로그인Di bawah remang lampu tidur yang berwarna kuning redup, kulihat Vira sedang tertidur pulas dengan posisi miring, mengenakan gaun tidur satin tipis yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Aku kembali menutup pintunya pelan, tapi saat aku berbalik menghadap kasur, aku terkejut karena Vira tiba-tiba menghilang dari tempat tidurnya!"Hai, Kak Aris..."Suara bisikan halus di telingaku membuatku melonjak kaget. Tiba-tiba saja Vira sudah berada di sampingku, berdiri dengan senyum lebar yang penuh arti. Matanya berkilat, menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiranku yang mendadak."Vira... aku..." ucapku terbata.Vira tidak memberiku celah untuk bicara. Ia langsung mendekap tubuhku erat, aroma parfumnya yang manis menusuk hidungku. Tangannya yang halus meraba dadaku, lalu turun dengan berani meremas si Gatot dari balik celana pendekku."Aku tahu Kakak kangen aku, kan? Sudah lama kita nggak main," bisiknya manja, suaranya terdengar serak penuh gairah. "Aku juga sama,
"Aa... apa sebaiknya kita menginap saja di sini? Kalau langsung pulang sekarang, aku lemas banget, A," bisik Risma pelan, matanya nyaris terpejam karena kelelahan yang luar biasa.Aku mengelus rambutnya, menatap langit-langit kamar yang remang. "Iya, boleh. Tapi pagi-pagi sekali kita harus langsung pulang, Ris. Takut ketahuan tetangga sebelah kalau kita keluarnya kesiangan."Risma bergumam manja, ia mengeratkan pelukannya di pinggangku. "Iya A... eh, kalau gitu kita istirahat dulu saja sebentar, lalu langsung pulang. Mending kita di jalan saja daripada di sini, takutnya nanti ada warga yang curiga terus kita dilaporin.""Iya, kamu istirahat saja dulu sampai capeknya hilang," jawabku lembut.Selama beberapa saat kami terdiam dalam pelukan. Aku membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sempit ini. Tak butuh waktu lama bagi Risma untuk jatuh terlelap; napasnya menjadi berat dan tenang. Aku pun perlahan merasakan kantuk yang hebat menyerang, dan akhirnya aku ikut tertidur di sampingnya.
Risma mengangguk pelan, meski gurat rasa ingin tahunya masih tersisa. "Oh iya A, ada yang ingin aku tanyakan lagi. Aa kenapa sih waktu itu milih kerja jadi kuli di pelabuhan dan tinggal di kontrakan sempit seperti ini? Padahal Aa punya rumah yang besar seperti istana. Pak Gunadi itu kan orang paling kaya di sini, aku juga kaget banget pas tahu ternyata Aa anaknya Pak Gunadi."Aku tersenyum getir. "Aa cuma ingin hidup mandiri, Ris. Yang kaya itu Ayah Aa, bukan Aa. Kalau Aa sendiri aslinya nggak punya apa-apa.""Tapi kan sama saja, itu semua milik Ayah Aa, pasti bakal jadi milik Aa juga. Oh ya... apa Aa akhirnya merasa nggak bisa hidup sederhana ya, makanya Aa sekarang balik lagi ke rumah?"Pertanyaannya menohok jantungku. "Bisa nggak kalau nggak bahas itu lagi? Mending kita bahas tentang kita saja, Ris."Risma tampak sedikit tersentak melihat reaksiku. "Iya, maaf A. Risma cuma penasaran saja, habisnya aneh kalau tiba-tiba kembali ke rumah setelah lama mandiri di sini."Aku memilih untu
"Aku sudah izin sama Ibu dan Bapak, A. Jadi kalaupun nanti kita pulangnya telat, nggak akan apa-apa, apalagi perginya sama Aa," ucap Risma sambil mengeratkan pelukannya di pinggangku saat motor kami mulai memasuki kawasan kontrakan lama.Aku sedikit menoleh, merasakan hembusan napasnya yang hangat di balik pundakku. "Jadi bisa santai ya kalau gitu? Ayo kita langsung pergi!" sahutku sambil memutar gas lebih dalam.Motor tuaku menderu, membelah jalanan kecil menuju deretan petak kamar yang dulu menjadi saksi bisu kerasnya hidupku. Pikiranku agak bercabang, kontrakanku ini masa berlakunya tinggal menghitung hari. Aku tidak akan bisa lagi ke sini dalam waktu dekat, dan sisa barang-barangku yang masih tertinggal beberapa helai baju kerja pelabuhan dan peralatan makan usang harus segera aku angkut. Namun, di balik itu, ada keinginan lain yang lebih besar untuk menghabiskan waktu berdua dengan Risma di tempat yang paling privat bagi kami.Begitu ban motor berhenti tepat di depan pintu kayu
