Share

30. Pasar Rakyat

Penulis: Rosa Rasyidin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-06 16:19:20

Shen Yuan menyentuh topeng perak. Jari-jarinya menelusuri ukiran serigala seolah benda itu telah menyatu dengan wajahnya.

"Sampai kapan?" ulang Shen Yuan, lalu pandangannya menerawang ke luar jendela, menembus badai salju yang terus bertiup.

"Sampai es di dalam darahku mencair walau sedikit atau sampai kutukan ini menghilang tanpa sisa."

Shen Yuan berpaling, menutup bukunya dan tak mau menatap A Ruo. Ia pun tak mau hidup di balik topeng, tapi wajahnya terlihat aneh dengan kristal di lapisan kul
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   168. Kesedihan Abadi

    Kisah kehidupan Xu Wen sebagai A Ruo berputar dengan cepat di dalam mimpinya. Kemudian ia melihat kilat kejadian ketika Shen Yuan memutuskan menghancurkan Istana Utara dan meleburnya dalam badai salju, lalu tenggelam di dalam tanah untuk selama-lamanya.Mimpi menyeramkan itu membuat Xu Wen terbangun dari tidurnya dalam keadaan mual dan langsung menuju tong sampah. Ia muntah hebat dan mengeluarkan isi perutnya.“Apa yang terjadi?” gumam Xu Wen seorang diri di dalam ruang kesehatan. Tak lama kemudian, seorang perawat masuk.“Dokter Xu, kau tidak apa-apa?” Ia menepuk pundak Xu Wen untuk melancarkan muntahnya.“Tidak apa-apa. Kau sendiri bagaimana? Di sini sangat dingin, kenapa hanya pakai baju tipis?” Xu Wen melangkah ke ranjang besi dan melihat barang bawaannya.“Ah, di sini ada penghangatnya. Oh ya, Dokter Xu, barang bawaanmu diletakkan satu kamar denganku. Kita berdua akan sekamar sampai proyek ini dinyatakan selesai.”“Oh, begitu, baiklah. Antar aku ke kamar sekarang, bisa?”“Tentu s

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   167. Panggilan Itu

    Ye Wanqing dengan mudah menyuapi Muchen makan tanpa perasaan—bukan karena ia masih seperti Ye Lin yang dulu—melainkan karena ia sudah biasa melakukan hal itu dengan mantan pacar-pacarnya.“Waah, Nona Ye, kau mahir sekali menyuapi Pak Yan makan,” kata Xu Wen yang juga menikmati makan siang di kursi depan. “Apa tidak bisa berhenti sebentar saja, ya? Kenapa harus makan di dalam mobil coba,” gerutunya lagi.“Aku sudah biasa dulu dengan teman-teman lelakiku,” jawab Ye Wanqing dengan santai.“Uhuk, uhuk!” Yan Muchen tersedak batuk karena mendengar pengakuan itu.“Oooh, sudah biasa? Dengan teman atau pacar?” Sengaja Xu Wen memancing dengan menanyakan hal itu.“Hehe, dengan pacarku.” Ye Wanqing dengan jujur mengakuinya.“Umur masih semuda ini sudah tiga kali pacaran?” Yan Muchen menatap Ye Wanqing dengan pandangan aneh, ada ketidaksukaan yang tak bisa ia sembunyikan.“Pak CEO, wajar, namanya juga anak muda, hidup harus dinikmati. Memangnya Pak CEO tidak pernah pacaran?” celetuk Xu Wen begitu

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   166. Canggung

    "Nona, maaf, sepertinya kau salah orang. Namaku Ye Wanqing, bukan Ye Lin," balas Wanqing dengan tatapan sedikit curiga. Ia menatap aneh wanita berbalut mantel putih tebal di depannya yang tiba-tiba mematung dengan mulut menganga.Belum sempat Xu Wen menjawab untuk menutupi kengangaannya, kaca jendela mobil perlahan turun, terlihat Pak CEO Yan Muchen yang sedikit tidak sabar."Nona Xu," panggil sang CEO di antara kebengongan dua perempuan itu. "Silakan Nona duduk di kursi depan saja bersebelahan dengan sopir. Atau kalau mau, Nona boleh duduk di bagian paling belakang."Xu Wen mengerjap cepat. Ia menunjuk ke arah bagian belakang jip tersebut dengan wajah tak suka."Pak CEO, baris di sana kan sudah penuh dengan tumpukan koper dan peralatan medis darurat. Kalau aku duduk di sana, aku bisa tambah kurus tergencet tabung oksigen. Berarti pilihan satu-satunya ya aku duduk di sebelah sopir!""Baguslah kalau begitu," sahut Muchen tanpa dosa. Pandangan lelaki itu beralih menatap Wanqing yang mas

