MasukShen Yuan menyentuh topeng perak. Jari-jarinya menelusuri ukiran serigala seolah benda itu telah menyatu dengan wajahnya."Sampai kapan?" ulang Shen Yuan, lalu pandangannya menerawang ke luar jendela, menembus badai salju yang terus bertiup."Sampai es di dalam darahku mencair walau sedikit atau sampai kutukan ini menghilang tanpa sisa."Shen Yuan berpaling, menutup bukunya dan tak mau menatap A Ruo. Ia pun tak mau hidup di balik topeng, tapi wajahnya terlihat aneh dengan kristal di lapisan kulitnya."Aku tidak ingin orang-orang melihat wajahku dan ketakutan, A Ruo. Di balik topengku ada tatapan pembunuh. Ada monster yang pernah membekukan pelayan yang membawakannya teh, hanya karena ia terkejut. Topeng ini adalah peringatan agar orang lain tidak mendekat."Suasana di dalam kereta menjadi hening, hanya terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda yang melindas salju tebal.Lian Ruo menghela napas panjang. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Shen Yuan dan mengabaikan hawa
Sementara itu, di Ibu Kota, A Yue sedang bersimpuh di altar doa. Ratusan lilin merah menyala mengelilinginya membentuk pola rasi bintang kuno.Asap dupa memenuhi ruangan, menciptakan suasana mistis yang penuh ancaman. A Yue memejamkan mata, merapal mantra untuk memperkuat ikatan sihirnya dengan Jenderal Zhao, dan memastikan rencana besar mereka berjalan mulus."Langit memberkati, bumi merestui. Kekuasaan akan jatuh ke tangan yang berani mengambilnya ... dan dia hanya akan jadi milikku, bukan perempuan lain," gumamnya berulang-ulang. Namun, kesakralan itu hancur seketika.Angin kencang yang entah datang dari mana masuk ke dalam aula tanpa permisi, mematikan seluruh lilin dan membuat ruangan menjadi gelap gulita.Mata A Yue terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera bangkit dan berlari menuju balkon menara yang menghadap langsung ke langit.Apa yang dilihatnya membuat darah penyihir wanita itu berdesir. Langit yang seharusnya cerah di tengah hari, tetapi matahari perlahan len
Pintu gerbang aula utama istana terbuka. Kaisar Shen Hong duduk di singgasana emasnya. Di sebelahnya, Ratu Wei Lan Yi duduk dengan tangan saling meremas. Ia melihat-lihat barangkali Shen Yuan sudah kembali ke istana. Namun, harapan itu hancur seketika.Hanya lima orang prajurit yang masuk. Mereka berjalan tertatih-tatih, wajah mereka pucat pasi dengan bibir yang membiru. Baju zirah besi yang mereka kenakan masih dilapisi bunga-bunga es yang belum mencair seluruhnya, padahal mereka sudah menjauh dari wilayah utara.Mereka bersujud di hadapan kaisar dan permaisuri.“Hamba menghadap Yang Mulia Kaisar Shen Hong dan Permaisuri Agung Wei,” ucap jenderal yang memimpin pasukan dengan sisa rasa takut.“Di mana putraku?” tanya Kaisar Shen Hong. “Kenapa kalian kembali dengan tangan kosong!” Lelaki dengan hiasan rambut emas itu memukul singgasananya.“Hamba pantas mati, Yang Mulia! Hamba tidak becus menjalankan tugas. Kami ... kami tidak bisa mendekati Pangeran Shen Yuan.”“Apa maksudmu tidak bi
“Mulai hari ini, suara langit adalah suaraku dan segala keraguan terhadapku, sama artinya dengan meragukan titah Yang Mulia Ratu.”Suara A Yue menggema di Aula Bintang. Ia berdiri di puncak tangga, tempat yang biasanya diduduki oleh mendiang gurunya. Di tangannya, ia menggenggam tongkat pusaka kepala peramal, yang terbuat dari kayu hitam dengan bola kristal di ujungnya.Ratusan peramal muda dan tetua Divisi Peramal berlutut di hadapannya. Dahi mereka menyentuh lantai, tubuh mereka menghamba tapi tidak dengan jiwanya.Ada bisik-bisik keraguan di hati mereka. Bagaimana mungkin Xuanling yang bijaksana pergi begitu mendadak tanpa upacara pelepasan? Namun, Titah Emas dari Ratu Wei Lan Yi yang baru saja dibacakan telah membungkam semua keraguan sebelum sempat terucap.Penampilan A Yue benar-benar berubah. Tidak ada lagi jubah warna-warni cerah layaknya gadis muda yang polos. Tubuhnya kini dibalut jubah sutra berwarna merah gelap ditambah lapisan hitam, dengan sulaman benang perak berbentuk
Shen Yuan mengelus dahinya, sakit kena empasan cawan dari kamar A Ruo saat dia tak sengaja membuka pintu dengan kekuatan berlebih.“Mesum, dasar pangeran cabul.” Ucapan A Ruo bergema terus di kepalanya.“Ck, padahal tadi dia yang ingin menodaiku, sekarang aku tak sengaja buka kamarnya malah marah. Sungguh perempuan tidak bisa ditebak. Untung saja aku belum menikah dengan perempuan.”Shen Yuan berjalan menyusuri lorong dengan wajah cemberut, tangannya masih sibuk mengusap benjolan kemerahan di dahinya yang berwarna putih pucat. Di ujung lorong, Bai Ju dan Han Qing yang sedang berjaga langsung menegakkan tubuh, tapi mata mereka membelalak kaget melihat tanda baru di wajah tuannya."Pangeran! Dahimu merah sekali! Apakah ada pembunuh bayaran yang menyusup? Senjata apa yang bisa menembus kekuatanmu?" Hang Qing langsung siaga dengan pedangnya."Cawan," jawab Shen Yuan singkat dengan penuh kekesalan."Cawan beracun?" Bai Ju penasaran."Perempuan itu melemparku kepalaku dengan cawan, sudah pu
“Pangeran, engkau tidak apa-apa?” tanya salah satunya.“Berjaga di depan kamarku, jangan sampai perempuan gila itu masuk, atau kalian aku jadikan patung es.”“Baik, Pangeran.” Keduanya langsung menutup pintu dan berdiri di depan kamar seperti patung singa.“Gila, benar-benar tidak bisa ditebak kelakuannya. Kenapa jadi aku yang ketakutan.” Shen Yuan duduk dengan tenang. Ia tarik napas dalam-dalam lalu embuskan perlahan, dan tentu saja benda-benda di sekitarnya jadi membeku.***Lian Ruo masuk ke kamar dan memukul kepalanya sendiri berkali-kali. “Aduuuh tubuh gadis ini benar-benar diluar prediksi ramalan cuacana. Bisa-bisanya gairah mudanya selalu membuatku kelewat batas. Bagaimana cara meredamnya? Mana sedang haid, hormon estrogenku rasanya naik berkali-kali lipat. Padahal tadi aku hanya bercanda kenapa hampir jadi serius. Kalaulah paman prajurit tidak datang sudah aku cium pangeran itu.” Lian Ruo menepuk-nepuk bibirnya sendiri.“Aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Aku harus bisa







