LOGINAnya duduk sendirian di halte bus yang temaram, kedua tangannya memeluk lutut. Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip lemah, menambah kesan suram pada malam yang sudah cukup buruk baginya.
Sudah hampir sejam ia menunggu, tetapi bus yang lewat bisa dihitung jari dan dari yang sedikit itu, cuma satu yang benar-benar berhenti untuknya. Tadi juga sempat naik sih..., kenangnya pahit, mengingat kembali kejadian sepuluh menit lalu. ... "Woy, bau apaan sih ini?" seorang penumpang di kursi belakang mengernyitkan hidung begitu Anya duduk. "Anjir, iya bau banget," yang lain menimpali sambil menutup hidung dengan tangan. Bisik-bisik mulai menyebar ke seluruh bus. Mata para penumpang mulai melirik ke arahnya dengan tatapan jijik yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan. "Dek, maaf ya," sopir bus menoleh dari depan dengan ekspresi sungkan, tetapi tegas. "Penumpang pada komplain. Turun sini aja ya, kasian yang lain." Anya menunduk, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa. Tanpa membantah, ia bangkit dan melangkah turun dari bus di tengah tatapan menghina yang mengikutinya sampai pintu tertutup. ... Kenapa sih hidup gue harus seapes ini? Anya menatap kosong jalanan yang mulai lengang. Ia mencium bau tubuhnya sendiri, air pel bercampur keringat yang bahkan ia sendiri tidak tahan untuk menghirupnya terlalu lama. Dengan berat hati, ia membuka aplikasi taksi online di ponselnya. Matanya melirik saldo dompet digital yang tersisa, tipis, karena uang jajan yang diberikan orang tuanya memang pas-pasan. Cukup untuk ongkos bus pulang-pergi dan sedikit jajan, tidak lebih. Ya udahlah, nggak apa-apa. Yang penting sampai rumah. Ia tidak pernah protes soal uang jajan yang minim itu. Toh selama ini ia memang tidak pernah menuntut lebih dari apa yang diberikan orang tuanya. Lima belas menit kemudian, taksi yang dipesannya akhirnya datang. Anya masuk dengan lega, menyandarkan kepalanya ke jendela mobil dan memejamkan mata sepanjang perjalanan. Ia tidak menyadari, sejak dari halte tadi, ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan setiap gerak-geriknya dari kejauhan, mengawasi tanpa suara, tan tanpa niat menunjukkan diri. ... Taksi berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya minimalis modern. Pagar tinggi berwarna abu-abu gelap mengelilingi halaman yang luas dan terawat dengan rapi. Anya turun sambil membayar ongkos dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menatap gerbang rumahnya sendiri dengan perasaan yang campur aduk. Langkahnya terasa semakin berat begitu ia melangkah masuk. Semoga udah pada tidur. Semoga udah pada tidur. Doa itu terus ia ulangi dalam hati sambil meraih kenop pintu dengan jemari yang dingin. Pintu terbuka perlahan. Ruang tamu, kosong. Ia mengembuskan napas lega. Ruang makan, kosong juga. Ruang keluarga... Aman. Oke, aman. "DARI MANA SAJA KAMU?!" Suara tegas itu menggelegar dari arah tangga, membuat Anya terlonjak kaget setengah mati. Jantungnya serasa ingin meloncat keluar dari tempatnya. Papanya berdiri di ujung tangga dengan wajah merah padam menahan amarah. Kedua tangannya terlipat di dada, sementara sorot matanya membuat Anya langsung menciut. Anya hanya bisa menunduk, memilin jemarinya dengan gelisah. Bibir bawahnya digigit pelan, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali rasa takut dan gugup menyerangnya sekaligus. "P-Pa..." "Jawab! Dari mana saja kamu sampai jam segini?!" bentak papanya sambil melangkah turun hingga berdiri tepat di hadapan Anya. "A-Anya tadi keluar bentar, Pa." "Keluar bentar?!" Suaranya semakin meninggi. "Ini jam berapa sekarang, kamu tahu?! Hampir jam sepuluh malam! Kamu pikir papa sama mama kasih kamu hidup enak buat dipakai keluyuran sampai malam begini?" Anya menarik napas pelan. Jangan nangis, Nya. Jangan nangis. "Kata sekolah kamu sakit hari ini, kenapa bisa keluar sampai malam begini?" "Anya memang demam tadi pagi, Pa. Tapi ada urusan mendadak yang harus Anya selesain—" "Urusan apa?!" potong papanya cepat. "Urusan apa yang lebih penting dari kesehatan kamu sendiri?" Anya terdiam. Bagaimana caranya menjelaskan soal video