Share

chapter 6

Siap ataupun tidak, hari ini Amora akan memulai hidup baru. Memulai perjalanan panjang yang seperti apa kisahnya, Amora sendiri tidak tahu.

Pagi sekali Amora terbangun. Semalaman ia gelisah dan susah tidur. Beberapa kali mencoba memejamkan mata, pada akhirnya Amora terlelap hanya beberapa jam saja. Dan tepat pukul lima pagi, Amora segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah seorang pria yang akan menjadikannya budak.

Dikarenakan bingung, sebelum beranjak pergi, Amora menuliskan sebuah pesan dalam secarik kertas. Berisi sebuah pesan untuk ayah kalau Amora sedang ada pekerjaan yang tidak boleh ditinggal. Amora kemudian letakkan kertas tersebut di atas meja makan.

“Aku pamit dulu, Ayah,” kata Amora dengan suara lirih. Tentunya tidak ada siapapun yang dapat mendengarnya.

Sampai di halaman rumah, Amora meraih helm yang tergantung di dekat garasi. Memakainya kemudian secara perlahan, Amor mendorong motornya keluar dari area rumahnya.

Untuk saat ini, Amora masih bingung bagaimana cara berpamitan. Mungkin nanti Amora baru akan berpikir mencari alasannya.

Sementara di rumah mewah bak istana, Gery ternyata baru saja bangun. Terhuyung-huyung, ia menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka. Mandi, mungkin nanti saja.

Gery keluar dari kamar mandi dengan wajah basah yang sebagian sudah di lap menggunakan handuk. Gery melangkah maju, menyelendokkan handuk di atas pundak kemudian meraih ponselnya di atas nakas.

Ponsel sudah berada dalam genggaman, Gery duduk dan mencoba menghubungi nomor Dion.

“Kau masih di apartemen?” tanya Gery saat panggilan sudah terhubung.

Di seberang sana, Dion menjawab. “Iya. Apa ada perlu?”

“Kau berangkatlah ke kantor dulu. Mungkin aku datang nanti siang.”

Setelah panggilan berakhir, Gery yang masih memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, beranjak keluar dari kamar. Rambutnya yang basah terkena air saat membasuh muka, ia biarkan berantakan tanpa di sisir.

Di bawah, Abraham dan sang istri tengah menikmati sarapan sambil mengobrol. Mereka tidak tahu Gery ternyata sedang beranjak menuju ruang makan.

“Suamiku,” panggil Wenda.

“Ada apa?” sahut Abraham.

“Sebaiknya kau cari orang lagi untuk mengawal Gery. Aku khawatir dia kembali berbuat nekat. Aku tidak suka melihat dia yang suka mabuk-mabukkan.”

“Aku tahu ... tapi kan sudah ada Dion. Aku yakin dia bisa menjaga Gery dengan baik.”

Saat Wenda hendak buka mulut, Gery lebih dulu menimbruk pembicaraan. “Betul! Aku bukan anak kecil yang harus dikawal, Bu.”

Melangkah santai, Gery duduk di kursi kosong samping Ibunya. “Aku baik-baik saja.”

Wenda mendesah berat lalu wajahnya merengut dan memutar pandangan pada sarapannya yang belum habis. “Kalau kau memang baik-baik saja, berhentilah menyiksa diri dengan mabuk-mabukkan.”

“Betul, Gery. Tidak baik juga untuk kesehatanmu,” imbuh Abraham.

“Ya, ya, kalian tenang saja. Aki tidak akan mabuk lagi.” Gery menjulingkan mata kemudian ikut menikmati sarapan.

Wenda yang sudah lebih dulu selesai sarapan, segera meneguk air putih untuk melonggarkan tenggorokan. Setelah itu, posisi duduknya ia ubah sedikit miring menghadap Gery yang sedang menikmati sarapan.

“Hei, Gery.” Wenda menepuk pelan lengan Gery. “Kau tahu tidak?”

“Apa?” sahut Gery.

Wenda terlihat sumringah dan begitu antusias. “Kau ingat Belva?”

“Siapa Belva?” tanya Gery acuh.

“Ish! Kau ini!” tepukan di lengan Gery lebih keras, membuatnya mendengkus kesal.

“Apa sih, Bu?” tepis Gery. “Aku kan sedang makan, kenapa ibu ganggu?”

“Iya. Kau ini kenapa wahai istriku?” timbruk Abraham sambil mengelap bibirnya dengan tisu. “Biarkan Gery sarapan. Jangan kau ganggu.”

Kali ini Wenda yang mendengkus. “Aku kan cuma mau kasih kabar gembira saja.”

Abraham berdiri lalu meraih tas kerjanya. “Biarkan dia selesai sarapan dulu. Aku berangkat,” kata Abraham kemudian.

Wenda ikut berdiri lalu memberi kecupan di punggung telapak tangan sang suami. “Hati-hati.”

