Mag-log in“Kau tahu, Yuan’er, giok pelindung pemberian Ibunda retak begitu saja. Sejak itu firasatku tidak baik. Rasanya seperti ada kabut hitam yang menyelimuti Istana Utama.”“Ibu?” gumam Shen Yuan sambil meletakkan mangkuk.“Ulang tahun Ibunda tidak lama lagi. Meski aku kejam tapi aku masih peduli dengan. Ada sesuatu yang tidak beres di sana, dan aku tidak bisa tenang kalau tidak melihatnya sendiri. Kita harus pulang, Yuan’er. Ibunda membutuhkan kita.”Wajah Shen Yuan yang tadi memerah karena obat kembali pucat. Ia menatap jari-jarinya panjang seperti hantu.“Aku tidak bisa. Da Ge tentu sudah tahu kejadian yang dulu pernah aku lewati. Hanya sedikit emosi dan kepanikan, aku bisa membekukan semua orang. Aku harus tetap bersembunyi di utara.”Yanzuo kesal, ia ingin memaksa adiknya, tapi menahan diri. Sebab paksaan tak akan mengubah ketakutan Shen Yuan.Pangeran Api itu melirik tajam ke arah A Ruo, memberi isyarat dari mata ke mata agar A Ruo mau membujuknya.A Ruo segera menangkap maksud itu.
A Ruo sibuk di dekat perapian. Rebusan campuran herbal yang kuat dari jahe yang pedas, pahit ginseng, dan aroma segar yang unik dari Bunga Hati Salju memberi cita rasa yang kuat.A Ruo memasukkan kelopak bunga kristal yang tadi dipetik Shen Yuan ke dalam air yang mendidih. Ajaibnya, kelopak yang seharusnya beku itu tidak layu terkena panas, melainkan meleleh perlahan, mengubah warna air rebusan menjadi biru bening yang berkilauan indah.“Waaah, seumur hidup baru kali ini aku melihat ramuan herbal yang sangat indah dan biru transparan. Aku jadi ingin meminumnya sendiri.” A Ruo mengipas-ngipas uap yang beterbangan di udara dan ia hirup dalam-dalam. Aroma yang terasa sangat segar dan hangat di dada serta melegakan tenggorokan.“Mungkin saat aku kembali ke masa depan, aku bisa kerja sambilan sebagai dokter dan herbalis, hitung-hitung membuka kembali apotek herbal milik kakekku.” Gadis berpipi tembem itu mengecilkan bara api dengan cara mengurainya ke tanah.Ia menuang herbal dan pas sekal
“Eh sebentar, Kalau Kakakmu bisa mencairkanmu seperti tadi, kenapa kau masih butuh obat atau ... tumbal?" tanya Lian Ruo penasaran.Shen Yuan tersenyum getir sambil memegang dadanya yang masih terasa nyeri. "Apa kau pikir rasanya enak? Ketika apinya menyentuh tubuhku seperti memasukkan besi panas ke dalam lambung.""Apiku hanya menghancurkan es di permukaan kulitnya saja, Lian Ruo. Aku tidak bisa menyentuh hawa dingin yang menggerogoti sumsum tulangnya. Jika aku melakukannya setiap hari, dalam sebulan tubuhnya akan hancur menjadi abu karena tidak kuat menahan benturan energi kami yang bertolak belakang. Itu bukan penyembuhan tetapi penyiksaan yang memperlambat kematian."Lian Ruo mengangguk saja mendengar penjelasan dari dua pangeran itu. Perlahan A Ruo mulai mengerti bahwa hubungan di antara kedua lelaki yang baginya aneh, yaitu antara benci dan saling merindukan serta melindungi.“Kalian lama-lama kelihatan lucu,” celetuk A Ruo. Ia duduk dan meletakkan bunga hati salju yang masih bi
Belum sempat Bai Ju dan Han Qing menghentikan kereta, sesuatu terlihat terbang di langit dan jatuh dengan bunyi yang sangat kuat.Kereta berhenti seketika karena guncangan dan atap kereta yang kokoh bahkan remuk, kayu-kayu penyangganya meledak menjadi serpihan tajam yang berhamburan ke segala arah.Lian Ruo menjerit, tubuhnya terpental keluar bersama reruntuhan kereta, dan berguling di atas salju yang dingin.Dengan napas tersengal dan jantung yang nyaris copot, Lian Ruo memegang pohon pinus dan berusaha mempertahankan diri agar tetap sadar. Ia melihat apa yang sebenarnya terjadi.Kereta yang kini tinggal puing-puing saja kedatangan tamu tidak diundang. Sesosok lelaki jangkung berbalut jubah merah darah berdiri di depannya. Rambutnya hitam legam, diikat tinggi dengan hiasan naga emas. Udara di sekitar kereta yang tadinya dingin langsung berubah jadi lebih hangat.“Dia, yang pernah datang ke istana, Shen Yuan menyebutkan Kakak,” ucap A Ruo.Mata Shen Yanzuo yang tajam menatap lurus ke
Lian Ruo berlari meninggalkan pasar yang semakin malam semakin semarak. Gadis dengan pipi tembem itu terus melaju sambil tersenyum lebar. Matanya terus mencari di mana keberadaan kereta Shen Yuan.Ketika ia melihat badai salju kecil berputar-putar di tempat yang sama ia tahu sang pangeran sedang menutupi dirinya. Lian Ruo menepis hawa dingin yang menggigit kulit, lalu melompat naik ke dalam kereta."Pangeran, aku kembali," ucapnya sambil membanting pintu kereta hingga tertutup kembali.Shen Yuan membuka mata dan menurunkan kekuatannya hingga badai di sekitar kereta menghilang perlahan.Lian Ruo tersenyum lebar sambil menyodorkan bungkusan kertas minyak yang sedari tadi ia dekap erat di balik jubahnya agar tetap hangat."Pangeran, bakpao daging cincang spesial! Masih panas sekali, lihat tanganku sampai memerah dibuatnya," katanya tanpa ragu.Ia membuka bungkusan itu. Aroma gurih daging berbumbu dan adonan tepung hangat seketika menyebar, dan mengusir hawa dingin di dalam kereta. Namun,
Shen Yuan menyentuh topeng perak. Jari-jarinya menelusuri ukiran serigala seolah benda itu telah menyatu dengan wajahnya."Sampai kapan?" ulang Shen Yuan, lalu pandangannya menerawang ke luar jendela, menembus badai salju yang terus bertiup."Sampai es di dalam darahku mencair walau sedikit atau sampai kutukan ini menghilang tanpa sisa."Shen Yuan berpaling, menutup bukunya dan tak mau menatap A Ruo. Ia pun tak mau hidup di balik topeng, tapi wajahnya terlihat aneh dengan kristal di lapisan kulitnya."Aku tidak ingin orang-orang melihat wajahku dan ketakutan, A Ruo. Di balik topengku ada tatapan pembunuh. Ada monster yang pernah membekukan pelayan yang membawakannya teh, hanya karena ia terkejut. Topeng ini adalah peringatan agar orang lain tidak mendekat."Suasana di dalam kereta menjadi hening, hanya terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda yang melindas salju tebal.Lian Ruo menghela napas panjang. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Shen Yuan dan mengabaikan hawa







