LOGINTahun demi tahun berganti bagaikan buku yang telah habis ditulis oleh para saksi sejarah. Dinasti Hanlu perlahan pulih dari luka lama di bawah kepemimpinan Kaisar Shen Hong yang semakin bijaksana.Shen Huang tumbuh menjadi seorang pangeran yang cerdas, tenang, dan memiliki sorot mata setajam pedang. Ia dibesarkan langsung di bawah pengawasan Kaisar dan Permaisuri Utama.Sementara itu, Putri Shen Li telah dinikahkan dengan seorang jenderal tangguh dan sangat setia pada negara, seorang lelaki yang mampu melindungi dan memberikan kedamaian yang selalu Shen Li dambakan.Meski Shen Li kini tinggal di kediaman jenderal, ikatan antara dirinya dengan keponakannya justru bertambah sangat kuat. Shen Huang kerap mengunjungi bibinya.Di usianya yang ketujuh, pangeran kecil itu pernah menatap Shen Li dengan matanya yang jernih dan bertanya, "Bibi, di manakah Ayah dan Ibuku berada? Mengapa hanya Kakek dan Nenek yang membesarkan
Menyadari Putri Mahkota telah benar-benar tiada meski tabib telah mengerahkan segala cara untuk menarik kembali nyawanya, kelima Pasukan Phoenix yang sejak tadi bersembunyi seketika beraksi. Waktu mereka hanya sebentar sebelum Putra Makhkota menerobos masuk.Tanpa banyak bicara, empat prajurit langsung menarik paksa tabib dan para bidan yang masih menangis. Mereka dibawa keluar melalui pintu rahasia di bagian belakang paviliun.Pasukan Phoenix itu tahu, jika Pangeran Yanzuo melihat mereka gagal menyelamatkan nyawa Ye Lin, tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan selamat.Sementara itu, satu prajurit Phoenix terakhir dengan gerakan cepat dan terlatih menyambar bayi laki-laki yang masih menangis dari sisi Ye Lin. Bayi malang yang belum sempat dimandikan, dan diberi nama, dan bahkan belum sempat dilihat sehelai rambutnya oleh kedua orang tuanya, langsung dibungkus dengan mantel pelindung.Prajurit itu melompat ke luar jendela
Yanzuo pergi setelah cukup lama mematung. Ye Lin yang masih berdiri di dekat jendela tiba-tiba tersentak. Tangan kirinya langsung mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat. Rasa sakit yang teramat sangat mendadak menusuk-nusuk bagian bawah perutnya.Awalnya, Putri Makhkota mencoba bertahan. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, perlahan, rasa sakit itu mereda dan hilang.Namun tak berselang lama, nyeri itu datang lagi. Jauh lebih lama, kuat, dan ritmenya mulai teratur. Keringat dingin seketika membasahi pelipis dan leher Ye Lin. Ia menyadari satu hal, waktunya telah tiba."Lai reeen!" panggil Ye Lin dengan lantang sambil menahan sakit.Seorang pelayan yang berjaga di luar segera berlari masuk dan terkesiap melihat Putri Mahkota terduduk di tepi ranjang, sembari memegangi perutnya dengan wajah pucat pasi menahan sakit yang luar biasa."Perutku ... panggil tabib istana sekarang," kata Ye Lin sambil mengatur napasnya yang mulai memburu.Pelayan mengangguk dan berlarian d
Waktu berlalu tanpa terasa, bagaikan embun yang hilang terkena sinar mentari. Sejak Shen Yuan menenggelamkan dirinya ke dalam pusaran es dan menghilang dari dunia, hari-hari terus berjalan sebagai mana mestinya. Duka perlahan menghilang, digantikan oleh kesibukan pemerintahan yang tak pernah berhenti.Di Kediaman Putra Mahkota, perut Ye Lin kini telah membesar serta kandungannya memasuki usia sembilan bulan. Tinggal menghitung hari sebelum darah daging dan pewaris takhta Dinasti Hanlu itu melihat dunia. Namun, seiring dengan semakin dekatnya waktu persalinan, ketegangan terasa semakin menjadi.Kecemasan memenuhi relung hati Permaisuri Utama dan Shen Li. Mereka tak bisa tidur nyenyak sejak permohonan Ye Lin tempo beberapa bulan yang lalu.Apalagi ketika para pelayan secara tak sengaja melaporkan bahwa udara di kamar Yanzuo kadang terasa sangat pengap di malam hari, membuat waswas di hati Permaisuri semakin menjadi-jadi.Mengingat sejarah masa lalu di mana kekuatan Yanzuo pernah lepas k
