LOGINBagaimana nasib Moza saat Dastan pergi? Apakah Moza bisa menemukan petunjuk di kantor Dastan? Jangan lupa berikan gems dan ulasan bintang lima ya
Walau hatinya pedih, Reva tidak ingin menunjukkan kerapuhan di hadapan Baskoro. Ia pun menaikkan pandangan dan menjawab dengan mantap."Papa saya... juga sudah meninggal, Pak," jawab Reva dengan nada datar. "Bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini."Mata Baskoro terbelalak. Ada kilat keterkejutan yang nyata, seolah jawaban itu adalah hantaman fisik bagi jiwanya. Namun sebelum ia sempat merespons, Reva sudah menyambung kalimatnya dengan tatapan lurus ke piring."Tapi saya beruntung karena memiliki ayah lain yang sangat menyayangi saya. Hanya saja... Beliau juga sudah tiada beberapa tahun lalu," pungkas Reva. Ia kembali menyuap potongan kecil daging ke mulutnya untuk menenangkan diri.Baskoro berdehem sejenak, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak."Ternyata kita hampir senasib, Reva. Kamu kehilangan kedua orang tuamu, sedangkan saya... kehilangan putri saya."Gerakan tangan Reva terhenti di udara. Ia mendongak sejenak, untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar."Jika
Taksi yang ditumpangi Reva berhenti tepat di depan restoran The Clarinet, sebuah restoran fine dining bertema mediterania yang sangat prestisius. Reva turun dengan langkah ragu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara waspada dan rasa penasaran yang membuncah. Saat melintasi area parkir, mata Reva tertuju pada sebuah sedan hitam panjang dengan plat nomor khusus. Itu mobil yang sama, yang terparkir di pengadilan kemarin.‘Baskoro sudah di dalam,’ batin Reva sembari menggigit bibirnya.Baru saja Reva hendak menyapa pelayan di pintu depan, pria tegap yang kemarin menghampirinya muncul dari balik pilar. "Selamat siang, Nona Reva. Anda sudah datang," sapa ajudan itu dengan nada formal yang sangat sopan. "Mari saya antarkan ke meja Tuan Baskoro. Beliau sudah menunggu Anda sejak sepuluh menit yang lalu."Reva hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah pria itu melewati lorong-lorong restoran yang dihiasi lukisan abstrak. Mereka berhenti di sebuah area private di sudut ruangan, yang m
Mendengar percakapan itu, Dastan pun menyambar ponsel dari tangan Moza. "Halo, Bara! Ini aku. Apa benar Kageo menghilang dari mansion?""Kak, kau sudah mendarat?" Elbara terkejut. "Iya, Kageo tidak kembali semalaman. Bibi Thalia bilang dia mungkin menginap di apartemen pribadinya. Tapi, aku baru saja mengecek lewat resepsionis dan apartemen itu kosong."Dastan langsung mematikan sambungan tanpa kata pamit. Ia beralih ke ponselnya sendiri, menekan nomor Kageo dengan harapan tipis yang tersisa. Namun, suara operator yang dingin kembali menyambutnya. “Nomor yang Anda tuju tidak aktif.”Suara mekanis tersebut membuat Dastan mengetatkan rahangnya. Terlihat jelas, bahwa ia belum bisa menerima kenyataan pahit mengenai keterlibatan sang adik. "Kau benar, Moza. Kageo menghilang. Dia yang membawa Kayden."Dastan terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jendela. "Pantas saja ... di foto itu Kayden terlihat begitu nyaman memakan burger. Dia tidak menangis, tidak terlihat seperti tawanan. Itu ka
Moza memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Dastan. Sesudah membaca pesan masuk itu, sorot mata suaminya meredup oleh kabut ketegangan, Dengan suara bergetar, Moza memberanikan diri untuk bertanya. "Dastan... apa pesan itu dari dia? Dari... Kageo?"Napas Dastan terdengar memburu. Ia menggeleng perlahan, seolah mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai merayap. "Penculik itu baru saja mengirimkan lokasi pertemuan di luar kota," jawab Dastan."Aku tidak percaya bila Kageo yang melakukan drama murahan ini. Kau tahu sendiri, tubuhnya lemah. Kageo juga sangat menyayangi Kayden."Melihat sang suami masih belum percaya, Moza menghela napas panjang. Ia meraih tangan Dastan dan menggenggamnya erat. "Aku tidak bicara tanpa alasan, Dastan. Sudah lama aku mencurigai Kageo, tapi aku menahan diri untuk tidak mengatakannya padamu,” ungkap Moza.“Aku diam, karena aku tidak mau hubungan persaudaraan kalian rusak.”Dastan menyugar rambutnya dengan kasar, tampak frustrasi. Ia bangkit dan ber
