Home / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Hanya Di Dekatnya Aku Lepas Kendali

Share

Hanya Di Dekatnya Aku Lepas Kendali

Author: Risca Amelia
last update Huling Na-update: 2025-10-29 01:57:51
Sebelum Dastan bereaksi, Moza sudah menunduk dan menyambar bibirnya. Ciumannya tidak ahli, tetapi penuh dengan intensitas dan keinginan untuk menaklukkan.

Dengan mengandalkan insting, Moza menghisap bibir atas dan bawah Dastan, menirukan cara yang dipakai pria itu semalam.

Saat merasakan bibir Dastan terbuka karena terkejut, Moza tak ragu menelusupkan lidahnya, mengeksplorasi tanpa takut akan penolakan.

Dastan membeku sejenak, lalu dengan sebuah erangan dalam, ia membalas ciuman itu. Pertahanannya telah runtuh.

Ciuman mereka berubah menjadi pertarungan lidah yang penuh gairah, dimana keduanya saling menuntut.

Moza tak berhenti di sana. Dengan gerakan percaya diri yang baru saja ditemukannya, ia mendorong Dastan agar duduk di tepi ranjang. Kini dia-lah yang dominan, menduduki pangkuan pria itu.

Bibirnya kemudian berpindah ke leher Dastan, menelusuri garis tenggorokannya yang tegas, persis seperti yang dilakukan pria itu.

Tangannya pun tak kalah aktif, menyusup ke bawah kaus yang dip
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ninna Maulida
kenapa dastan tidak ingat malam panas pertama bersama moza sih
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tingallah Bersamaku Malam Ini

    Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Saya adalah Suami Moza

    Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya. Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan."Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza. "Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi. Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Itu Papa

    Kata-kata Radit seperti petir di siang bolong. Didorong oleh insting perlindungan diri yang tajam, Moza mendorong dada Radit dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Alhasil, kursi roda pria itu mundur beberapa sentimeter. Moza berdiri dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, tetapi matanya menyalakan api kemarahan.Ia segera berdiri dan menarik Kayden ke belakang tubuhnya, menjauhkan sang putra dari jangkauan tangan Radit yang tidak stabil.Tuan Sentosa bergegas mendekat untuk menenangkan putranya. Ia meraih pegangan kursi roda Radit dan menariknya menjauh dari Moza. "Radit, kendalikan dirimu. Jangan membuat Moza salah paham," ujarnya cemas sekaligus malu. Ekspresi Radit pun kembali datar, seperti tombol yang dimatikan paksa. Dia memandang ke arah lain, seolah kejadian tadi tidak pernah ada.Tuan Sentosa kemudian berpaling kepada Moza. "Maafkan Radit, Moza. Dia hanya terlalu bersemangat melihatmu lagi setelah bertahun-tahun."Namun, Moza tidak mendengarkan. Matanya justru te

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berbahaya

    Sembari menggandeng Kayden, Moza melangkah di atas ubin marmer yang akrab di bawah alas kakinya. Ribuan kenangan langsung membanjiri benak Moza. Namun, sebelum ia sempat menggali lebih dalam, sosok pria berseragam pelayan muncul dari balik pintu."Non Moza...." panggil suara itu bergetar.Dia adalah Pak Galih, pelayan kepercayaan sang ayah yang sudah mengabdi sejak Moza masih belajar berjalan.Pria yang rambutnya telah memutih itu berdiri di depan Moza dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat lega melihat Non Moza baik-baik saja."Moza merasakan matanya memanas. Di rumah yang penuh aturan kaku, Pak Galih adalah sedikit dari orang yang memberinya kasih sayang tulus. "Terima kasih, Pak Galih. Saya juga senang bisa melihat Bapak masih sehat dan bekerja di sini."Pandangan Pak Galih lalu beralih ke bawah, ke arah bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Moza."Ini pasti jagoannya Non Moza. Kau tampan sekali, Nak. Siapa namamu?""Kayden," jawab bocah itu mantap, meskipun ma

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Perkenalan Pertama

    Setibanya di unit apartemen, suasana hangat langsung menyambut Moza.Ia melihat Abigail dan Kayden duduk di meja makan, asyik menikmati potongan kue cokelat dengan bibir belepotan. Keceriaan mereka mampu mengalihkan rasa lelah yang mendera Moza selepas acara seminar."Mama sudah pulang!" seru Kayden riang.Moza mendekat dan mengecup kening kedua anaknya bergantian. "Apa kalian sudah makan siang?""Sudah, Ma. Tadi Bi Isna masak ayam katsu dan brokoli," jawab Abigail sambil tersenyum manis."Bagus kalau begitu," ujar Moza.Usai berganti pakaian, Moza bergabung lagi dengan anak-anaknya di ruang makan. Sambil menyuap makan siangnya yang terlambat, ia menatap Kayden dengan lembut. "Sayang, nanti jam enam sore, apa kamu mau ikut Mama ke suatu tempat?"Kayden menghentikan kunyahannya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ke mana, Ma?""Ke rumah Opa.""Ketemu Opa Markus?" timpal Abigail dengan mata berbinar, mengira mereka akan berkunjung ke mansion.Moza meletakkan sendoknya, lalu me

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalinya Cinta Lama

    Rezon baru saja menyelesaikan kunjungan rutin di bangsal VVIP. Ia memeriksa kondisi mantan menteri yang selesai menjalani bedah bypass jantung, serta seorang pemilik jaringan hotel yang akan menjalani operasi pengangkatan tumor jinak. Sebagai dokter penanggung jawab, Rezon harus memastikan kondisi mereka tetap stabil. Ketegangan itu terbawa hingga ia kembali ke ruangannya.Begitu duduk di kursi, pandangan Rezon langsung tertuju pada benda di sudut meja kerjanya. Rantang makanan bertingkat empat dari Izora. Sambil menghela napas panjang, Rezon menarik rantang itu. "Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan dokter ingusan itu selain membuatku kesal," gumamnya skeptis.Satu per satu, Rezon membuka penutup rantang makanan. Bagian paling atas berisi salad buah dengan potongan apel, stroberi,dan anggur, yang diberi dressing yogurt tipis. Bagian kedua adalah tumis brokoli wortel, sedangkan bagian ketiga diisi dada ayam panggang beraroma lada hitam. Untuk lapisan terakhir, Izora menyajikan na

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status