LOGIN"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!"
Suara Amira Nabila memekik parau memotong keheningan malam koridor menara barat. Namun, seruannya sama sekali tidak menggetarkan hati dua prajurit berwajah baja yang kini mencengkeram kedua lengan atasnya dengan begitu kokoh. Langkah kaki mereka yang berdentum serempak menyeret tubuh mungil Amira melintasi lorong-lorong megah istana yang dilapisi karpet beludru merah darah. Amira memejamkan mata erat-erat, air mata kecemasan mulai mengalir melewati pipinya yang pucat. Otaknya dipenuhi bayangan mengerikan tentang tiang gantungan atau ruang eksekusi bawah tanah. Keinginannya untuk sekadar menyambung nyawa malam ini telah bergeser menjadi petaka terbesar dalam hidupnya. BUM. Pintu ganda setinggi tiga meter yang terbuat dari kayu eboni berukir emas dihantam terbuka. Amira dilempar masuk ke dalam sebuah ruangan yang teramat luas dan mewah, namun memiliki atmosfer yang mencekam sekaligus dingin. Langkah kaki para prajurit itu seketika berhenti, lalu mereka membungkuk hormat dengan sangat dalam, melepaskan cengkeraman mereka dari lengan Amira hingga gadis itu luruh berlutut di atas lantai marmer hitam yang berkilau. "Melapor, Yang Mulia Sultan. Pelayan lancang yang membuat hidangan tanpa perintah telah kami amankan," ujar sang komandan pasukan dengan suara bariton yang tegas. Amira gemetar hebat. Alih-alih mendongak, kepalanya justru semakin menunduk dalam, melekat erat pada permukaan lantai marmer hitam yang sedingin es. Tubuhnya meringkuk bagai pelanduk yang terkepung, mencoba menyembunyikan eksistensinya yang hina di hadapan puncak tertinggi kekuasaan. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, telinganya menangkap suara gesekan kain sutra mahal. Sultan Rayyan Al-Fariz berdiri dari ranjang raksasanya di ujung ruangan. Pria itu tidak mengenakan jubah kebesaran monarkinya, melainkan hanya sehelai kemeja sutra hitam dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan untaian dada bidang yang kokoh namun naik turun dengan ritme napas yang terengah. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak tirus dan pucat akibat anorexia yang menyiksanya selama beberapa tahun terakhir, namun sepasang mata elangnya berkilat dengan kegelapan yang pekat, tajam, dan mematikan. Di atas meja nakas emas di samping ranjangnya, sebuah nampan perak berisi roti gandum buatan Amira telah habis tanpa sisa. "Tinggalkan kami. Dan jangan ada satu pun dari kalian yang berani mendekati menara ini sampai aku memanggil kalian," titah Rayyan. Suaranya rendah, berat, dan serak, namun mengandung otoritas mutlak yang sanggup membekukan aliran darah siapa saja yang mendengarnya. "Baik, Yang Mulia." Para prajurit itu segera mundur teratur dan menutup pintu ganda tersebut dengan rapat, menyisakan keheningan yang teramat sesak di dalam ruangan luas itu. Kini, Amira terperangkap sendirian di dalam wilayah kekuasaan sang tiran. Tak. Tak. Derap langkah kaki bertelanjang milik Rayyan mendekat perlahan. Setiap ketukan langkah itu terasa seperti palu godam yang menghantam dada Amira. Napas gadis itu memburu panik, jemarinya yang terbalut kain kasa meremas semakin kuat pigura foto ibunya, siap menerima hukuman apa pun. Sebuah bayangan besar dan tinggi seketika mengurung tubuh mungil Amira. Bau maskulin yang pekat—aroma expensive wood dan peppermint yang tajam—seketika menginvasi indra penciuman Amira, meredam bau ketakutannya sendiri. "Angkat kepalamu, Pelayan," geram Rayyan tepat di atas ubun-ubun Amira. Amira bergeming, dahinya semakin menekan lantai marmer, seolah berharap bumi bisa terbelah dan menelan tubuhnya detik ini juga. "M-maafkan kelancangan saya, Yang Mulia Sultan... Saya bersumpah tidak berniat buruk... Saya hanya—" "Aku bilang, angkat kepalamu!" Tanpa peringatan, tangan besar Rayyan yang dingin merangsek maju, mencengkeram rahang mungil Amira dengan satu sentakan dominan, memaksanya untuk mendongak secara kasar. Amira terpekik pelan saat sepasang mata mereka akhirnya beradu. Mata elang Rayyan yang sehitam malam mengunci penuh manik mata Amira yang berair dan berantakan. Pada detik itu, detak jantung Amira seolah melompati satu ketukan. Ia sedikit membeku, terpana melihat paras sang Sultan yang teramat tampan, seolah-olah pria di hadapannya adalah sosok malaikat penjaga surga yang turun ke bumi. Namun, ketika pandangannya turun perlahan, Amira menyadari ada kerapuhan yang tersembunyi di balik kesempurnaan itu. Pipi sang Sultan tampak tirus, dan di balik kemeja sutra hitamnya yang terbuka, tulang selangkanya menonjol sedikit terlalu tajam—sebuah kontras yang aneh Amira rasakan, di mana dengan semua kemewahannya, seharusnya Sultan bisa memakan makanan dengan kualitas dan gizi terbaik, yang mampu membuat tubuhnya tambun. Rayyan sendiri ikut terpaku selama beberapa detik, mengunci pandangannya pada wajah Amira yang berlumur air mata dan noda tepung terigu yang tipis. Keheningan itu merentang, sebelum akhirnya Rayyan melepaskan cengkeraman tangannya dan mendiktekan perintah baru. "Bangun," titah Rayyan, suaranya dingin tak berperasaan. Amira bergerak dengan tubuh yang gemetar hebat, berusaha menegakkan kakinya yang seolah kehilangan seluruh tulang penyangga, sedikit berguncang seirama dengan ketakutannya. Rayyan sama sekali tidak membentak. Sudut bibirnya justru terangkat, menciptakan seulas senyum miring yang dingin saat memperhatikan setiap gerakan gemetar dan kepanikan yang terpancar dari tubuh mungil di hadapannya. "Siapa namamu?" tanya Rayyan, suaranya merendah namun penuh intimidasi. "A-Amira... Amira Nabila, Yang Mulia," jawab Amira dengan tergagap, suaranya parau dan nyaris tenggelam di udara malam. Sultan melangkah maju, memotong sisa ruang di antara mereka hingga tersisa jarak yang teramat tipis—nyaris nol. Amira bahkan bisa merasakan radiasi panas tubuh Rayyan menembus gaun pelayannya yang tipis. Tatapan sang Sultan yang semula sedingin es perlahan-lahan berubah, berkilat dengan sejenis binar aneh yang gelap saat indra penciumannya yang teramat pekat menangkap sesuatu yang asing dari tubuh gadis itu. Dari kulit leher Amira yang berkeringat dingin, menguar aroma murni vanila alami dan kehangatan ragi yang teramat memikat—aroma yang persis sama dengan roti gandum yang baru saja menyelamatkan lambungnya dari rasa mual yang menyiksa. Bagi Rayyan, yang selama beberapa tahun terakhir ini sering kali hampir mati karena siksaan anorexia-nya, yang sering kali memecat semua koki terbaik dunia hanya karena tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membangkitkan nafsu makannya, gadis di hadapannya ini bukan lagi sekadar pelayan dapur rendahan. Amira adalah sebuah anomali yang mungkin... sengaja dikirimkan oleh Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya dari kegelapan dan... kelaparan! "Kau... siapa yang mengajarimu membuat roti dengan rasa dan aroma seperti ini?" desis Rayyan. Ia mengangkat tangannya lagi, menyentuh wajah Amira tanpa izin. Ibu jarinya bergerak mengelus rahang Amira dengan penekanan yang tegas, nyaris menyakitkan kulit lembut gadis itu. "Mendiang... Mendiang ibu saya, Yang Mulia," bisik Amira dengan suara parau yang pecah, air matanya luruh membasahi jemari tangan Rayyan. Rayyan menyipitkan mata, tatapannya turun menelusuri wajah Amira yang sembap, lalu berhenti tepat pada telapak tangan kiri Amira yang terbalut kain kasa bernoda merah darah. Cengkeraman Rayyan pada rahang Amira terlepas, beralih menyambar pergelangan