Share

Bab 79. Rasa penasaran Risma

last update publish date: 2026-04-04 21:31:09

"Aku sudah izin sama Ibu dan Bapak, A. Jadi kalaupun nanti kita pulangnya telat, nggak akan apa-apa, apalagi perginya sama Aa," ucap Risma sambil mengeratkan pelukannya di pinggangku saat motor kami mulai memasuki kawasan kontrakan lama.

Aku sedikit menoleh, merasakan hembusan napasnya yang hangat di balik pundakku. "Jadi bisa santai ya kalau gitu? Ayo kita langsung pergi!" sahutku sambil memutar gas lebih dalam.

Motor tuaku menderu, membelah jalanan kecil menuju deretan petak kamar yang dulu m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 303. Drama baru

    "Aris," buka Pak RT Bambang meredakan ketegangan. "Bapak panggil kamu ke sini buat meluruskan aduan dari Bu Yanti dan Risma. Bu Yanti mengklaim kalau Risma sedang mengandung, dan kamu adalah ayah dari janin itu. Bagaimana tanggapanmu?"Aku menatap Risma lekat-lekat. Gadis itu tidak berani menatap mataku sama sekali, badannya gemetar pelan."Pak RT, saya tegaskan sekali lagi di hadapan semua orang di ruangan ini," kataku lantang dengan intonasi jelas. "Saya dan Risma sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan soal tuduhan hamil ini... jika memang Risma benar-benar hamil dan Risma merasa itu anak saya, saya tantang Risma untuk lakukan tes DNA sekarang juga! Jika hasil tes DNA membuktikan secara medis bahwa janin itu anak saya, detik ini juga saya siap bertanggung jawab penuh!"Mendengar kata Tes DNA meluncur dari mulutku, raut wajah Bu Yanti seketika berubah kaku. Tangis Risma di sampingnya mendadak terhenti, matanya membelalak dipenuhi kegelisahan yang sangat nyata."Nah! Itu solusi pa

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 302. Ancaman Bu Yanti

    Aku menatap kunci besi duplikat berukuran besar yang berkilat di jemari Nikita. Jantungku berdegup kencang, bayangan rahasia kelam di balik pintu bawah tanah gudang itu seolah-olah sudah melambai di depan mata."Wah bagus Bu, akhirnya kita punya kuncinya juga," kataku setengah berbisik sembari mengamati ukiran gerigi kunci tersebut. "Kapan sebaiknya aku ke gudang belakang lagi buat buka pintu bawah tanah itu, Bu?"Nikita tersenyum tipis, matanya berkilat penuh ambisi. "Sekarang juga bisa, Ris. Mumpung Ayahmu belum pulang dan rumah lagi sepi. Tapi... itu juga kalau kamu tidak capek habis dari showroom.""Aku tidak capek sama sekali, Bu. Lebih cepat kita—"Belum sempat aku menuntaskan kalimatku, dengungan deru mesin mobil yang sangat kukenal mendadak terdengar membelah kesunyian halaman depan. Lampu sorot mobil melempar kilatan cahaya menembus kaca jendela lobi.Ayah sudah pulang.Nikita seketika merespon cepat. Dia menarik tangannya, menyusupkan kembali kunci besi duplikat itu ke dala

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 301. Perasaan padanya

    [Gak apa-apa kok, Mar. Cuma agak capek aja pikiran lagi banyak yang dipikirkan.]Hanya butuh beberapa detik sampai Marni membalas kembali.[Jangan bohong deh, Pak. Wajah Bapak kelihatan banget kalau lagi mikirin sesuatu. Gimana kalau nanti pas jam pulang, gantian aku yang ajak Bapak pergi ke suatu tempat? Biar Bapak bisa ceria lagi kaya aku sekarang! Mau ya, Pak?]Membaca ajakan Marni, ada rasa hangat yang mendadak menyusup ke dalam dadaku. Kepedulian polosnya selalu berhasil meluluhkan ketegangan yang menumpuk di kepalaku.[Boleh. Nanti kita berangkat pas jam kerja selesai,] balasku.Dari balik meja kerjanya, Marni melirik ke arah ruanganku lalu mengacungkan jempolnya dengan senyuman jahil yang membuatku terkekeh pelan.---Pukul lima sore tiba, menandakan jam operasional showroom telah usai. Setelah para staf berpamitan dan gerbang depan dirapikan, aku dan Marni berjalan keluar menuju area parkiran."Kita naik mobil Bapak saja ya? Mobilku kan masih di bengkel," kata Marni riang semb

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 300. Perempuan itu sebenarnya siapa?

