Share

Chapter 5

“Apa orang itu yang menangkap paman Atmaja?” tanya Andy.

Atmaja kembali duduk di ruang tengah bersama yang lainnya. “Ya, dia orangnya.”

“Sepertinya orang itu sangat berkuasa,” timbruk Putri.

“Kau lihat wajahnya?” sambung Ambar. “Apa dia tampan?”

“Ish, ibu!” sembur Putri. “Apa urusannya?”

Ambar menoyor kepala Putri hingga membentur pundak Andy. “Kalau dia bisa berbaik hati membebaskan ayahmu, bisa jadi dia juga mudah kau rayu. Kau paham maksud ibu kan?”

“Ambar!” hardik Atmaja. “Kau mengajari anakmu untuk merayu? Dimana pikiranmu?”

“Memangnya kenapa?” Ambar mencebik. “Siapa tahi memang jodoh Putri kan?”

“Kita bahkan belum tahu bagaimana Tuan Gery bisa membebaskanku. Jangan berkhayal yang aneh-aneh.”

“Benar. Ibu itu aneh. Aku kan suka dengan Andy untuk apa harus mendekati pria bermuka kejam itu?” dengan manjanya, Putri merangkul lengan Andy. Andy hanya meringis kaku.

“Kau ini!” Ambar menoyor pelipis Putri lagi. “Andy itu kan kekasih Amora. Carilah yang lain!”

Dari balik tirai, Amora yang sedang berdiri sambil membawa nampan berisi gelas yang isinya hanya tinggal separuh, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Pembicaraan di dalam sana sama sekali tidak ada manfaatnya sama sekali.

Amora masih sempat berpikir. Di umurnya yang saat ini menginjak 25 tahun, harus dihadapkan dengan situasi yang benar-benar sulit. Masa dewasa yang seharusnya ia fokuskan bersama Andy, harus terganggu karena Amora harus disibukkan dengan sesuatu. Budak. Ya, menjadi budak.

Seperti masa penjajahan atau tidak, tapi pasti akan berat.

Begitu Amora masuk, semua pandangan mata refleks memutar ke arah Amora. Merasa risih, Amora mendengkus dan berjalan begitu saja menuju dapur. Saat Atmaja hendak berdiri, Andy sudah berdiri lebih dulu.

“Biar aku yang bicara, Paman.”

Atmaja duduk kembali sementara Andy menyusul Amora ke belakang.

“Kau baik-baik saja?” Andy merangkul bagian pinggang Amora dari belakang.

Amora berdehem pelan lalu berbalik. “Tentu saja aku baik-baik saja.”

Kali ini Andy mendaratkan satu tangan di pipi Amora. “Kau tidak mau cerita padaku apa yang terjadi?”

Amora justru melengos dan menyingkir. “Aku hanya sedang lelah. Apa kau bisa pulang dulu?”

Ini bukan terdengar seperti Amora yang biasanya. Semenjak musibah menimpa ayahnya, Amora memang lebih sering murung. Andy hanya merasa aneh. Ayah sudah dibebaskan, tapi kenapa Amora tetap bersedih? Andy ingin tahu, tapi untuk saat ini memang Amora tetap memilih bungkam.

“Baiklah ...” Andy mengusap pipi Amora lagi kemudian memberi kecupan di kening. “Telpon aku kalau sudah baikan.”

Bukan seperti ini yang Amora inginkan. Mengacuhkan Andy tentunya sangatlah tidak berhati. Namun, jika dipaksa tersenyum dengan cara bercengkrama dengannya, Amora juga tak bisa melakukannya.

“Maafkan aku,” lirih Amora saat Andy sudah beranjak pergi.

Dalam perjalanan pulang, Andy melihat dua orang yang bertamu ke rumah Amora. Mereka tak lain adalah Gery dan Dion. Mereka sedang berdiri di depan sebuah kafe. Nampaknya mereka baru saja turun dan mungkin hendak cari makan siang.

Sebelum mereka masuk, Andy buru-buru memarkirkan motornya. Melepas helmnya kemudian bergegas menghampiri mereka berdua.

“Tunggu!” cegah Andy tepat beberapa langkah sebelum Gery dan Dion masuk.

Mereka berdua menoleh bersamaan. Gery yang tidak kenal, tentunya memberi lirikan angkuhnya. “Siapa kau?”

Pandangan Andy juga terlihat acuh dan tak bersahabat. Sebelum Andy menjawab, di sampingnya Dion lebih dulu menyikut lengan Gery. “Dia yang tadi ada di rumah Amora juga.”

