登入Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika Chelsea, Tres, dan Clara akhirnya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di lantai atas mall.
"Anya, sini deh bentar," panggil Chelsea sesaat sebelum mereka masuk ke restoran. Nada suaranya tiba-tiba berubah manis, yang justru membuat Anya waspada. "Kenapa?" tanya Anya, sedikit curiga. "Ikut ke toilet dulu, ada yang mau gue omongin," Chelsea menarik lengan Anya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, diikuti Tres dan Clara yang saling melempar senyum penuh arti di belakang punggung Anya. Terlalu lelah untuk curiga lebih jauh, Anya hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka berempat masuk ke toilet yang sepi, lokasinya yang agak terpencil di ujung koridor mall membuat area itu jarang dilewati pengunjung. "Masuk situ dulu deh," ujar Clara sambil mendorong Anya masuk ke salah satu bilik. "Kita mau ngomong penting." Belum sempat Anya bertanya lebih jauh, pintu bilik langsung ditutup dari luar, disusul suara klek kunci yang diputar cepat. "Eh?! Woy, apa-apaan sih?!" Anya menggedor pintu, kaget setengah mati. "Nikmatin aja waktu sendirian lo di situ ya, Nya~" suara Chelsea terdengar penuh kepuasan. "Kita mau makan malam dulu." "BUKAIN! GUE SERIUS NIH!" Anya menggedor lebih keras, suaranya mulai panik. Yang terdengar hanya derap langkah tiga pasang sepatu yang menjauh, disusul pintu toilet utama yang berderit tertutup, lalu sunyi total. --- "Tolong! Ada orang di luar? Tolong buka pintunya!" Sudah hampir satu jam Anya berteriak meminta tolong. Tenggorokannya mulai terasa sakit, kepalanya sedikit pusing karena sejak siang ia belum makan dengan benar. Brak! Ia kembali menggedor pintu toilet dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Tolong...." Tidak ada jawaban. Kakinya mulai terasa lemas hingga akhirnya ia terduduk di sudut bilik toilet sambil memeluk kedua lututnya. Air mata terus mengalir membasahi pipinya. Kenapa sih harus gue terus, batinnya pilu. Ia mulai berpikir untuk menghubungi seseorang, tetapi siapa? Ia tidak mempunyai teman yang bisa dimintai tolong. Bahkan nomor telepon kedua orang tuanya pun menjadi pilihan terakhir yang paling tidak ingin ia lakukan. Ia melirik layar ponselnya. Baterai pun sudah menipis. "Sial...." Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi nomor darurat mall yang sempat ia temukan di internet. Tidak ada jawaban. Sedikit demi sedikit rasa putus asa mulai menyelimuti dirinya. Hingga suara tawa yang sangat dikenalnya terdengar dari luar toilet. "Eh, dia masih di dalem nggak sih?" tanya Clara sambil tertawa kecil. "Masih lah," jawab Chelsea santai. Mata Anya langsung membulat. Ia buru-buru bangkit, menyeret kaki yang lemas menuju pintu. "CHELSEA! TOLONG BUKAIN! GUE MOHON!" "Wah, ternyata masih hidup," ejek Chelsea, disambut tawa dua sahabatnya yang semakin keras terdengar dari luar. "Chelsea, gue mohon, jangan kayak gini!" Namun tidak ada jawaban selain suara langkah kaki mereka yang perlahan menjauh. Air mata Anya kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Ia merosot lagi ke lantai, seluruh tubuhnya terasa remuk bukan cuma karena lelah fisik, tapi karena rasa diabaikan yang jauh lebih menyakitkan. --- Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki itu kembali terdengar, kali ini disertai bunyi seretan sesuatu yang berat di lantai keramik. Anya mendongak, jantungnya berdebar tidak karuan. "Siapa... siapa itu?" Tidak ada jawaban. Hanya suara kikikan tertahan dari tiga arah berbeda. Lalu, dari celah kecil di atas bilik, sesuatu mulai dituangkan. Byurrr! Air dingin bercampur bau tak sedap langsung mengguyur seluruh tubuh Anya. "HAHAHAHA!" Tawa ketiganya memenuhi