LOGINDari arah belakang, aku cengkeram pinggulnya yang bulat dengan kuat, lalu kembali menghantam lubangnya tanpa ampun dengan tempo yang semakin kasar dan brutal.Tasya mendongakkan kepalanya ke atas dengan air mata kenikmatan mengalir di sudut matanya, menjerit-jerit menahan guncangan tubuhnya yang kotor oleh jejak gairah.Tak puas di situ, aku angkat tubuhnya yang ringan, menggendongnya berdiri di depan cermin besar yang terletak di sudut kamar. Aku paksakan mata sayunya untuk menatap pantulan bayangan polos kami sendiri di cermin saat si Gatot yang hitam legam terus merangsek keluar masuk menghujam bagian intinya yang sudah sangat becek cairan kenikmatan hingga meleleh membasahi pahanya.Pemandangan eksplisit itu semakin membakar nafsu hewani kami melampaui batas norma manusia.Seluruh ruang kamar tidur Tasya seolah menjadi saksi bisu atas kegilaan persetubuhan kami yang brutal tak berkesudahan. Detik demi detik berlalu ditelan deru gairah yang panas, hingga akhirnya otot-otot di sel
Tasya melangkah lambat, membiarkan lingerie sutra tipis hitamnya bergeser lembut di permukaan paha mulusnya yang putih bersih. Sorot matanya yang biasa dingin kini telah meleleh penuh kabut nafsu yang pekat, menatap si Gatot yang di balik celanaku sudah mulai meronta keras menuntut kebebasan. Tanpa membuang kata-kata, ia langsung merapat, mengalungkan sepasang lengan lentiknya di leherku dan membungkam bibirku dengan ciuman yang sangat agresif. Lidahnya yang hangat langsung menyusup liar ke dalam rongga mulutku, menghisap sisa napasku dalam-dalam hingga terdengar suara kecupan basah yang memenuhi kamar remang itu.Aku yang sedari tadi terhimpit tumpukan masalah gila di rumah ini langsung meledak, meluapkan seluruh amarah dan stresku ke dalam sentuhan fisik. Aku cengkeram pinggangnya yang ramping dengan kasar, merapatkan tubuh polosnya ke dadaku hingga gundukan payudaranya yang kencang menekan kuat. Ciuman kami bertukar menjadi sangat beringas dan menuntut, saling bertukar air liu
"Makasih banyak ya, Pak. Maaf sekali lagi aku baru ngasih tahu jam segini, soalnya dari sore tadi aku benar-benar baru sempat pegang handphone. Tadi aku sibuk banget ngurusin kucing kesayangan aku si Memei yang lagi melahirkan, Pak... eh ternyata susah keluar dan harus dicaesar sama dokter hewan, jadinya panik harus dibawa ke klinik darurat," tutur Marni dengan nada polosnya yang khas.Mendengar ceritanya yang terkesan sangat dramatis hanya karena urusan kucing melahirkan, aku terpaksa menahan tawa agar tidak membuatnya tersinggung. "Kamu ternyata selain jadi admin showroom yang pintar, sekarang beralih profesi jadi bidan kucing juga ya? Hebat kamu, Marni.""Ih, nggak gitu juga, Pak Aris!" seru Marni di seberang sana dengan nada manja bercampur malu. "Itu tadi situasinya darurat banget, kasihan si Memei sampai lemas. Mana suaminya, maksudnya kucing jantan hitam punyaku—nggak bertanggung jawab banget, kerjaannya malah main terus sama kucing tetangga belakangan ini, makanya aku yang te
"Gak apa-apa, lagi capek aja seharian ini," jawabku pelan sembari mengembuskan asap rokok terakhirku ke udara malam yang dingin.Tasya menatap wajahku lekat-lekat, kilat di matanya tampak berubah, dipenuhi oleh riak gairah yang mulai tersulut. "Kirain kenapa. Kak, malam ini... lagi capek gak?""Memangnya kenapa?" tanyaku balik menatapnya.Tasya seketika menunduk dan tersenyum simpul dengan sangat manis. Aku langsung tahu apa arti dan arah dari maksud senyumannya itu. Kebetulan sekali, saat ini pikiranku memang sedang sangat pusing dan penat akibat tumpukan semua masalah gila yang terjadi seharian ini; mulai dari begal, dokumen rahasia, hingga kecurigaan aneh terhadap Ayah. Aku butuh pelampiasan untuk mengalihkan stresku.Aku mencondongkan tubuh, berbisik rendah di dekat telinganya. "Kamu tunggu saja nanti di kamarmu sekitar jam 10-an, atau pas semua orang di rumah ini sudah tidur pulas. Seperti biasa, pintunya jangan dikunci."Mendengar instruksiku, wajah Tasya seketika berubah men
Aku menarik napas panjang, menatap langsung ke dalam matanya. "Tadi pagi... apa Ayah pergi keluar bersama Risma?"Mendengar pertanyaanku, Ayah tampak sangat terkejut. Guratan wajahnya mendadak menegang sekilas sebelum ia berusaha tersenyum. "Eh? N-nggak, Ris... itu... itu sebenarnya cuma gak sengaja. Tadi pagi saat Ayah mau berangkat pergi ke kantor pusat, di jalan depan sana tidak sengaja Ayah melihat Risma sedang berjalan kaki sendirian. Saat Ayah pinggirkan mobil dan tanya, katanya dia mau pergi ke pasar desa. Karena searah dan jalannya cukup panas, jadi Ayah tawari saja agar berangkat bareng naik mobil. Awalnya memang Risma terlihat sungkan, tapi Ayah gak tega lihat calon manantu Ayah jalan sendirian."Aku menyipitkan mata, mengejar jawabannya. "Tapi aku lihat waktu itu, tidak sengaja aku lewat jalan menuju toko perhiasan, Yah... Ayah dan Risma pergi masuk ke dalam toko perhiasan emas di pusat kota itu. Apa... apa Ayah membelikan sebuah perhiasan untuk Risma?"Wajah Ayah terliha
Joni ikut menimpali sambil membuka bungkus rokoknya. "Halah, kan sama saja namanya, Ris, toh kamu yang pegang kuasanya sekarang. Eh, ngomong-ngomong gimana kabar Neng Vira dan Neng Tasya yang seksi itu? Gak ada proyek renovasi rumah atau kolam nya mau di gedein lagi atau taman mau di renovasi lagi nih di rumah besarmu itu? Biar kami bisa dapat kerjaan borongan lagi sekalian cuci mata ketemu mereka, hahaha!"Aku terkekeh menggeleng. "Belum ada proyek apa-apa nih di rumah, Jon. Lagian kan buat main ke sana gak harus nunggu ada proyek bangunan dulu, kalian kalau ada waktu luang datang saja langsung ke rumah, pintu selalu terbuka."Dani mendecit pelan, wajahnya tampak sungkan. "Ah, malu lah kita, Ris. Apalagi kalau harus berhadapan sama ibu tirimu yang bohay dan berwibawa itu. Eh, tapi ngomong-ngomong emaknya juga gak kalah cantik dan menggoda ya dari anaknya. Enak banget ya hidupmu sekarang, bisa tinggal serumah dikelilingi cewek-cewek cantik dan seksi begitu setiap hari. Aku menarik nap