LOGINUdara di lorong lantai lima Rumah Sakit Medika Utama mendadak terasa begitu membeku. Suara denting alat medis dari ruang perawatan intensif yang berbunyi secara berkala seolah tenggelam oleh ketegangan tinggi di antara dua orang yang berdiri berhadapan itu. Javendra berdiri terpaku, tangannya yang meremas ponsel pribadi Sasa bergetar pelan. Matanya yang merah menatap Sasa dengan campuran rasa panik dan amarah yang meledak-ledak. Di sisi lain, Sasa berdiri tegap menempel pada dinding kaca tebal. Wajahnya memang pucat pasi dan air mata masih menetes basah di pipinya, namun sorot matanya tidak memperlihatkan ketakutan seorang wanita lemah yang mudah ditundukkan. Sasa bukanlah wanita bodoh. Rentetan trauma dan pahitnya penderitaan masa lalu telah membentuk pikirannya menjadi sangat peka. Panggilan telepon dari pria tak dikenal tadi memang terdengar provokatif dan penuh niat jahat untuk mengadu domba, tetapi reaksi berlebihan Javendra saat merampas ponselnya secara kasar justru
Sasa langsung menekan tombol merah di layar ponselnya secara kasar, mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Dadanya naik turun dengan napas yang tersengal-sengal. Pikiran Sasa mendadak kacau balau. Kalimat-kalimat dari pria misterius di telepon itu berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan racun yang mematikan. Sasa mencoba menolak mentah-mentah ucapan pria itu, tetapi ingatan tentang kejadian tadi pagi mendadak berkelebat di benaknya. Raut wajah Javendra yang mendadak sangat pucat dan marah setelah membaca pesan di ponselnya... Perilaku Javendra yang mendadak sangat tegang dan memaksanya untuk tidak perlu tahu... Genggaman tangan Javendra yang terasa terlampau kuat dan posesif... Serta kedatangan puluhan pengawal tambahan yang mendadak mengurung area rumah sakit ini... Apakah... apakah benar ada hal besar yang sengaja disembunyikan Javendra darinya? Sasa menyandarkan punggungnya di dinding kaca, memegang dadanya yang terasa
Penerjemah menyampaikan pertanyaan Sasa kepada Dr. Weber. Dokter berambut perak itu tersenyum hangat, lalu menjawab dalam bahasa Jerman yang kembali diterjemahkan. "Selalu ada harapan, Nona," jawab penerjemah menyampaikan kalimat Dr. Weber. "Kami akan memulai tahap observasi dan injeksi obat penstabil fungsi saraf siang ini juga. Jika tubuh Ibu Anda merespons dengan baik dalam dua puluh empat jam ke depan, kita bisa melihat tanda-tanda perkembangan positif." Mendengar penjelasan itu, pertahanan emosi Sasa runtuh seketika. Air mata kebahagiaan menetes deras membasahi pipinya. Rasa syukurnya begitu besar hingga tubuhnya gemetar pelan. Javendra yang berdiri di samping Sasa langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Sasa erat-erat di depan rombongan dokter, membiarkan Sasa menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Javendra mengelus punggung Sasa dengan sangat mesra. Jemarinya menghapus selapis air mata yang jatuh di pipi Sasa dengan mengusapnya penuh kelembutan. "
Javendra berjalan cepat menuju sudut lorong yang sepi, jauh dari jangkauan ruang tunggu Sasa maupun pos penjagaan utama. Bram melangkah lebar mengekor di belakang atasannya dengan raut wajah tenang namun siaga. Javendra menghentikan langkahnya di depan jendela kaca besar yang menghadap ke area halaman luar rumah sakit. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pribadinya, lalu melempar benda itu tepat ke dada Bram. Bram menangkap ponsel itu dengan refleks cepat. "Lihat isi pesan terakhir di sana," perintah Javendra tegas. Bram membuka kunci layar ponsel yang sudah disesuaikan oleh Javendra. Pria berjas abu-abu itu membaca baris demi baris tulisan di dalam pesan anonim tersebut, lalu membuka dokumen-dokumen berstempel hukum yang terlampir di dalamnya. Dahi Bram berkerut dalam. Semakin jauh ia membaca, semakin tegang garis bibirnya. "Dokumen pengalihan hak asuh dan penguasaan kembali aset warisan Sasmaya Larasati?" gumam Bram tak percaya. Ia menengadahkan kepala menatap Jav
Iring-iringan tiga mobil melaju membelah padatnya arus lalu lintas pagi kota Jakarta. Di dalam kabin mobil tengah yang kedap suara, udara terasa begitu dingin oleh hembusan pendingin udara. Javendra tidak pernah sekali pun melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sasa. Ibu jarinya terus bergerak mengelus punggung tangan Sasa, tetapi usapan itu terasa tidak tenang. Ada getaran halus dan ketegangan terselubung yang terpancar dari setiap gerakan jemarinya. Sasa menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Javendra. Tangannya yang satu lagi naik, mengusap pelan lengan kemeja putih Javendra yang terlipat rapi. "Mas Javendra," panggil Sasa dengan suara sangat lembut. Javendra menoleh seketika. "Iya, Sayang? Ada yang sakit? Kepala kamu pusing lagi?" Sasa menggeleng pelan di bahu Javendra. Ia menatap ke arah jendela depan, memperhitungkan jarak mobil pengawal di depan mereka yang melaju sangat rapat. "Aku tidak apa-apa, Mas," tutur Sasa. Ia meremas pelan jemari Javendra. "Cuma... kenapa pe
"Aku baru saja menerima bukti dokumen hukum yang sedang disusun oleh tim pengacara Kenzo," pangkas Javendra cepat. "Pria itu ingin merebut kembali hak atas Sasa dan menguasai peninggalan Almarhumah Ibu Sasmaya secara sepihak." "Apa?!" teriak Bram terkejut. "Maaf, Tuan, saya kaget. Tapi bukankah kemarin Tuan Kenzo sendiri yang berjanji tidak akan mengganggu Nona Sasa lagi?" "Janji seorang Pratama tidak ada harganya, Bram!" tegas Javendra. "Sekarang dengarkan instruksiku baik-baik." "Siap, Tuan." "Perketat seluruh pengawasan di sekitar Sasa," perintahkan Javendra. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang asing atau perwakilan dari keluarga Pratama yang boleh mendekati Sasa dalam radius seratus meter. Jika kamu melihat orang-orang Kenzo atau perantara mereka mencoba menghubungi Sasa, langsung amankan dan jauhkan secara paksa!" "Baik, Tuan Javendra. Perintah dimengert," sahut Bram mantap. "Bagaimana dengan pengamanan di Rumah Sakit Medika Utama untuk Ibu Andini?" "Tingkatk
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi







