Share

11. Sandiwara

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 10:24:30

"Pulanglah, A Yue," ucap Shen Yuan datar dan tanpa emosi. "Kehadiranmu tidak lagi diperlukan di sini."

A Yue menganga, napasnya tercekat di tenggorokan. "Apa maksudmu, Pangera? Hari ini adalah jadwal ritual. Jika aku tidak menyegel hawa dingin, darahmu akan membeku sebelum malam tiba. Ini sudah waktunya!"

"Aku sudah merasa jauh lebih baik," potong Shen Yuan cepat. Ia menoleh sedikit, menatap Lian Ruo yang bersandar manja di bahunya dengan tatapan yang dibuat selembut mungkin. "Sejak Lian Ruo datang, hawa hangat dari keberadaannya sudah cukup untuk meredam kutukan ini. Energinya jauh lebih murni."

Kata-kata itu menghantam A Yue lebih keras daripada pukulan. Lebih murni? Setelah bertahun-tahun ia mengorbankan tenaga dan energinya sendiri, Shen Yuan membandingkannya dengan gadis yang baru saja muncul entah dari mana?

A Yue mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, rasa sakit itu membantunya tetap sadar. Tatapannya beralih da
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Poppy Miranda
kasian Dylan wang, aku jd bayangin wajah nya pangeran ke 2 itu Dylan wang ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   41. Ye Lin

    Badai abu perlahan mereda. Awan hitam di langit mulai tergantikan oleh cahaya matahari. Melihat situasi sudah aman, A Ruo memberanikan diri turun dari kereta dan mendekati mereka sambil menenteng stetoskop."Sudah selesai drama kembang apinya?" tanya A Ruo sambil berjongkok di antara kedua pria yang masih terengah-engah itu.Tanpa menunggu izin, ia menempelkan ujung stetoskop ke dada bidang Yanzuo yang bajunya sudah hangus setengah."Dag, dig, dug, dueeer! Jantungmu berdetak seperti genderang perang, tapi masih stabil," gumam A Ruo selayaknya dokter bedah.Lalu ia beralih ke Shen Yuan. Ia menempelkan alat itu ke dada kiri sang pangeran. Tanpa diminta pun Shen Yuan sudah grogi didekati seperti itu. Ditambah mata mereka saling bertatapan."Dugun ... dugun ... dugun .... Lambat sekali seperti air keran yang macet karena tagihan air belum dibayar. Tapi setidaknya kau masih hidup.” A Ruo merasa lega. Ia menarik kembali alatnya dan mengalungkan di leher.Saat A Ruo menatap wajah mereka berg

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   40. Pergerakan Dua Elemen

    Suasana di dalam kereta kuda sangat sunyi dan hanya terdengar suara roda yang melindas jalanan berbatu.A Ruo duduk bersila di sudut kereta. Ia memegang buntelan yang di dalamnya terdapat kotak kayu dan perlahan membuka ikatan kain itu. Terlihat deretan peralatan logam yang berkilau tertimpa cahaya lentera.Jari-jemari A Ruo menelusuri alat-alat itu satu per satu. Ada pisau bedah kecil yang sangat tipis dan tajam. Di sebelahnya tergeletak gunting bedah dengan ujung tumpul, dan beberapa jarum jahit yang bentuknya melengkung seperti bulan sabit, lengkap dengan benang usus domba yang mulai mengering.Gadis berpipi tembem itu menghela napas. Ia merasa sedikit miris karena dirinya adalah dokter bedah yang jenius, tapi sejak terjebak di masa lalu, ia justru lebih sering meracik herbal atau sekadar menjadi pendingin ruangan berjalan bagi Shen Yuan."Pisau ini tidak bisa membedah takdir, dan jarum ini tidak bisa menjahit kutukan," ucap A Ruo dalam hatinya. Ia melirik ke arah dua pria di hadap

