เข้าสู่ระบบWaktu seakan merayap lambat bagi Moza sejak keberangkatan Dastan ke luar negri. Apartemen yang biasanya terasa hangat dengan kehadiran suaminya, kini terasa sedikit sunyi meski anak-anak tetap ceria. Siang ini, Moza sudah bersiap dengan gaun formal yang nyaman bagi ibu hamil. Ia berniat menepati janjinya untuk datang ke persidangan Arseno, sebagai bentuk dukungan bagi Reva.Di meja makan, Kayden sedang menghabiskan makan siangnya dengan lahap. Bocah lelaki itu mengenakan kostum futsal berwarna biru untuk latihan perdananya di Eagle Sport Hall.Moza menghampiri putranya lantas menyeka bibir Kayden yang belepotan. "Kay, Mama akan pergi untuk menemani Tante Reva. Nanti kalau sudah selesai latihan futsal, tunggu dulu di dalam gedung bersama Wulan. Pak Nata akan menjemputmu, setelah menjemput Abigail dari les piano."Kayden mengangguk mantap dengan pipi yang masih penuh makanan. "Iya, Mama.”Melihat putranya yang sangat antusias, Moza ikut bahagia. Ia mengecup kening Kayden lama, sebelum
Keluar dari kafe, mobil Dastan segera meluncur ke jalan raya untuk mengantar Moza pulang.Kendaraan beroda empat itu akhirnya berhenti di lobi utama apartemen. Dastan mengecup kening Moza dengan lembut sebelum istrinya turun."Istirahatlah, Sayang. Jangan terlalu banyak bergerak sebelum anak-anak pulang," pesan Dastan sebelum berlalu.Tiba di unit apartemen, Moza berganti pakaian dengan gaun rumahan yang nyaman. Ia langsung melangkah ke dapur, di mana Bi Isna sedang memotong sayuran."Bi, mari saya bantu. Saya ingin membuatkan pasta saus krim kesukaan Kayden," ujar Moza dengan semangat.Selama hampir satu jam, dapur itu dipenuhi aroma harum mentega dan bawang putih. Moza menata meja makan dengan sangat cantik. Piring-piring keramik bermotif lucu, gelas berisi jus apel, serta kudapan berupa puding stroberi sudah tersaji rapi. Tak lama kemudian, suara denting bel apartemen terdengar, tanda bahwa pasukan kecilnya telah kembali."Mama!" seru Kayden dan Abigail bersamaan. Mereka langsung
Selepas kesepakatan verbal tercapai, Dastan dan Moza diantar oleh staf marketing sampai ke depan pintu mobil mereka.Begitu duduk di kursi kemudi, Dastan melirik jam di pergelangan tangannya. "Baru jam sebelas. Belum waktunya makan siang, tapi kau dan bayi kita butuh asupan,” ucap Dastan. “Aku tahu tempat yang menjual roti nogat gandum dengan taburan kacang melimpah. Ayo, kita mampir sebentar.”Moza mengangguk setuju. Membayangkan tekstur roti hangat dengan krim moka dan kacang renyah tiba-tiba membangkitkan selera makannya. Mereka pun berhenti di sebuah kedai kopi artisan yang tenang. Dastan memesan dua potong roti nogat dan dua gelas teh chamomile.Namun, saat pesanan baru saja tersaji di atas meja, ponsel Dastan bergetar-getar. Nama Zeron muncul di layar. Wajah Dastan yang tadinya santai mendadak berubah serius. Alisnya bertaut rapat. "Kapan kejadiannya? ... Baiklah, pesankan tiket pesawat untuk besok pagi."Usai terlibat percakapan serius, Dastan menutup telepon sembari menghe
Sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik suaminya yang tampak begitu santai mengemudi. Ia masih penasaran ke mana tujuan mereka kali ini."Sayang, kau tidak mau memberi bocoran sedikit saja?" tanya Moza, rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. "Kenapa sejak dulu kau suka bermain teka-teki? Membuatku harus menebak-nebak terus."Dastan melirik sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Justru itulah kelebihanku yang membuatmu tertarik, bukan? Kau suka pria yang sedikit misterius.”Moza mendecih, meski ia tak bisa menutupi binar geli di matanya. "Tidak juga. Justru, aku lebih suka pria yang terbuka. Jadi, aku tidak perlu pusing menebak jalan pikiranmu yang terkadang sulit ditembus.”Mendengar itu, Dastan terkekeh rendah. "Kalau soal itu, gampang sekali. Aku bisa terbuka di depanmu kapan saja kau minta. Bahkan secara harfiah jika kau mau," godanya dengan nada suara yang sengaja direndahkan.Wajah Moza seketika merona. Ia memberikan cubitan ringan d
Pagi itu, apartemen Dastan dan Moza sudah diramaikan oleh hiruk-pikuk. Cahaya matahari dari jendela menyinari Moza yang sibuk bergerak ke sana kemari. Meski terkadang masih mual dan muntah, antusiasme Moza sebagai seorang ibu tidak bisa dibendung. Hari ini adalah hari istimewa: hari pertama sekolah di tahun ajaran baru. Dan bagi Kayden, ini adalah debut pertamanya menapakkan kaki di sekolah ibu kota.Dastan, yang baru saja selesai mandi, memperhatikan istrinya dengan kening berkerut cemas. "Sayang… minta saja pada Wulan dan Nuri untuk menyiapkan semua keperluan anak-anak. Bagaimana kalau kau mual lagi?"Moza tidak berhenti. Ia sedang sibuk memasangkan kaos kaki putih ke kaki kecil Abigail."Tidak pagi ini, Dastan. Aku merasa sangat segar. Sepertinya, si Kembar di dalam sini tahu kalau kakak-kakak mereka mau sekolah,” pungkas Moza.Melihat keras kepala istrinya yang berlandaskan kasih sayang, Dastan akhirnya mengalah. Ia bergegas mengenakan kemeja, lalu menghampiri Kayden yang sedang
Beberapa menit berlalu, pintu kamar Izora akhirnya berderit pelan.Dengan kepala setengah tertunduk, Izora melangkah keluar. Sementara, Virda menyertainya dari belakang dengan gurat wajah yang jauh lebih tenang. Di ruang makan, Rezon masih duduk dalam posisi yang sama. Pandangannya yang semula tertuju pada ayam panggang, langsung beralih menangkap kehadiran Izora. Buru-buru, Rezon meletakkan sendok dan garpu, seolah seluruh selera makannya bergantung pada apa yang akan keluar dari bibir Izora.Virda pun memecah keheningan dengan suara yang lembut dan penuh pengertian."Rezon, Tante ada keperluan sebentar ke supermarket. Kamu lanjutkan bicara dengan Izora. Selesaikan semuanya baik-baik."Rezon mengangguk sopan, memberikan senyum hormat yang tulus. "Baik, Tante. Terima kasih banyak atas bantuannya."Sepeninggal Virda, ruangan itu mendadak terasa begitu sempit bagi Izora. Ia berdiri beberapa langkah dari meja makan, meremas ujung bajunya dengan gugup. Rezon bangkit perlahan, wajahnya







