ログインChris melengkungkan senyumnya sebelum menjawab, "Baru saja." Lalu pandangannya melewati pundak Elea dan sejenak bertatapan dengan El Noah. "Apakah aku datang di saat yang tepat? Sepertinya kalian sedang …" Chris tak melanjutkan kalimatnya. Menyadari ketegangan yang masih tersisa di wajah Elea."Tidak. Kami sudah selesai bicara. Masuklah. Aku harus ke atas." Elea mengangguk sekali dan berjalan melewati Chris.“Sepertinya ada masalah," gumam Chris ketika mengambil tempat duduk di samping El Noah.El Noah mendesah pelan, kerutan di kening menunjukkan benaknya yang berpikir lebih keras. "Kau pernah dekat dengannya, kan? Apakah menurutmu dia sedang ada masalah dengannya?"Chris menatap kerutan di antara kedua alis El Noah dan mengangguk. "Sebenarnya aku sempat mendengar pembicaraan kalian. Apakah ada masalah dengan perusahaan sehingga Elea harus meyakinkanmu kalau dia tak akan bercerai dengan Zhafra ?"El Noah menggeleng. "Semuanya baik-b
‘Pria yang menculikmu malam itu adalah putra dari Galena, yang sudah mendekam di rumah sakit jiwa berpuluh-puluh tahun karena perbuatan papamu.’ Kata-kata Galena memenuhi benaknya, sekali lagi menamparnya dengan keras. Ia tak pernah tahu masa lalu papanya. Seburuk apa pun itu, semua selalu tersembunyi dengan rapat di balik kasih sayang sang papa yang melimpahinya. Seolah taka da yang cacat dalam kehidupan papanya. Ya, mamanya memang pernah bercerita bahwa awal kisah cinta dan pernikahan keduanya tak cukup baik untuk dimulai. Tetapi kemudian kehadirannya dalam hidup mereka, membawa kebahagiaan yang begitu besar. Membuat ikatan pernikahan mereka semakin kuat dan bertahan hingga detik ini. Terkadang Elea merasa begitu iri pada mereka ketika melihat bagaimana cara papanya memandang mamanya. Penuh binar cinta dan hanya mamanyalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik perhatian papanya di antara banyaknya wanita lain yang ma
Tubuh Zhafran melayang, menyambar leher Fera hingga punggung wanita itu membentur pintu mobil yang terparkir di dekat mereka. Kedua pengacara pria yang berada di samping keduanya tak sempat memisahkan. Terutama dengan telapak tangan Zhafran yang sudah mencengkeram leher Fera, sengaja membuat wanita itu kesulitan bernapas."Aku sudah mengatakan padamu, kan?" desisnya tajam tepat di depan wajah Fera yang perlahan semakin memucat. Bersusah payah untuk bernapas, apalagi bicara. Kedua tangannya yang berusaha melepaskan cengkeraman itu sama sekali tak mengurangi tekanan Zhafran, yang tampaknya susah kehilangan kewarasan.Pada awalnya Fera masih tersenyum menikmati kemurkaan yang membakar kedua manik tajam Zhafran, tetapi senyum itu sepenuhnya raib begitu menyadari keseriusan pria itu untuk mematahkan lehernya dengan tangan pria itu sendiri.Paru-parunya sudah terasa mengkerut, wajahnya pucat pasi dan benar-benar butuh udara untuk bernapas. Kepalanya
Ketika Elea melangkah keluar, keberadaan mobil Zhafran yang terparkir di depan teras gedung membuatnya terkejut. Pria itu berdiri bersandar pada pintu mobil dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Melengkungkan senyum yang terlalu lebar hingga membuat seluruh tubuh Elea menegang waspada.“Hai, istriku.” Zhafran menurunkan kaca mata hitamnya dan membuka kedua lengannya ketika menghampiri Elea yang masih berdiri membeku di tengah teras. Menjadi pemandangan menakjubkan para wanita muda yang kebetulan melintasi dan Zhafran jelas menyukai semua perhatian tersebut. Di mana pun, Zhafran memang selalu menjadi pusat perhatian. “A-apa yang kau lakukan di sini?” Suara Elea terbata ketika Zhafran memeluk tubuhnya yang kaku, menunduk dan mendaratkan satu lumatan di bibir. “Kebetulan aku sedang makan siang di sini ketika sopirmu mengatakan kau di kantor papamu.”Elea melirik sopirnya yang masih bersiaga di tempat yang sama saat ia datang dua ja