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   165. Mantel Putih

    Lagi-lagi Xu Wen bermimpi tentang lelaki berambut putih alias Shen Yuan yang terus memanggilnya dalam mimpi hingga ia insomnia. Lalu akibatnya ia jadi tidur terlalu larut dan terlambat bangun pagi, padahal hari itu harusnya ia datang on time karena akan berangkat ke Desa Beihan.“Gawaaat, rambutku bahkan belum aku luruskan,” ucapnya sambil menggosok gigi. Ia baru bangun dan memilih memberi makan dua ekor kucingnya dulu.“Ibu, aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa, telepon saja dan minta tolong teman-teman Ibu dulu. Semua kebutuhan di kulkas sudah aku isi, jangan lupa beri makan dua pussy. Sepertinya aku akan lama kembali.” Xu Wen memakai sepatu terburu-buru.“Eh, sarapan dulu, nanti kau sakit perut.” Namun, ucapan ibunya tertelan oleh suara pintu apartemen yang tertutup.“Tidak biasanya Wen’er melewatkan sarapan sambil menonton variety show.” Ibunya hanya bisa menghela napas pendek saja. Jadilah sarapan di pagi yang menjelang siang itu ia nikmati seorang diri, lalu berbaur bersama tem

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   164. Klik

    Peluit ditiup sebagai tanda pertarungan gaya bebas dan tangan kosong dimulai. Ketegangan terasa di arena matras. Seorang lelaki dengan otot besar memandang remeh ke arah Wan’er. Gadis itu membalas mengejeknya dengan menjulurkan lidah.Sepuluh orang di dalam matras mulai bergerak saling mengunci target. Seperti yang sudah diduga, lelaki berotot besar itu langsung mengincar Wan’er, karena menganggap ia sebagai mangsa paling lemah yang harus disingkirkan pertama kali."Menyerahlah, Gadis Kecil. Pulang, main boneka, masak, dan punya anak saja!" ejek lelaki itu sambil mengayunkan tinjunya ke rahang Wan’er.Tatapan mata Wan’er seketika menyipit. Sorot matanya berubah dingin dan mematikan, persis seperti tatapan Jenderal Ye Lin saat berdiri di garis depan Dinasti Hanlu puluhan ribu tahun lalu.Gaya bertarung Wan'er sama sekali tidak seperti preman jalanan yang mengandalkan otot dan teriakan semata. Ia sangat taktis, lincah, dan tepat sasaran.Di sepersekian detik sebelum tinju itu mendarat,

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   163. Siapa Gadis itu?

    Ye Wanqing—gadis berusia 24 tahun itu duduk dan menyeka keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya. Ia baru saja mengantar pesanan makanan siap saji, kemudian melihat sisa uang di rekeningnya.Wan’er, begitu panggilannya, hanya menghela napas panjang. Ia harus bekerja keras karena kedua adik lelakinya yang sedang menempuh pendidikan SMA sebentar lagi akan ujian masuk universitas, dan butuh biaya yang banyak.“Kenapa sulit sekali mencari pekerjaan yang gajinya besar, padahal aku sudah sarjana.”Wan’er yang memiliki postur tinggi semampai sekitar 175 cm sudah mencoba melamar kerja ke sana kemari, tetapi hasilnya belum ada hingga ia hanya menjadi pekerja paruh waktu di dua kedai makanan, termasuk kedai mi milik ibunya sendiri.Ayah Wan’er bekerja sebagai pelatih kungfu di sebuah dojang di pinggir kota. Dulu dojang itu sangat ramai, tetapi seiring perkembangan zaman dan ayahnya yang sudah tua, muridnya semakin sedikit hingga pemasukan berkurang.Wan’er memang mewarisi keahlian kungfu a

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   129. Naluri Dokter

    A Ruo yang berada di dalam Istana Dingin sejak tadi, benar-benar tak tahan untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar. Ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menahan gigil di badan. Lalu Selir Agung menarik dirinya agar mendekat ke tungku api.“Jangan pergi, Pangeran Yuan sudah menyuruhmu u

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   125. Pasukan Mayat Hidup

    Setelah meninggalkan perjamuan pernikahan yang sangat sepi itu, Shen Yuan dan A Ruo kembali ke Paviliun dengan langkah cepat. Waktu mereka tidak banyak.Ketika sampai di dalam kamar yang mulai dingin, A Ruo sibuk memasukkan beberapa jubah tebal dan perlengkapan medisnya ke dalam buntelan kain, seme

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tinda

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status