MasukMelihat kedatangan Dastan, Reva yang berdiri di dekat pintu langsung mengulas senyum lega. Ia mengangguk singkat ke arah Dastan, sebuah gestur penghormatan sekaligus tanda bahwa ia memberikan ruang pribadi bagi pasangan itu.Begitu Reva berlalu dan pintu tertutup rapat, dunia di dalam ruangan itu hanya milik mereka berdua.Dastan tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang lebar membawanya dalam sekejap ke sisi ranjang."Sayang... kau dan bayi kita... kalian baik-baik saja?" suara Dastan parau, sarat dengan rasa khawatir yang mendalam. Dastan duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan Moza yang masih terpasang infus."Aku hampir kehilangan akal sehat saat menerima pesan dari Bara. Katakan, bagian mana yang masih sakit?"Merasakan sentuhan tangan suaminya yang hangat dan kokoh, Moza tak mampu lagi menahan sesak yang menghimpit dadanya. Lekas saja, ia menghambur ke pelukan Dastan, menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami.Sambil meremas kemeja Dastan, Moza terisak pelan. “Kemarin aku s
Elbara menyesuaikan letak jam tangannya. Matanya melirik ke arah pintu, seolah otaknya sudah menyusun peta perjalanan menuju kantor dan mansion."Moza, aku pergi sekarang. Reva, kau mau kujemput jam berapa nanti?"Reva menggeleng pelan, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Bara. Aku akan pulang dengan taksi saja. Aku masih ingin menemani Moza."Elbara mengangguk paham. "Hati-hati. Selalu aktifkan ponselmu."Dengan langkah lebar, pengacara muda itu meninggalkan kamar perawatan.Selepas Elbara berlalu, Moza menoleh ke arah Wulan yang masih setia berdiri di sudut ruangan."Wulan, pergilah ke kafetaria di lantai bawah. Beli makanan yang enak untuk dirimu sendiri, kau butuh tenaga.""Tapi Nyonya—""Ada Reva di sini. Pergilah," potong Moza lembut. Wulan akhirnya membungkuk hormat dan melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan.Kini hanya ada Moza dan Reva di dalam ruangan. Suasana mendadak menjadi sangat privat. Moza memperbaiki posisi duduknya, menatap sahabatnya itu lek
Sepanjang malam, Aya tidak dapat tidur dengan tenang. Begitu membuka mata, pikirannya langsung tertuju pada satu nama : Kageo. Tanpa membuang waktu, ia melakukan rutinitas pagi.Sambil merapikan diri di depan cermin, Aya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Ia mencoba menepis prasangka buruk yang terus menghantuinya.“Mungkin dia hanya lupa mengisi daya ponselnya,” gumam Aya mencoba berpikir logis.Jemarinya kembali menekan nomor Kageo. Ia menempelkan ponsel ke telinga, menahan napas sambil menunggu nada sambung yang ia harapkan."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif...."Aya menurunkan ponselnya dengan helaan napas berat. Keadaan masih sama dengan semalam. Berdasarkan analisanya selama ini, Kageo adalah pria yang sangat terorganisir. Membiarkan ponsel mati dalam waktu yang lama bukanlah kebiasaannya.Aya memutuskan untuk mengirim pesan singkat, berharap pesan itu akan segera terbaca begitu Kageo mengaktifkan perangkatnya.[Selamat pagi, Kageo. Saya ingin menjadwalkan ses
Mobil Elbara menderu kencang, membelah jalanan ibu kota di malam hari. Di kursi belakang, Moza memejamkan mata, tangannya masih memegangi perutnya. Di dalam kepalanya, pesan mengancam dari sang penculik terus terngiang-ngiang.Antara nyawa Kayden yang terancam dan keselamatan bayi kembar di kandungannya, Moza merasa jiwanya tercabik-cabik.Sesampainya di rumah sakit, Moza langsung dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat.Wajah Moza tampak pucat pasi, bintik-bintik keringat dingin membasahi pelipisnya. Sementara tangannya tidak sedetik pun lepas dari perutnya yang terasa kaku.Seorang dokter jaga pria bergegas menghampiri bersama dua orang perawat.Mereka memindahkan Moza ke ranjang pemeriksaan, kemudian memasang alat pemantau detak jantung janin serta selang infus."Tolong bayi saya... selamatkan mereka," rintih Moza, saat sang dokter mulai meraba perutnya untuk mengecek ketegangan rahim."Tenang, Nyonya. Tarik napas perlahan. Kami akan melakukan yang terbaik," ujar dokter itu den