“Kenapa kau begitu emosi, Elea. Aku hanya menukar lima. Kemungkinan kau minum pilmu sesuai jadwal jauh lebih besar dari keinginanku untuk membuatmu hamil. Apakah aku masih tidak cukup sabar menghadapi semua rengekanmu.”“Kau selalu egois, Zhafran. Kau selalu memikirkan dan memedulikan apa yang kau inginkan!”“Kau dan papamu yang memaksaku bertindak sejauh ini. Ingat?”“Aku tak akan bercerai denganmu. Apakah kau masih belum puas?”“Ya, kalau begitu tak ada alasan kau harus menolak hal semacam ini, kan? Cepat atau lambat kau harus mengandung anakku sebagai penerus keluarga. Kau tak mungkin mempertahankan jumlah keluarga kecil kita tetap 2 kan?”“Aku butuh waktu.”“Aku sudah memberikannya.” Zhafran mengedikkan bahunya masih dengan sikap santai. “Kau masih membutuhkan keluasan hatiku lebih banyak lagi?”Bibir Elea yang menipis semakin keras, dengan tatapan yang semakin menajam menusuk pada sikap tenang Zhafran. Pri
Setelah makan siang usai, Davina dan Elea membawa nampan makan siang untuk El Noah kamar tamu, yang tak mau bergabung di meja makan dengan Dirga.“Mama sudah membujuk papamu untuk menghentikan perjodohan itu, Noah,” tambah Davina. Menggoyang lengan sang putra yang tetap bergeming menatap jendela kamar. “Papamu akan segera bicara dengan keluarga Jeremia. Sekarang kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Lagipula itu hanya sebuah perkenalan. Belum ada pembicaraan serius di antara kedua keluarga. Kenapa kau jadi sensitif seperti perempuan hamil saja?”El Noah hanya menghela napas, menekan kesabaran terutama oleh perumpaan yang terasa dibuat-buat sang mama. Meski ia akan melakukan apa pun yang diinginkannya, tetap saja beban sebagai penerus keluarga tak bisa memberinya langkah lebih banyak. “Noah hanya butuh waktu, Ma. Lagipula di sini ada Elea. Noah juga selalu mengangkat panggilan mama setiap hari.”“Berapa lama kau akan kembali?”El
“Jika papaku tahu tentang kau dan Fera, itu akan menjadi akhir pernikahan kita. Tak ada lagi yang harus kupertahankan dengan kekecewaan yang akan diterima kedua orang tuaku,” peringat Elea begitu mobil berhenti di depan teras rumah. Wanita itu turun lebih dulu. Masuk ke dalam rumah dan
Elea yang berdiri di belakang Zhafran, tentu saja merasakan gerakan tersebut meski tak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Fera yang membuat wajah pria itu semakin memucat oleh kemarahan. “Elea?” Kepala Elea menoleh dengan panggilan familiar tersebut. Menemukan papa
“Kau pembunuh. Kau membunuhnya!” Suara Elea kembali memenuhi seluruh ruangan. Mata wanita itu menyorotkan kebencian yang begitu dalam dan pekat meski tak lagi meronta dan histeris, setelah tertidur selama beberapa jam oleh obat penenang.Zhafran sama sekali tak menyangkal tuduh
Seperti biasanya, Zhafran selalu berhasil menarik perhatian kebanyakan wanita lajang maupun paruh baya yang secara terang-terangan menawarkan putri mereka untuk sekedar mendapatkan perhatian seorang Zhafran Enzio. Yang sebelumnya pernah menyandang status sebagai bujangan paling dicari. Padahal su







