Se connecterJavendra melangkah keluar dari kamar VIP khusus dengan wajah tenang, lalu menutup pintu rapat tanpa menimbulkan suara. Pria itu menyusuri lorong rumah sakit yang sepi sebelum akhirnya berhenti di depan Bram yang berdiri siaga di dekat tangga darurat. "Bram," panggil Javendra pelan namun tegas. "Iya, Tuan," sahut Bram seraya menundukkan kepala. "Siapkan mobil dan pengawalan seperlunya," perintah Javendra. "Aku akan membawa Sasa ke kediaman Pratama sekarang." Bram menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam, raut wajahnya menyiratkan kecemasan. "Ke kediaman Tuan Aldebaran, Tuan? Tapi... beberapa hari belakangan ini situasi di sana makin tidak menentu." "Kenapa?" tanya Javendra datar. "Informasi dari tim pengintai menyebutkan bahwa aktivitas di kediaman Pratama dan operasional Pratama Group menjadi jauh lebih tertutup," terang Bram dengan intonasi serius. "Sepertinya pihak media sengaja dibungkam secara menyeluruh. Pergerakan ini makin masif sejak Helena kembali memegang kendali
Sasa menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang telah disiapkannya sejak tadi. Ia menatap mata Javendra dengan pendar harapan yang amat sangat. "Mas Javen..." panggil Sasa pelan. "Iya, Sasa?" "Aku... aku mau minta tolong satu hal sama Mas Javen," tutur Sasa dengan nada yang sangat berhati-hati. Ia tidak ingin suaminya merasa tersinggung atau emosi. "Minta tolong apa? Katakan saja, aku pasti kelayakan untukmu." Sasa menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum akhirnya berucap, "Bawa aku menemui Tuan Aldebaran di kediaman Pratama." Seketika itu juga, keheningan menyelimuti ruangan VIP tersebut. Tubuh Javendra sedikit mengeras. Usapan jemarinya di pipi Sasa terhenti seketika. Alis tebal pria itu bertaut kencang, dan sorot matanya yang semula penuh kehangatan mendadak berubah sangat serius. "Kediaman Pratama?" ulang Javendra dengan nada suara rendah. Sasa mengangguk perlahan, memegang kedua tangan Javendra yang berada di pipinya. "Iya, Mas. Aku mau pergi ke sana."
Pintu kaca tebal ruang perawatan intensif itu bergeser terbuka perlahan. Sasa melangkah keluar dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Baju yang dikenakannya terasa longgar, membingkus tubuhnya yang kian kurus selama beberapa hari belakangan ini. Usai berdiri berjam-jam di samping tempat tidur Bu Andini yang dipenuhi deretan selang dan bunyi mesin pemantau detak jantung, persendian kaki Sasa terasa lemas tak bertenaga. Javendra yang sejak tadi menunggu di lorong sepi langsung berdiri tegak. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu melangkah lebar menghampiri istrinya. Jemari besarnya yang hangat langsung melingkar mengapit pinggang Sasa, menahan bobot tubuh wanita itu sebelum sempat limbung. "Mas Javen..." bisik Sasa lirik dengan nada suara yang begitu letih. "Aku di sini, Sayang," sahut Javendra penuh kelembutan. Pria itu menyapu beberapa helai rambut yang menutupi kening Sasa, lalu menyandarkan kepala istrinya ke ceruk lehernya. "Kita kembali ke kamar VIP sekarang, y
"Terima kasih banyak ya, Bu," tutur Sasa jujur. "Terima kasih karena Ibu Amara sudah mau membuka hati dan memaafkan Mas Javen atas semua masalah di masa lalu." Di seberang telepon, Amara terhenyak seketika. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. Ia sama sekali tidak menduga kata-kata seperti itu yang akan keluar dari bibir menantunya. Sasa melanjutkan kalimatnya dengan nada teratur dan hangat, "Aku sungguh amat bersyukur atas kebaikan hati Ibu Amara. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu berdoa dan berharap agar hubungan Ibu Amara dan Mas Javen bisa terus membaik, makin hangat setiap hari, dan selalu dipenuhi kebahagiaan." Air mata seketika menetes membasahi pipi Amara. Wanita paruh baya itu membisu di dalam ruang kerjanya. Dadanya dihantam oleh rasa malu dan bersalah yang begitu besar. Mengingat betapa sering ia melontarkan kata-kata pedas, merendahkan asal-usul Sasa, dan menolak merestui pernikahan putra tunggalnya, ketulusan doa Sasa terasa memukul hatinya. "Sasa
Di atas ranjang, Bu Andini masih terbaring kaku dengan selang oksigen melingkar di hidungnya. Monitor di samping tempat tidur terus memperdengarkan suara bip lambat yang teratur. Sasa duduk di kursi kayu sebelah ranjang. Jemari tangannya mengusap telapak tangan Bu Andini yang dingin, menatap wajah paruh baya yang kini terlihat makin tirus. Pintu kamar rawat berderit pelan. Javendra melangkah masuk, melepaskan jas hitamnya lalu menyampirkannya di sofa dekat pintu. Pria itu menghampiri Sasa dari belakang, merengkuh pundak mungil istrinya dengan hangat. "Bagaimana kondisi Ibu sore ini, Sayang?" tanya Javendra lembut. Sasa menyandarkan kepalanya ke dada Javendra, menghela napas panjang. "Dokter bilang tekanan darahnya sedikit meningkat dibanding tadi pagi, Mas Javen. Tapi tetap belum ada respons sama sekali." Javendra mempererat pelukannya, merengkuh pundak Sasa seraya mengecup pelipis istrinya. "Dokter terbaik sedang berusaha semaksimal mungkin. Kamu harus yakin Ibu bisa melewati ma
Javendra mengusap pipi Sasa pelan dengan ibu jarinya. "Besok-besok, kalau aku sedang tidak ada di samping kamu dan ada orang asing yang mencoba bicara atau menawarkan bantuan di rumah sakit, kamu langsung panggil pengawal ya. Aku tidak mau kamu terluka atau diganggu orang tidak dikenal." Sasa tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. "Iya, Mas Javen. Bu Amara juga tadi bilang begitu ke aku. Aku janji bakal lebih hati-hati." Sasa menyandarkan kepalanya di bahu Javendra. "Aku cuma mau Ibu cepat sadar dan situasi kita tenang kembali. Aku tidak mau Mas Javen kepikiran hal-hal lain saat lagi banyak beban kerja." Javendra merangkul bahu Sasa erat, mencium kening istrinya cukup lama. Di dalam hatinya, tekad Javendra makin kuat. Ia tidak akan membiarkan kebaikan Sasa dimanfaatkan oleh rencana kotor Arka Danuarta maupun niat jahat Helena. "Tidur ya sekarang," bisik Javendra lembut. "Iya, Mas," sahut Sasa seraya merebahkan tubuhnya di balik selimut. Javendra menunggu hingga napas Sas
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu







