Share

Terkunci

Author: i'mdream
last update publish date: 2026-07-28 14:26:01

Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika Chelsea, Tres, dan Clara akhirnya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di lantai atas mall.

"Anya, sini deh bentar," panggil Chelsea sesaat sebelum mereka masuk ke restoran. Nada suaranya tiba-tiba berubah manis, yang justru membuat Anya waspada.

"Kenapa?" tanya Anya, sedikit curiga.

"Ikut ke toilet dulu, ada yang mau gue omongin," Chelsea menarik lengan Anya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, diikuti Tres dan Clara yang saling melempar senyum penuh arti di belakang punggung Anya.

Terlalu lelah untuk curiga lebih jauh, Anya hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka berempat masuk ke toilet yang sepi, lokasinya yang agak terpencil di ujung koridor mall membuat area itu jarang dilewati pengunjung.

"Masuk situ dulu deh," ujar Clara sambil mendorong Anya masuk ke salah satu bilik. "Kita mau ngomong penting."

Belum sempat Anya bertanya lebih jauh, pintu bilik langsung ditutup dari luar, disusul suara klek kunci yang diputar cepat.

"Eh?! Woy, apa-apaan sih?!" Anya menggedor pintu, kaget setengah mati.

"Nikmatin aja waktu sendirian lo di situ ya, Nya~" suara Chelsea terdengar penuh kepuasan. "Kita mau makan malam dulu."

"BUKAIN! GUE SERIUS NIH!" Anya menggedor lebih keras, suaranya mulai panik.

Yang terdengar hanya derap langkah tiga pasang sepatu yang menjauh, disusul pintu toilet utama yang berderit tertutup, lalu sunyi total.

---

"Tolong! Ada orang di luar? Tolong buka pintunya!"

Sudah hampir satu jam Anya berteriak meminta tolong. Tenggorokannya mulai terasa sakit, kepalanya sedikit pusing karena sejak siang ia belum makan dengan benar.

Brak!

Ia kembali menggedor pintu toilet dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

"Tolong...."

Tidak ada jawaban.

Kakinya mulai terasa lemas hingga akhirnya ia terduduk di sudut bilik toilet sambil memeluk kedua lututnya. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.

Kenapa sih harus gue terus, batinnya pilu.

Ia mulai berpikir untuk menghubungi seseorang, tetapi siapa? Ia tidak mempunyai teman yang bisa dimintai tolong. Bahkan nomor telepon kedua orang tuanya pun menjadi pilihan terakhir yang paling tidak ingin ia lakukan.

Ia melirik layar ponselnya. Baterai pun sudah menipis.

"Sial...."

Dengan tangan gemetar, ia mencoba menghubungi nomor darurat mall yang sempat ia temukan di internet. Tidak ada jawaban.

Sedikit demi sedikit rasa putus asa mulai menyelimuti dirinya.

Hingga suara tawa yang sangat dikenalnya terdengar dari luar toilet.

"Eh, dia masih di dalem nggak sih?" tanya Clara sambil tertawa kecil.

"Masih lah," jawab Chelsea santai.

Mata Anya langsung membulat. Ia buru-buru bangkit, menyeret kaki yang lemas menuju pintu.

"CHELSEA! TOLONG BUKAIN! GUE MOHON!"

"Wah, ternyata masih hidup," ejek Chelsea, disambut tawa dua sahabatnya yang semakin keras terdengar dari luar.

"Chelsea, gue mohon, jangan kayak gini!"

Namun tidak ada jawaban selain suara langkah kaki mereka yang perlahan menjauh.

Air mata Anya kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Ia merosot lagi ke lantai, seluruh tubuhnya terasa remuk bukan cuma karena lelah fisik, tapi karena rasa diabaikan yang jauh lebih menyakitkan.

---

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki itu kembali terdengar, kali ini disertai bunyi seretan sesuatu yang berat di lantai keramik.

Anya mendongak, jantungnya berdebar tidak karuan. "Siapa... siapa itu?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara kikikan tertahan dari tiga arah berbeda.

Lalu, dari celah kecil di atas bilik, sesuatu mulai dituangkan.

Byurrr!

Air dingin bercampur bau tak sedap langsung mengguyur seluruh tubuh Anya.

"HAHAHAHA!"

Tawa ketiganya memenuhi toilet wanita malam itu, menggema di ruangan sepi yang seharusnya jadi tempat aman.

Tubuh Anya gemetar hebat menahan dingin. Bibirnya mulai pucat, kepalanya semakin terasa berat.

"Chelsea... kenapa..." suaranya nyaris tak terdengar, tenggorokannya sudah terlalu sakit untuk berteriak lagi.

"Selamat menikmati hotel bintang lima kamu malam ini, Anya," ejek Chelsea sebelum melangkah pergi, diikuti derai tawa Tres dan Clara yang perlahan menjauh dan akhirnya lenyap sepenuhnya.

Anya hanya mampu memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang terus bergetar, pakaiannya lengket dan basah kuyup, bau menyengat menempel di seluruh kulitnya.

Tolong... siapa aja....

Pandangannya mulai berkunang-kunang. Dinding bilik yang putih pucat itu seakan ikut bergoyang mengikuti detak jantungnya yang kian melambat.

Rasa dingin, lapar, takut, dan lelah yang dipendamnya seharian seakan menyerang tubuhnya secara bersamaan, menumpuk jadi satu beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Ia mencoba bangkit sekali lagi, tapi kakinya tidak lagi menuruti perintah otaknya. Tubuhnya merosot pelan, punggungnya menyentuh dinding bilik yang dingin.

Perlahan, kedua matanya mulai tertutup.

Hal terakhir yang ia rasakan hanyalah dinginnya lantai toilet yang menjadi tempatnya terbaring malam itu. Sendirian, basah kuyup, dan tak berdaya.

Semuanya menjadi gelap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   What?!

    Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Zefanya Namanya

    Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Masih Topik yang Sama

    “Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Terbuka

    Tian, Dani, dan Liam kembali berada di kamar dengan posisi duduk seperti sebelumnya.Liam duduk di sofa single, sementara Tian dan Dani duduk berhadapan di sofa yang sedikit lebih panjang.Masing-masing dari mereka sudah memegang sekantung es batu untuk mengompres wajah yang lebam akibat perkelahian tadi.“Hadap-hadapan!”Perintah Liam terdengar tegas.Tian dan Dani langsung menatapnya tajam.Kedua rahang mereka mengeras. Alis menukik tajam, kening berkerut, dan tatapan keduanya sama-sama tidak bersahabat.Namun, tidak ada yang berani membantah.Terlebih setelah Liam berdeham pelan.“Ehem.”Keduanya akhirnya menurut.“Mulai!”Tidak ada yang bergerak.Baik Tian maupun Dani hanya saling tatap dengan tatapan penuh gengsi.Beberapa detik berlalu.Dani akhirnya mengembuskan napas berat.Tangannya perlahan terangkat, lalu mulai mengompres wajah Tian dengan kantung es yang dipegangnya.“Pelan, bangsat!”Tian langsung meringis ketika Dani tanpa sengaja menekan bagian wajahnya yang terkena puk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status