MasukPintu mobil yang tertutup rapat menjadi saksi bisu saat gejolak gairah mereka akhirnya mencapai puncaknya. Napas Javendra dan Sasa beradu memburu di dalam kabin yang hangat. Javendra mengecup kening Sasa yang berkeringat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sasa untuk menetralkan debar dadanya. Dengan telaten, Javendra merapikan pakaian Sasa yang berantakan, memasangkan kancing bajunya satu per satu, lalu memeluk tubuh mungil itu sampai napas Sasa kembali teratur. Setelah memastikan Sasa nyaman, Javendra memindahkan Sasa kembali ke kursi penumpang di sampingnya dan melajukan mobil membelah keheningan malam menuju kediaman mereka. ** Keesokan harinya, Javendra harus berangkat sangat pagi untuk memimpin rapat darurat bersama tim keamanan Maheswara Group terkait pengamanan ketat acara pertunangan mereka pekan depan. Sebelum pergi, Javendra sempat mengecup kening Sasa dan berpesan agar gadis itu tetap berada di dalam rumah. Siang harinya, Sasa merasa bosan di dalam rumah. Ia melan
WARNING! ***Javendra tidak membiarkan Sasa memprotes lebih jauh. Pria itu langsung menunduk, meraup bibir Sasa dalam ciuman yang intens dan penuh gairah. Sasa sempat menahan napas sebelum akhirnya menyerah, membalas tautan bibir Javendra dengan remasan pelan pada kemeja pria itu. Tangan Javendra bergerak makin posesif di tubuh Sasa, menempelkan dada mereka hingga tak tersisa jarak. Namun, saat sentuhan Javendra terasa kian membakar, Sasa tiba-tiba teringat di mana mereka berada. Dengan napas terengah, ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Javendra lalu mendorongnya pelan. "Mas... sudah," bisik Sasa serak, memalingkan wajahnya yang memerah padam. "Aku tidak mau di sini. Aku malu, takut ada orang." Javendra terkekeh rendah, menyunggingkan senyum miring yang meledek. "Malu kenapa, hm? Tempat ini sudah disewa, tidak akan ada yang berani masuk." "Tapi aku serius, Mas Javen!" potong Sasa dengan raut wajah bersungguh-sungguh, matanya bergerak gelisah menatap sekeliling aula
WARNING!!Dekapan hangat Javendra di dalam mobil yang melaju tenang malam itu perlahan menenggelamkan sisa kegelisahan Sasa. Hembusan napas teratur pria itu di puncak kepalanya memberikan rasa aman yang amat pekat. "Kita tidak langsung pulang ke rumah," bisik Javendra pelan, mengusap bahu Sasa yang masih bersandar di dada bidangnya. Sasa mendongak sedikit, menatap rahang tegas pria itu dari bawah. "Mau ke mana, Mas?" Javendra menyunggingkan senyum tipis yang amat menawan. "Ke griya tempat pesta pertunangan kita pekan depan. Aku ingin kamu melihat dekorasi utamanya secara langsung malam ini. Para perancang ingin kamu memastikan pencahayaan dan penataan bunganya sesuai selera kamu." Mata Sasa berbinar lembut. "Bukannya ini sudah terlalu malam, Mas Javen?" "Untukmu, tidak ada istilah terlalu malam," jawab Javendra santai, meraih jemari Sasa dan mendaratkan kecupan lembut di sana. Setibanya di pelataran aula megah berbintang lima tersebut, suasana terasa tenang dan privat. Jav
Berita mengenai pesta pertunangan megah yang akan digelar pekan depan antara Javendra Maheswara dan Sasmaya Larasati kian gencar menghiasi lembaran majalah bisnis dan portal berita elit ibu kota. Nama Sasmaya Larasati seketika menjadi sorotan utama, sosok wanita muda yang berhasil meluluhkan hati seorang chief executive officer dingin nan dominan yang selama ini dikenal tak tersentuh. Namun di balik hiruk-pikuk kekaguman publik, kemurkaan hebat sedang membakar jiwa Nyonya Amara. Di dalam sebuah kontrakan petak yang sempit dan pengap di pinggiran kota—tempat tinggal terbarunya setelah seluruh akses kemewahan dicabut—Amara mencengkeram ponsel murahnya erat-erat. Cahaya dari layar ponsel memantulkan raut wajahnya yang tirus. Kipas angin gantung yang berderit bising di atas kepalanya sama sekali tidak mampu mendinginkan otaknya yang mendidih. "Kurang ajar!" geram Amara dengan napas berburu. Kaki berbalut sandal rumahan itu menghentak lantai keramik polos yang dingin. "Berani-b
Berita mengenai rencana pesta pertunangan megah antara Javendra Maheswara dan Sasmaya Larasati yang akan digelar dalam kurun waktu satu pekan mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan elite ibu kota. Javendra tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu mengerahkan tim manajemen acara terbaik untuk menyiapkan seluruh detail pesta di ballroom hotel bintang lima miliknya. Di kediaman barunya, Sasa duduk di sofa ruang tengah bersama dua orang perancang busana ternama pilihan Javendra. Di atas meja kaca, tersebar puluhan sampel kain premium dan sketsa gaun malam yang mewah namun tetap memancarkan kesan anggun dan elegan. "Saya rasa sketsa nomor tiga ini sangat cocok dengan potongan bahu Non Sasa," ujar sang perancang busana seraya menunjukkan sebuah sketsa gaun berwarna sampanye dengan detail payet halus. "Sederhana, tetapi sangat mewah saat terkena pencahayaan pesta." Sasa menatap sketsa itu dengan binar mata kagum, jemarinya menyapu lembut kain sutra yang menjadi sampel. Namu
Siang harinya, Javendra memutuskan untuk mengosongkan jadwal kantornya. Pria itu memboyong Sasa untuk berkencan, sebuah hal yang sangat jarang dilakukan oleh seorang Javendra Maheswara yang gila kerja. Mereka menghabiskan waktu menyusuri toko buku tua kesukaan Sasa, berjalan beriringan di area taman privat, hingga menikmati makan siang di sebuah kafe kaca yang tenang di pinggir kota. Javendra tak segan memegang erat jemari Sasa sepanjang jalan, mengusap punggung tangannya, dan membisikkan kata-kata manis yang terus membuat Sasa merona. "Sayang, sebenarnya tadi aku sedikit mengobrol dengan Bi Lastri tentang rencana pernikahan kita," ujar Javendra membuka suara di sela-sela makan siang mereka, menatap Sasa lekat-lekat. Sasa yang sedang memegang cangkir tehnya menoleh, menatap Javendra dengan binar rasa ingin tahu. "Oh begitu, lalu apa kata Bi Lastri, Mas?" "Bi Lastri usul agar kita melangsungkan pesta pertunangan resmi terlebih dahulu sebelum akad nikah," terang Javendra pelan. "
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