    Wanita itu mulai melangkah masuk menyusuri gang sempit tersebut.Aku tidak bisa memasukkan mobilku ke dalam gang yang sempit itu.Dengan cepat, aku memutar kemudi dan memarkirkan mobilku di bawah naungan pohon rimbun dekat pinggir jalan raya. Aku melompat turun dari mobil, mengenakan jaket, lalu berlari-lari kecil menyusul masuk ke dalam gang demi tidak kehilangan jejaknya."Jangan sampai lepas..." gumamku menahan napas.Suasana di dalam gang tersebut cukup tenang, diapit oleh dinding-dinding rumah warga. Beruntung, dari jarak sekitar lima belas meter di depan, aku masih bisa melihat punggung wanita itu yang sedang berjalan santai membawa tas jinjingnya. Gang sempit itu rupanya mengarah masuk ke dalam sebuah area perumahan tertutup.Saat wanita itu berbelok ke kiri di persimpangan gang, aku mempercepat langkah kakiku, setengah berlari mendekati tikungan.Namun, tepat saat aku membelokkan badanku di sudut dinding gang..."BERHENTI! JANGANKAN MENDEKAT!" jerit wanita itu kencang sembari

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 299. Wanita di restoran

    "AAAAAGHHHH!" Vira dan Tasya mengerang panjang pasrah menerima semburan benih kami di atas perut mereka.Setelah badai syahwat itu mereda, kami berempat terkapar lemas berbaring terlentang di atas karpet ruang tamu dalam kondisi basah kuyup bermandikan keringat.Sekitar setengah jam kemudian, setelah tenagaku sedikit pulih, aku bangkit berdiri tanpa suara. Aku memunguti celana pendek dan pakaianku di lantai, mengenakannya kembali hingga rapi, lalu melangkah pelan menuju tangga. Ketika melewati koridor lantai atas, kulihat pintu kamar Nikita tertutup rapat dan terdengar hening; sepertinya dia sudah terlelap tidur.Aku masuk ke dalam kamarku, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Pergumulan kami tadi memang memakan waktu cukup lama. Tanpa membuang waktu lagi, aku merebahkan tubuhku di atas kasur empuk dan seketika tertidur pulas.---Pagi harinya begitu terbangun dari tidur, aku melakukan olahraga ringan terlebih dahulu seperti melakukan push-up dan sit-up di

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 298. Sudah basah

    Ayah semakin beringas diguyur gairah. Tangan kanannya kini menyusup masuk ke balik kaos santai Tasya, meremas dan memilin buah dada Tasya yang kencang tanpa dilapisi bra. Tasya mendesah pelan yang tertahan, matanya terpejam merespon remasan beringas Ayah di bawah tontonan drama Korea.Sementara itu, jemari tangan kiri Ayah di balik rok Vira bergerak memutar, melesak masuk menyentuh lipatan paling sensitif dari area intim Vira. Vira menggigit bibir bawahnya erat-erat, tubuhnya meremang hebat menahan dorongan kedutan rangsangan dari jari-jari Ayah.Tiba-tiba, Ayah melorotkan ritsleting celana pendek kain yang dikenakannya. Dia mengeluarkan kejantanannya yang sudah berdiri tegang keras, hitam berurat dan panas di atas paha."Tasya... Vira... kocokkan punya Papa bergantian," bisik Ayah pelan dengan suara parau yang penuh perintah di antara helaan napasnya.Tasya yang pertama kali merespon. Dia meluncur turun dari sofa, berlutut di atas karpet halus di depan selangkangan Ayah. Jemari lent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status