LOGINHari yang dinanti akhirnya tiba. Gedung olahraga yang biasanya hanya diisi penonton seadanya kini dipenuhi ratusan pasang mata, meneriakkan yel-yel dukungan untuk tim masing-masing. Spanduk besar terpampang di kedua ujung tribun, lengkap dengan bendera sekolah yang berkibar tertiup angin dari kipas raksasa gedung.Anya sudah sibuk sejak pagi buta. Ia mondar-mandir membawa kotak berisi handuk, botol minum, dan berbagai perlengkapan tim basket yang harus tertata rapi di bangku cadangan sebelum pertandingan dimulai."Nya, ini bawain lagi ke sana," Dani menyerahkan sekotak plester dan perban, wajahnya serius. "Final ini beda, cedera dikit aja bisa fatal.""Iya," jawab Anya singkat, langsung berlari kecil membawa kotak itu ke sudut lapangan.Tidak jauh dari situ, Liam sedang memimpin pemanasan bersama beberapa anggota tim lain—Rizky, Fikri, dan Andra, tiga pemain cadangan yang sejak awal turnamen selalu setia menyemangati dari pinggir lapangan meski jarang mendapat kesempatan bermain."Bro
Makan malam ini terasa sangat berat bagi Anya. Baru kali ini seporsi bakso—makanan favoritnya sejak kecil—sama sekali tidak menarik di matanya.Meja itu dipenuhi tawa dan obrolan riang dari teman-teman satu tim, saling melempar candaan sambil menikmati hidangan lezat yang tersaji. Tapi Anya, duduk di ujung meja dengan bahu sedikit merunduk, sama sekali tidak bisa menikmati suasana itu.Dani melirik sekilas ke arahnya."Kasian banget tuh bakso, diliatin doang, kagak dimakan," celetuknya sambil memotong steak ayam di piringnya. "Kalo aja dia punya mulut, pasti udah ngomong, 'kayaknya aku nggak enak deh, makanya nggak dimakan.'"Merasa sedikit tidak enak hati, Anya akhirnya menyendok bakso itu perlahan, memasukkannya ke mulut. Tapi rasanya hambar, seperti tidak ada bumbu sama sekali.Emang harusnya tadi nggak usah dateng aja sih, batinnya getir, menatap kuah bakso yang mulai dingin di mangkuknya."Mau aku suapin?" tanya Dani, suaranya pelan, hampir berbisik.Anya menoleh cepat, matanya s
Anya mengikuti langkah Dani yang berjalan beberapa langkah di depannya. Tadi, Dani sempat menawarkan tangannya untuk digenggam, tapi Anya menolak tanpa keraguan sedikit pun, buru-buru menyembunyikan kedua tangannya sendiri di saku hoodie.Butuh perjuangan cukup keras dari Dani sampai akhirnya Anya mau ikut. Sebelumnya, Anya sudah menolak mentah-mentah ketika Dani mengajaknya bergabung dengan tim di lapangan. Tentu saja ia menolak—bayangan bagaimana Tian dan Chelsea pasti akan mengusirnya dari sana sudah cukup membuat dadanya sesak duluan.Tapi bukan Dani namanya kalau menyerah begitu saja."Lo aman sama gue," ucapnya, tangan kembali terulur untuk kesekian kalinya, tatapan matanya tidak menyembunyikan keseriusan yang jelas terpancar.Meski begitu, masih ada keraguan besar mengganjal di hati Anya, membuat langkahnya tertahan di tempat."Kalo gue gagal jagain lo," lanjut Dani, suaranya tenang tapi mantap, "lo boleh nampar gue sebanyak yang lo mau."Anya tersenyum kecil mendengar itu. Ia
"Mau bahas apa, Capt?" tanya Dani begitu sampai di hadapan Tian yang tadi memanggilnya dengan alasan ada hal penting untuk dibicarakan."Kita makan malam," jawab Tian cepat, nada suaranya datar."Ya iya, itu kan udah kesepakatan kita kalau lolos final, kita makan malem bareng," Dani mengernyit heran."Iya, Tian, ngapain manggil Dani ke sini lagi kalau cuma buat ngulangin itu? Kan Dani juga udah tau," tambah Liam, ikut bingung dengan urgensi panggilan mendadak ini."Biar semuanya inget aja," ucap Tian cepat, mencoba mengalihkan topik. "Ayo kumpulin tim basket sama tim cheer," lanjutnya sambil menunjuk Liam, memberi isyarat agar segera melaksanakan perintahnya.Sebenarnya, alasan sesungguhnya Tian memanggil Dani hari ini tidak lain karena ia tidak ingin sahabatnya itu semakin dekat dengan Anya. Ia khawatir, kalau Dani dan Anya benar-benar akrab, perilakunya selama ini yang selama ini disembunyikan rapat-rapat bisa saja terbongkar.Yang Tian tidak sadari, Dani sebenarnya sudah mengetahui
"Cantikk..."Anya membuka matanya perlahan, sedikit terkejut. Sejak kapan cowok ini berdiri di depannya? Perasaan tadi ia masih ikut berteriak euforia bersama tim basket yang bersorak di tengah lapangan."Kamu ngelamunin apa?" tanya Dani, melihat wajah Anya yang tampak bengong."Eh, nggak kok. Cuma lagi mikir aja... hehehe," Anya tertawa canggung, buru-buru menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit bersandar linglung."Btw, selamat ya, kalian hebat banget bisa sampai final," lanjut Anya, menyodorkan tangannya untuk bersalaman.Uluran tangan itu langsung disambut cepat oleh Dani, senyum manisnya yang selalu berhasil membuat siapa pun terkesima kembali terpasang di wajahnya."Makasih ya, cantikk," ucap Dani sambil menggenggam tangan Anya sedikit lebih lama dari seharusnya. "Ini nggak ada hadiahnya? Peluk mungkin?" tambahnya, kedua alis dinaik-turunkan jahil.Anya mendelik heran. Emang ada ya, orang yang baru kenal udah peluk-pelukan? batinnya, tidak habis pikir dengan isi kepala cowok di de
Suara riuh penonton memenuhi seluruh gedung olahraga.Ini bukan pertandingan biasa.Kali ini, kemenangan berarti satu hal—tiket menuju final.Anya yang sejak tadi duduk di dekat barang-barang tim hanya bisa menatap lapangan dengan wajah lelah. Meski begitu, sorakan dari tribun membuatnya tanpa sadar ikut memperhatikan pertandingan.Kedua tim sudah berada di posisi masing-masing.Tian berdiri di tengah lapangan bersama Dani dan Liam. Wajah mereka terlihat serius.Di sisi lapangan, Chelsea, Tres, dan Clara sudah bersiap dengan seragam cheerleader mereka.Chelsea mengangkat kedua tangannya.“ARE YOU READY?”“READY!” jawab anggota cheer lainnya serempak.“WHO'S GONNA WIN?”“US!”“WHO'S GONNA FIGHT?”“US!”“THEN LET'S GO!”“LET'S GO! LET'S GO! LET'S GO!”Sorakan itu langsung disambut teriakan penonton.RIIIIIT!Peluit berbunyi.Bola dilemparkan ke udara.Tian melompat dan berhasil memenangkan tip-off.Ia langsung menggiring bola ke depan.Satu pemain lawan menghadangnya.Tian bergerak ke k







