LOGINTepat ketika Elea baru saja memasuki lift ketika ponselnya berdering. Menampilkan nama Zhafran di layarnya. Sempat ada keraguan pria itu mengetahui kunjungannya ke sini, yang ternyata memang benar.
“Jadi apa yang dikatakan papamu?” Zhafran sama sekali tak membuang sedetik pun untuk berbasa-basi seperti yang biasa pria itu lakukan dengan menanyakan kabarnya. “Apakah memang hanya kesalahpahaman seperti yang kau katakan?”Setidaknya Elea merasa beruntung Zhafran menghubunginyaZhafran terkekeh. “Ya, memangnya dengan siapa lagi kita akan berbulan madu? Dengan keluargamu? Dengan keluargaku? Itu namanya liburan keluarga, Elea. Bukan bulan madu.”“Tapi, Zhafran kita …”“Kau juga ingin memperbaiki hubungan kita, kan?”Elea jelas tak punya pilihan untuk menentang keputusan tersebut. Memaksa kepalanya menganggk sebagai persetujuan.Senyum Zhafran melengkung lebih tinggi, tangannya terulur menggenggam tangan Elea. Mengusap-usapkan ibu jarinya di cincin pernikahan mereka yang melingkari jari manis sang istri. “Kira pasti akan berhasil melakukannya. Kebahagiaan dan cinta. Aku belum pernah seyakin ini.” Memberikan tekanan dalam genggamannya.Rahang Elea semakin terkatup dalam. Tak berani mengatakan apa pun dengan keyakinan pria itu. *** El Noah mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kamar tamunya bahkan lebih luas dari kamar tidurnya, yang langsung mengarah ke kolam renang di halaman sampi
Tepat ketika Elea baru saja memasuki lift ketika ponselnya berdering. Menampilkan nama Zhafran di layarnya. Sempat ada keraguan pria itu mengetahui kunjungannya ke sini, yang ternyata memang benar.“Jadi apa yang dikatakan papamu?” Zhafran sama sekali tak membuang sedetik pun untuk berbasa-basi seperti yang biasa pria itu lakukan dengan menanyakan kabarnya. “Apakah memang hanya kesalahpahaman seperti yang kau katakan?”Setidaknya Elea merasa beruntung Zhafran menghubunginya lewat ponsel. Sehingga pria itu tidak langsung berhadapan dengannya. Tidak bisa melihat wajahnya secara langsung. Ia hanya perlu memastikan suaranya terdengar meyakinkan, tanpa getaran sedikit pun. “Ya, Zhafran. Tentu saja. Seperti yang harapkan, semua ini hanya kesalah pahaman. El Noah tak benar-benar tahu apa yang dibicarakan.”Elea menunggu respon dari sang suami. Ia bahkan bisa membayangkan dengan jelas seringai yang tersungging di ujung bibir pria itu ketika mendengar jawabannya. S
Tangan Elea gegas terulur, memegang gagang pintu dan mendorong pintu ruang kerja papanya setelah mengetuk dua kali. Mencoba tak menggubris apa yang baru saja singgah di hatinya.Di dalam, Dirga sempat terkejut dengan kemunculan sang putri yang tiba-tiba tanpa janji temu. “Elea?”Elea menyeberangi ruangan, memasang senyum semanis mungkin mendekati sang papa yang beranjak dari kursi untuk menghampirinya.“Kenapa tidak memberitahu papa akan datang?” Dirga membawa tubuh mungil Elea ke dalam pelukannya, mendaratkan kecupan singkat di ujung kening. “Bisa saja papa memiliki janji temu. Akhir-akhir ini papa memiliki jadwal yang cukup padat.”“Maaf. Apakah sekarang Elea mengganggu …”“Tidak, sayang. Kau tak pernah mengganggu papa.” Dirga membawa sang putri duduk ke sofa panjang. “Kau ingin minum?”“Air putih saja.”Dirga mendekati mejanya, menekan tombol di intercom dan meminta sekretarisnya untuk membawakan minuman dan