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   39. Perpisahan

    Pertempuran telah usai, menyisakan keheningan dan bau darah yang terbawa angin. Tubuh Shen Yuan yang tadinya tegar mengundang badai, kini tiba-tiba limbung. Bahunya merosot, dan tangannya mencengkeram dada kirinya yang berdenyut."Agh sakitnya!" Darah segar menyembur dari bibirnya, dan menetes ke jubah putih yang sudah kotor. Penggunaan kekuatan es secara berlebihan telah memicu kesakitan pada organ dalamnya yang rapuh."Aduh, sirup marjannya keluar juga!" A Ruo lekas berlari dan menghampiri sang pangeran.Tangannya dengan sigap menarik sapu tangan dan berniat membersihkan noda. Namun, belum sempat A Ruo menyentuhnya, Shen Yuan mundur selangkah."Jangan mendekat!" kata Shen Yuan. Ia masih belum bisa menenangkan diri. Hawa dingin yang mematikan masih berada di sekitarnya."Aku masih dikuasai amarah, aku bisa melukaimu tanpa sengaja.” Tapi A Ruo tidak peduli pada peringatan itu."Kau ini pasien paling rewel yang pernah kutemui.” Alih-alih mundur, ia justru maju dan menerobos hawa dingin

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   38. Bintang Gelap

    “Uhuk, hueeek!”Darah merah gelap menyembur dari mulut A Yue, dan mengotori jubah sutra emasnya yang mewah. Napas wanita itu tersengal-sengal, dadanya naik-turun dengan cepat, dan matanya terbelalak seolah baru saja melihat neraka yang paling mengerikan.Ia baru saja mencoba mengintip garis takdir menjelang kedatangan kedua pangeran ke Ibu Kota. Namun, yang ia temui di alam bawah sadarnya bukanlah benang nasib yang biasa ia mainkan, melainkan bencana alam yang terlihat nyata.A Yue melihat badai salju raksasa yang bergulung-gulung menutupi langit. Dari balik kabut putih yang mematikan itu, muncul sosok serigala putih raksasa. Bulunya setajam es dan matanya yang abu-abu melihat A Yue dengan tatapan membunuh.Belum sempat ia menghindar, lautan api muncul membakar hutan hingga menjadi abu. Suara auman memekakkan telinga terdengar saat seekor naga merah melesat keluar dari kobaran api, sisiknya keras serta runcing, dan taringnya siap mencabik siapa pun yang menghalanginya.Kedua binatang

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   37. Tergantung Tak Bernyawa

    “Lihat, kan? Aku punya bakat terpendam jadi atlet jet ski!” ucap A Ruo sambil membersihkan wajahnya. Namun, tidak ada yang menanggapi candaannya.Senyum di wajah A Ruo perlahan luntur saat ia menyadari suasana di belakangnya berubah jadi mencekam. Shen Yuan mematung, tatapannya tajam menuruni bukit menuju gerbang istananya sendiri.“Ada yang salah.” Yanzuo segera mengeluarkan seberkas api dari tangannya.Di hamparan salju gerbang utama, terlihat puluhan jejak kaki yang tidak beraturan, menandakan istana utara baru saja diserbu oleh segerombolan orang tidak dikenal.“Han Qing, Bai Ju, bukan jalan!” perintah Shen Yuan dan dari bibirnya.Kedua ajudannya segera mendorong gerbang, tapi benda itu dikunci dari dalam. Tanpa menunggu, Shen Yuan mengibaskan kedua tangannya. Pintu gerbang besar itu kemudian terbuka.Pemandangan di balik gerbang membuat darah A Ruo berdesir dan ia merinding sampai bulu kuduknya berdiri.Jembatan yang membentang di atas kolam teratai beku, kini tidak lagi bersih.

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   36. Jet Ski

    "Lihatlah, Pangeran Pertama, pada akhirnya kau hanyalah abu yang hilang tertiup angin."Suara A Yue bergema di dalam kegelapan. Dalam mimpi, Yanzuo melihat tubuhnya sendiri sedang dibakar api neraka. Kulitnya melepuh, dagingnya menghitam, dan ia berteriak dalam kesunyian tanpa suara.Sementara itu, di kejauhan yang tak terjangkau oleh tangannya, ia melihat Shen Yuan berdiri tegak tanpa topeng. Adiknya tersenyum bahagia, menggenggam tangan A Ruo di bawah hujan kelopak bunga. Mereka tertawa, saling menatap penuh cinta, dan sama sekali tidak menoleh pada Yanzuo yang sedang meregang nyawa karena siksaan."Kau ditakdirkan mati sendirian, Pangeran Api. Kau hanya penonton bagi kebahagiaan mereka.""Diaaaam!" Yanzuo tersentak bangun, napasnya memburu dan keringat mengalir deras di pelipisnya.Matanya yang berwarna merah terbuka lebar. Ia memindai sekitar tempatnya beristirahat. Semuanya sedang terlelap termasuk A Ruo dan Shen Yuan. Hawa panas menguar dari tubuhnya, membuat salju di sekitar te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status