Wenda kembali duduk dan mengusik ketenangan Gery lagi saat sang suami sudah beranjak pergi.

“Kau ingat Belva kan?” tanya Wenda sekali lagi.

Sambil mengunyah makanan, Gery menjawab, “Belva siapa? Aku tidak kenal.”

“Astaga!” desah Wenda. Ia menepuk jidatnya sendiri sambil berdecak-decak. “Bagaimana mungkin kau lupa?”

Dengan santainya, Gery menaikkan kedua pundaknya. “Aku memang lupa. Em, atau mungkin tidak tahu.”

“Dia itu temanmu masa kecil. Masa kau lupa, sih!”

Mendengar kata teman kecil, Gery nampak terkejut. Tidak terlalu kentara, tapi bisa terlihat karena Gery mendadak terpaku diam dan berhenti mengunyah untuk beberapa detik padahal di dalam mulutnya masih ada makanan.

“Kau ingat sekarang kan?” Wenda mengguncang lengan Gery lebih kencang. “Dia akan datang nanti sore.”

Gery spontan menjatuhkan sendok di atas piring. Pandangannya yang semula lurus ke arah makanan, kini beralih menatap ibunya. “Datang?” tanya Gery dengan wajah bingung.

Wenda kembali tersenyum sumringah. Ia mendaratkan dua tangan dengan posisi menyangga dagu di atas meja. “Dia datang bersama kakakmu dari Singapura. Mereka akan menikah.”

“APA?” spontan saja Gery berteriak hingga membuat Wenda menarik badan menjauh dan menekan dada. “Menikah?”

“I-iya,” jawab Wenda. “Kenapa kau berteriak begitu? Ibu kan kaget!” Wenda membenarkan posisi duduknya sambil mengusap-usap dada.

“Aku ke kamar dulu.” Tiba-tiba Gery berdiri. Meneguk segelas air putih lalu berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua.

“Gery! Tunggu, Gery!” panggil Wenda. Namun, Gery sama sekali tidak menoleh. “Dia itu kenapa?” gumam Wenda kemudian.

BRAK!

Gery menutup pintu dengan kencang. Ia berdiri dengan kedua tangan mengepal, lalu menggeram dengan suara tertahan. Maju beberapa langkah, kemudian Gery menendang kursi hingga roboh.

“Kenapa jadi begini?” geram Gery. “Kenapa dia kembali? Aaaaaa!!” Gery mengacak-acak rambutnya sendiri.

Gery menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dua bola matanya terlihat menyala seperti hendak mengeluarkan api. Berita kepulangan kakaknya seharusnya membuat Gery senang. Sudah hampir setahun mereka tidak saling bertemu karena Kakaknya yang bernama Theo harus bekerja di luar negri.

Namun, pulang membawa seorang wanita, tidak bisa Gery terima. Kenapa?

Tiba-tiba Gery terbangun. Gery duduk kemudian meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Tentu saja Gery menelpon Lina. Lina adalah orang yang selalu ada untuk Gery selain Dion. Mereka memutuskan untuk bertemu di kantor saja.

“Kau mau kemana, Gery?” tanya Wenda yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV.

“Ke kantor,” jawab Gery acuh.

Wenda mengerutkan dahi sambil sedikit memiringkan kepala. “Dia itu kenapa? Wajahnya jadi cemberut begitu.”

Saat Gery sudah berada di dalam mobil dan hendak mengeluarkannya dari halaman rumah, seseorang pengendara motor ternyata justru hendak masuk. Kedua kendaraan itu hampir saja bertabrakan kalau saja Gery tidak cepat-cepat mengerem mobilnya.

“Sial!” umpat Gery. “Siapa sih! Mengganggu jalanku saja!” Gery menekan tombol klakson hingga membuat pengendara motor ambruk bersama si motor karena terkejut.

Bukannya keluar untuk membantu, Gery justru hanya berdecak kesal sambil memukuli bundaran setir. Barulah setelah orang itu berdiri dan melepas helmnya, Gery terlihat tepuk jidat.

“Wanita itu,” kata Gery kemudian. “Aku sampai lupa. Astaga!”

Gery terpaksa turun menemui Amora yang tengah meringis karena tangannya terkilir saat ambruk bersama motornya.

“Kau pulang dulu. Temui aku saat aku sudah memanggilmu!”

“A-apa?” Amora ternganga lebar sampai hampir menjatuhkan helm. “Maksud tuan apa?”

Gery berdecak sebal. “Kau pulang dulu. Tepikan motor bututmu, aku mau lewat.”

Tidak membantah dan bertanya lagi, buru-buru Amora menepikan motornya. Seperti orang bodoh yang diberi nyawa, Amora hanya melongo saat Gery sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya begitu saja.

“Apa-apaan ini?” batin Amora dengan gigi mengerat kuat.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status