Home / Romansa / Pelayan Hati Tuan Muda / Bab 42 - Janin yang Merindukan Papa

Share

Bab 42 - Janin yang Merindukan Papa

Author: Sabira Story
last update Huling Na-update: 2025-10-21 00:08:22

Sore hujan turun pelan di luar jendela apartemen. Butiran air menempel di kaca, membentuk pola-pola acak yang menenangkan. Di dalam, suasana justru hangat. Televisi menyala menampilkan film drama ringan, sementara di atas meja, semangkuk buah potong tersaji bersama dua gelas susu hangat.

Ayu duduk di sofa dengan selimut menutupi kakinya. Perutnya yang mulai sedikit membulat kini menjadi pusat perhatian Revan. Lelaki itu duduk di sebelahnya, sesekali mengelus lembut perut Ayu, seolah sedang berkomunikasi dengan makhluk mungil yang tumbuh di sana.

“Kamu lapar lagi?” tanya Revan sambil tersenyum manis.

Ayu menggeleng kecil. “Baru aja makan tadi siang. Tapi kalau kamu suapin buah, mungkin aku mau,” jawabnya malu-malu.

Revan tertawa kecil, lalu mengambil sepotong apel dan menyuapkannya ke mulut Ayu. “Kalau gitu, biar Papa yang suapin.”

Ayu menatapnya sekilas, pipinya bersemu merah. “Papa? Kamu mulai lebay lagi.”

“Biar terbiasa,” ujar Revan santai. “Nanti kalau anak kita lahir, dia bakal pa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 43 - Hampir ketahuan

    Suasana kantor siang itu terasa tegang. Beberapa staf yang sedang lewat langsung menunduk begitu melihat seorang wanita elegan bergaun merah memasuki ruangan utama dengan langkah cepat dan suara hak tinggi yang berderap keras di lantai marmer. “Nyonya Nadine, Anda tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan Pak Revan tanpa janji dulu...” ucap resepsionis gugup. Namun Nadine hanya menatapnya tajam. “Aku istrinya,” katanya dingin, sebelum mendorong pintu ruang kerja Revan dengan keras hingga menimbulkan suara yang memecah keheningan kantor. Revan, yang tengah menatap layar laptopnya, tersentak kaget. Ia segera berdiri. “Nadine?” “Ya, ini aku!” Nadine mendengus, menutup pintu dengan kasar. “Kau pikir aku nggak tahu, Revan? Sudah beberapa hari kamu nggak pulang. Bahkan semalam pun kamu menolak saat aku memintamu pulang. Aku ini istrimu, Revan, bukan orang asing!” Suara Nadine meninggi, membuat beberapa pegawai di luar menelan ludah. Mereka saling pandang, lalu berpura-pura sibuk agar

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 42 - Janin yang Merindukan Papa

    Sore hujan turun pelan di luar jendela apartemen. Butiran air menempel di kaca, membentuk pola-pola acak yang menenangkan. Di dalam, suasana justru hangat. Televisi menyala menampilkan film drama ringan, sementara di atas meja, semangkuk buah potong tersaji bersama dua gelas susu hangat.Ayu duduk di sofa dengan selimut menutupi kakinya. Perutnya yang mulai sedikit membulat kini menjadi pusat perhatian Revan. Lelaki itu duduk di sebelahnya, sesekali mengelus lembut perut Ayu, seolah sedang berkomunikasi dengan makhluk mungil yang tumbuh di sana.“Kamu lapar lagi?” tanya Revan sambil tersenyum manis.Ayu menggeleng kecil. “Baru aja makan tadi siang. Tapi kalau kamu suapin buah, mungkin aku mau,” jawabnya malu-malu.Revan tertawa kecil, lalu mengambil sepotong apel dan menyuapkannya ke mulut Ayu. “Kalau gitu, biar Papa yang suapin.”Ayu menatapnya sekilas, pipinya bersemu merah. “Papa? Kamu mulai lebay lagi.”“Biar terbiasa,” ujar Revan santai. “Nanti kalau anak kita lahir, dia bakal pa

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 41 - Lamaran di Meja Sarapan