Lampu kamar yang berpendar tidak mampu mengusir kegelapan yang menghimpit dada Moza.Di atas nakas, semangkuk sup ayam buatan Bi Isna sama sekali tidak tersentuh. Aroma gurih kaldu yang biasanya membangkitkan selera, kini justru terasa memuakkan bagi Moza.Ia duduk di tepi tempat tidur, jemarinya yang dingin mencengkeram erat sebuah bingkai foto. Di sana, wajah Kayden tampak sangat gembira. Tangan kanannya memegang sebuah piala, setelah berhasil menjuarai lomba mewarnai di kota Sarima.Air mata Moza menetes, jatuh tepat di atas kaca bingkai itu.“Di mana kau sekarang, Kay?” bisik Moza dengan hati yang hancur.Pikirannya mulai berkelana ke tempat-tempat paling gelap. Ia membayangkan Kayden kecilnya sedang disekap di sebuah gudang pengap yang tidak terjangkau sinar matahari. Tangan dan kaki mungil itu terikat kasar oleh tali tambang yang melukai kulit halusnya. Pikiran bahwa Kayden mungkin sedang kelaparan, menangis memanggil namanya tanpa henti, membuat jantung Moza serasa diremas."
Gema palu hakim yang mengetuk meja tiga kali, menandakan berakhirnya masa skorsing. Ruang sidang yang tadinya lowong, kini kembali penuh. Di meja penggugat, Reva duduk dengan jemari yang saling meremas. Pikirannya bercabang; separuh pada nasib keadilannya, separuh lagi pada kabar mengerikan tentang Kayden. Sementara di sampingnya, Elbara tampak lebih tegang. Fokusnya sebagai pengacara sedang diuji di titik terberat. Saat ini, ia masih harus membela Reva, walaupun hatinya ingin memastikan keamanan sang keponakan."Sidang dilanjutkan," ujar Hakim Ketua dengan suara bariton yang menggema. "Silakan kepada Penasihat Hukum Terdakwa untuk melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi korban."Bramantyo bangkit dari kursinya dengan keangkuhan seorang pengacara senior. Ia tidak langsung bertanya, melainkan berjalan perlahan di depan meja.Pria itu sengaja membiarkan bunyi sepatunya menciptakan tekanan psikologis bagi Reva. Ia adalah pengacara yang tahu bahwa untuk meruntuhkan sebuah kasus, ia
Setelah Thalia pergi meninggalkan dapur, Moza kembali fokus pada tugasnya. Ia mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat kue keju panggang. Saat ia mulai menuangkan adonan ke dalam loyang tahan panas, salah satu pelayan muda bernama Raina mendekat. Matanya menatap Moza penuh kekaguman. “Aku lihat kau
Dalam situasi terjepit, sebuah ide mendadak muncul di benak Moza.“Saya mohon agar Tuan Muda mendengarkan penjelasan saya dulu,” lanjut Moza memberanikan diri. “Nona Kecil Abigail meminta saya membacakan dongeng. Saya duduk di kursi, dan entah kenapa saya malah ketiduran. Mungkin karena hari ini sa
Setelah menerima pesanannya, Rezon membawa bungkusan makanan ke meja tempat Moza dan Abigail duduk. Ia menyerahkan burger, kentang, ayam goreng, serta dua gelas cokelat dingin bertabur marshmallow kecil di atasnya.Untuk dirinya sendiri, ia hanya mengambil satu bungkus kentang goreng tanpa saus. Dim
Setelah Dastan berlalu, Tuan Markus menatap Moza yang masih berdiri terpaku di tempatnya.“Letakkan nampan di meja, Moza."Moza mengangguk patuh, lantas mendekat ke meja kayu yang semalam dipakai Tuan Markus untuk menulis. Ia meletakkan nampan dengan hati-hati, supaya tidak ada makanan yang tumpah.