Pangeran Yanzuo kembali ke ibu kota dengan bahu lemas. Ia masuk ke dalam kediamannya dan sampai di sana bertemu dengan Ye Lin. Semua hal yang terjadi pada Shen Yuan ia ceritakan tanpa ditutupi sama sekali.“Tidak aku sangka, adikku akan menghilang tanpa jejak sama sekali,” gumam Yanzuo putus asa.Ye Lin hanya diam, ia tahu Shen Yuan tidak akan pernah bisa hilang, tetapi untuk membuktikannya juga ia tak memiliki kemampuan.“Mungkin ini sudah takdir yang harus terjadi, Suamiku,” jawabnya menenangkan. “Aku hanya bingung bagaimana caranya mengatakan ini pada Kaisar.”Yanzuo menghela napas panjang dan sejenak mengelus perut Ye Lin yang kini terlihat bulat di balik jubah besarnya. “Kenapa harus bingung? Sejak ketahuan memiliki kutukan api dan es, kami berdua tidak pernah dekat dengan Ayahanda, jadi kehilangan pun rasanya sudah terasa sejak dulu.”“Jangan bilang begitu, kehilangan tetap saja terasa menyakitkan.” Ye Lin memegang dua telapak tangan Yanzuo yang terasa hangat sekali. Ia memiliki
Melihat ratusan prajurit dan kakaknya yang memaksakan kehendak, Shen Yuan menutup mata sejenak. Pesan dewa di dalam mimpinya kembali terulang agar jangan menyengsarakan orang di sekitarnya.Shen Yuan membuka matanya yang kini menyala terang. Ia tak berniat melukai siapa pun saat itu juga. Saat ratusan prajurit itu nyaris menyentuhnya, Shen Yuan menghentakkan satu kakinya ke tanah.Sebuah gelombang tenaga dalam yang sangat kuat, meledak dari titik tempat ia berdiri. Gelombang itu bukan berupa badai salju yang mematikan atau tombak es yang tajam, melainkan dorongan angin yang sangat kuat seperti gelombang tsunami.Ratusan prajurit elite bersenjata lengkap itu terangkat dari tanah dan terlempar sangat jauh dari gerbang utara. Bai Ju dan Han Qing ikut mundur juga.Bahkan Yanzuo yang berdiri paling depan pun tak luput dari serangan itu, hingga ia jatuh berguling-guling dan terduduk di atas salju yang tebal.Yanzuo menatap adiknya setelah berhasil berdiri. Ia tidak akan menyerah membawa adi
Jenderal Besar Ye duduk terpaku di kursi kebesarannya, tangannya gemetar memegang gulungan laporan dari pasukan penjaga ibu kota.Keluarga Menteri Keuangan Wei hancur lebur dalam semalam saja. Kediaman megah itu rata dengan tanah akibat kobaran api aneh yang sangat panas dan tak wajar.Jangankan si
A Ruo membuka matanya. Ia menatap langit-langit ranjang yang masih sama seperti di kamar Shen Yuan.“Bukannya tadi malam aku hampir mati?” ucapnya sambil menyibak selimut, “tapi ini masih di kamar yang sama.” A
Beberapa hari belakangan, semenjak A Ruo tubuhnya transparan, ia jadi sering tidak enak badan. Gadis itu kerjanya hanya berbaring saja tanpa melakukan apa pun. Ratu Agung sempat mengiranya hamil, tapi ternyata tidak, hingga ia kembali mendapat ancaman serupa.“Sepertinya sakitmu memang tidak main-m
A Ruo masuk ke paviliun sambil ngomel-ngomel. Wajahnya ditekuk bermuram durja pula, bibirnya mengerucut karena kesal, dan tangannya sibuk mengibaskan ujung bajunya seolah baru saja kena debu yang sangat kotor.Shen Yuan, yang sedang melukis guci teralihkan perhatiannya. "Ada apa dengan wajahmu? Kau







