LOGINMoza keluar dari kamar Abigail dengan langkah yang sangat berhati-hati, memastikan tidak ada derit lantai yang akan membangunkan putrinya. Pikirannya masih dipenuhi kegelisahan tentang bagaimana Dastan menangani Kayden.Saat Moza hendak memutar tuas pintu kamar utama, sebuah tangan yang hangat dan kokoh tiba-tiba menggenggam jemarinya.Moza tersentak dan menoleh cepat. Ia mendapati Dastan berdiri di sana dengan ekspresi datar. "Kau sudah selesai menidurkan Kayden?" bisik Moza pelan.Dastan mengangguk, sorot matanya seketika melembut saat menatap Moza. Ia bisa melihat guratan kecemasan di wajah cantik istrinya. "Sudah. Dia anak yang kuat, meski aku tahu hatinya sedih. Kau sendiri, bagaimana? Apa Abigail sudah lebih tenang?"“Ayo, kita bicara di dalam,” ajak Moza sambil menarik lembut tangan Dastan ke kamar mereka, satu-satunya tempat yang terasa aman dari dunia luar.Di dalam kamar yang tenang, Moza mengambilkan piyama untuk Dastan. "Ganti bajumu dulu, kau pasti merasa gerah setelah
Setiba di apartemen, kesunyian masih menyelimuti mereka. Tanpa perlu banyak kata, Dastan dan Moza saling bertukar tatap di depan pintu lift. Tatapan itu sarat akan pengertian—sebuah komunikasi tanpa suara yang mengatakan bahwa mereka harus berbagi tugas.Moza menggendong Abigail yang masih menyembunyikan wajahnya yang sembab, sementara Dastan mendekap Kayden. Di belakang mereka, Nuri dan Wulan mengikuti dengan kepala tertunduk. Mereka merasa bersalah atas kejadian di restoran tadi. "Nuri, Wulan, kalian beristirahatlah. Biar kami yang mengurus anak-anak," ucap Moza. Ia ingin memastikan bahwa malam ini hanya ada keintiman keluarga, tanpa campur tangan pihak luar.Moza membawa Abigail menuju kamar tidurnya yang bernuansa pastel. Ia menurunkan Abigail perlahan di tepi ranjang. Suasana masih kaku. Abigail membisu dengan bibir yang sedikit mengerucut, menatap ujung kakinya sendiri.Moza tidak memprotes sikap diamnya, justru ia berlutut di depan gadis kecil itu. "Ayo, kita bersihkan diri d
Dastan kembali ke meja dengan santai. Tangan kanannya erat menggenggam tangan mungil Kayden yang masih berjingkat-jingkat dengan senyum puas. Bekas tawa kecil masih mengambang di bibirnya.Namun, senyum itu lenyap saat ia melihat bahu Abigail bergetar hebat. Sementara Moza berdiri kaku dengan wajah sepucat kertas. Bibir istrinya itu juga terbuka sedikit, seolah kesulitan menarik napas."Ada apa ini?" tanya Dastan. Suaranya berubah menjadi waspada. Ia melepaskan genggaman pada Kayden dan melangkah mendekat.Moza tak sanggup menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, matanya masih tertuju pada Abigail yang kini menunduk, menghindari tatapan siapapun.Merasa ada yang tidak beres, Dastan lantas menoleh kepada Nuri. Pengasuh itu duduk dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya yang gemetar masih menggenggam ponsel erat-erat."Nuri, apa yang terjadi?" sergah Dastan.Nuri menggigil. "T-tuan Dastan... ada pesan video dari...." suaranya tercekat.Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Dastan merampas
Melihat istrinya seperti tenggelam dalam pikiran sendiri, Dastan mencoba bertanya lagi."Moza, bagaimana? Kalau kau tidak setuju, aku akan...""Tentu saja boleh," potong Moza, berusaha bersikap wajar. "Kayden memang suka menggambar. Aku senang jika dia bisa belajar banyak hal dari pamannya."Dastan menghela napas lega, senyum hangat mulai mengembang. Namun, sebelum rasa lega itu sepenuhnya mengisi ruang hatinya, kalimat lanjutan Moza membuat Dastan menoleh tajam."Aku akan menemani Kayden. Kebetulan, aku sudah lama tidak mengunjungi galeri seni."Dastan sontak memandang Moza, dahinya berkerut penuh pertimbangan. "Kau yakin akan ikut, Sayang?""Iya," jawab Moza, mantap. "Apa kau keberatan?"Dastan terdiam sejenak, seakan mencari kata-kata yang tepat. Ada kilat keraguan di matanya, sebuah perasaan naluriah yang muncul dari hati seorang suami."Kageo sudah berubah lebih tenang," gumam Dastan. Suaranya tiba-tiba terdengar berat, seperti mengakui sesuatu yang tidak sepenuhnya ia percayai
Sambil menunggu suami dan anaknya pulang, Moza menyibukkan diri di dapur. Ia memilih membuat macaroni schotel panggang, menu yang teksturnya lembut dan rasanya sangat disukai Kayden.Ketika Moza baru saja mengatur suhu oven, pendengarannya menangkap bunyi langkah kaki kecil yang riuh di koridor. Disusul suara pintu utama yang terbuka."Mama! Mama!" suara Abigail dan Kayden bersahutan, memenuhi keheningan apartemen dengan energi yang ceria.Moza langsung meninggalkan dapur dan bergegas menyambut mereka. Wajahnya berseri-seri kala kedua buah hatinya itu menghambur ke arahnya.Moza berlutut, merengkuh keduanya lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi gembul mereka."Apa kalian senang bermain di mansion?" tanya Moza lembut.Anak-anak mengangguk sebagai jawaban. Sementara Dastan, yang berdiri tepat di belakang mereka menaikkan alisnya.Pria itu memandang Moza dengan tatapan menuntut, lalu perlahan mengangkat jari telunjuknya. Da
Dastan memarkirkan mobilnya di halaman mansion Limantara yang luas. Wajahnya tampak jauh lebih segar, dengan sisa-sisa senyum yang masih tersangkut di bibirnya. Setiap kali ia mengingat Moza yang ditinggalkannya di apartemen, hatinya terasa lebih ringan.Begitu ia melangkah menuju ruang tengah, Elbara dan Elzen langsung menghampirinya dengan langkah cepat. Rupanya Si Kembar Limantara itu telah menunggu sang kakak sejak tadi."Kak, kenapa kau datang sendiri?" Elzen bertanya dengan nada penuh selidik, matanya mencari-cari sosok Moza di belakang Dastan.Elbara menyikut lengan Elzen, lalu menatap Dastan dengan seringai tipis. "Lihat wajah Kak Dastan tidak sekeruh kemarin. Sepertinya, malam minggu di apartemen berjalan lancar.”“Kau benar. Kakak Ipar pasti sedang kelelahan sekarang. Makanya, dia tidak ikut,” balas Elzen sambil terbahak. Dastan hanya mendengus pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya di hadapan adik-adiknya."Berhenti bicara omong kosong. Di mana Kayden dan Abigail?""Ab







