Mag-log inValen mencengkeram kemudi dengan jemari yang gemetar. Keringat dingin membasahi telapak tangannya saat ia melirik ke arah kaca spion. Ternyata, mobil para pengawal suruhan Rezon masih setia membuntuti mereka, bagaikan bayangan kematian."Tapi Kak, bagaimana kalau Elbara tahu aku yang mengirimkan video itu?" bisik Valen dengan nada penuh kekhawatiran. "Insting Elbara sangat tajam. Jika dia tahu aku bermain di belakang punggung kedua kakaknya, dia akan sangat marah padaku. Aku tidak ingin merusak pernikahanku yang tinggal menghitung hari."Estella memutar bola matanya. Ia mendengus keras seakan ketakutan Valen adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. "Kau ini memang bodoh atau terlalu lugu, Valen? Kenapa kau harus menggunakan identitas aslimu?"Estella memperbaiki posisi duduknya, menatap Valen dengan tatapan mengintimidasi."Beli nomor baru yang tidak akan bisa dilacak atau dikenali oleh keluarga Limantara. Kirimkan video itu secara anonim ke pengasuh Abigail. Biarkan benih ke
Moza segera bangkit dari ranjang, berusaha mengenyahkan pikiran negatif di benaknya.Ia keluar dari kamar dengan niat menyiapkan sarapan. Namun baru beberapa langkah di depan pintu, Moza melihat Bi Marni menapaki tangga seraya membawa nampan berisi tiga gelas susu. "Nyonya, Anda sudah bangun," sapa Bi Marni ramah. "Ini saya antarkan susu hangat untuk Nyonya dan anak-anak.""Biar saya yang membawa masuk, Bi. Anak-anak masih tidur," jawab Moza sambil mengambil alih nampan tersebut."Pasti mereka tidur nyenyak karena udara di sini sedang dingin-dinginnya. Kalau Nyonya dan anak-anak ingin sarapan, semua sudah tersedia di meja makan bawah.""Terima kasih, Bi. Tolong panggilkan Nuri dan Wulan ke atas," pinta Moza. Bi Marni mengangguk patuh, lantas berbalik menuruni tangga.Moza kembali masuk ke kamar dan meletakkan nampan susu di atas meja. Ia berjalan perlahan menuju ranjang. Pertama, ia membangunkan Kayden karena bocah itu terlelap paling awal semalam. Moza mengelus pipi putranya itu d
Melihat Rezon yang masih bungkam dengan wajah mengeras, Estella mengulas senyum kemenangan. Ia merasa telah memegang kendali penuh atas pria di depannya."Aku yakin kau pasti akan membuat pilihan yang bagus, Rezon. Kau terlalu cerdas untuk menghancurkan kariermu sendiri," ujar Estella dengan nada merayu.Alih-alih menjawab, suara desisan yang tajam keluar dari bibir Rezon.Tanpa peringatan, pria itu kemudian mengulurkan tangan dan meraih dagu lancip Estella. Menjepitnya dengan kuat menggunakan ibu jari dan telunjuknya."Kau benar," tukas Rezon dengan suara bariton yang tenang. Namun, justru ketenangan itulah yang terasa mematikan.Rezon mendekatkan wajahnya, hingga Estella bisa merasakan hembusan napas pria itu di kulitnya. "Dengarkan baik-baik, pilihanku adalah …. tidak menerima kedua penawaran busukmu. Abigail sudah sangat bahagia menjadi anak Kak Dastan, dan aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk kau, merusak kebahagiaannya."Estella mendengus, mencoba menutupi kegugupannya.
Seakan baru tersadar dari keterkejutan yang sempat melumpuhkan logikanya, Rezon maju selangkah. Pandangannya yang semula lelah mendadak berubah menjadi sedingin es di kutub utara. Mata Rezon menyipit tajam, memancarkan aura mematikan yang membuat suasana di lobi terasa mencekam."Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita," desis Rezon menyerupai sebuah geraman."Lebih baik kau tinggalkan apartemen ini, sebelum aku menyuruh security menyeretmu keluar secara paksa."Namun, Estella bukanlah wanita yang gampang menyerah hanya karena satu gertakan. Ia justru menyandarkan tubuhnya dengan santai pada pilar, menatap Rezon dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat."Aku sudah jauh-jauh datang kemari, menempuh perjalanan panjang dari luar negeri hanya untuk menemuimu. Kau malah mengusirku begitu saja?” balas Estella. “Di mana rasa kemanusiaanmu, Dokter Rezon yang terhormat?"Rezon mendengus sinis. "Khusus untuk wanita licik sepertimu, aku tidak perlu memiliki belas kasihan. Yang jela
Rezon mengembuskan napas panjang sembari melepas masker bedahnya. Hari ini sangat melelahkan.Ia baru saja menyelesaikan operasi kraniotomi pada seorang pasien trauma kepala akibat kecelakaan. Itu adalah operasi ketiganya, setelah sebelumnya ia menangani bedah toraks dan fraktur kompleks.Merasa suntuk, Rezon mencuci tangan hingga bersih di wastafel lantas membasuh wajahnya dengan air dingin. Bayangannya di cermin tampak lelah, tetapi matanya masih tajam. Usai menepuk-nepuk wajahnya dengan handuk kecil, Rezon kembali ke ruang kerjanya dan duduk di kursi yang empuk.Dari laci meja terkunci, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat berisi dokumen rahasia. Hasil Tes DNA antara Dastan dan Kayden.Mata Rezon tertuju pada baris kesimpulan di lembar terakhir."Probabilitas paternitas menunjukkan angka 99,99%. Dastan Limantara adalah ayah biologis dari anak laki-laki bernama Kayden."Tulisan itu membuat Rezon terpaku cukup lama. Ia menarik napas panjang, seolah mengeluarkan semua harapan terakhi
Moza duduk di atas karpet terbal, di antara Kayden dan Abigail. Di hadapan mereka, Bi Marni telah menghidangkan kue pisang, bolu kukus, dan susu hangat yang masih mengepulkan uap. Aroma manis dan gurih itu berpadu dengan udara sejuk yang masuk melalui celah jendela.Kayden menempelkan hidungnya ke kaca, matanya berbinar menatap barisan daun teh di bawah sana. "Mama, aku ingin berjalan-jalan di kebun teh. Aku mau lihat Paman dan Bibi itu memetik teh," tunjuknya pada para pekerja di kejauhan."Iya, Sayang. Sebentar lagi kita ke sana," sahut Moza sambil mengusap pipi Kayden. "Habiskan dulu cemilanmu."Saat itulah, Abigail meraih tas kecil yang ia bawa. Ia membuka ritsletingnya dengan serius, lalu mengeluarkan sebatang dark chocolate yang terbungkus rapi.Abigail menyerahkannya kepada Moza. "Mama, aku hampir lupa. Papa tadi menitipkan cokelat ini. Katanya buat Mama supaya Mama nggak sedih lagi."Moza menerima cokelat itu dengan tangan sedikit gemetar. Rasa haru mendadak menyerang dadanya







