Share

Bayangan di Cermin

Penulis: i'mdream
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 14:26:40

Pukul 20.45.

Anya tersentak bangun. Tubuhnya terguncang kaget karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerbu seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu, kebingungan sesaat dengan apa yang baru saja terjadi dan di mana dirinya berada.

"Akhirnya bangun juga!" sebuah suara ketus terdengar dari luar bilik, disusul bunyi kunci yang diputar dan pintu yang terbuka kasar.

Berdiri di depannya seorang office girl berseragam abu-abu. Tangannya masih memegang ember kosong, sementara wajahnya tampak cemberut kesal. Namanya tertera jelas pada name tag yang dikenakannya: Yuli.

"Ngapain sih tidur-tiduran di toilet orang? Nyusahin aja! Gue kira lo mayat, tau nggak!" omel Yuli. Nada suaranya galak, mirip banget sama gaya Chelsea dan kawan-kawannya.

Anya yang masih setengah sadar mencoba bangkit sambil berpegangan pada dinding bilik toilet. Yuli menatapnya dari atas hingga bawah, kaus oversize lusuh yang sudah basah kuyup, celana sederhana, kacamata bulat yang melorot di ujung hidung, serta rambut acak-acakan tanpa bentuk.

Alih-alih merasa iba, ekspresinya justru berubah menjadi semakin sinis.

"Ish, ini anak siapa sih? Baju gembel gini, kacamata jadul kayak punya nenek-nenek," cibir Yuli sambil terkekeh dan menutup hidungnya dengan berlebihan. "Kaus segede karung beras, mana basah kuyup pula. Serius nih ada orang mau keluar rumah dandanan kayak abis dari kolong jembatan?"

Anya menundukkan kepalanya. Wajahnya terasa memanas menahan malu, sementara kepalanya masih berputar terlalu lemas untuk membalas.

"Untung gue baik masih mau nyiram lo," lanjut Yuli sambil memutar bola matanya. "Coba nggak, mana gue tau lo di situ sampai kapan. Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi. Pantesan aja kayaknya ke mana-mana sendirian. Siapa juga yang mau temenan sama yang penampilannya aja udah bikin males liat."

Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam dari yang seharusnya.

Anya menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia bertekad tidak akan menangis di depan orang asing yang bahkan tidak mengenalnya.

"Udah sana, cepetan keluar! Gue mau tutup toilet ini!" Yuli mendorong bahu Anya sedikit kasar, lalu menambahkan sambil melangkah pergi, suaranya masih sempat terdengar mengejek, "Mandi yang bersih, terus dandan dikit napa. Masa iya cewek keluar rumah kayak abis lari dari kandang ayam gitu."

Suara langkah Yuli perlahan menghilang di ujung koridor, meninggalkan gerutuan samar yang masih sempat terdengar, sesuatu tentang "zaman sekarang ada aja yang nggak niat ngurus diri."

Anya berdiri terhuyung, bersandar sejenak pada dinding bilik toilet untuk menyeimbangkan tubuhnya. Kepalanya masih terasa pusing, pandangannya sedikit berkunang-kunang, dan sekarang ditambah rasa perih di dada yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa sakit fisik.

Anjir ... bahkan OB toilet aja tega ngatain penampilan gue, batinnya getir sambil mengusap wajahnya yang basah, entah oleh air pel atau air mata yang mulai merembes tanpa ia sadari. Emang segitu parahnya ya gue kelihatan? Orang yang bahkan nggak kenal gue sama sekali aja ngerasa berhak buat ngehina.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di lantai bilik. Untung saja benda itu tidak ikut basah terkena air.

Sungguh bersyukur sekali karena ponselnya masih bisa hidup. Begitu layar ponselnya menyala, matanya langsung membelalak kaget melihat waktu yang tertera di sana.

Setengah sembilan?!

Gila, gue pingsan lebih dari sejam?!

Anya mencoba mencerna kembali semuanya, Chelsea yang mengajaknya masuk ke toilet, pintu yang terkunci, teriakannya yang tak terdengar siapa pun, hingga akhirnya semuanya berubah menjadi gelap.

Kalau tadi OB itu nggak nyiram gue ... jangan-jangan gue bakal nginep semaleman di sini.

Ada secercah rasa syukur kecil yang menyelinap di hatinya, meski dibalut rasa kesal dan sakit hati yang luar biasa. Setidaknya, ia tidak benar-benar menjadi penghuni tetap toilet mall malam itu.

Ia melangkah ke depan wastafel dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Kaus oversize-nya basah kuyup dan lecek. Rambutnya acak-acakan tak berbentuk, kacamatanya sedikit miring, sementara bau tak sedap masih tercium jelas dari seluruh tubuhnya.

Penampilannya benar-benar kacau, jauh dari kata layak untuk terlihat siapa pun dan kata-kata Yuli barusan seolah menegaskan ulang apa yang selama ini selalu ia dengar, dari sekolah sampai ke toilet mall sekalipun.

Bahkan orang asing yang cuma ketemu semenit pun bisa segampang itu ngeremehin penampilan gue, batinnya pahit. Emang segitu nggak berharganya gue di mata orang, ya?

Namun, bukan itu yang paling membebani pikirannya saat ini.

Gimana caranya gue jelasin ini semua ke Mama sama Papa kalau sampai rumah?

Anya menghela napas panjang, mencoba merapikan dirinya sebisanya sebelum melangkah keluar dari toilet yang telah menjadi saksi bisu penderitaannya malam itu.

Langkahnya gontai menyusuri lorong mall yang mulai sepi. Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

Kenapa sih gue harus nurut sama si Tian itu ...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   What?!

    Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Zefanya Namanya

    Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Masih Topik yang Sama

    “Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Terbuka

    Tian, Dani, dan Liam kembali berada di kamar dengan posisi duduk seperti sebelumnya.Liam duduk di sofa single, sementara Tian dan Dani duduk berhadapan di sofa yang sedikit lebih panjang.Masing-masing dari mereka sudah memegang sekantung es batu untuk mengompres wajah yang lebam akibat perkelahian tadi.“Hadap-hadapan!”Perintah Liam terdengar tegas.Tian dan Dani langsung menatapnya tajam.Kedua rahang mereka mengeras. Alis menukik tajam, kening berkerut, dan tatapan keduanya sama-sama tidak bersahabat.Namun, tidak ada yang berani membantah.Terlebih setelah Liam berdeham pelan.“Ehem.”Keduanya akhirnya menurut.“Mulai!”Tidak ada yang bergerak.Baik Tian maupun Dani hanya saling tatap dengan tatapan penuh gengsi.Beberapa detik berlalu.Dani akhirnya mengembuskan napas berat.Tangannya perlahan terangkat, lalu mulai mengompres wajah Tian dengan kantung es yang dipegangnya.“Pelan, bangsat!”Tian langsung meringis ketika Dani tanpa sengaja menekan bagian wajahnya yang terkena puk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status