tangan kiri gadis itu dengan cengkeraman yang kokoh, menariknya paksa untuk diperiksa. "Tanganmu terluka, dan kau berani menyentuh makananku dengan tangan berdarah ini?" suara Rayyan merendah, sarat akan intimidasi yang berbahaya. "S-saya sudah membersihkannya dengan steril, Tuan Sultan... Saya juga memakai sarung tangan! Saya bersumpah..." Amira meronta lemah, mencoba menarik tangannya yang perih, namun kekuatan fisik Rayyan terlalu dominan untuk ia lawan. Sudut bibir Rayyan kembali terangkat, membentuk seulas senyum miring yang berbahaya namun membuatnya terlihat luar biasa tampan. Pria itu merangsek maju, menekankan tubuhnya yang besar hingga Amira terpaksa mundur dan punggungnya membentur tiang ranjang kayu eboni yang kokoh. Rayyan menghimpitnya tanpa jarak, mengunci tubuh mungil Amira di antara kedua lengan kekarnya. "Dengar, Amira," Rayyan menundukkan wajahnya, napasnya yang panas dan memburu menyapu permukaan bibir Amira yang pucat, membuat seluruh saraf di tubuh gadis itu menegang hebat. "Aku tidak peduli siapa kau sebelumnya, mulai detik ini... kau adalah koki eksklusif sekaligus pelayan pribadiku." Amira tersentak kaget, sepasang matanya membelalak sempurna di balik genangan air mata. "A-ampun Yang Mulia!! Saya... Saya hanyalah pelayan dapur rendahan yang baru diterima malam ini. Saya tidak memiliki kualifikasi untuk—" "Aku tidak peduli," potong Rayyan dengan nada mutlak yang memotong kalimat Amira seketika. Amira yang takut akan konsekuensi hilangnya kepalanya karena naik turunnya emosi Sultan jika ia menerima tugas ini, terus merangkai alasan demi alasan, penolakan demi penolakan dengan kepanikan yang membumbung tinggi. Namun, di tempatnya berdiri, Rayyan sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Amira. Sepasang mata elangnya justru terfokus sepenuhnya pada bibir ranum Amira yang bergerak-gerak menjawabnya, memancarkan kilat ketertarikan yang liar. Didorong oleh pikiran impulsif yang tak terbendung, Rayyan memajukan tubuhnya. Ia menunduk dalam, mengikuti insting primalnya untuk mendekat dan mencium wangi dari wajah Amira—aroma manis vanila yang persis sama dengan roti gandum yang telah membangkitkan selera makannya yang mati. "Wangimu... sangat harum," ujar Sultan dengan suara yang bergetar rendah di ceruk leher Amira. Ia semakin mendekatkan dirinya, menekan tubuh Amira hingga gadis itu benar-benar kehabisan ruang gerak. Amira gemetar hebat, memejamkan kedua matanya rapat-rapat karena ketakutan yang teramat sangat, mengira sang tiran akan melakukan tindakan menakutkan seperti... merenggut kesuciannya detik ini juga! Melihat reaksi Amira, Rayyan tersenyum miring. Ia tidak melangkah lebih jauh; pria itu justru menarik kembali tubuhnya dan mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk bernapas yang sangat dibutuhkan oleh paru-paru Amira yang hampir kehabisan oksigen. Rayyan menatap Amira dengan pandangan menguliti sebelum kembali berucap, "Asal kau tahu, kau tidak bisa menolakku, Amira. Coba saja kau tolak aku dengan satu kata lagi, maka aku akan memerintahkan pengawal untuk mengirimmu langsung ke penjara bawah tanah kesultanan." Sultan kembali maju selangkah, mengangkat tangan panjangnya untuk memainkan dengan lembut ujung rambut panjang Amira yang terurai berantakan. Sentuhan jemarinya terasa kontras—lembut namun menyimpan ancaman maut. "Kau... tahu kan, betapa mengerikannya penjara bawah tanah itu?" bisik Rayyan dengan senyum misterius. Mendengar ancaman eksekusi yang mengerikan itu, pertahanan Amira runtuh. Ia tidak memiliki pilihan lain jika masih ingin melihat matahari terbit. Sambil menangis terisak, Amira akhirnya mengangguk pasrah. "Saya... saya mau, Yang Mulia." Sultan Rayyan tersenyum kecil, puas atas kepatuhan