/ Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Dendam Tak Akan Hilang

공유

Dendam Tak Akan Hilang

작가: Risca Amelia
last update 최신 업데이트: 2025-12-30 23:54:53

Dastan memasuki mansion keluarga Limantara dengan langkah kaki yang berat. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat para pelayan yang tengah bekerja tersentak kaget.

Thalia, sang kepala pelayan yang setia, bergegas menyambut dengan langkah cepat.

"Tuan Muda, akhirnya Anda datang," ucap Thalia, suaranya terdengar lega.

"Dua hari ini mansion sangat sepi. Hanya Tuan Muda Kageo yang sudah pulang dari mengunjungi kota kelahirannya.”

Dastan hanya mengangguk singkat. "Aku mampir sebentar untuk mengambil laptop dan beberapa dokumen. Aku akan melakukan perjalanan bisnis selama beberapa hari.”

"Baik, Tuan Muda. Apa perlu saya siapkan sesuatu?"

"Tidak usah, Bibi Thalia," jawab Dastan.

Tanpa menunda lagi, Dastan berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Sebelum masuk ke kamarnya sendiri, ia menuju kamar Kageo.

Saat mendekat, ia mendengar alunan biola yang melankolis mengalir dari balik pintu kamar adiknya.

Ketika Dastan mengetuk pintu, alunan biola terhenti mendadak. Beberapa detik kemudian, pintu terb
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
bisriharnumw
Emang gini ya tabiatnya anak gundik? Gada yg tau diri semua wkwk
goodnovel comment avatar
Culuu Culkeng
ngeselin banget ni anak gundik
goodnovel comment avatar
Soli Khati
lanjut kak jangan lama2 aploudnya...
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Membutuhkanmu Setiap Hari

    Mobil berhenti dengan mulus di area parkir privat apartemen. Tanpa membuang waktu, Dastan keluar sambil menggendong Kayden yang masih terlelap dalam tidur. Moza berjalan mengiringi di sampingnya dalam diam. Keheningan lobi dan denting lift yang membawa mereka naik, terasa begitu kontras dengan kegaduhan yang terjadi di rumah Tuan Hadinata.Begitu pintu apartemen terbuka, Dastan langsung menuju kamar Kayden. Ia membaringkan tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati, menyelimutinya, dan memastikan putranya nyaman. Moza hanya mengintip dari ambang pintu, sebelum ia melangkah menuju kamar Abigail. Di sana, ia melihat gadis kecil itu sudah tertidur lelap di atas ranjang, ditemani oleh Nuri.Setelah memastikan Abigail aman, Moza mengembuskan napas lega. Ia bergegas kembali ke kamar Kayden, tetapi Dastan sudah tidak ada di sana. Pasti pria itu telah berpindah ke kamar utama.Moza pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemui Dastan. Entah mengapa ia merasa kotor. Bekas sentuhan R

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tingallah Bersamaku Malam Ini

    Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Saya adalah Suami Moza

    Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya. Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan."Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza. "Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi. Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Itu Papa

    Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berbahaya

    Sembari menggandeng Kayden, Moza melangkah di atas ubin marmer yang akrab di bawah alas kakinya. Ribuan kenangan langsung membanjiri benak Moza. Namun, sebelum ia sempat menggali lebih dalam, sosok pria berseragam pelayan muncul dari balik pintu."Non Moza...." panggil suara itu bergetar.Dia adalah Pak Galih, pelayan kepercayaan sang ayah yang sudah mengabdi sejak Moza masih belajar berjalan.Pria yang rambutnya telah memutih itu berdiri di depan Moza dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat lega melihat Non Moza baik-baik saja."Moza merasakan matanya memanas. Di rumah yang penuh aturan kaku, Pak Galih adalah sedikit dari orang yang memberinya kasih sayang tulus. "Terima kasih, Pak Galih. Saya juga senang bisa melihat Bapak masih sehat dan bekerja di sini."Pandangan Pak Galih lalu beralih ke bawah, ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Moza."Ini pasti jagoannya Non Moza. Kau tampan sekali, Nak. Siapa namamu?""Kayden," jawab bocah itu mantap, meskipun ma

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perkenalan Pertama

    Setibanya di unit apartemen, suasana hangat langsung menyambut Moza.Ia melihat Abigail dan Kayden duduk di meja makan, asyik menikmati potongan kue cokelat dengan bibir belepotan. Keceriaan mereka mampu mengalihkan rasa lelah yang mendera Moza selepas acara seminar."Mama sudah pulang!" seru Kayden riang.Moza mendekat dan mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Apa kalian sudah makan siang?""Sudah, Ma. Tadi Bi Isna masak ayam katsu dan brokoli," jawab Abigail sambil tersenyum manis."Bagus kalau begitu," ujar Moza.Usai berganti pakaian, Moza bergabung lagi dengan anak-anaknya di ruang makan. Sambil menyuap makan siangnya yang terlambat, ia menatap Kayden dengan lembut. "Sayang, nanti jam enam sore, apa kamu mau ikut Mama ke suatu tempat?"Kayden menghentikan kunyahannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ke mana, Ma?""Ke rumah Opa.""Ketemu Opa Markus?" timpal Abigail dengan mata berbinar, mengira mereka akan berkunjung ke mansion.Moza meletakkan sendoknya, lalu me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status