Melihat kedatangan Dastan, Reva yang berdiri di dekat pintu langsung mengulas senyum lega. Ia mengangguk singkat ke arah Dastan, sebuah gestur penghormatan sekaligus tanda bahwa ia memberikan ruang pribadi bagi pasangan itu.Begitu Reva berlalu dan pintu tertutup rapat, dunia di dalam ruangan itu hanya milik mereka berdua.Dastan tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang lebar membawanya dalam sekejap ke sisi ranjang."Sayang... kau dan bayi kita... kalian baik-baik saja?" suara Dastan parau, sarat dengan rasa khawatir yang mendalam. Dastan duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan Moza yang masih terpasang infus."Aku hampir kehilangan akal sehat saat menerima pesan dari Bara. Katakan, bagian mana yang masih sakit?"Merasakan sentuhan tangan suaminya yang hangat dan kokoh, Moza tak mampu lagi menahan sesak yang menghimpit dadanya. Lekas saja, ia menghambur ke pelukan Dastan, menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami.Sambil meremas kemeja Dastan, Moza terisak pelan. “Kemarin aku s
Elbara menyesuaikan letak jam tangannya. Matanya melirik ke arah pintu, seolah otaknya sudah menyusun peta perjalanan menuju kantor dan mansion."Moza, aku pergi sekarang. Reva, kau mau kujemput jam berapa nanti?"Reva menggeleng pelan, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Bara. Aku akan pulang dengan taksi saja. Aku masih ingin menemani Moza."Elbara mengangguk paham. "Hati-hati. Selalu aktifkan ponselmu."Dengan langkah lebar, pengacara muda itu meninggalkan kamar perawatan.Selepas Elbara berlalu, Moza menoleh ke arah Wulan yang masih setia berdiri di sudut ruangan."Wulan, pergilah ke kafetaria di lantai bawah. Beli makanan yang enak untuk dirimu sendiri, kau butuh tenaga.""Tapi Nyonya—""Ada Reva di sini. Pergilah," potong Moza lembut. Wulan akhirnya membungkuk hormat dan melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan.Kini hanya ada Moza dan Reva di dalam ruangan. Suasana mendadak menjadi sangat privat. Moza memperbaiki posisi duduknya, menatap sahabatnya itu lek
Meski bimbang dan gundah dalam hati, Moza tetap berusaha tampil tenang di depan Valen. Wajahnya tidak menunjukkan gejolak emosi sama sekali.Moza pun menarik tangannya dengan lembut dari genggaman Valen, menciptakan kembali jarak fisik yang ia butuhkan."Terima kasih atas nasihat An
Setelah Kageo menghabiskan sarapannya, Valen segera menyentuh lengan pria itu. Membantunya untuk bangkit berdiri dari kursi. "Kita pergi sekarang, Kageo. Banyak hal yang harus kita lakukan,” ujar Valen bersemangat.Moza yang mendengarnya dari kejauhan, buru-buru menghampiri gazebo untuk mengambil n
Berusaha melawan keraguan di hatinya, Dastan perlahan membuka atasan piyama Moza. Jemarinya yang besar membuka kancing satu per satu, lantas menarik kain itu ke bawah sebatas pinggang.Hanya dalam hitungan menit, tersingkaplah tubuh mulus Moza yang hanya tertutup bra hitam berenda. Kulit pucatnya y
Semalam setelah berhasil menidurkan Abigail, Moza menyelinap ke kamarnya di paviliun belakang. Berharap bisa menemukan ketenangan dalam tidur yang lelap.Tak terasa pagi datang terlalu cepat. Seperti pelayan lain, Moza bangun pada pukul enam dan bergegas mengantri di kamar mandi pelayan. Ketika se







