Share

2. Gadis Lintas Waktu

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-11-16 17:29:21

Lian Ruo diseret paksa ke ruangan kosong tanpa ada apa-apa di dalamnya. Hal demikian memang selalu terjadi pada setiap gadis yang dibawa ke istana.

Ia tidak melakukan apa pun, dan hanya ingat ada cahaya terang kemudian tak sadarkan diri sejenak dan bangun dengan napas terengah.

Suara ledakan, sirene rumah sakit, dan bau alkohol operasi masih terasa menempel di inderanya.

“Aku … benar-benar mati?” gumamnya lirih. “Dan jiwaku masuk ke tubuh gadis ini?”

Pintu paviliun terbuka. Dua pengawal masuk bersamaan, pedang terhunus.

“Bangun.” Salah satu dari mereka menendang pintu, membuat Lian Ruo tersentak dari lamunannya. “Pangeran ingin memastikan kau masih hidup.”

“Kau harusnya melemah sejak semalam,” kata pengawal lain. “Setiap gadis di sini akan sesak napas hingga tubuhnya pucat. Tapi kau baik-baik saja.”

Lian Ruo menarik napas dalam-dalam. Ia gemetar karena jiwa masa depannya bernama Xu Wen yang masih terguncang.

“Aku memang masih hidup,” jawabnya menantang. “Kecewa?”

Pengawal saling menatap. Sejak semalam Lian Ruo memang sudah lancang.

“Bawa dia!” perintah salah satunya.

Lian Ruo diseret melewati koridor istana salju yang panjang. Ia memperhatikan istana yang nuansanya dingin sekali. Ingatannya berkelebat setiap saat dan masih mencari alasan mengapa ia terlempar dari masa depan ke masa lalu.

Ia ingat tubuh gadis yang ia huni telah mati sesak napas sejak semalam. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas batu berlapis salju.

Mereka berhenti di depan aula besar. Pintu besar berukiran naga perak terbuka sendiri ketika angin dingin menerjang. Di atas singgasana dilapisi es Pangeran Kedua duduk.

‘Dia aneh sekali,’ ucap Lian Ruo dalam hati. ‘Sejak bertemu dengan gadis ini selalu memakai topeng, apakah wajahnya jelek sekali?’

Pengawal yang memaksa Lian Ruo langsung berlutut. “Pangeran Kedua, gadis dari Desa Linxi, masih hidup.”

Shen Yuan akhirnya berdiri. Gerakannya lambat, tapi setiap langkah membuat suhu ruangan turun beberapa derajat.

“Dekatkan dia,” perintah Pangeran kedua.

Lian Ruo didorong ke tengah ruangan. Lututnya membentur lantai yang dingin, tapi ia tetap menegakkan dagu.

“Kenapa kau tidak mati?” Shen Yuan bertanya pelan.

“Kenapa aku harus mati?” Lian Ruo balik bertanya.

Shen Yuan menunduk sedikit, tatapannya menusuk.

“Tubuhku menghisap energi kehidupan setiap persembahan yang dikirim. Kutukan Dewa Es tidak menerima penolakan. Semua gadis mati tanpa aku menyentuh mereka.” Ia mendekat hingga jarak mereka tinggal dua langkah. “Tapi kau, tidak!”

Lian Ruo merasakan dingin merayap naik dari lantai, seolah tubuhnya dibekukan dari bawah. Ia kesulitan untuk bergerak.

“Aku bukan tumbal. Dan kalau memang tubuhmu menghisap energi, aneh sekali, karena aku baik-baik saja.”

Shen Yuan menunduk semakin dekat. Napas dingin yang keluar dari bibirnya menyentuh pipi Lian Ruo. Rasanya seperti ditempelkan es batu hingga kulit terasa kaku.

“Tidak ada manusia biasa yang bisa menahan dinginku.”

Lian Ruo meringis saat kulitnya berubah kebiruan. Rasa sakit menjalar dari ujung jari hingga punggung.

