Share

Bagaikan Nyonya

Penulis: Risca Amelia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-14 00:00:01
Sebelum Moza masuk ke kamar mandi, Dastan bergerak ke sofa dan meraih sebuah gaun berwarna merah muda.

"Tadi pagi, aku menyuruh Nuri mengambilkan pakaianmu dari paviliun. Bisa kau pakai setelah mandi," ujarnya sembari menyodorkan gaun itu.

Sedikit terkejut oleh perhatian Dastan. Moza akhirnya menerima gaun tersebut. Mau tak mau ia pun masuk ke kamar mandi.

Di bawah pancuran air hangat shower, Moza mencoba melepaskan segala ketegangan.

Ternyata, air hangat mampu membuat tubuhnya terasa lebih ringan dan segar, seolah membasuh sisa-sisa trauma kemarin.

Setelah selesai membersihkan diri, Moza mengenakan gaunnya dan bergegas keluar.

Begitu menginjakkan kaki di kamar, Moza merasa lega melihat kamar sudah kosong. Dastan tidak ada di dalam, hanya tersisa aroma parfum mahalnya yang memenuhi udara.

Tanpa menunda lagi, Moza lekas keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia yakin Dastan sudah menunggunya di ruang makan untuk menyajikan sarapan pagi.

Moza segera keluar dari kamar itu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Puji Lestari
demi kamu mozaaa 🫶🫶🫶
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ingin Selalu Dimanjakan

    Ketika sampai di dalam mobil, Moza meraih botol air mineral dari cup holder dan menyodorkannya pada Dastan. "Minum dulu," ucapnya, masih dengan nada lembut.Dastan menerima botol itu dan meneguk airnya perlahan, berusaha meredakan rasa gatal di tenggorokannya yang terus memicu batuk. Moza memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan kening berkerut. "Apa kau masih bisa menyetir?" tanya Moza cemas.Dastan menghela napas pendek, matanya tetap fokus ke jalan. "Hanya batuk, tentu saja bisa. Aku bukan anak kecil.""Aku bisa menyetir mobil, tapi memang sudah lama tidak melakukannya. Apa aku saja yang mengemudi?" tawar Moza ragu-ragu."Tidak, Moza. Aku tidak mau membahayakanmu,” tolak Dastan, sembari menjalankan mobil dengan sangat hati-hati.Di sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik ke arah Dastan. Memantau setiap kali pria itu terbatuk atau memejamkan mata saat lampu merah. Ia berpikir mungkin Dastan jatuh sakit karena kelelahan dan tekanan dari drama keluarganya kemarin.Begitu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Didukung Para Adik

    Pada akhirnya, Dastan membuka pintu mobilnya dan mengajak Moza masuk.Saat Moza melangkah masuk, ia mendengar suara Dastan yang memang lebih serak dari biasanya, seperti tenggorokannya penuh dengan pasir.Moza menoleh saat Dastan duduk di kursi kemudi, lalu mulai memasang sabuk pengaman. "Kata Elzen kau sedang kurang sehat, lalu kenapa masih memaksakan diri mengemudi sendiri?"Dastan membelokkan mobil keluar dari parkiran, tangannya kokoh di kemudi meski wajahnya tampak sedikit pucat."Para sopir juga butuh hari libur untuk berkumpul bersama keluarganya di akhir pekan," jawab Dastan. Suaranya yang parau terdengar jelas di dalam kabin yang sunyi."Aku tidak akan mengganggu waktu mereka hanya karena urusanku."Mendengar itu, Moza terdiam sejenak. Rasa kagum yang tak terduga menyelinap di hatinya.Tak disangka, di balik citra Dastan yang dingin dan otoriter, ternyata pria itu memiliki sisi peka dan manusiawi terhadap kebutuhan para karyawannya. Sesuatu yang jarang ditemukan pada pria di

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   The Limantara Brothers

    Ditanya seperti itu oleh putranya sendiri, Moza bingung harus bagaimana. Apalagi, saat ia melihat Abigail juga menatapnya dengan binar mata yang sama besarnya. Menolak permintaan ini bukan hanya mengecewakan Kayden, tetapi juga akan melukai hati kecil Abigail yang merindukan kebersamaan keluarga.Tak ingin merusak keceriaan dua buah hatinya, Moza akhirnya tersenyum tipis."Mama mandi dulu ya, Sayang. Setelah itu, kita putuskan akan jalan-jalan ke mana, baru Mama menelepon Papa."Kayden dan Abigail langsung bersorak gembira. "Yeyyyy!!!" Mereka melompat kegirangan di atas ranjang hingga seprai yang sudah rapi kembali berantakan."Aku mau beli cupcake rasa stroberi, es krim cokelat yang besar, terus kita ke Fantasy World!" seru Abigail dengan wajah berseri-seri. Jarinya sibuk menghitung rencana yang sudah tersusun di kepalanya.Moza mengangguk sambil tertawa kecil. "Tunggu Mama sebentar ya, kalian bisa bermain dulu di sini."Tanpa menunda lagi, Moza masuk ke kamar mandi. Di bawah kucur

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pilihan Ada di Tanganmu

    Kaki Moza mendadak terasa lemas di pelukan Dastan. Kehangatan pria itu, kata-katanya yang tulus, semuanya seperti ombak yang mengguncang tembok pertahanan Moza. Namun, naluri untuk melindungi hatinya dari luka bangkit lebih cepat. Sebelum dirinya luluh oleh pesona Dastan, Moza buru-buru berbicara dengan nada gugup.“A-aku ingin mengatakan sesuatu, tentang Abigail,” ucap Moza sedikit terbata.“Dia meminta pulang ke mansion. Mungkin… kau bisa mengajaknya besok. Kalau aku akan tetap di sini.” Dastan tidak langsung menjawab. Tangannya masih terasa hangat di pinggang Moza. “Aku tidak setuju bila kita harus tinggal terpisah,” ujarnya tegas. “Aku akan segera mencari waktu yang tepat untuk meminta restu dari Opa Markus. Setelah….” Dastan berhenti sejenak, memastikan Moza mendengar ucapannya. “Setelah kau bersedia memaafkan aku.” Dalam kesunyian, Dastan menatap langsung ke dalam mata Moza, seolah sedang mencari secercah pengampunan di sana.Mendadak, Moza menjadi sangat gugup di bawah tat

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Membutuhkanmu Setiap Hari

    Mobil berhenti dengan mulus di area parkir privat apartemen. Tanpa membuang waktu, Dastan keluar sambil menggendong Kayden yang masih terlelap dalam tidur. Moza berjalan mengiringi di sampingnya dalam diam. Keheningan lobi dan denting lift yang membawa mereka naik, terasa begitu kontras dengan kegaduhan yang terjadi di rumah Tuan Hadinata.Begitu pintu apartemen terbuka, Dastan langsung menuju kamar Kayden. Ia membaringkan tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati, menyelimutinya, dan memastikan putranya nyaman. Moza hanya mengintip dari ambang pintu, sebelum ia melangkah menuju kamar Abigail. Di sana, ia melihat gadis kecil itu sudah tertidur lelap di atas ranjang, ditemani oleh Nuri.Setelah memastikan Abigail aman, Moza mengembuskan napas lega. Ia bergegas kembali ke kamar Kayden, tetapi Dastan sudah tidak ada di sana. Pasti pria itu telah berpindah ke kamar utama.Moza pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemui Dastan. Entah mengapa ia merasa kotor. Bekas sentuhan R

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tingallah Bersamaku Malam Ini

    Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status