"Sayang maaf ya Aa mainnya kasar?" kataku, merasa bersalah.Risma membelai pipiku, "Nggak apa-apa A, Aku suka ko, Aa mainnya sangat liar rasanya lebih enak."Aku mencium pipinya dan kembali memeluk tubuhnya yang basah.Angin pegunungan ini yang tadinya terasa sejuk kini terasa hangat menyentuh kulit kami yang masih basah oleh keringat. Kami berbaring telentang di atas jaket yang terbentang di rumput, menatap langit biru yang mulai dihiasi semburat jingga sore hari. Risma bersandar di dadaku, napasnya perlahan mulai teratur, namun jemarinya masih gemetar kecil saat mengusap perutku.Setengah jam kami terdiam, hanya ditemani suara gesekan daun pinus dan gemericik air sungai kecil yang sayup terdengar dari kejauhan. Namun, ada yang aneh dengan tubuhku. Seharusnya aku merasa lelah, seharusnya hasratku sudah mereda setelah ronde pertama yang begitu brutal tadi. Tapi kenyataannya, si Gatot kembali berdenyut keras. Sensasi panas merambat dari pangka
"Aa, kita sebenarnya mau ke mana sih? Kok jalannya makin nanjak dan sepi gini?" tanya Risma setengah berteriak agar suaranya tidak tertelan angin.Aku meliriknya dari kaca spion, tersenyum tipis. "Ada tempat yang bagus buat kita berduaan, Ris. Pasti kamu suka. Tenang saja, Aa nggak bakal macem-macem kalau kamu nggak mau." kataku menggodanya."Ih, Aa mah gitu jawabnya. Tapi Aa, kok kita nggak bawa mobil saja? Kan lebih teduh kalau tiba-tiba hujan," cetusnya lagi."Aa lebih suka naik motor, lebih praktis dan bisa nembus jalan sempit. Walaupun motornya jelek dan tua begini, tapi ini motor kesayangan Aa. Lebih kerasa romantisnya kalau boncengan begini, kan?" jawabku sambil terkekeh.Aku membawa Risma menuju sebuah lembah tersembunyi di balik perbukitan hijau.Tempat ini merupakan padang rumput yang cukup luas, dikelilingi pohon-pohon pinus yang rimbun, dengan pemandangan lembah di bawahnya yang sangat indah. Jarang ada orang yang tahu tempat ini karena akses jalannya yang tertutup semak
"Nanti kita coba main outdoor biar lebih menantang," katanya mengedipkan mata.Nikita melenggang pergi dengan senyum penuh kemenangan yang tersirat di sudut bibirnya.Wanita itu memang aneh kadang dia seperti singa betina yang haus mangsa, tapi tiba-tiba dia bersandiwara menjadi nyonya rumah yang p
"Ahhh enak banget sayang, terus lebih kenceng lagi!" gumamnya mendesah. Entah apa yang sedang dia lihat. Aku masih berdiri mematung di ambang pintu kamar Vira selama beberapa menit. Pemandangan itu benar-benar menguji imanku. Tubuh polosnya yang berkilau terkena cahaya lampu, desahannya yang tid
"Ahhh Aris, puaskan Ibu malam ini!" rintihnya, tangannya meremas kejantananku yang sudah mengeras. Gairah yang tersulut di kamar vila itu meledak tanpa kendali. Sebelum permainan dimulai, Nikita sempat merogoh tasnya dan memberikan sebuah pil kecil berwarna biru kepadaku. "Telan ini, Aris. Aku in
Aku melangkah masuk ke kamar dengan pikiran yang masih menerawang. Setelah keringat di tubuhku kering, aku segera mengguyur tubuhku dengan air dingin.Aku tidak tahu rencana gila apa lagi yang ada di kepala Nikita, atau ke mana dia akan membawaku pergi.Selesai mandi, aku memilih kaos polo pemberia