    Aroma tumisan bawang dan telur dadar memenuhi seluruh ruangan apartemen pagi itu. Sinar matahari menembus tirai tipis, jatuh di wajah Ayu yang tengah sibuk di dapur. Tangannya lincah mengaduk sup hangat, sementara di meja makan, roti panggang dan segelas susu sudah tersusun rapi. Sesekali, Ayu menatap jam dinding. Biasanya jam segini Revan sudah bersiap ke kantor. Tapi hari ini berbeda. Pagi ini Revan bilang ia ingin di rumah saja. Katanya, ingin “menghabiskan waktu” dengan Ayu. Senyum kecil terbit di bibirnya. Sejak tinggal di apartemen rahasia milik Revan, hari-hari Ayu jauh lebih tenang. Tidak ada lagi suara tetangga yang ribut di kosan, tidak ada atap bocor saat hujan. Tapi di sisi lain, hati kecilnya juga takut, takut jika semua ini hanya sementara. Suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Revan keluar dengan kaus hitam polos dan celana panjang abu-abu. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi justru itu membuatnya tampak lebih santai dan... menawan. “Pagi sayang,” ucapn

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 40 - Apartemen Rahasia

    Hujan baru saja reda ketika mobil hitam milik Revan berhenti di depan rumah sakit. Ayu menatap ke luar jendela, melihat butiran air yang masih menempel di kaca. Hatinya berdebar aneh, antara canggung, gugup, dan tak percaya bahwa ia kini benar-benar duduk di sebelah Revan lagi. Revan, sang tuan muda yang rela mengejarnya sampai keluar kota.“Udah siap?” suara Revan memecah keheningan. Nada lembutnya membuat Ayu spontan menoleh.“Kayaknya, iya,” jawabnya pelan, sambil menggenggam ujung tas yang ia bawa.Revan tersenyum tipis. “Kita periksa sebentar aja. Aku udah janji sama dokter buat cek kandungan kamu. Umurnya kira-kira baru enam minggu, kan?”Ayu mengangguk. “Iya, hasil test pack waktu itu cuma garis dua samar. Aku juga belum periksa ke dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Revan turun lebih dulu, membuka pintu untuknya. Sifatnya yang perhatian itu membuat Ayu semakin salah tingkah. Mereka berjalan berdampingan melewati lobi rumah sakit. Aroma antiseptik menyeruak, sementara langkah kaki

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 39 - Pelukan yang Tertunda

    Pintu kamar kos yang sempit itu tertutup rapat di belakang mereka. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan yang pengap, hanya terdengar deru nafas keduanya yang tidak beraturan. Lampu neon yang redup menyinari wajah Ayu yang pucat, matanya sembab karena air mata yang tak kunjung berhenti mengalir sejak bertemu Revan tadi.Tanpa menunggu lebih lama, Revan langsung melangkah mendekat dan memeluk tubuh Ayu dengan erat, sangat erat. Seakan-akan ia takut wanita itu akan menghilang lagi jika pelukannya mengendur walau hanya sesaat. Rasa rindu yang telah ia pendam selama ini, kini meledak begitu saja membuatnya lupa akan segala hal. Lupa bahwa wanita yang kini berada dalam dekapannya sedang mengandung anak mereka."Ayu..." bisik Revan parau di telinga wanita itu. Suaranya bergetar, menahan emosi yang membludak. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau tinggalkan aku?"Ayu yang awalnya kaku, perlahan mulai mencair. Tangannya yang semula tergantung lemah di sisi tubuh, kini terangkat dan membalas pelukan

  • Pelayan Hati Tuan Muda   Bab 38 - Pertemuan di Subuh

    Embun pagi masih menggantung di udara ketika mobil sedan hitam berhenti di depan gang sempit yang mengarah ke kos-kosan. Revan mematikan mesin dan menghela napas panjang. Tangannya bergetar sedikit ketika meraih kunci mobil. Perjalanan selama delapan jam dari Jakarta ke kota kecil ini terasa seperti keabadian baginya."Alamat ini sudah alamat yang benar kan?" tanya Revan pada pria paruh baya yang berdiri di samping pintu mobil."Benar, Pak. Ini fotonya waktu dia berangkat kerja ke laundry kemarin," jawab pria itu sambil menyerahkan foto Ayu yang sedang berjalan.Revan menatap foto itu dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah beberapa hari sejak Ayu pergi meninggalkan rumah tanpa kata-kata. Beberapa hari yang terasa seperti bertahun-tahun bagi Revan. Setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak, terus memikirkan Ayu yang pergi membawa anak yang dikandungnya.Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya. Revan merapikan kemeja putihnya dan menyisir rambut dengan jari. Ia ingin terlihat rapi di depan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status