LOGINAyu hanya seorang gadis desa biasa yang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Ardiansyah, tempat para miliarder tinggal dalam kemewahan yang sunyi. Dia bertemu dengan Revan, tuan muda yang terjebak dalam pernikahan kosong dengan wanita sosialita ambisius. Tapi di balik sikap kaku dan diamnya, ia mulai luluh oleh ketulusan Ayu. Namun cinta mereka tak diizinkan. Nama besar, harga diri, dan masa lalu kelam keluarga siap merobek segalanya. Cinta ini haram. Tapi kenapa rasanya justru candu?
View MoreSuasana kantor siang itu terasa tegang. Beberapa staf yang sedang lewat langsung menunduk begitu melihat seorang wanita elegan bergaun merah memasuki ruangan utama dengan langkah cepat dan suara hak tinggi yang berderap keras di lantai marmer. “Nyonya Nadine, Anda tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan Pak Revan tanpa janji dulu...” ucap resepsionis gugup. Namun Nadine hanya menatapnya tajam. “Aku istrinya,” katanya dingin, sebelum mendorong pintu ruang kerja Revan dengan keras hingga menimbulkan suara yang memecah keheningan kantor. Revan, yang tengah menatap layar laptopnya, tersentak kaget. Ia segera berdiri. “Nadine?” “Ya, ini aku!” Nadine mendengus, menutup pintu dengan kasar. “Kau pikir aku nggak tahu, Revan? Sudah beberapa hari kamu nggak pulang. Bahkan semalam pun kamu menolak saat aku memintamu pulang. Aku ini istrimu, Revan, bukan orang asing!” Suara Nadine meninggi, membuat beberapa pegawai di luar menelan ludah. Mereka saling pandang, lalu berpura-pura sibuk agar
Sore hujan turun pelan di luar jendela apartemen. Butiran air menempel di kaca, membentuk pola-pola acak yang menenangkan. Di dalam, suasana justru hangat. Televisi menyala menampilkan film drama ringan, sementara di atas meja, semangkuk buah potong tersaji bersama dua gelas susu hangat.Ayu duduk di sofa dengan selimut menutupi kakinya. Perutnya yang mulai sedikit membulat kini menjadi pusat perhatian Revan. Lelaki itu duduk di sebelahnya, sesekali mengelus lembut perut Ayu, seolah sedang berkomunikasi dengan makhluk mungil yang tumbuh di sana.“Kamu lapar lagi?” tanya Revan sambil tersenyum manis.Ayu menggeleng kecil. “Baru aja makan tadi siang. Tapi kalau kamu suapin buah, mungkin aku mau,” jawabnya malu-malu.Revan tertawa kecil, lalu mengambil sepotong apel dan menyuapkannya ke mulut Ayu. “Kalau gitu, biar Papa yang suapin.”Ayu menatapnya sekilas, pipinya bersemu merah. “Papa? Kamu mulai lebay lagi.”“Biar terbiasa,” ujar Revan santai. “Nanti kalau anak kita lahir, dia bakal pa
Aroma tumisan bawang dan telur dadar memenuhi seluruh ruangan apartemen pagi itu. Sinar matahari menembus tirai tipis, jatuh di wajah Ayu yang tengah sibuk di dapur. Tangannya lincah mengaduk sup hangat, sementara di meja makan, roti panggang dan segelas susu sudah tersusun rapi. Sesekali, Ayu menatap jam dinding. Biasanya jam segini Revan sudah bersiap ke kantor. Tapi hari ini berbeda. Pagi ini Revan bilang ia ingin di rumah saja. Katanya, ingin “menghabiskan waktu” dengan Ayu. Senyum kecil terbit di bibirnya. Sejak tinggal di apartemen rahasia milik Revan, hari-hari Ayu jauh lebih tenang. Tidak ada lagi suara tetangga yang ribut di kosan, tidak ada atap bocor saat hujan. Tapi di sisi lain, hati kecilnya juga takut, takut jika semua ini hanya sementara. Suara langkah kaki terdengar dari arah kamar. Revan keluar dengan kaus hitam polos dan celana panjang abu-abu. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi justru itu membuatnya tampak lebih santai dan... menawan. “Pagi sayang,” ucapn
Hujan baru saja reda ketika mobil hitam milik Revan berhenti di depan rumah sakit. Ayu menatap ke luar jendela, melihat butiran air yang masih menempel di kaca. Hatinya berdebar aneh, antara canggung, gugup, dan tak percaya bahwa ia kini benar-benar duduk di sebelah Revan lagi. Revan, sang tuan muda yang rela mengejarnya sampai keluar kota.“Udah siap?” suara Revan memecah keheningan. Nada lembutnya membuat Ayu spontan menoleh.“Kayaknya, iya,” jawabnya pelan, sambil menggenggam ujung tas yang ia bawa.Revan tersenyum tipis. “Kita periksa sebentar aja. Aku udah janji sama dokter buat cek kandungan kamu. Umurnya kira-kira baru enam minggu, kan?”Ayu mengangguk. “Iya, hasil test pack waktu itu cuma garis dua samar. Aku juga belum periksa ke dokter.”Tanpa menunggu jawaban, Revan turun lebih dulu, membuka pintu untuknya. Sifatnya yang perhatian itu membuat Ayu semakin salah tingkah. Mereka berjalan berdampingan melewati lobi rumah sakit. Aroma antiseptik menyeruak, sementara langkah kaki
Sebenarnya sudah sejak tadi pekerjaannya selesai. Namun, Revan masih enggan untuk pulang, karena ia sedang malas menatap wajah istrinya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam dan ia baru berniat pulang setelah lewat 30 menit kemudian. Langkahnya selalu tegap. Ia keluar dari ruang kerja
Hujan terus turun sejak siang dan tak kunjung reda hingga malam menjelang. Langit diselimuti mendung gelap, membuat suasana rumah besar keluarga Ardiansyah kian muram dan dingin. Nadine sedang menginap di hotel untuk menghadiri pesta sosialita, meninggalkan rumah tanpa kehangatan seperti biasa. Re
Langit mulai mendung. Awan gelap bergelantungan di luar jendela besar ruang makan keluarga Ardiansyah. Ayu sedang sibuk membersihkan meja makan panjang yang terbuat dari marmer putih yang mengkilap. Tangannya gesit, tapi wajahnya tampak lelah. Sejak pagi ia sudah bolak-balik dari dapur ke taman bela
Sejak tadi, Ayu merasa ada sesuatu yang berbeda di udara. Bukan angin atau cuaca, tapi suasana hati yang aneh. Ia membersihkan ruang keluarga, menyapu dan mengepel lantai marmer yang luas hingga mengkilap seperti cermin. Di atas meja panjang, ia menata vas berisi bunga segar yang datang dari toko la






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.