Share

Chapter 3

Gery kembali berdiri lalu berjalan dan kemudian duduk di bangku kerjanya lagi. “Maka jadilah budakku.”

“Apa maksud dari kata budak?” tanya Amora.

Melihat bagaimana cara Gery memandang, sudah berhasil membuat Amora bergidik ngeri. Amora semakin paham, resiko memohon pada pria angkuh dengan kekuasaan tinggi memang membutuhkan sebuah pengorbanan.

“Kau melayaniku siang malam tanpa mendapat bayaran.”

“Me-melayani?” Amora terpekik membuat bola matanya membulat sempurna. “Tapi aku ...”

“Heh!” sembur Gery tiba-tiba. “Kau pikir aku minta dilayani untuk apa? Dasar pikiran dangkal!”

Amora menarik diri mundur dan mengatupkan bibir rapat-rapat. Sepertinya pikiran Amora memang terlalu jauh untuk menebak apa yang dimaksud oleh Gery.

“Lalu apa, Tuan? Aku tidak mengerti,” kata Anggun.

“Kau menjadi pelayan untukku. Setiap pagi kau datang ke rumahku, menyiapkan segala keperluanku. Bagaimana?”

Amora melamun. Bibirnya sedikit terbuka sementara otaknya sedang mencoba mencerna perkataan dari Gery.

“Apa maksud tuan sebagai asisten rumah tangga?”

“Kurang lebih seperti itu. Tapi ... kau hanya melayaniku saja. Tidak boleh membantah, terlambat ataupun membuat kesalahan.”

Amora tidak mungkin menggelengkan kepala saat Gery menyampaikan dengan jelas apa imbalan jika ayah bebas. Mau tidak mau Amora menyanggupi dan mengangguk dengan mantap. Meskipun tidak pernah dibayar, tapi Amora sedikit merasa lega karena Gery memberinya cuti dua gari pada hari sabtu dan minggu.

Permintaan itu tentunya tidak langsung disetujui oleh Gery. Amora harus memohon-mohon dengan alasan mencari uang karena memang sudah tidak ketergantungan dengan orang tua.

Pembicaraan tadi di kantor Gery memang membuat nafas Amora terasa sesak. Untungnya, Amora bisa sedikit bernafas lega saat menjumpai ayahnya. Membawa pulang dan bisa memeluknya kembali, sudah berhasil menambah tenaga untuk menjalani hari esok.

Tok, tok, tok!

Amora terbangun saat mendengar ketukan pintu di kamarnya. Selimut yang semula menutupi bagian perut hingga ke ujung kaki, Amora sibakkan lalu terduduk. “Siapa?”

“Ini ayah. Boleh masuk?”

Amora menghela napas. Amora kemudian turun dari atas ranjang. “Tunggu sebentar, Yah,” sahut Amora. Rambut panjangnya ia gulung menggunakan kuncir.

“Ayah mengganggumu?” tanya Atmaja saat pintu terbuka.

“Tidak, Yah. Aku hanya sedang berbaring saja,” jawab Amora. “Ayo masuk.”

Amora menuntun ayah lalu mengajaknya duduk di kursi panjang.

“Ada apa, Yah? Apa ada yang penting?” tanya Amora saat sudah duduk.

Atmaja meraih telapak tangan Amora. Mengusapnya lembut dengan tatapan sendu. “Apa ayah sudah membuatmu kesusahan?”

“Ha? Maksud ayah?”

“Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau berhasil membebaskan ayah?”

Amora tertunduk diam. Bibirnya beberapa kali ditekuk kedalam. Amora tidak mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi berbohong juga hal yang salah.

“Jangan terlalu dipikirkan, yang penting ayah sudah bebas kan?” Amora mengulum senyum. Akan lebih baik kalau berbohong untuk saat ini.

“Kau sungguh tidak mau katakan pada ayah?” Atmaja sungguh ingin tahu.

“Kapan-kapan akan aku jelaskan. Untuk saat ini, aku hanya mau ayah pulihkan pikiran supaya bisa beraktifitas kembali seperti biasanya.” Amora menepuk bahu ayah kemudian mengusapnya. “Ayah istirahat saja.”

Kapan-kapan itu sepertinya entah kapan. Amora tidak ada rencana untuk memberi tahu ayah sama sekali. Dalam waktu dekat ataupun sampai lima tahun mendatang. Ya, lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Hidup menjadi budak seorang pria, bisa dipastikan akan membuat masa-masa indah Amora berubah seketika.

