Mag-log inAmara terdiam sesaat. Perkataan itu mengingatkannya pada masa lalu yang tidak bisa ia ubah. Namun, ia tidak membiarkan penyesalan tersebut mengalihkan perhatiannya dari bahaya yang sedang mengancam Sasa. "Aku tidak akan membahas masa lalu sekarang," jawabnya tegas. "Yang jelas, Sasa adalah menantuku. Dia istri Javendra dan anggota keluarga Maheswara. Kamu tidak punya hak untuk menyakitinya." "Jadi, sekarang Nyonya sudah berada di pihaknya?" "Aku berada di pihak orang yang sedang kamu ancam dengan pisau!" Suara Amara bergetar, tetapi ia berusaha mempertahankan ketegasannya. "Surti, lihat keadaanmu sekarang. Kamu sedang menyandera seorang wanita yang tidak bisa bergerak bebas karena kamu menodongkan pisau ke lehernya. Apa kamu tidak sadar bahwa satu kesalahan saja bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih buruk?" Bi Surti terdiam. Tatapannya sempat bergerak ke arah pisau di tangannya, lalu kembali kepada Amara. Juwita yang sejak tadi berdiri di samping mereka ikut menyela. "Janga
BRAK! Suara benturan keras menggema di depan minimarket. Dua pengawal pribadi Javendra akhirnya berhasil memaksa pintu kaca terbuka setelah beberapa kali mencoba membuka kuncinya dari luar. Salah seorang pengawal segera menahan daun pintu agar tidak membentur rak di dekat pintu masuk, sementara rekannya menyingkirkan bagian kunci yang rusak dari jalur masuk. Javendra tidak menunggu mereka selesai. Begitu pintu terbuka cukup lebar, ia langsung melangkah masuk. Wajahnya tampak dingin, tetapi matanya bergerak cepat menyapu bagian dalam minimarket, mencari sosok yang sejak tadi membuat pikirannya dipenuhi kekhawatiran. "Sasa!" Panggilannya terdengar jelas di antara rak-rak barang. Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, sebuah jeritan membuat langkahnya terhenti. "Jangan mendekat!" Bi Surti berdiri di dekat meja kasir sambil mencengkeram tubuh Sasa dari belakang. Dalam kepanikannya, wanita itu telah meraih pisau pemotong kardus yang tergeletak di atas meja. Bilahnya kini men
Namun, putranya terus berjalan. Amara terpaksa mempercepat langkah agar tidak tertinggal. Begitu tiba di depan pintu kaca, Javendra langsung meraih gagangnya dan mendorongnya. Pintu itu tidak bergerak. Ia mencoba sekali lagi, kali ini dengan tenaga lebih besar. Hasilnya tetap sama. Pintu tersebut terkunci dari dalam. Amara yang berdiri di sampingnya ikut mencoba menarik gagangnya. Setelah memastikan pintu benar-benar tidak bisa dibuka, ia menatap Javendra dengan wajah pucat. "Pintunya terkunci. Kenapa bisa terkunci dari dalam?" Javendra mengamati bagian kunci, lalu mengalihkan pandangan ke dalam toko. Pantulan cahaya di permukaan kaca membuat bagian dalam minimarket tidak terlihat dengan jelas dari sudut tempatnya berdiri. Ia kembali menarik gagangnya, tetapi pintu itu tetap tertahan. "Pengawal!" panggilnya keras. Dua pengawal yang masih berada di area parkir langsung menoleh. Ketika melihat Javendra berdiri di depan pintu dengan ekspresi muram, keduanya segera meninggalkan
Sasa berusaha mundur, tetapi punggungnya sudah terhalang sudut rak kaca. Juwita pun masih berdiri di sisi lain, menutup satu-satunya jalan yang mungkin bisa digunakannya untuk meloloskan diri. Kedua tangan Sasa kembali melindungi perutnya. Ia tidak peduli jika dirinya sendiri terluka, asalkan tidak terjadi sesuatu pada bayinya. "Tolong, jangan lakukan ini," katanya, kali ini dengan suara yang sedikit bergetar. "Kalian boleh marah kepadaku, tetapi jangan sampai melibatkan anakku." Permohonan itu justru membuat Juwita semakin gelap mata. "Baru tahu rasanya takut sekarang?" desisnya. Sasa menatap mereka bergantian. Ia berusaha mencari celah untuk melepaskan diri, tetapi tidak ada kesempatan yang cukup aman untuk dilakukan. Dalam keadaan seperti ini, ia hanya bisa berharap Javendra segera menyadari bahwa dirinya terlalu lama berada di dalam minimarket. Di luar minimarket, sedan hitam milik keluarga Maheswara masih terparkir di tempat yang sama. Javendra baru saja mengakhiri panggil
Bi Surti melangkah semakin dekat, lalu mencengkeram kedua bahu Sasa dengan kuat. Tarikan mendadak itu membuat Sasa terhuyung mundur hingga punggungnya membentur sudut rak kaca. Beberapa barang di rak bergoyang akibat benturan tersebut, membuat Sasa semakin waspada terhadap setiap gerakan di sekitarnya. Belum sempat ia menenangkan diri, Juwita sudah bergerak ke samping dan menutup jalan menuju lorong belakang. Wanita itu berdiri dengan kedua tangan terentang, memastikan Sasa tidak memiliki celah untuk melarikan diri. Minimarket yang sepi membuat keadaan terasa semakin mengkhawatirkan. Tidak ada pembeli lain yang bisa dimintai pertolongan. Bahkan suara kendaraan dari luar pun terdengar samar, seolah tidak ada seorang pun yang menyadari apa yang sedang terjadi di dalam toko. Sasa berusaha mengendalikan napasnya. Ia tidak ingin menunjukkan ketakutannya secara berlebihan di hadapan kedua wanita itu. Namun, bukan berarti ia tidak menyadari betapa berbahayanya situasi tersebut. Tatapanny
Namun, diamnya Bi Surti dan Juwita rupanya bukan karena rasa bersalah atau rasa takut. Di balik wajah kuyu dan kurus mereka, tersimpan rasa sakit hati, dengki, dan dendam yang amat pekat. Setelah dipecat secara tidak hormat dari mansion Maheswara akibat perlakuan buruk mereka pada Sasa di masa lalu, kehidupan kedua wanita ini merosot tajam. Mereka kesulitan mencari pekerjaan layak, hidup dalam kekurangan, dan harus bekerja serabutan sampai akhirnya menjadi kasir minimarket kecil.Bagi mereka, Sasa adalah satu-satunya penyebab dari seluruh penderitaan dan kemalangan hidup yang harus mereka jalani selama ini.Bi Surti mendesis pelan. Tangannya yang kurus meremas pinggiran meja kasir. Ia menatap Sasa dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa benci dan dengki yang membakar."Oh... lihat siapa yang datang," ujar Bi Surti dengan nada suara sindiran yang sangat tajam dan melengking. "Nyonya Maheswara yang terhormat."Juwita yang berdiri di samping Bi Surti menyunggingkan senyum miring yang p
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta







