat ngurus diri." Anya berdiri terhuyung, bersandar sejenak pada dinding bilik toilet untuk menyeimbangkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa pusing, pandangannya sedikit berkunang-kunang, dan sekarang ditambah rasa perih di dada yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa sakit fisik. Anjir ... bahkan OB toilet aja tega ngatain penampilan gue, batinnya getir sambil mengusap wajahnya yang basah, entah oleh air pel atau air mata yang mulai merembes tanpa ia sadari. Emang segitu parahnya ya gue kelihatan? Orang yang bahkan nggak kenal gue sama sekali aja ngerasa berhak buat ngehina. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai bilik. Untung saja benda itu tidak ikut basah terkena air. Sungguh bersyukur sekali karena ponselnya masih bisa hidup. Begitu layar ponselnya menyala, matanya langsung membelalak kaget melihat waktu yang tertera di sana. Setengah sembilan?! Gila, gue pingsan lebih dari sejam?! Anya mencoba mencerna kembali semuanya, Chelsea yang mengajaknya masuk ke toilet, pintu yang terkunci, teriakannya yang tak terdengar siapa pun, hingga akhirnya semuanya berubah menjadi gelap. Kalau tadi OB itu nggak nyiram gue ... jangan-jangan gue bakal nginep semaleman di sini. Ada secercah rasa syukur kecil yang menyelinap di hatinya, meski dibalut rasa kesal dan sakit hati yang luar biasa. Setidaknya, ia tidak benar-benar menjadi penghuni tetap toilet mall malam itu. Ia melangkah ke depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin. Kaus oversize-nya basah kuyup dan lecek. Rambutnya acak-acakan tak berbentuk, kacamatanya sedikit miring, sementara bau tak sedap masih tercium jelas dari seluruh tubuhnya. Penampilannya benar-benar kacau, jauh dari kata layak untuk terlihat siapa pun dan kata-kata Yuli barusan seolah menegaskan ulang apa yang selama ini selalu ia dengar, dari sekolah sampai ke toilet mall sekalipun. Bahkan orang asing yang cuma ketemu semenit pun bisa segampang itu ngeremehin penampilan gue, batinnya pahit. Emang segitu nggak berharganya gue di mata orang, ya? Namun, bukan itu yang paling membebani pikirannya saat ini. Gimana caranya gue jelasin ini semua ke Mama sama Papa kalau sampai rumah? Anya menghela napas panjang, mencoba merapikan dirinya sebisanya sebelum melangkah keluar dari toilet yang telah menjadi saksi bisu penderitaannya malam itu. Langkahnya gontai menyusuri lorong mall yang mulai sepi. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Kenapa sih gue harus nurut sama si Tian itu ...“Terima kasih, Nak Dani.” Bibi War tersenyum tulus. Wajahnya berseri-seri saat menerima buket bunga dari Dani. “Ini pertama kalinya dalam hidup Ibu dikasih bunga seperti ini,” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.“Sama-sama, Bu. Lain kali Dani bawain yang lebih besar, deh,” balas Dani sambil tersenyum lebar.“Nggak perlu repot-repot, Nak.”“Nggak repot, kok. Dani malah senang bisa jadi cowok pertama yang ngasih bunga ke Ibu.” Dani mengangkat dagu sedikit, tampak bangga dengan dirinya sendiri.Bibi War terkekeh kecil melihat tingkah pemuda di hadapannya. “Nak Dani ini pandai sekali mengambil hati orang.”Dani tertawa ringan. “Wah, Ibu bisa aja.”Anya yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menghela napas pelan. Siapa sangka, Dani ternyata sangat pandai mendekati wanita, bahkan wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.Kalau begini, tidak mustahil Dani bisa semakin dekat dengannya.Padahal, Anya adalah gadis pendiam, tertutup, dengan tingkat introversi yang bisa dibilang suda
Dani menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Sudah sejak tadi ia ingin menghubungi Anya untuk menanyakan alamat rumahnya, tetapi ia bisa membayangkan bagaimana gadis itu akan bereaksi. Padahal, Dani sudah berjanji akan meminta izin langsung kepada papa Anya. Dan sebagai laki-laki yang ingin membuktikan keseriusannya, ia tidak berniat mengingkari janji itu hanya karena Anya mungkin akan menolaknya.Akhirnya, Dani memutuskan mencari alamat Anya melalui administrasi sekolah.Awalnya, ia mengira akan mendapat banyak pertanyaan. Namun, begitu menyebutkan nama lengkap dan identitas keluarganya, proses itu justru berjalan jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Orang tua Dani berasal dari kalangan konglomerat yang cukup dikenal dan memiliki hubungan baik dengan pihak sekolah. Setelah menjelaskan bahwa ia perlu mengunjungi rumah teman sekolahnya untuk suatu keperluan penting, Dani berhasil mendapatkan alamat yang dicari.Tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap. Sebuah buket bunga yan
“Harusnya Pak Bima, deh,” jawab Dani dari seberang telepon. Anya bertanya nama guru yang mengurus relawan ke jepang, ia ingin bertanya terkait telepon yang papanya terima juga informasi tentang nilai tambahannya.Ia sendiri juga tidak tahu dan bahkan tidak pernah bertemu dengan guru yang mengurus relawan. Karena dari awal pendaftarannya, semua sudah diatur oleh si bencana alam. Ya, siapa lagi kalau bukan Tian.Anya yang sejak tadi menggenggam ponselnya sedikit mengeratkan pegangan. Ia ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.“Emm, boleh minta tolong nggak?”Dani tersenyum miring. Pandangannya beralih pada buket bunga yang sudah ia selipkan ke dalam tasnya.Wah, sepertinya ada kesempatan bagus nih!“Mau minta tolong apa?” tanyanya santai. “Aku boleh ajuin syarat, nggak?”Anya terdiam sesaat.Syarat?Kira-kira syarat apa yang ingin diajukan cowok di seberang sana?Pikiran Anya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia takut Dani akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit atau merepotk
Sempat terlintas di pikiran Tian bahwa hubungan Dani dan Anya mungkin hanya hubungan palsu.Mungkin Dani hanya berpura-pura menjadi pacar Anya.Namun, semua keraguan itu seakan terjawab hari ini.Kontak Anya di ponsel Dani bahkan sudah diberi nama Pacar.Bukan hanya itu. Bahkan ketika Anya tidak datang ke sekolah, Dani tetap berniat mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuket bunga.Tian memijat pelipisnya dengan dua jari.Bukan ini rencananya.Alurnya seharusnya tidak seperti ini.Anya tidak boleh berpacaran dengan sahabatnya sendiri.Terlebih lagi, dengan Dani.“Kenapa semuanya jadi rumit begini?” gumamnya lirih.Otak Tian dipenuhi berbagai pertanyaan.Bagaimana bisa Dani memiliki perasaan kepada cewek cupu seperti Anya?Apa yang menarik dari gadis itu?Menurut Tian, Anya tidak memiliki sesuatu yang istimewa sedikit pun.Namun, semakin ia memikirkannya, semakin kepalanya terasa pusing.*Mereka sudah berpacaran. Pasti bakal semakin dekat, kan?!*Tian mengembuskan napas kasar
Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem
“Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik







