เข้าสู่ระบบSasa memperhatikan suaminya dengan senyum yang semakin lebar. Ada sesuatu yang selalu terasa mengharukan setiap kali melihat Javendra berbicara kepada calon bayi mereka. Pria yang biasanya begitu tegas ketika berhadapan dengan orang lain itu bisa berubah lembut hanya karena memikirkan anak yang bahkan belum pernah ia gendong. “Ayah dan Ibu baru saja pulang dari rumah sakit,” lanjut Javendra. “Hari ini kami mendapat kabar yang cukup baik tentang seseorang yang sangat kami sayangi. Jadi, kamu harus ikut mendoakan agar beliau segera pulih, ya.” Sasa mengusap rambut suaminya. “Mas, jangan-jangan nanti anak kita lebih mengenal suara Ayahnya daripada suara Ibunya.” Javendra mendongak. “Memangnya kenapa?” “Karena setiap ada kesempatan, Mas selalu mengajaknya bicara.” “Kalau begitu, kamu juga harus sering mengajaknya bicara.” Sasa tersenyum jahil. “Baiklah. Tapi nanti kalau dia lahir dan lebih suka ikut Ayahnya, jangan protes.” Javendra tertawa kecil, lalu kembali menunduk. “Nak, k
Sasa menoleh, mendapati wajah Javendra berada tidak jauh dari wajahnya. “Mas Javen tidak punya pekerjaan lagi sore ini?” tanyanya. “Semua dokumen yang harus diselesaikan sudah aku serahkan kepada Bram dan jajaran direksi. Kalau ada hal mendesak, mereka bisa menghubungiku.” “Jadi, Mas benar-benar sengaja mengosongkan jadwal?” “Ya.” “Untuk tidur siang?” “Untuk menemani istriku tidur siang.” Sasa tersenyum geli. “Mas sekarang jadi lebih manja daripada aku.” Javendra mengangkat alis. “Apa kamu keberatan?” “Tidak.” Sasa menggeleng sambil tersenyum. “Aku hanya belum terbiasa melihat Mas Javen yang biasanya sibuk bekerja sekarang malah ingin terus berada di dekatku.” Javendra terdiam sejenak. Tatapannya melembut ketika ia mengamati wajah Sasa. “Mungkin karena dulu aku terlalu sering menganggap waktu sebagai sesuatu yang bisa diatur sesuka hati. Aku selalu berpikir pekerjaan harus diselesaikan lebih dahulu, sedangkan waktu bersama keluarga bisa dilakukan nanti.” Ia mengangkat ta
Amara kemudian memandang Sasa yang duduk di samping Javendra. “Nak, kamu sudah melakukan banyak hal untuk keluarga ini. Ibu tahu kamu sangat menyayangi Bu Andini. Tapi jangan merasa harus terus berada di rumah sakit setiap saat. Kamu juga perlu beristirahat dan menjaga kehamilanmu.” Sasa menatap Amara dengan mata lembut. “Aku mengerti, Bu. Aku akan tetap datang menjenguk Ibu, tapi aku juga akan berusaha menjaga kesehatan.” “Janji?” “Janji.” Amara tersenyum, lalu mengusap punggung tangan menantunya. “Nah, begitu. Ibu ingin kamu tetap sehat sampai nanti waktunya cucu Ibu lahir. Ibu ingin melihat kalian berdua baik-baik saja.” Ucapan itu membuat Sasa kembali tersenyum. Kehangatan yang ia rasakan di mansion tersebut menjadi pengingat bahwa kini ia memiliki keluarga yang tidak hanya mengharapkannya untuk bertahan, tetapi juga bersedia merawatnya ketika ia merasa lelah. Setelah memastikan Sasa menghabiskan minumannya, Amara tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, ya, Sasa. Nant
Perjalanan menuju mansion utama keluarga Maheswara berlangsung cukup tenang. Sasa duduk bersandar di kursi penumpang, sesekali memandang jalanan dari balik jendela. Mobil melaju melewati deretan bangunan dan pepohonan yang mulai disinari matahari sore. Javendra beberapa kali meliriknya. “Kamu masih memikirkan Ibu?” tanyanya ketika melihat Sasa terdiam cukup lama. Sasa mengangguk pelan. “Aku masih teringat gerakan tangannya tadi. Waktu aku bercerita tentang kehamilanku, jemarinya seperti menggenggam tanganku.” “Kita sudah mendengar penjelasan dokter. Respons itu memang belum bisa memastikan Ibu sadar, tetapi setidaknya ada perkembangan yang bisa kita pantau.” “Aku tahu.” Sasa tersenyum tipis. “Aku hanya ingin Ibu segera membuka mata. Aku ingin beliau tahu kalau semuanya mulai membaik.” Javendra meraih tangan istrinya yang terletak di atas pangkuan, kemudian menggenggamnya dengan hangat. “Ibu akan mendapatkan kesempatan untuk mengetahui semuanya. Untuk sekarang, kamu cuku
Pintu ruang perawatan intensif terbuka setelah dua dokter spesialis saraf bersama tiga perawat senior memasuki ruangan dengan langkah cepat. Mereka segera mendekati ranjang tempat Bu Andini terbaring, sementara dokter utama mengambil posisi di sisi kanan pasien untuk memulai pemeriksaan lebih lanjut. “Periksa respons pupil dan refleks motoriknya. Saya ingin melihat perubahan aktivitas saraf sejak laporan terakhir,” instruksi dokter utama kepada salah seorang perawat. “Baik, Dokter.” Perawat itu segera menyiapkan peralatan pemeriksaan. Dokter utama mengarahkan cahaya senter medis ke mata Bu Andini, mengamati reaksinya dengan saksama, kemudian memeriksa respons pada bagian tubuh lainnya. Di sisi ranjang, seorang perawat memeriksa monitor yang menampilkan detak jantung, tekanan darah, dan sejumlah parameter vital pasien. Javendra merangkul bahu Sasa, membimbing istrinya mundur beberapa langkah agar tim medis bisa bekerja dengan leluasa. Meski berusaha menenangkan diri, Sasa tidak ma
Setelah sarapan selesai, Sasa kembali ke kamar untuk bersiap-siap. Javendra juga menyelesaikan beberapa urusan singkat sebelum menemui istrinya. Sementara itu, Amara meminta Bi Lastri menyiapkan buah-buahan untuk dibawa ke rumah sakit. Sekitar satu jam kemudian, sebuah sedan hitam yang dikemudikan pengawal pribadi Javendra memasuki area Rumah Sakit Maheswara. Mobil itu berhenti di pelataran VIP, tidak jauh dari pintu masuk menuju paviliun perawatan intensif. Pengawal segera membukakan pintu. Javendra turun terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Sasa keluar dari mobil. “Hati-hati, Sayang,” katanya sambil menopang lengan istrinya. Sasa menerima uluran tangannya dan turun dengan hati-hati. Setelah memastikan istrinya berdiri dengan nyaman, Javendra menggenggam jemarinya dan mengajaknya berjalan menuju pintu masuk. Mereka melewati lorong khusus menuju ruang perawatan Bu Andini. Suasana rumah sakit cukup tenang, dengan beberapa petugas medis yang sesekali melintas
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.