Sesuatu terjadi. Cahaya seperti serpihan pasir berkilau, muncul di sekitar kulitnya. Sangat halus, merayap dengan cepat dan membuat kulit Lian Ruo, yang kebiruan kembali seperti semula. Shen Yuan melihatnya.

Ia menyipitkan mata. “Apa itu tadi?”

“Apa?” Lian Ruo memegangi wajahnya. Ia juga bingung.

“Cahaya itu. Kau menyerap dinginku dan mengembalikannya.”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.” Lian Ruo mengelak.

Shen Yuan langsung menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

Lian Ruo mendengkus kesakitan. “Lepaskan!”

Cahaya lembut itu muncul lagi, seperti debu yang melayang, melapisi kulit Lian Ruo dan menahan hawa beku pangeran.

Shen Yuan sontak melepasnya. Napasnya tercekat sejenak. Pengawal terperanjat.

“Apa kau utusan dewa?” tanya Shen Yuan pelan dan memastikan penglihatannya.

Lian Ruo nyaris tertawa kalau saja rasa sakit di tangannya tidak begitu menusuk. “Aku manusia.”

“Tidak mungkin.” Tatapan Shen Yuan semakin menyipit. “Kutukan Dewa Es tidak bisa menembusmu. Itu berarti ....”

“Aku tidak boleh mati hanya karena kau ingin aku mati,” balas Lian Ruo sambil menggigil. “Aku ini bukan budakmu! Dan aku sejak dulu diberkati dewa makanya aku pintar.”

“Dewa mana?” tanya Shen Yuan.

Lian Ruo menggeleng. “Aku tidak tahu, aku hanya rajin sembahyang ke kuil.”

Gadis itu memang tidak paham siapa yang melindunginya. Ia hanya ingat kilasan suara tegas saat jiwanya terpental dari masa depan.

“Berjalanlah di antara musim panas dan dingin, selesaikan tugasmu lalu kembali.” Begitu ucapan sebelum Xu Wen masuk ke dalam tubuh Lian Ruo.

“Periksa gadis ini. Aku ingin tahu siapa atau apa dia sebenarnya.” Shen Yuan memutar dan jubah putihnya melayang lembut mengenai pipi Lian Ruo.

“Dan mulai malam ini, kau berada di bawah pengawasanku. Jangan keluar paviliun kecuali aku perintahkan, mengerti, babi gendut?” Pangeran Kedua berhenti sejenak.

“Kalau aku keluar?” tantang Lian Ruo dengan berani.

“Kalau kau keluar.” Bibir pangeran melengkung tipis, senyuman tanpa kehangatan yang sangat khas.

“Kau akan tahu bagaimana rasanya mati kedinginan.”

“Maksudmu hypotermia? Kau menderita peyakit itu? Aku bisa menolongmu.”

“Aah, bawa dia cepat!” Shen Yuan tidak suka keributan di dalam istananya.

Setelah Lian Ruo dibawa keluar, pengawal pribadi pangeran mendekat dengan wajah pucat.

“Pangeran, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia terlihat baik-baik saja?”

Shen Yuan memegang dadanya. Ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Detak jantungnya terasa tenang sekali.

“Aku tidak tahu, tapi aku merasa dia berbeda, seperti bukan manusia.”

“Apa perlu kita kurung sekali lagi?’

“Jangan! Aku ingin tahu apa yang bisa dia lakukan, dia bilang bisa menyembuhkanku, sedangkan dia berasal dari keluarga biasa saja yang kesenangannya makan dan tidur. Kita lihat saja nanti, apa dia dokter atau tetap akan jadi tumbal.”

“Pangeran, jika kau curiga, kita bisa tanyakan dia pada para peramal suci di istana naga emas.”

“Kakakku berkuasa di sana, nanti saja. Pergilah, aku ingin sendiri.” Shen Yuan menggerakkan telapak tangannya.

“Baik, Pangeran.”

***

Di paviliun utara, Lian Ruo memegangi dadanya yang sesak. Kilasan cahaya lembut itu muncul lagi.

Sekelebat bayangan berdiri di ujung paviliun, tubuhnya seperti terbuat dari sinar yang terang sekali. Lian Ruo tidak mengenalinya.

“Pemilik tubuh ini sungguh tidak memanfaatkan masa muda dengan baik. Dia hanya sibuk memikirkan cinta dan tidak mengisi otaknya dengan ilmu pengetahuan. Aduh sakit sekali.”

Lian Ruo memegangi kepalanya. Ingatan dari masa lalu masuk semua dalam tubuhnya ketika cahaya lembut itu mengelilinginya lagi.

Jauh dari istana utara, terdapat istana lain yang berada di dekat wilayah kekaisaran. Istana naga emas dihuni oleh Pangeran Pertama yang tidak akan pernah dekat dengan adiknya karena kekuatannya bersumber dari api.

“Aku merasakan hawa lain, lebih dingin daripada api tapi lebih hangat daripada es. Sesuatu terjadi di istana adikku. Segera cari tahu!” perintah Pangeran Pertama pada pengawalnya. Ia tahu sebab api abadi di kamarnya sempat padam dan hidup lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tindakan itu membuat mata Ye Lin melirik mereka. Ada rasa iri dan haru di hati Ye Lin melihat A Ruo akhirnya menemukan tempat berlindung."Aku sudah terlalu lama berada di sini. Udara ibu kota membuat isi kepalaku tidak tenang," jawab Shen Yuan jujur. "Lagi pula, aku membawa A Ruo bersamaku. Saat di Utara nanti, aku akan menikahinya dan menjadikannya istriku satu-satunya."Yanzuo tertegun. Ia menatap A Ruo dari atas ke bawah, lalu tertawa dengan kerasnya."Seorang pelayan medis? Yuan'er, selera pangeran es sepertimu sungguh tak bisa ditebak!" ucap Yanzuo apa adanya. Namun, ia tidak bermaksud demikian. Hanya ingin memastikan pilihan adiknya agar tidak salah langkah."Ta

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya penyesalan yang membekukan jiwa.Melihat pengantin wanitanya tiba, Yanzuo melangkah maju. Mata merah Pangeran Api itu terlihat bahagia. Bagi Yanzuo, Ye Lin adalah kemenangan utam karena membawa benih di dalam rahimnya.Yanzuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ye Lin. Dengan senyum keangkuhannya, Pangeran Pertama itu mengulurkan tangan yang memancarkan hawa panas.Ye Lin terdiam sejenak. Matanya menatap uluran tangan itu seperti menatap bara api neraka. Namun, menyadari di mana ia berada sekarang, Ye Lin menyambut uluran tangan tersebut.Saat kulit mereka bersentuhan, hawa es dan api saling meredam. Yanzuo menggenggam tangan Ye Lin dengan sangat erat, lalu me

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   122. Perang Tanpa Suara

    Di waktu yang sama, hawa panas memenuhi paviliun pribadi Pangeran Pertama. Udara di dalam ruangan itu berapi-api seperti di jurang neraka.Yanzuo berdiri tegak di depan cermin, ia sedang mendandani dirinya sendiri. Tidak ada satu pun pelayan atau kasim yang berani masuk untuk membantunya berpakaian.Mereka semua terlalu takut menjadi abu, jika tak sengaja menyentuh kulit sang pangeran yang panas membara.Yanzuo mengikat sabuk giok di pinggangnya. Jubah pengantin merah darah dari Sutra Teratai Salju itu menempel pas di tubuhnya yang gagah. Ia menatap pantulan dirinya yang tersenyum penuh keangkuhan.“Hari yang dinanti tiba. Gelar putra makhkota dan Ye Lin menjadi permaisuriku,” ucapnya penuh percaya diri. Di luar paviliun, puluhan Pasukan Phoenix berjaga, tubuh mereka berkeringat menahan hawa panas yang menembus pintu, meski salju sedang turun.Pintu terbuka lebar. Yanzuo melangkah keluar, dengan sepatu baru yang pas di kakinya. Naga emas yang disulam di jubahnya seolah hidup dengan

