เข้าสู่ระบบBelum sempat Bai Ju dan Han Qing menghentikan kereta, sesuatu terlihat terbang di langit dan jatuh dengan bunyi yang sangat kuat.Kereta berhenti seketika karena guncangan dan atap kereta yang kokoh bahkan remuk, kayu-kayu penyangganya meledak menjadi serpihan tajam yang berhamburan ke segala arah.Lian Ruo menjerit, tubuhnya terpental keluar bersama reruntuhan kereta, dan berguling di atas salju yang dingin.Dengan napas tersengal dan jantung yang nyaris copot, Lian Ruo memegang pohon pinus dan berusaha mempertahankan diri agar tetap sadar. Ia melihat apa yang sebenarnya terjadi.Kereta yang kini tinggal puing-puing saja kedatangan tamu tidak diundang. Sesosok lelaki jangkung berbalut jubah merah darah berdiri di depannya. Rambutnya hitam legam, diikat tinggi dengan hiasan naga emas. Udara di sekitar kereta yang tadinya dingin langsung berubah jadi lebih hangat.“Dia, yang pernah datang ke istana, Shen Yuan menyebutkan Kakak,” ucap A Ruo.Mata Shen Yanzuo yang tajam menatap lurus ke
Lian Ruo berlari meninggalkan pasar yang semakin malam semakin semarak. Gadis dengan pipi tembem itu terus melaju sambil tersenyum lebar. Matanya terus mencari di mana keberadaan kereta Shen Yuan.Ketika ia melihat badai salju kecil berputar-putar di tempat yang sama ia tahu sang pangeran sedang menutupi dirinya. Lian Ruo menepis hawa dingin yang menggigit kulit, lalu melompat naik ke dalam kereta."Pangeran, aku kembali," ucapnya sambil membanting pintu kereta hingga tertutup kembali.Shen Yuan membuka mata dan menurunkan kekuatannya hingga badai di sekitar kereta menghilang perlahan.Lian Ruo tersenyum lebar sambil menyodorkan bungkusan kertas minyak yang sedari tadi ia dekap erat di balik jubahnya agar tetap hangat."Pangeran, bakpao daging cincang spesial! Masih panas sekali, lihat tanganku sampai memerah dibuatnya," katanya tanpa ragu.Ia membuka bungkusan itu. Aroma gurih daging berbumbu dan adonan tepung hangat seketika menyebar, dan mengusir hawa dingin di dalam kereta. Namun,
Shen Yuan menyentuh topeng perak. Jari-jarinya menelusuri ukiran serigala seolah benda itu telah menyatu dengan wajahnya."Sampai kapan?" ulang Shen Yuan, lalu pandangannya menerawang ke luar jendela, menembus badai salju yang terus bertiup."Sampai es di dalam darahku mencair walau sedikit atau sampai kutukan ini menghilang tanpa sisa."Shen Yuan berpaling, menutup bukunya dan tak mau menatap A Ruo. Ia pun tak mau hidup di balik topeng, tapi wajahnya terlihat aneh dengan kristal di lapisan kulitnya."Aku tidak ingin orang-orang melihat wajahku dan ketakutan, A Ruo. Di balik topengku ada tatapan pembunuh. Ada monster yang pernah membekukan pelayan yang membawakannya teh, hanya karena ia terkejut. Topeng ini adalah peringatan agar orang lain tidak mendekat."Suasana di dalam kereta menjadi hening, hanya terdengar suara roda kereta dan ringkik kuda yang melindas salju tebal.Lian Ruo menghela napas panjang. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Shen Yuan dan mengabaikan hawa
Sementara itu, di Ibu Kota, A Yue sedang bersimpuh di altar doa. Ratusan lilin merah menyala mengelilinginya membentuk pola rasi bintang kuno.Asap dupa memenuhi ruangan, menciptakan suasana mistis yang penuh ancaman. A Yue memejamkan mata, merapal mantra untuk memperkuat ikatan sihirnya dengan Jenderal Zhao, dan memastikan rencana besar mereka berjalan mulus."Langit memberkati, bumi merestui. Kekuasaan akan jatuh ke tangan yang berani mengambilnya ... dan dia hanya akan jadi milikku, bukan perempuan lain," gumamnya berulang-ulang. Namun, kesakralan itu hancur seketika.Angin kencang yang entah datang dari mana masuk ke dalam aula tanpa permisi, mematikan seluruh lilin dan membuat ruangan menjadi gelap gulita.Mata A Yue terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera bangkit dan berlari menuju balkon menara yang menghadap langsung ke langit.Apa yang dilihatnya membuat darah penyihir wanita itu berdesir. Langit yang seharusnya cerah di tengah hari, tetapi matahari perlahan len
Pintu gerbang aula utama istana terbuka. Kaisar Shen Hong duduk di singgasana emasnya. Di sebelahnya, Ratu Wei Lan Yi duduk dengan tangan saling meremas. Ia melihat-lihat barangkali Shen Yuan sudah kembali ke istana. Namun, harapan itu hancur seketika.Hanya lima orang prajurit yang masuk. Mereka berjalan tertatih-tatih, wajah mereka pucat pasi dengan bibir yang membiru. Baju zirah besi yang mereka kenakan masih dilapisi bunga-bunga es yang belum mencair seluruhnya, padahal mereka sudah menjauh dari wilayah utara.Mereka bersujud di hadapan kaisar dan permaisuri.“Hamba menghadap Yang Mulia Kaisar Shen Hong dan Permaisuri Agung Wei,” ucap jenderal yang memimpin pasukan dengan sisa rasa takut.“Di mana putraku?” tanya Kaisar Shen Hong. “Kenapa kalian kembali dengan tangan kosong!” Lelaki dengan hiasan rambut emas itu memukul singgasananya.“Hamba pantas mati, Yang Mulia! Hamba tidak becus menjalankan tugas. Kami ... kami tidak bisa mendekati Pangeran Shen Yuan.”“Apa maksudmu tidak bi
“Mulai hari ini, suara langit adalah suaraku dan segala keraguan terhadapku, sama artinya dengan meragukan titah Yang Mulia Ratu.”Suara A Yue menggema di Aula Bintang. Ia berdiri di puncak tangga, tempat yang biasanya diduduki oleh mendiang gurunya. Di tangannya, ia menggenggam tongkat pusaka kepala peramal, yang terbuat dari kayu hitam dengan bola kristal di ujungnya.Ratusan peramal muda dan tetua Divisi Peramal berlutut di hadapannya. Dahi mereka menyentuh lantai, tubuh mereka menghamba tapi tidak dengan jiwanya.Ada bisik-bisik keraguan di hati mereka. Bagaimana mungkin Xuanling yang bijaksana pergi begitu mendadak tanpa upacara pelepasan? Namun, Titah Emas dari Ratu Wei Lan Yi yang baru saja dibacakan telah membungkam semua keraguan sebelum sempat terucap.Penampilan A Yue benar-benar berubah. Tidak ada lagi jubah warna-warni cerah layaknya gadis muda yang polos. Tubuhnya kini dibalut jubah sutra berwarna merah gelap ditambah lapisan hitam, dengan sulaman benang perak berbentuk