itu? Soal ancaman Tian? Soal semua yang sebenarnya bukan salahnya sama sekali? Semua terasa terlalu rumit dan terlalu memalukan untuk diucapkan. "Coba lihat kakakmu!" lanjut papanya dengan nada yang begitu familiar di telinga Anya. "Bastian nggak pernah bikin susah dari kecil! Kuliah di luar negeri, nilainya bagus, prestasinya banyak, penurut sama orang tua. Kamu? Sekolah aja bolos, keluar sampai malam tanpa izin!" Dadanya terasa nyeri mendengar nama itu disebut lagi. Kenapa sih... selalu Kak Bastian? Anya juga capek terus-terusan dibandingin, Pa. "Anya minta maaf, Pa," ucapnya lirih. "Anya nggak akan ngulangin lagi." "Minta maaf doang gampang! Tapi kamu udah bikin papa sama mama malu, tahu nggak?! Untung tetangga nggak tahu anak siapa yang keluyuran malam-malam begini!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Anya. Namun, ia tetap menunduk dan menahannya sekuat tenaga. Papanya terus melanjutkan omelan panjang yang seolah tidak ada habisnya. Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak sempat dijawab, perbandingan demi perbandingan yang membuat hatinya terasa semakin remuk. Yang paling menyakitkan, tidak sekali pun papanya benar-benar memperhatikan keadaannya malam ini. Tidak ada yang bertanya kenapa bajunya masih sedikit basah. Tidak ada yang bertanya kenapa wajahnya terlihat begitu pucat. Tidak ada yang bertanya kenapa tubuhnya gemetar menahan lelah sejak siang tadi. Tidak ada satu pun pertanyaan sederhana seperti, "Kamu baik-baik saja?" Hanya kemarahan. Hanya kekecewaan. Hanya perbandingan yang sama yang terus diputar berulang kali. Papa bahkan nggak nanya Anya kenapa pulang dengan keadaan kayak gini. Papa cuma peduli Anya bikin malu atau nggak. Bukan peduli Anya baik-baik aja atau nggak. "Sana masuk kamar, mandi, terus tidur," akhirnya papanya mengakhiri omelannya dengan nada dingin. "Besok kalau masih sakit, di rumah saja. Jangan bikin ulah lagi." "Iya, Pa," jawab Anya pelan. Ia berbalik dan mulai melangkah menuju tangga dengan kaki yang terasa begitu berat. Setiap anak mungkin akan pulang ke rumah untuk mencari tempat beristirahat ketika lelah menghadapi dunia di luar sana. Tapi tidak dengan Anya. Di luar rumah, ia dihina karena penampilannya. Di sekolah, ia dijadikan pelayan oleh orang-orang yang bahkan tidak menganggapnya sebagai teman. Dan ketika akhirnya ia pulang, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman justru menjadi tempat yang membuatnya semakin lelah. Malam ini, ia kembali belajar satu hal yang sudah terlalu sering diajarkan hidup kepadanya. Tidak semua rumah bisa disebut sebagai tempat pulang. Dan yang paling menyakitkan, Anya mulai lupa seperti apa rasanya dipedulikan. Tanpa ia sadari, seseorang sejak tadi memperhatikan keadaannya dengan tatapan penuh khawatir dari balik pintu dapur. Orang yang selama ini diam-diam selalu berada di sisinya.Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem
“Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik
Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran
Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam
“Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang
Tian, Dani, dan Liam kembali berada di kamar dengan posisi duduk seperti sebelumnya.Liam duduk di sofa single, sementara Tian dan Dani duduk berhadapan di sofa yang sedikit lebih panjang.Masing-masing dari mereka sudah memegang sekantung es batu untuk mengompres wajah yang lebam akibat perkelahian tadi.“Hadap-hadapan!”Perintah Liam terdengar tegas.Tian dan Dani langsung menatapnya tajam.Kedua rahang mereka mengeras. Alis menukik tajam, kening berkerut, dan tatapan keduanya sama-sama tidak bersahabat.Namun, tidak ada yang berani membantah.Terlebih setelah Liam berdeham pelan.“Ehem.”Keduanya akhirnya menurut.“Mulai!”Tidak ada yang bergerak.Baik Tian maupun Dani hanya saling tatap dengan tatapan penuh gengsi.Beberapa detik berlalu.Dani akhirnya mengembuskan napas berat.Tangannya perlahan terangkat, lalu mulai mengompres wajah Tian dengan kantung es yang dipegangnya.“Pelan, bangsat!”Tian langsung meringis ketika Dani tanpa sengaja menekan bagian wajahnya yang terkena puk







