LOGINhuhu kenapa sih kalau minta di update yang banyak malah pada spaaaam nya ke sossmedd aku, bukan pada nerorrrrnya di komentarrrr aja lho, aku suka disuruhh update yang banyak, makanya komentarnya juga yang banyak bisa kaaan, apalagi kalau di ulasaan T_T
Di tempat lain, Laura duduk di dalam mobil sambil memandangi layar ponselnya. Senyum tipis muncul ketika melihat unggahan tentang pertemuannya dengan Javendra mulai menyebar. Beberapa akun lain sudah mengutip foto yang sama. Komentar-komentar bernada curiga pun terus bertambah, tepat seperti yang ia harapkan. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang yang membantunya menyebarkan foto tersebut. (Unggahannya mulai ramai. Apa kita lanjutkan ke media lain?) Laura mengetik balasan tanpa ragu. (Jangan terlalu cepat. Biarkan orang-orang membicarakannya dulu. Setelah itu, sebarkan lagi dengan narasi yang membuat istrinya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.) Ia mengirim pesan itu, lalu membuka foto Sasa yang tersimpan di galeri ponselnya. "Silakan saja kalian saling percaya," gumam Laura sambil memperbesar foto tersebut. "Aku hanya perlu membuat kepercayaan itu retak sedikit demi sedikit." Ia tahu Sasa belum tentu langsung mempercayai tuduhannya. Karena itu, ia tidak
Rani membuka pintu sambil membawa segelas air hangat. Ia baru melangkah beberapa langkah ketika melihat Sasa duduk bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang tampak murung. "Nyonya belum sarapan?" Rani meletakkan gelas di atas nakas. "Saya tadi sudah meminta dapur menyiapkan makanan kesukaan Nyonya." "Nanti saja, Ran. Aku belum lapar." Rani memperhatikan wajah majikannya. "Nyonya kurang enak badan?" "Enggak. Aku cuma belum ingin makan." Rani tidak langsung menjawab. Selama mendampingi Sasa, ia cukup mengenal perubahan suasana hati perempuan itu. Sasa biasanya tetap berusaha makan meskipun sedang tidak berselera, terlebih karena kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nyonya?" tanyanya hati-hati. Sasa menggeleng kecil. "Enggak ada apa-apa." Rani mengangguk, tetapi matanya sempat menangkap layar ponsel Sasa yang kembali menyala. Nama akun gosip itu masih terlihat di bagian atas notifikasi. Ia tidak berniat ikut campur. N
Di tempat lain, Laura duduk di kursi belakang sebuah mobil yang membawanya meninggalkan gedung Maheswara Group. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan setelah dipermalukan dan diusir oleh Javendra. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah disimpannya sejak beberapa hari lalu. (Bagaimana hasilnya?) Laura mengetik balasan dengan cepat. (Dia menolak membantuku. Aku juga sudah mengancam akan memberi tahu istrinya.) Beberapa saat kemudian, pesan baru muncul. (Kalau begitu, kirim fotonya. Jangan menunggu terlalu lama.) Laura tersenyum tipis. Ia membuka folder berisi beberapa foto yang sudah disiapkannya sebelum mendatangi kantor Javendra. Foto-foto itu diambil dengan sudut yang sengaja dipilih agar kejadian di ruang kerja terlihat berbeda dari kenyataannya. Tidak ada satu pun gambar yang menunjukkan bagaimana Javendra memintanya pergi atau bagaimana ia sendiri merusak pakaiannya. Laura memilih beberapa gambar, kemudian mengirimkannya kepada orang yan
Ia segera mengusapnya dengan punggung tangan, lalu meletakkan ponsel di atas sofa. Ia tidak ingin larut dalam pikiran buruk sebelum mendengar penjelasan dari suaminya sendiri. Namun, meski berusaha mengalihkan perhatian dengan mengambil buku yang terletak di meja kecil, pikirannya terus kembali kepada foto-foto tersebut. Sasa menatap pintu kamar, berharap Javendra segera pulang. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari pria itu. Ia ingin memastikan bahwa semua yang dilihatnya tidak seperti yang ia bayangkan. Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah ketakutan mulai tumbuh. Bagaimana jika ada sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui tentang suaminya? Sasa memejamkan mata, berusaha mengendalikan perasaannya. Ia tidak ingin menuduh Javendra tanpa bukti yang jelas, tetapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa foto-foto itu sama sekali tidak menyakitinya. Di luar kamar, Rani yang baru selesai berbicara dengan salah satu pelayan melihat Sasa duduk sendirian dengan wajah murung. "Nyony
Javendra menatap Laura beberapa saat setelah mendengar ancaman terakhir wanita itu. Ia tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak, tetapi perubahan sorot matanya cukup membuat Laura kehilangan sebagian keberaniannya. "Kau benar-benar ingin menghancurkan dirimu sendiri hanya untuk membalas dendam kepadaku?" tanyanya dingin. Laura mengangkat dagu, berusaha mempertahankan keberaniannya meskipun kedua tangannya mulai berkeringat. "Aku tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi kepadaku. Papi sudah kau jebloskan ke penjara, semua yang kami miliki terancam hilang, sementara kau masih bisa hidup bahagia bersama istrimu. Menurutmu, aku akan membiarkan itu terjadi begitu saja?" Javendra mengembuskan napas pendek, lalu melirik Bram yang berdiri tidak jauh darinya. "Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak bisa mengganggu siapa pun di gedung ini tanpa izin." "Baik, Tuan." Bram segera memberi isyarat kepada dua petugas keamanan. Mereka mendekati Laura, tetapi wanita itu masih berusaha menund
Ia melepaskan tombol itu, kemudian menatap Laura. "Aku tidak akan mengulangi perintahku. Kenakan pakaianmu sebelum Bram masuk." Laura buru-buru menyambar dress merahnya. Tangannya bergerak cepat untuk mengenakannya kembali, tetapi rasa panik membuat gerakannya tidak teratur. Ia tahu Bram akan segera masuk. Jika wanita itu keluar dari ruangan begitu saja, ia tidak akan mendapatkan apa pun dari kedatangannya. Pikirannya bergerak cepat mencari cara lain. Ketika mendengar langkah kaki mendekati pintu, Laura tiba-tiba mencakar lengannya sendiri hingga meninggalkan bekas kemerahan. Ia juga mengacak rambutnya, lalu mengusap wajahnya agar riasannya tampak berantakan. Javendra melihat tindakan itu dengan tatapan tidak percaya. "Berhenti melakukan hal bodoh itu, Laura." Namun, Laura tidak menghiraukannya. Ia justru terus merapikan dress-nya sambil mengatur napas, berusaha membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang baru saja mengalami kejadian buruk. Tepat ketika pintu t
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar







