Accueil / Romansa / Pelayan Kesayangan CEO Arogan / Bab 34 - Permainan Licik

Partager

Bab 34 - Permainan Licik

Auteur: Apple Cherry
last update Date de publication: 2026-05-24 16:35:31
Sasa membeku dengan tangan yang menutupi mulutnya, jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat botol sabun yang terjatuh di lantai marmer.

Suara benturan itu terasa seperti ledakan di telinganya, menghancurkan kesunyian kamar yang hanya diisi dengan perdebatan dingin antara ibu dan anak.

Sasa memejamkan mata, tubuhnya gemetar hebat, dan ia yakin bahwa detik ini adalah akhir dari segalanya.

Di luar, Amara menoleh tajam ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Kecurigaannya yang semp
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (23)
goodnovel comment avatar
Ratih Fitriya
aih, sudah kelihatan Javen Sikap nya mau memiliki Sasa dengan ancaman kesehatan ibunya
goodnovel comment avatar
Neneng Yhara
Sasa sudah terikat sama javen kemana pun dia pergi sepertinya tidak akan bisa.
goodnovel comment avatar
missqueen
kamu udh masuk perangkap sasaa ya udah sihhh sadar diri ajaaa manfaatkan kesempatan yg ada keruk. duit sebanyak-banyaknya selagi javen belom bosan nanti. kalo javen udh bosan bakal lain ceritanya
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 435 - Saat Harinya Tiba

    Malam harinya, suasana di mansion Maheswara berlangsung tenang namun penuh dengan denyut persiapan yang matang. Javendra duduk di meja makan utama, memimpin makan malam bersama Sasa dan Bu Andini. Lampu gantung kristal memancarkan pendar kuning hangat, menciptakan suasana keluarga yang elegan dan nyaman. Javendra mengambil potongan daging panggang dan memindahkannya ke piring Sasa dengan gerakan sangat alami. "Makan yang banyak, Sasa. Beberapa hari ini kamu kurang istirahat," ujar Javendra lembut. Sasa tersenyum manis, menatap calon suaminya dengan penuh kasih. "Terima kasih, Mas Javen. Mas juga harus makan, dari tadi siang mengurus vendor dekorasi terus." Bu Andini memperhatikan interaksi manis di hadapannya. Raut wajahnya yang tadinya kaku perlahan-lahan melunak. Perhatian penuh yang diberikan Javendra kepada Sasa benar-benar membuktikan betapa pria itu mencintai putrinya. "Javendra," panggil Bu Andini pelan. Javendra meletakkan sendok dan garpunya dengan sopan, menatap

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 434 - Intruksi Sang Tuan

    Setelah tim desainer selesai mencatat ukuran dan pamit meninggalkan mansion, Javendra tidak langsung kembali ke ruang kerjanya. Pria itu mengajak Sasa berjalan-jalan di area taman belakang mansion. Udara siang yang cerah diiringi hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana hati Sasa terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. Javendra merangkulkan tangannya di bahu Sasa, membimbing langkah gadis itu menyusuri jalan setapak berhiaskan rumput hijau yang tertata rapi. "Ibu sudah makan siang, Sasa?" tanya Javendra pelan seraya menatap calon istrinya. Sasa mengangguk dengan senyum tipis. "Sudah, Mas. Tadi Bi Lastri yang antarkan makanan ke kamar. Ibu bilang rasanya sudah jauh lebih membaik dan pusingnya juga hilang." "Syukurlah kalau begitu," sahut Javendra. Langkah kakinya terhenti di dekat kolam ikan. Ia memutar tubuhnya menghadap Sasa, lalu mengusap helai rambut yang tertiup angin di dahi Sasa. "Mulai besok, persiapan dekorasi untuk acara pertunangan kita di hall utama mansion akan

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 433 - Dalam Dekapan Javendra

