LOGINLangkah kaki Rayyan terhenti di dekat pintu tembaga Balai Agung. Keheningan yang begitu pekat mendadak melingkupi seluruh ruangan, hingga suara napas tersengal-sengal dari Utusan Ash-Shaf terdengar bagai bisikan maut.Rayyan mengerling pelan dari sudut matanya. Manik mata sehitam malam milik Sang Sultan menatap tajam pria yang masih tersungkur memegang lehernya yang memar di atas marmer."Tiga puluh hari, katamu?" desis Rayyan, suaranya teramat dingin hingga sang utusan refleks menelan ludah pusing."B-benar, Yang Mulia..." raung sang utusan dengan sisa keangkuhan yang sudah hancur lebur. "Izinkan Putri Sahira tinggal di sini sebagai tamu agung. Jika dalam satu bulan beliau tak sanggup meluluhkan hati Anda... Kesultanan Ash-Shaf berjanji tidak akan pernah menagih perjanjian almarhum Baginda Sultan lagi!"Beberapa tetua Dewan Kerajaan saling pandang dengan cemas. Mereka berharap Sang Sultan akan menolak mentah-mentah penawaran tak masuk akal itu. Namun, di dalam benak Rayyan, seb
Dinding-dinding marmer Balai Agung yang kokoh seolah memancarkan suhu dingin yang sanggup membekukan napas. Di dalam ruangan luas beratap kubah emas itu, belasan anggota Dewan Tetua Kerajaan duduk melingkar di atas kursi kayu jati berukir, berdampingan dengan Utusan Agung dari Kesultanan Ash-Shaf yang mengenakan jubah kebesaran berwarna merah darah.Suasana rapat yang semula riuh oleh bisik-bisik intrik mendadak senyap total tatkala pintu gerbang tembaga Balai Agung terbuka lebar.Derap langkah sepatu bot berzirah milik Sultan Ar-Rayyan menggema tunggal, ketak dan konstan, memecah hening dengan tekanan ghaib yang membuat beberapa tetua paruh baya refleks menahan napas. Pria tegap itu melangkah anggun namun sarat ancaman, jubah hitam berhias benang perak miliknya berkibar megah di belakang tubuhnya.Di belakang Rayyan, Panglima Tertinggi dan empat prajurit elit berjalan dengan posisi tangan bersiap di atas hulu pedang.Tanpa menyapa atau memandang para tetua yang menunduk kaku, Rayyan
Suara ketukan dan seruan dari balik pintu mahoni itu seperti siraman air es yang mendadak mematikan seluruh kehangatan di peraduan Sultan.Amira tersentak pelan di pangkuan Rayyan. Tangannya yang memegang sendok berisi sup hangat membeku di udara. Binar kebahagiaan di mata gadis itu perlahan surut, berganti rasa canggung dan tegang yang merayap cepat.Rayyan tidak langsung menjawab. Sepasang mata tajamnya menyipit, menatap pintu ukir raksasa itu dengan ketajaman yang sanggup menembus kayu tebal. Senyum jahil yang baru saja menghiasi bibirnya menguap tanpa sisa, tergantikan oleh raut penguasa Al-Fariz yang dingin dan tak tersentuh."Masuk," ujar Rayyan singkat. Suaranya baritonnya dalam, tenang, namun penuh tekanan yang tak terbantahkan.Amira bergerak hendak turun dari pangkuan Rayyan, merasa tidak sopan jika ada pejabat istana yang melihat mereka dalam posisi sebegitu intim. Namun, jemari tebal Rayyan justru makin mempererat cengkeraman di pinggangnya, menahan Amira tetap berada di s
"HA—HAMBA TIDAK LIHAT APA-APA, YANG MULIA! AMPUNNN!"Suara jeritan melengking itu bergetar di udara dapur, diiringi bunyi histeris langkah kaki sang pelayan yang berlari seolah-olah baru saja melihat siluet iblis di tengah malam.Amira seketika terperanjat. Rasa malu hebat menjalar cepat dari dada hingga merambat penuh ke wajahnya. Wajah gadis itu memerah padam bagaikan udang rebus. Dengan panik, ia berusaha mendorong dada bidang Rayyan dan menendang-nendang udaruntuk turun."Yang Mulia, lepaskan!" bisik Amira panik, matanya bergerak liar menatap pintu dapur yang terbuka lebar. "Hamba mau kembali ke kamar! Malu sekali... besok seluruh pelayan istana pasti menyebarkan rumor ini!"Namun, jangankan melepaskan, Rayyan justru makin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Amira. Pria tegap itu terkekeh rendah—sebuah tawa serak dan bernada geli yang sangat jarang terdengar dari mulutnya.'What?! Tiran ini malah ketawa?!'Amira memukul pelan dada Sang Sultan. "Yang Mulia! Jangan tertawa
"Benda plastik murahan ini yang kau sebut makanan?"Rayyan meneliti bungkus mie instan di tangannya dengan kening berkerut tajam. Caranya memegang bungkus plastik berwarna merah itu sangat berhati-hati, seolah-olah ia sedang memegang benda peledak yang bisa meletus sewaktu-waktu.Amira tidak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Kekehannya lolos begitu saja, memecah gairah yang sempat menggantung di udara sekeliling mereka.Dengan pipi yang masih merona merah dan napas yang belum sepenuhnya stabil, Amira buru-buru membetulkan bra serta mengancingkan piyama tidurnya yang sempat terkuak."Ini makanan yang sangat populer di antara rakyat jelata, Yang Mulia," sahut Amira lembut seraya beranjak turun dari atas ranjang tipisnya. "Sederhana, praktis, tapi dijamin sanggup mengocok selera siapa pun dalam waktu lima menit.""Lima menit?" beo Rayyan dengan nada skeptis, menaikkan sebelah alis tegasnya. "Apa tidak berbahaya bagi pencernaan?""Hamba yakin, lebih berbahaya jika perut Anda dibiarkan berb
"Kau tahu kenapa aku sangat takut untuk makan makanan buatan orang lain, Amira?"Amira menahan napasnya, menatap lekat ke dalam iris mata Rayyan yang mendadak meredup, diselimuti bayangan kelam dari masa lalu yang teramat pahit.Jujur... Ini adalah pertanyaan yang paling ingin Amira tahu, jawabnya.Amira yakin seluruh penghuni istana, dan mantan-mantan koki elite yang terusir dari istana ini, juga sama penasarannya!"Dulu..." desis Rayyan lirih. Nama itu meluncur dari bibirnya bagaikan jelang racun yang membakar tenggorokan. "Lima tahun lalu, ada seorang wanita yang dicalonkan menjadi permaisuriku."Amira menahan napas. Dada bidang Rayyan yang menempel padanya terasa menegang kaku."Wanita itu menyajikan masakan rumah untukku setiap hari. Makanan yang dikatakannya dibuat dengan penuh rasa cinta..." Rayyan terkekeh pahit—sebuah tawa dingin yang menggetarkan rongga dadanya. "Tapi di balik setiap suapan itu... dia menaruh racun pelan-pelan."Amira tersentak pelan. Matanya membelalak, me