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   121. Tandu Pengantin

    Hari penobatan dan pernikahan agung itu akhirnya tiba. Langit ibu kota Dinasti Hanlu tampak kelabu. Bahkan matahari pun enggan menjadi saksi dari perayaan yang dibangun di atas penderitaan.Di kamar Ye Lin, keheningan begitu terasa. Belasan pelayan istana sibuk mengelilinginya, mendandani jenderal perempuan yang sedang kehilangan separuh jiwanya.Jubah pengantin merah darah yang ditenun dari Sutra Teratai Salju membalut tubuhnya yang semakin kurus. Hawa dingin dari salju di luar sana, hawa dingin dari tubuhnya serta dari jubah pengantin membuat hatinya semakin dingin dengan nasibnya.Secercah penyesalan muncul untuk pertama kalinya, karena ia sendiri yang dengan penuh kesadaran mendatangi Yanzuo. Harusnya ia tak pernah penasaran dengan sensasi panas serta dingin ketika saling menyatu.Seorang dayang memberikan gincu warna merah menyala di bibir tipisnya. Warna yang terlihat sangat berlawanan dengan kulitnya yang seputih salju.Setelahnya mahkota emas bertahtakan burung phoenix yang sa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   120. Sumpah Berdarah

    Badai salju di luar kediaman Keluarga Ye semakin mengganas. Rasa malu dan aib keluarga itu seperti telah terkubur oleh salju. Bahkan Jenderal Besar Ye menolak dirinya diperiksa oleh tabib karena sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.Akibatnya Jenderal Besar Ye terbaring lemah setiap saat. Napasnya terdengar berat, dan dadanya masih sesekali terasa nyeri sisa dari serangan jantung tempo hari.“Siapa di sana?” tanya Jenderal Besar Ye ketika lilin di kamarnya mendadak bergoyang, dan rasanya ada sekelebat bayangan yang melintas di kamarnya.“Jika tujuanmu baik, keluar, aku sedang tidak punya tenaga untuk bertarung,” ucap lelaki tua itu dengan suara beratnya.Saat menoleh ke kanan, Jenderal Besar Ye membelalakkan matanya."Jenderal Zhao?" ucap Jenderal Besar Ye setengah tak percaya. Yang ia tahu dari dulu mereka berbeda pandangan karena klan partai kiri dan kanan yang alirannya tak sama."Beraninya kau menyusup ke kamarku di tengah malam seperti seorang pengecut. Apa maumu?"Jendera

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   119. Jubah Pengantin

    Wajah Wei Lan Yi seketika memerah. Kelembutan seorang wanita telah mati di dalam raganya. Semua karena cinta butanya bukan pada kaisar melainkan pada takhta di depan matanya."Aku tidak peduli pada kutukan itu. Aku tidak peduli jika mereka menjadi siluman sekalipun!" jerit Wei Lan Yi sambil tertawa. Ia sangat putus asa. "Berikan benih itu padaku. Biarkan anak-anakku menjadi pembawa kehancuran, asalkan mahkota tetap berada di lingkaran keluargaku!"Kilat merah dan biru menyambar dari langit secara bersamaan, menghantam tubuh Wei Lan Yi hingga ia terpental dan pingsan di atas salju. Ia bangun ketika badai salju berhenti turun dan ia tertatih berjalan menuju kereta, di mana Momo yang masih muda setia sekali menunggunya.“Momo, aku lelah sekali,” ujarnya kala itu.“Yang Mulia, ayo kita istirahat di penginapan.” Momo memapah tubuh permaisuri yang lemah setelah tidak makan selama berhari-hari.Di dalam penginapan Wei Lan Yi sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status