    Sasa berjalan menyusuri koridor lantai atas dengan nampan bekas sarapan ibunya. Langkah kakinya terhenti saat melihat Javendra baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya di lantai bawah. Pria itu tampak gagah mengenakan kemeja formal dengan gulungan kemeja di siku, memancarkan aura berwibawa yang selalu berhasil membuat dada Sasa berdebar. Sasa mempercepat langkahnya menuruni tangga. Javendra yang menyadari kehadiran calon istrinya langsung menghentikan langkah, mengulas senyum tipis yang hangat. "Sudah selesai menemani Ibu, sayang?" tanya Javendra lembut begitu Sasa berdiri di hadapannya. Sasa mengangguk pelan. "Sudah, Mas. Ibu sudah minum obat dan sekarang sedang istirahat. Nampan ini mau aku antar ke dapur dulu." Javendra mengambil alih nampan kayu di tangan Sasa dengan gerakan santai, lalu memanggil seorang pelayan yang melintas untuk membawanya ke dapur. Setelah pelayan itu pergi, Javendra meraih jemari Sasa, menautkan jemari mereka dengan erat. "Ikut Mas sebentar," b

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 432 - Hasil Penyelidikan

    Sasa mengerutkan dahinya makin dalam. Tatapan matanya yang polos memancarkan kebingungan yang sangat jelas melihat reaksi histeris ibunya yang mendadak. "Ibu? Kenapa Ibu kaget sekali mendengar nama itu?" tanya Sasa pelan, suaranya dipenuhi rasa heran sekaligus cemas. "Ibu kenal dengan Tuan Aldebaran?" Pertanyaan sederhana itu seketika membuat tubuh Bu Andini membeku kaku. Wanita paruh baya itu gelagapan setengah mati, menyadari bahwa reaksinya barusan sudah kelewatan dan bisa memancing kecurigaan Sasa. Tangannya yang memegang tepi meja gemetar makin hebat, sementara dadanya bergemuruh oleh rasa takut yang tak terobati. "E-enggak... buk-bukan begitu, Nak..." jawab Bu Andini menyangkal dengan terbata-bata. Pikirannya melayang kacau, berusaha keras mencari alasan yang masuk akal agar tidak membocorkan hal yang tidak seharusnya terucap di depan Sasa. "Ibu... Ibu cuma kaget saja. Soalnya... soalnya Ibu pikir orang yang buat keributan semalam itu mau berniat jahat atau mengganggu kamu

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 431 - Nama Yang Tidak Asing

    Lampu gantung di langit-langit kamar memancarkan pendar hangat yang lembut saat Bu Andini perlahan membuka matanya. Rasa pening yang hebat langsung menghantam kepalanya, sisa dari obat penenang yang disuntikkan tim medis semalam. Wanita paruh baya itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan penglihatannya dengan ruangan yang terasa sangat asing. Kesadarannya perlahan terkumpul, beriringan dengan ingatan tentang kejadian kemarin yang kembali berputar hebat di benaknya. Bayangan telapak tangan Sasa yang terbalut perban rapat, histerianya sendiri yang meledak tanpa terkontrol, hingga rasa takut yang mencekik dadanya... semuanya menghantam Bu Andini seketika. Air mata mendadak menetes dari sudut matanya, membasahi bantal tempatnya berbaring. Isakan pelan tertahan keluar dari tenggorokannya yang terasa kering. Sasa... kasihan anakku... batinnya teriris. Ia merasa sangat bersalah. Alih-alih menjadi pelindung yang menenangkan, ketakutan trauma masa lalunya justru kembali merusak ketenangan

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 430 - Masih Jadi Rahasia

    Mobil sedan hitam milik keluarga Aldebaran berhenti dengan sentakan keras di halaman depan kediaman mereka. Pintu mobil langsung dibuka secara paksa oleh para pengawal, menyeret Kenzo yang masih terus memberontak keluar dari dalam kendaraan. "Lepas! Jangan sentuh aku, brengsek!" amuk Kenzo, menghempaskan tangan-tangan pengawal yang mencengkeram lengannya. Aldebaran melangkah lebar mendahului putranya masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya berat, bergemuruh bersama amarah dan rasa cemas yang menghimpit dadanya. Begitu pintu utama jati terhempas menutup rapat di belakang mereka, Aldebaran membalikkan badan secara mendadak. Plak! Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Kenzo. Suara tamparan itu bergema nyaring di ruang tamu yang megah dan lengang. Kepala Kenzo terlempar ke samping, meninggalkan jejak kemerahan yang membakar di kulit pipinya. Namun, Kenzo sama sekali tidak gentar. Ia perlahan menegakkan kembali kepalanya, mengusap sudut bibirnya yang terasa panas dengan punggu

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 7 - Kondisi Yang Mendesak di Tengah Transaksi

    Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu

    Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status