“Kenapa wajahmu terlihat murung?” ejek El Noah melihat sang kakak yang melangkah masuk, sengaja memasang tampang kusut. Memastikan hanya ada mereka berdua sebelum melangkah lebih dekat ke ranjang pasiennya.“Aku sudah mengatakan padamu untuk menjaga mulutmu. Zhafran mendengar semuanya.”“Semuanya?”Elea menggeleng pelan, mengenyakkan tubuhnya di sandaran kursi. “Aku tak yakin seberapa banyak yang didengarnya, tapi … semalam dia mengatakan kau bermalam di rumah kami. Dan … tiba-tiba dia berencana …”“Berencana apa?” tanya El Noah melihat Elea yang tak menyelesaikan kalimatnya, malah sibuk dengan pikiran wanita itu sendiri. “Apakah dia mulai mengancammu tentang perusahaan papa?”Elea menggeleng dengan cepat.”D-dia … apakah ada masalah dengan perusahaan?”El Noah tak langsung menjawab. Tiba-tiba butuh sandaran di punggungnya. “Pasti ada alasan papa tiba-tiba memperkenalkanku dengan Yeremia, kan? Dia putri tunggal tuan Fran
Tak butuh lebih dari dua menit, tubuh telanjang keduanya bergulung di tengah tempat tidur. Cara Zhafran menyentuhnya semakin panas dan penuh gairah. Memaksa pikiran Elea sepenuhnya dipenuhi oleh sang suami. Tak memberinya kesempatan untuk menolak hasrat Zhafran yang semakin memuncak. Memenuhi dirinya dengan cara yang lembut seperti yang selalu dilakukan pria itu. Menggoda hasratnya ikut naik ke permukaan. Dan seperti yang sudah-sudah, keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.Ketika semuanya telah selesai, Zhafran mendaratkan satu kecupan di kening Elea yang berkeringat. Kemudian melepaskan diri dari tubuh Elea dan berguling ke samping, tanpa melepaskan lengannya dari tubuh sang istri.“Terima kasih, Elea,” bisik Zhafran. Dengan wajah yang tenggelam di antara helaian rambut sang istri. Elea tak menjawab, lebih sibuk mengembalikan napasnya yang sama terengahnya dengan napas Zhafran di belakang telinganya. Lengan pria itu terselip di balik tengkukn
“Ya, itu ide yang bagus,” seru Davina. Memecah kebekuan Elea, juga tatapan Dirga yang melekat pada Zhafran. “Sudah sebulan lebih sejak keguguran Elea. Sepertinya sekarang memang saat yang tepat untuk hamil kembali.”“Ma?” panggil Elea dengan nada yang berat. Tetapi tak berani menolak dengan keantusiasan sang mama. “Ini terlalu cepat. Elea tak ingin terburu-buru.”“Sebulan adalah waktu yang lama, Elea. Itu juga akan memperbaiki perasaan bersalahmu. Sejak keguguran itu kau terlihat lebih murung. Kau selalu mengatakan semuanya baik-baik, tapi mama memahami perasaanmu. Jika kau hamil dan fokus pada kehamilanmu, perlahan kau akan melupakan semuanya.”Mulut Elea yang membuka kembali tertutup, tak tahu harus menjawab apa dengan desakan Zhafran yang seolah sengaja untuk menyudutkannya di hadapan mama dan papanya.Berbanding terbalik dengan keriangan yang ditampilkan Davina, Dirga sibuk mengamati ekspresi sang menantu. Ada seringai licik yang sen
“Kau masih perlu membahasnya?” “Tidak. Tapi aku akan terus memastikan keadaan baik-baik saja. Di setiap menitnya. Jangan sampai kita kehilangan kontak lagi. Aku akan mengirim pesan padamu di setiap jam, jika kau terlambat membalas pesanku, aku tahu ada yang tak beres denganmu.” “Kau berlebihan, Da
Davina kembali menengok keluar di sekitar mobil. Menatap pintu utama gedung tinggi dan Dirga masih juga tidak muncul dari sana. Entah sudah berapa lama ketika Dirga memarkirkan mobil di depan halaman gedung dan meninggalkannya bersama beberapa pengawal yang sudah menunggu sejak mereka datang. Ada du
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?” cecar Dirga begitu Reyna duduk di kursi penumpang. Wajahnya menoleh ke samping dengan raut datar, sungguh berniat tak ingin membuat perdebatan tak berarti dengan wanita itu mengingat apa yang sudah dilakukan Reyna di meja makan atas Davina. Cukup jelas b
Gemericik air dari dalam kamar mandi membangunkan Davina. Mengerang pelan, ia bangun terduduk dan menurunkan kedua kakinya. Menatap cahaya matahari yang menyelinap di balik gorden yang sudah setengah terbuka sebelum kemudian pandangannya beralih pada pintu kamar mandi. Suara gemericik air berhenti,







