LOGINAmara berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya berpindah dari wajah Kenzo yang menyimpan noda darah di ujung bibir, ke tangan Javendra yang masih mengepal. Ia tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk menebak apa yang baru saja terjadi. Amara menghela napas, lalu mendekat. “Kalian sudah bukan anak kecil lagi. Bertengkar seperti ini tidak akan menyelesaikan ego kalian.” “Dia yang mulai, Bu,” ujar Javendra. Kenzo langsung mendengus. “Kamu yang memukulku!” “Karena kamu tidak bisa berhenti bicara!” “Javendra!” tegur Amara. Pria itu langsung menutup mulut, meskipun wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan. Amara kemudian menatap Kenzo. “Dan kamu juga. Apa tidak bisa kalian membicarakan masalah tanpa saling memancing sampai begini?” Kenzo mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya memang sudah melampaui batas, terlebih setelah menyadari alasan di balik kecemasannya sendiri. Amara mengamati keduanya bergantian sebelum kembali menghela napas. “
“Kalau kamu masih ingin mengurus Sasa seperti ini, sekalian saja ambil alih semua tanggung jawabku!” bentak Javendra. “Kamu yang mengawasinya, kamu yang memutuskan semuanya. Aku tinggal menyingkir, begitu?” “Jangan memutarbalikkan ucapanku!” “Lalu apa namanya kalau bukan itu?” Javendra tertawa sinis. “Sejak tadi kamu terus menyalahkanku, mempertanyakan keputusanku, bahkan seolah-olah aku sengaja membiarkan Sasa berada dalam bahaya. Apa kamu pikir aku tidak tahu betapa besar risiko yang dia hadapi tadi?” “Kalau kamu tahu, seharusnya kamu lebih berhati-hati!” “Aku sudah mengakui kelalaianku, Kenzo! Aku juga sudah mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini. Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” “Memastikan hal seperti ini tidak terulang!” “Dan aku sedang melakukannya!” Suara mereka mulai menarik perhatian beberapa orang yang melintas di lorong rumah sakit. Namun, keduanya terlalu dikuasai emosi untuk memedulikannya. Kenzo maju selangkah. Tatapannya menusuk, seolah b
"Tenanglah, Kenzo, kamu tahu aku takkan bicara sampai kamu bisa menenangkan dirimu." "Aku tidak bisa tenang!" Javendra menghela napas. Dulu dia sama seperti Kenzo, namun sekarang Javendra lebih bisa bersikap tenang. “Begini, logikanya setelah mereka dipecat, apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kamu membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa memastikan masalahnya selesai secara hukum?” Kenzo melontarkan pertanyaan demi pertanyaan. “Kamu tidak berpikir mereka bisa menyimpan dendam? Kamu tidak mempertimbangkan kemungkinan mereka mencari Sasa lagi?” Rahang Kenzo mengeras. Ia berusaha menjaga suaranya agar tidak terlalu keras, tetapi kemarahannya sulit disembunyikan. “Kalau Bram dan para pengawal terlambat beberapa menit saja, apa yang akan terjadi pada Sasa? Mereka sudah mengancam akan menyayat perutnya! Bagaimana kalau pisau itu benar-benar melukai Sasa atau bayinya? Apa yang akan kamu lakukan kalau sesuatu yang tidak bisa diperbaiki terjadi pada mereka?” Javendra tetap d
Sasa menunduk. Ia tidak ingin mengingat kembali kejadian yang membuatnya ketakutan setengah mati itu. Javendra mengangguk dengan wajah muram. “Aku dan para pengawal sempat tertahan di luar karena pintunya dikunci dari dalam. Saat itu, beberapa petugas parkir juga membuat para pengawal teralihkan. Kami kehilangan beberapa menit untuk masuk, padahal Sasa berada dalam bahaya.” Kenzo menatapnya tajam, tetapi kali ini ia tidak menyela. “Kami berusaha membuka pintu, tetapi tidak berhasil. Begitu melihat Ibu berada di luar, perhatian Bi Surti teralihkan. Bram langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang tangannya sampai pisau tersebut terlepas. Aku melompati meja kasir dan melumpuhkan Juwita, lalu segera membawa Sasa keluar.” “Pisau itu sempat melukai Sasa?” tanya Kenzo cepat. “Tidak sampai melukai tubuhnya. Namun, ancaman mereka membuat Sasa sangat ketakutan. Saat kami berada di mobil, dia mulai merasakan nyeri dan kram pada rahimnya. Aku langsung membawanya ke IGD.” K
Pintu kaca tebal ruang perawatan VVIP terbuka lebar ketika Kenzo mendorongnya dengan tergesa. Ia melangkah masuk dan langsung mencari sosok yang ingin ditemuinya. Pandangan Kenzo segera menemukan Javendra yang berdiri di dekat sofa ruang tunggu. Pria yang memimpin Maheswara Group itu tampak gelisah. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, sementara ponsel masih tergenggam di tangan lainnya. Kenzo langsung menghampirinya. “Bagaimana bisa kamu lengah lagi menjaganya, Javendra?!” bentaknya dengan nada rendah yang sarat kemarahan. Javendra menghentikan gerakan tangannya, lalu berbalik menghadap Kenzo. Ia tidak membalas dengan nada tinggi. Wajahnya tampak lelah, seolah kejadian yang baru dialaminya masih membebani pikirannya. “Aku akan jelaskan semuanya, Kenzo. Duduklah dulu. Jangan membuat keributan di ruang perawatan.” “Kak Kenzo.” Suara Sasa membuat Kenzo mengalihkan pandangan. Adiknya itu terbaring di ranjang dengan selang infus terpasang di tangannya. “Jangan marah-ma
Amara beberapa kali berdiri untuk melihat pintu, lalu kembali duduk ketika tidak ada kabar. Ia tidak sanggup memikirkan hal lain. Perhatiannya hanya tertuju pada lampu merah di atas pintu ruang tindakan. Javendra bahkan tidak menyentuh ponselnya. Beberapa panggilan masuk, tetapi ia membiarkannya berdering. Untuk sementara, tidak ada urusan yang lebih penting daripada Sasa dan bayi mereka. Hampir satu jam kemudian, lampu indikator akhirnya padam. Javendra langsung menegakkan tubuh. Ketika pintu terbuka dan Dokter Rini keluar, ia segera menghampirinya. "Bagaimana keadaan mereka?" Dokter Rini tampak lelah, tetapi ekspresinya cukup tenang. "Kondisi Nyonya Sasa sudah stabil, Tuan. Janinnya juga masih dalam kondisi baik." Amara segera berdiri. "Sasa sudah aman, Dokter?" "Untuk saat ini, kondisinya stabil. Kami sudah melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan untuk mengurangi keluhannya. Namun, kami masih perlu memantau kondisinya." Amara mengembuskan napas panjang. Ta
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa







