LOGINSelepas kesepakatan verbal tercapai, Dastan dan Moza diantar oleh staf marketing sampai ke depan pintu mobil mereka.Begitu duduk di kursi kemudi, Dastan melirik jam di pergelangan tangannya. "Baru jam sebelas. Belum waktunya makan siang, tapi kau dan bayi kita butuh asupan,” ucap Dastan. “Aku tahu tempat yang menjual roti nogat gandum dengan taburan kacang melimpah. Ayo, kita mampir sebentar.”Moza mengangguk setuju. Membayangkan tekstur roti hangat dengan krim moka dan kacang renyah tiba-tiba membangkitkan selera makannya. Mereka pun berhenti di sebuah kedai kopi artisan yang tenang. Dastan memesan dua potong roti nogat dan dua gelas teh chamomile.Namun, saat pesanan baru saja tersaji di atas meja, ponsel Dastan bergetar-getar. Nama Zeron muncul di layar. Wajah Dastan yang tadinya santai mendadak berubah serius. Alisnya bertaut rapat. "Kapan kejadiannya? ... Baiklah, pesankan tiket pesawat untuk besok pagi."Usai terlibat percakapan serius, Dastan menutup telepon sembari menghe
Sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik suaminya yang tampak begitu santai mengemudi. Ia masih penasaran ke mana tujuan mereka kali ini."Sayang, kau tidak mau memberi bocoran sedikit saja?" tanya Moza, rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. "Kenapa sejak dulu kau suka bermain teka-teki? Membuatku harus menebak-nebak terus."Dastan melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Justru itulah kelebihanku yang membuatmu tertarik, bukan? Kau suka pria yang sedikit misterius.”Moza mendecih, meski ia tak bisa menutupi binar geli di matanya. "Tidak juga. Justru, aku lebih suka pria yang terbuka. Jadi, aku tidak perlu pusing menebak jalan pikiranmu yang terkadang sulit ditembus.”Mendengar itu, Dastan terkekeh rendah. "Kalau soal itu, gampang sekali. Aku bisa terbuka di depanmu kapan saja kau minta. Bahkan secara harfiah jika kau mau," godanya dengan nada suara yang sengaja direndahkan.Wajah Moza seketika merona. Ia memberikan cubitan ringan d
Pagi itu, apartemen Dastan dan Moza sudah diramaikan oleh hiruk-pikuk. Cahaya matahari dari jendela menyinari Moza yang sibuk bergerak ke sana kemari. Meski terkadang masih mual dan muntah, antusiasme Moza sebagai seorang ibu tidak bisa dibendung. Hari ini adalah hari istimewa: hari pertama sekolah di tahun ajaran baru. Dan bagi Kayden, ini adalah debut pertamanya menapakkan kaki di sekolah ibu kota.Dastan, yang baru saja selesai mandi, memperhatikan istrinya dengan kening berkerut cemas. "Sayang… minta saja pada Wulan dan Nuri untuk menyiapkan semua keperluan anak-anak. Bagaimana kalau kau mual lagi?"Moza tidak berhenti. Ia sedang sibuk memasangkan kaos kaki putih ke kaki kecil Abigail."Tidak pagi ini, Dastan. Aku merasa sangat segar. Sepertinya, si Kembar di dalam sini tahu kalau kakak-kakak mereka mau sekolah,” pungkas Moza.Melihat keras kepala istrinya yang berlandaskan kasih sayang, Dastan akhirnya mengalah. Ia bergegas mengenakan kemeja, lalu menghampiri Kayden yang sedang
Beberapa menit berlalu, pintu kamar Izora akhirnya berderit pelan.Dengan kepala setengah tertunduk, Izora melangkah keluar. Sementara, Virda menyertainya dari belakang dengan gurat wajah yang jauh lebih tenang. Di ruang makan, Rezon masih duduk dalam posisi yang sama. Pandangannya yang semula tertuju pada ayam panggang, langsung beralih menangkap kehadiran Izora. Buru-buru, Rezon meletakkan sendok dan garpu, seolah seluruh selera makannya bergantung pada apa yang akan keluar dari bibir Izora.Virda pun memecah keheningan dengan suara yang lembut dan penuh pengertian."Rezon, Tante ada keperluan sebentar ke supermarket. Kamu lanjutkan bicara dengan Izora. Selesaikan semuanya baik-baik."Rezon mengangguk sopan, memberikan senyum hormat yang tulus. "Baik, Tante. Terima kasih banyak atas bantuannya."Sepeninggal Virda, ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Izora. Ia berdiri beberapa langkah dari meja makan, meremas ujung bajunya dengan gugup. Rezon bangkit perlahan, wajahnya
Suasana di ruang makan mendadak terasa begitu canggung. Rezon, yang biasanya selalu tampil tenang dan penuh kendali, kini tampak gugup.Pria itu memperbaiki posisi duduknya, mencoba mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan di bawah tatapan menyelidik Virda."Tante, sebenarnya kedatangan saya kemari karena ingin menunjukkan keseriusan saya,” ucap Rezon memulai percakapan. “Selama tangan saya terluka dan Izora merawat saya dengan begitu sabar... saya sadar akan satu hal. Saya tidak ingin momen itu berakhir. Saya ingin selalu bersama Izora."Rezon melirik Izora sekilas, lalu beralih kembali pada Virda. "Namun, terjadi kesalahpahaman yang tidak saya inginkan. Wakil Kepala Rumah Sakit menjatuhkan skorsing tanpa sepengetahuan saya. Itu murni kesalahan birokrasi yang dipicu oleh niat buruk orang lain,” jelas Rezon panjang lebar.“Saya sudah membatalkan skorsing itu hari ini, Tante. Dan, saya ingin minta maaf secara pribadi, karena nama baik Izora sempat tercoreng."Virda tertegun, lalu
Izora tak berkutik. Ia terpaku di kursinya, lidahnya kelu menghadapi kegilaan cinta Rezon yang begitu nekat. Pria di depannya ini, seorang ahli bedah saraf jenius yang biasanya mengandalkan logika, baru saja melontarkan ancaman yang mirip dialog drama picisan. Namun, sorot mata Rezon mengatakan bahwa ia sangat serius."Anda... Anda mengancam saya, Dokter?" suara Izora bergetar, antara marah dan bingung. Tak disangka, ia telah terjerat dalam sebuah hubungan yang rumit."Sebut itu ancaman, janji, atau keputusasaan," balas Rezon dengan nada rendah."Aku sudah melewati banyak hal, Izora. Di masa lalu, aku pernah melakukan banyak kesalahan yang sangat kusesali. Sebagai dokter, aku tahu betapa singkatnya hidup ini,” pungkas Rezon.“Jadi, untuk apa aku berpura-pura tegar, saat wanita yang kucintai berniat menyerahkanku pada orang lain?Izora memalingkan wajah, matanya memanas. "Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin Anda hidup tenang, tanpa harus membela saya. Dokter Celine adalah pi