toilet wanita malam itu, menggema di ruangan sepi yang seharusnya jadi tempat aman. Tubuh Anya gemetar hebat menahan dingin. Bibirnya mulai pucat, kepalanya semakin terasa berat. "Chelsea... kenapa..." suaranya nyaris tak terdengar, tenggorokannya sudah terlalu sakit untuk berteriak lagi. "Selamat menikmati hotel bintang lima kamu malam ini, Anya," ejek Chelsea sebelum melangkah pergi, diikuti derai tawa Tres dan Clara yang perlahan menjauh dan akhirnya lenyap sepenuhnya. Anya hanya mampu memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang terus bergetar, pakaiannya lengket dan basah kuyup, bau menyengat menempel di seluruh kulitnya. Tolong... siapa aja.... Pandangannya mulai berkunang-kunang. Dinding bilik yang putih pucat itu seakan ikut bergoyang mengikuti detak jantungnya yang kian melambat. Rasa dingin, lapar, takut, dan lelah yang dipendamnya seharian seakan menyerang tubuhnya secara bersamaan, menumpuk jadi satu beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Ia mencoba bangkit sekali lagi, tapi kakinya tidak lagi menuruti perintah otaknya. Tubuhnya merosot pelan, punggungnya menyentuh dinding bilik yang dingin. Perlahan, kedua matanya mulai tertutup. Hal terakhir yang ia rasakan hanyalah dinginnya lantai toilet yang menjadi tempatnya terbaring malam itu. Sendirian, basah kuyup, dan tak berdaya. Semuanya menjadi gelap.Drrrt... drrrt... Ponsel Anya bergetar lagi di atas kasur untuk yang ketujuh kalinya. Ia menatap nama yang terpampang di layar "Bencana Alam" dengan perasaan campur aduk antara enggan dan takut. Sejak panggilan pertama tadi, ia sengaja tidak mengangkatnya, berharap kalau dibiarkan cukup lama, Tian akan menyerah sendiri. Ternyata ia salah besar. Dengan tangan gemetar, akhirnya Anya menekan tombol hijau. "H-halo?" "CEWEK BRENGSEK! Lo pikir gue nelepon buat having fun apa?!" Suara Tian menggelegar dari seberang telepon, begitu keras hingga Anya refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Jantungnya langsung berdegup kencang, seluruh tubuhnya menegang seketika. "M-maaf. Gue—gue tadi lagi—" "Tujuh kali," potong Tian dingin, tiap kata diucapkan dengan penekanan tajam seolah ingin menusuk langsung ke telinga Anya. "Gue telepon lo tujuh kali, dan lo baru mau angkat sekarang? Lo pikir HP lo itu apa, pajangan doang di kamar lo?" "G-ue beneran nggak denger, tadi ketiduran, capek abis—" "
Anya menaiki tangga dengan langkah gontai. Telinganya masihberdenging oleh omelan panjang Papanya tadi, tetapi anehnya, kepalanya terlalulelah untuk memikirkan apa pun lagi.Yang ada di benaknya sekarang hanya satu: mandi, lalu tidur.Sesampainya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi danmembiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Berkali-kali ia menggosokkulitnya dengan sabun, seolah dengan begitu bau tak sedap dan penghinaan yangia terima hari ini bisa ikut luntur bersama air yang mengalir ke lantai.Namun, percuma.Kata-kata yang dilontarkan orang-orang hari ini masihterdengar jelas di kepalanya.Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi.Pantesan nggak ada yang mau temenan sama lo.Turun sini aja ya, Dek. Penumpang pada komplain.Apa susahnya sih jadi anak yang bisa diandalkan kayakkakakmu?Semua kalimat itu terus berputar tanpa henti di kepalanya.Setelah selesai mandi, Anya keluar dengan handuk yangmelilit rambutnya dan mengenakan piama longgar berwarna krem
Anya duduk sendirian di halte bus yang temaram, kedua tangannya memeluk lutut. Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip lemah, menambah kesan suram pada malam yang sudah cukup buruk baginya.Sudah hampir sejam ia menunggu, tetapi bus yang lewat bisa dihitung jari dan dari yang sedikit itu, cuma satu yang benar-benar berhenti untuknya.Tadi juga sempat naik sih..., kenangnya pahit, mengingat kembali kejadian sepuluh menit lalu. ..."Woy, bau apaan sih ini?" seorang penumpang di kursi belakang mengernyitkan hidung begitu Anya duduk."Anjir, iya bau banget," yang lain menimpali sambil menutup hidung dengan tangan.Bisik-bisik mulai menyebar ke seluruh bus. Mata para penumpang mulai melirik ke arahnya dengan tatapan jijik yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan."Dek, maaf ya," sopir bus menoleh dari depan dengan ekspresi sungkan, tetapi tegas. "Penumpang pada komplain. Turun sini aja ya, kasian yang lain."Anya menunduk, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa. Tanpa membantah,
Pukul 20.45.Anya tersentak bangun. Tubuhnya terguncang kaget karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerbu seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu, kebingungan sesaat dengan apa yang baru saja terjadi dan di mana dirinya berada."Akhirnya bangun juga!" sebuah suara ketus terdengar dari luar bilik, disusul bunyi kunci yang diputar dan pintu yang terbuka kasar.Berdiri di depannya seorang office girl berseragam abu-abu. Tangannya masih memegang ember kosong, sementara wajahnya tampak cemberut kesal. Namanya tertera jelas pada name tag yang dikenakannya: Yuli."Ngapain sih tidur-tiduran di toilet orang? Nyusahin aja! Gue kira lo mayat, tau nggak!" omel Yuli. Nada suaranya galak, mirip banget sama gaya Chelsea dan kawan-kawannya.Anya yang masih setengah sadar mencoba bangkit sambil berpegangan pada dinding bilik toilet. Yuli menatapnya dari atas hingga bawah, kaus oversize lusuh yang sudah basah kuyup, celana sederhana, kacamata bulat yang melorot di ujung hidung, serta r
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika Chelsea, Tres, dan Clara akhirnya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di lantai atas mall."Anya, sini deh bentar," panggil Chelsea sesaat sebelum mereka masuk ke restoran. Nada suaranya tiba-tiba berubah manis, yang justru membuat Anya waspada."Kenapa?" tanya Anya, sedikit curiga."Ikut ke toilet dulu, ada yang mau gue omongin," Chelsea menarik lengan Anya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, diikuti Tres dan Clara yang saling melempar senyum penuh arti di belakang punggung Anya.Terlalu lelah untuk curiga lebih jauh, Anya hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka berempat masuk ke toilet yang sepi, lokasinya yang agak terpencil di ujung koridor mall membuat area itu jarang dilewati pengunjung."Masuk situ dulu deh," ujar Clara sambil mendorong Anya masuk ke salah satu bilik. "Kita mau ngomong penting."Belum sempat Anya bertanya lebih jauh, pintu bilik langsung ditutup dari luar, disusul suara klek kunci yang
Tian dan Chelsea baru saja memesan makanan di salah saturestoran mewah yang berada di lantai atas Mall. Sementara itu, Anya hanyaberdiri beberapa langkah di belakang mereka sambil memegang beberapa kantongbelanja yang sejak tadi dibebankan kepadanya.Ia melirik jam yang terpajang di dinding restoran.Pukul 17.20.Perutnya kembali berbunyi pelan. Sejak pagi tadi, ia hanyasempat menghabiskan sepiring nasi goreng sebelum kembali tertidur karenademamnya. Setelah itu, ia buru-buru berangkat ke mall karena ancamandari Tian.Kalau dipikir-pikir, hidupnya memang cukup menyedihkan.Orang lain kalau ke mall untuk nonton bioskop, makan enak, dan berbelanja.Kalau dirinya? Jadi kuli angkut, belum makan, dan gratis lagi.Sungguh paket lengkap penderitaan seorang ZefanyaAurellie.Ponsel Tian yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.Papa.Tanpa menunggu lebih lama, Tian segera mengangkat panggilantersebut."Halo, Pa."Anya ya