Gery mulai menatap Andy mulai dari atas hingga ke ujung bawah. “Ada perlu apa? Dasar sangat tidak sopan!” sembur Gery.

Dion sedikit mendorong tubuh Gery saat ada pengunjung yang hendak masuk ke kafe.

“Apa yang sudah kalian lakukan pada Amora?” tanya Andy tanpa basa-basi.

Gery mengerutkan kening dan sedikit mendengkus. “Apa maksudmu?”

“Maaf, Tuan. Bicaralah yang sopan,” kata Dion.

“Katakan saja, apa yang sudah kalian lakukan pada Amora?” sekali lagi Andy bertanya. Andy sangat yakin, diamnya Amora pasti ada hubungannya dengan dua orang ini.

“Memangnya Amora kenapa? Dan lagi, kau itu siapa? Kenapa ikut campur?” seloroh Gery dengan gayanya yang angkuh.

“Aku kekasihnya,” jawab Andy. “Aku mohon, berhentilah mengganggu Amora.”

“Oh, jadi kau kekasih Amora.” Gery manggut-manggut sambil mengusap dagu. “Tahu apa kau sampai berani mencegahku mengganggu Amora? Memang siapa yang mengganggu Amora? Justru Amoralah yang sudah mengusik kehidupanku.”

“Kurang ajar!” sembur Andy. Hampir saja Andy menampar Gery, tapi dihalau oleh Dion.

“Berani sekali kau!” geram Gery. “Kalau kau tidak tahu apa-apa, mending diam! Ini urusanku dengan Amora. Kau pikir Atmaja bebas karena siapa?”

Gery mendecih lalu berbalik masuk ke dalam kafe. Saat Andy hendak maju untuk mengejar, lagi-lagi Dion menghalangi.

“Sebaiknya kau pergi. Kalau kau kekasihnya, harusnya kau tahu.”

Andy melongo dan membiarkan Dion menyusul Gery masuk ke dalam.

“Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah mereka lakukan pada Amora?” gumam Andy.

Tetap berdiri disini, sepertinya akan percuma. Andy tidak akan mendapat jawaban.

“Sepertinya akan lebih menarik,” kata Gery sambil menarik kursi lalu duduk. “Aku jadi lebih bersemangat.”

“Apa rencanamu?” Dion ikut duduk. “Jangan aneh-aneh. Pikirkan dulu matang-matang.”

Gery tertawa renyah. “Santai saja. Aku hanya akan membuat Amora dan ayahnya merasakan sakit yang aku rasakan karena telah kehilangan.”

“Aku mau tanya,” kata Dion tiba-tiba. “Kau jangan marah, aku hanya sekedar penasaran.”

“Bukankah kalian sudah putus?” tanya Dion.

“Siapa?”

“Kau dan mendiang Tania.”

Gery lantas tersenyum datar. “Memang.”

“Lalu kenapa kau sangat bersemangat sekali membalaskan dendam. Bukankah yang namanya kecelakaan memang kapan saja bisa terjadi?” tanya Dion lagi.

Dari pandangan Dion, mungkin sebentar lagi Gery akan marah. Namun, rasa heran lebih kuat untuk mendorong Dion menanyakan hal tersebut.

“Kita memang sudah putus. Tapi aku masih mencintainya. Dan saat ada harapan kembali, aku tidak menyangka kalau dia mengalami kecelakaan,” ujar Gery. “Biar bagaimanapun, Atmaja dan Amora tetap bersalah.”

Kemauan Gery sudah membulat. Ajang balas dendam tidak bisa lagi terelakkan. Seperti apa awalnya, semua akan dimulai di hari esok. Sekedar menjadikannya budak, atau bahkan ada sesuatu yang lebih kejam.

“Biarkan aku bermain-main dulu. Aku bukan orang jahat. Kau tahu itu kan?” Gery tersenyum getir.

Memang, Gery bukanlah orang yang akan berulah jika tidak ada yang memulai lebih dulu. Jika semua karena rasa cinta pada Tania, pantaskah balas dendam itu ada?

“Sudahlah, jangan terlalu tegang begitu.” Gery menendang kaki Dion di bawah kolong meja. “Ini karena aku terlalu mencintai Tania.”

“Aku bisa apa?” Dion menghela napas. “Lakukan saja sesukamu.”

Gery tertawa. Sebuah tawa yang terasa berat. Apa artinya ini, yang Gery tahu saat ini hanyalah ingin menyiksa orang yang sudah membuatnya kehilangan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status