mutlak sang pelanduk. "Bagus. Kalau begitu, ayo kita buat kontraknya." Rayyan berbalik menuju meja kerja mahoganinya, dengan cepat menggoreskan deretan kalimat di atas selembar kertas dokumen resmi kesultanan, lalu menyodorkannya ke hadapan Amira bersama sebuah pulpen emas. Kontrak itu tertulis dengan bahasa hukum yang sangat membingungkan, namun ada satu poin yang terbaca jelas oleh Amira: Bersedia membantu dan melayani segala keperluan Sultan Rayyan selama dua puluh empat jam penuh. Karena tidak memiliki pilihan lain bagi dirinya yang berstatus rendah ini, dan toh dalam benak polosnya kepentingannya hanya seputar urusan makanan dan dapur, Amira buru-buru membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut agar bisa cepat keluar dari kamar yang menyesakkan ini. Srett. Sultan Rayyan dengan cepat merebut kembali kertas itu sesaat setelah Amira selesai menandatanganinya. Ia menatap goresan tinta nama Amira dengan seulas senyum puas yang teramat gelap tercetak di wajah tampannya. Dokumen itu ia lipat, lalu dimasukkan ke dalam laci mejanya yang terkunci. Ia kemudian menoleh kembali pada Amira, menatapnya dengan otoritas mutlak yang mengunci takdir gadis itu. "Pekerjaanmu dimulai besok subuh, Amira. Dan aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri... bagaimana caramu.. membuat roti untukku." ………………………….Bau karat, kelembapan batu tua, dan hawa dingin yang menusuk tulang menyambut langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz saat ia menuruni tangga batu melingkar menuju ruang interogasi terlarang di dasar Menara Barat.Di dalam ruangan minim cahaya itu, dua buah tungku tembaga raksasa menyala membara. Arang merah menyala memancarkan panas yang menyengat udara, membakar ujung-ujung batang besi tebal hingga memerah pijar.Di sudut lain, dari balik jeruji besi sel isolasi yang gelap, suara rintihan dan isak tangis ketakutan Zeydan Melik yang babak bunur terdengar samar, kian menambah atmosfer teror yang mencekik tempat itu.Selin terikat erat di atas kursi besi tebal. Rantai besi berat mengunci kedua pergelangan tangan dan kakinya. Wajahnya yang berbedak kusam kini berantakan oleh air mata, keringat dingin, dan riasan yang luntur. Ketika pintu besi dihantam terbuka dan sosok tinggi tegap Rayyan melangkah masuk dengan aura tiran yang amat kelam, tubuh Selin seketika bergetar hebat."Y-Yang Mulia...
"A-apa yang Anda bicarakan, Yang Mulia?!" jerit wanita itu seraya terbatuk-batuk, matanya membelalak lebar memancarkan penolakan yang luar biasa.Ia memegangi pergelangan tangan Rayyan yang mencekik lehernya, berusaha keras menggelengkan kepala."Hamba bukan Puan Selin! Hamba hanyalah pelayan dapur bernama Marna! Ampun, Yang Mulia! Wajah hamba... wajah hamba sama sekali tidak mirip dengan mantan selir Puan Selin! Lihat hamba, Yang Mulia! Anda pasti salah orang!"Farhan yang berdiri di dekat mereka melangkah mendekat, menyipitkan mata mengamati wajah pelayan itu di bawah pendar temaram cahaya pagi. Panglima Pengawal Bayangan itu mengerutkan keningnya, mendadak diliputi keraguan.Jika diingat kembali, sketsa wajah Selin yang tersebar di seluruh papan buronan lima tahun lalu memiliki bentuk wajah bulat dengan hidung agak pipih dan mata lebar. Sedangkan wanita di hadapan mereka ini memiliki rahang tirus yang tajam, hidung mancung melengkung tinggi, dan lipatan mata yang jauh berbeda. Seca
Bunyi gemerincing rantai besi yang mengunci pintu ganda Sayap Kanan Kamar Agung dari luar bergema berat di sepanjang koridor menara. Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz berdiri tertegun sejenak di depan pintu yang tertutup rapat itu. Dadanya naik-turun memburu, merasakan nyeri yang menghantam jiwanya tatkala mengingat wajah Amira yang basah oleh air mata dan jejak memar kemerahan di pipi halus gadis itu.Gadis itu mempercayainya... namun manipulasi iblis dari Paviliun Utama hampir saja merusak jembatan cinta yang baru mereka bangun."Panglima Farhan!" panggil Rayyan dengan suara bariton yang amat dingin dan pekat."Siap, Yang Mulia!" sahut Farhan seraya membungkuk tegap."Biarkan dua puluh prajurit bayangan terbaik bertaruh nyawa membentengi kamar ini. Jika ada satu ekor lalat pun yang berani mendekati peraduan Selirku tanpa izinku, tebas kepalanya di tempat!""Siap laksanakan, Yang Mulia!"Dengan jemari yang mencengkeram erat hulu pedang utamanya, Rayyan berbalik. Langkah kaki bertelanjang yan
Hujan gerimis membungkus gerbang utama Istana Agung Al-Fariz pagi itu. Udara dingin merayap menusuk tulang, namun atmosfer di sekitar gerbang besi tempa setinggi lima meter tersebut justru membara oleh ketegangan yang nyaris meledak.Di hadapan belasan prajurit penjaga berzirah lengkap, Amira berdiri tegap dengan tubuh yang gemetar. Ia memeluk erat koper kusam kecil di dadanya—koper yang sama yang dulu dibawanya saat pertama kali menginjakkan kaki di istana iblis ini. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap oleh lelehan air mata yang tak henti mengalir sepanjang malam."Buka gerbangnya!" jerit Amira dengan suara parau yang pecah. "Hamba bukan lagi pelayan di sini! Hamba berhak pergi!"Para prajurit penjaga berdada kaku itu saling melirik dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin. Tak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuh Amira, apalagi mengarahkan senjata pada wanita yang baru saja diumumkan sebagai Selir Agung Utama Kesultanan. Namun, membiarkan wanita milik Sultan melangkah
Uap ketegangan melingkupi peraduan Sayap Kanan Kamar Agung hingga ke taraf yang menyesakkan. Rayyan terpaku menatap kertas dokumen berstempel merah darah di tangannya, sebelum akhirnya memutar pandangannya ke arah Amira. Bukannya memberikan penjelasan dengan kepala dingin, rasa terluka yang amat mendalam mendadak memicu amarah dan ego Sang Sultan. Setelah semua hal yang ia pertaruhkan—menghancurkan aliansi, menantang Dewan Tetua, hingga membuka seluruh hatinya di pulau pribadi—Amira justru dengan mudah menuduhnya sebagai iblis pembunuh tanpa bertanya terlebih dahulu. "Kau menuduhku?!" suara Rayyan mengalun rendah, bergetar oleh amarah yang membakar. "Kau melihat Stempel Agung itu dan langsung menyimpulkan bahwa aku yang membunuh ibumu, Amira?!" "Lalu siapa lagi, Yang Mulia?!" jerit Amira histeris, air matanya meluncur deras melintasi pipinya yang pucat. "Stempel itu adalah milik Sultan Al-Fariz! Hak mutlak penguasa kerajaan ini! Apakah Anda ingin membual bahwa ada orang lain yan
Uap darah dan hawa dingin dari sel bawah tanah menguap seiring langkah Sultan Ar-Rayyan Al-Fariz yang membelah koridor menuju Sayap Kanan Kamar Agung. Pria itu telah membersihkan jemarinya, meninggalkan kekejaman terhadap Zeydan Melik di dalam kegelapan sel isolasi tanpa menyampaikan sepatah kata pun pada Amira. Bagi Rayyan, masa lalu yang kotor itu tidak layak mencemari kedamaian wanita yang paling ia cintai.Rayyan mendorong pintu ganda peraduan pribadi dengan pelan. Suasana kamar terasa begitu sunyi, hanya dihiasi oleh pendar temaram lampu minyak dan hembusan angin malam dari celah jendela.Di tepi ranjang pualam, Amira duduk mematung. Wanita itu mengenakan gaun tidur sutra longgar, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang tertangkup kaku di atas pangkuan.Melihat sosok Amira yang jelita di bawah temaram cahaya, naluri posesif dan rasa rindu Rayyan seketika meledak. Pria itu melangkah mendekat tanpa suara, melucuti jubah luarnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Dari belakan