Amora urung berbaring lagi saat ayah sudah keluar dari kamarnya. Di luar sana, ada tamu yang sedang menunggu sambil membawa sesuatu.

“Andy?” kata Amora dengan wajah terkejut. Ia sampai lupa kalau dalam hidupnya saat ini ada Andy. Kekasih yang sudah bersamanya sejak satu tahun yang lalu.

Kedatangan Andy, tak lain pasti karena dia tahu kalau ayah Amora sudah bebas dari penjara.

“Hay, sayang,” sahut Andy yang langsung menghampiri dan memberi kecupan di kening Amora. “Maaf aku tidak Memberitahumu kalau mau datang.”

Amora hanya membalas dengan senyum kaku. Jika biasanya sangat senang ada sang kekasih, kali ini Amora justru terlihat gugup dan kelabakan sendiri.

“Tidak apa-apa,” sahut Amora. “Yuk, masuk.”

Mereka berdua pun duduk di ruang tamu dan ngobrol bersama.

“Kudengar, ayahmu sudah bebas, benarkah begitu?” tanya Andy.

Amora tersenyum. “Iya. Tadi.” Amora sebenarnya sedikit heran bagaimana Andy bisa tahu, tapi tidak terlalu dipikirkan karena itu tidaklah penting.

“Mau minum apa? Biar ku ambilkan,” tawar Amora.

“Terserah kau saja.”

Amora berdiri. “Tunggu ya.”

Amora masuk ke dalam, sementara Putri menyerempetnya dan berjalan menuju ruang tamu. Amora paham, putri memang menyukai Andy sejak lama. Meski tahu kalau Andy sudah menjadi kekasih Amora, tapi Putri tetap saja sering menggoda Andy walaupun ada Amora.

“Hai Andy,” sapa Putri yang tanpa sopan santun sudah menghempaskan tubuh duduk di samping Andi. “Bagaimana kabarmu?”

Andy tersenyum dan sedikit bergeser. “Aku baik. Seperti yang kau lihat.”

“Jadi ... kau masih menjalin hubungan dengan Amora?” tanya Putri kemudian. Dia sungguh tidak berpikir apakah itu pertanyaan yang layak atau tidak.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?” Amora muncul dengan membawa segelas jus jeruk dingin. “Berhentilah mengganggu Andy!” sembur Amora.

Putri mendecih dan menjulingkan mata. “Siapa juga yang mengganggu Andy. Aku hanya mengajaknya ngobrol. Tidak boleh?”

Amora mendesis keras dengan kedua tangan mengepal kuat. “Bisa tidak, kalau kau tidak mengganggu hidupku!”

“Enak saja!” Putri berdiri. “Aku tidak mengganggu ya! Aku hanya mengajak ...”

“Sudah, sudah! Kenapa kalian jadi bertengkar?” Andy melerai. “Kita kan bisa ngobrol bersama di sini.”

Amora dan Putri kembali duduk dengan wajah sama-sama merengut sinis.

“Apa?”

“Apa?”

“Apa?”

“Sudah!” hardik Andy lagi. “Kalian tenanglah. Kalau tidak aku ...”

Tok, tok, tok!

Mereka bertiga sontak terdiam dan bersamaan terpaku menghadap ke arah pintu. Saat Amora dan Putri kembali menatap saling lawan dengan sorot mata, pintu ruang tamu kembali diketuk dari luar.

“Awas kau!” Amora yang pada akhirnya berdiri membukakan pintu. Amora berjalan mundur sambil menunjuk-nunjuk ke arah Putri.

Merasa tidak takut sama sekali, Putri justru mencebik lalu membuang muka. “Semakin berani kau sekarang!”

“Sudahlah Putri, jangan bertengkar terus dengan kakakmu,” kata Andy.

“Dia yang mulai duluan.”

Sementara Andy dan Putri entah sedang mengobrol apa, di depan pintu Amora tengah terpaku dengan bibir terbuka. Satu tangannya mencengkeram kuat gagang pintu sementara satu tangannya lagi tengah meremas ujung kaosnya.

“Tu-Tuan Dion,” kata Amora lirih. “A-ada apa da—” kalimat itu terputus saat seseorang di belakang Dion muncul dari dalam mobil.

“Tuan Gery?” Amora mendadak lemas lunglai. Hampir saja tangannya terlepas dari knop pintu dan merosot. Namun, buru-buru Amora tertegak lagi lalu berjalan menuju teras dan menutup pintu.

“Tidak sopan! Kau kedatangan tamu, tapi pintumu ditutup!” sembur Gery.

“Itu ... anu ... maaf, Tuan. Aku ...”

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status