Beranda / Horor / Pelet Kopi Darah Haid / bab 4. efek dari pelet

Share

bab 4. efek dari pelet

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-04-10 12:53:31

Sophia berjalan masuk ke dalam toilet, yang bersebelahan dengan toilet yang di masuki Sumi.

Sumi kembali melakukan aksi gilanya tersebut, ia membuka celana dan memasukkan darah segarnya ke dalam segelas kopi.

Tak lupa untuk membaca jampi jampi menggunakan nama sang kekasih.

Bau darah yang ia buka membuat aroma di sekitarnya pun ikut menyeruak merasakan bau itu.

sungguh jika ada satu orang pun yang tau hal menjijikan ini, mungkin Sumi sudah habis dihujat oleh orang-orang akibat aksinya tersebut.

Lagi pula siapa yang bernafsu jika meminum kopi, yang rupanya menjijikan tersebut.

Sumi keluar membawa segelas kopi, yang akan ia berikan kepada Tio. Terlihat disana Tio sedang duduk sembari bermain ponsel miliknya.

Tak ada satu pun yang perlu di hawatirkan Sumi, semua tertata secara rapi olehnya.

Tio meminum kopi dengan nikmat, di atas mejanya juga sudah ada cemilan, yang akan menemani santainya setelah bekerja.

Tio duduk melihat sumi, yang sedang bekerja. Entah mengapa tak terbesit sedikitpun untuk memikirkan Sophia, yang jelas-jelas memiliki hubungan di belakang Sumi.

Sophia yang melihatnya pun merasa risih dan jijik, karna sikap tio yang menurutnya sudah kelewat batas.

“ Bisa-bisanya ia menurut seperti pembantu untuk Sumi,” gumamnya.

Sophia merasa kesal akan hari itu, ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Rasanya ia ingin marah melihat Tio melakukan hal demikian.

Namun, Sophia juga sadar jika hubungannya dengan Tio tertutup rapat. Sehingga tidak ada satupun rekan kerja, yang mengetahuinya.

Ia tidak bisa berbuat banyak melainkan hanya diam. Mau marahpun ia tak punya kuasa, walaupun di lubuk hatinya ingin sekali menyeret Tio pulang bersamanya.

Sophia tak mau gegabah, karna pekerjaan Tio dan dirinya ada di sana, Walau pun itu menyangkut hati dan perasaannya.

Rekan kerja Sumi yang masih berada di sana saling mengekspresikan raut wajah iri antara satu sama lain.

Iri antara mereka melihat Sumi dan Tio bermesraan di tempat kerja, dan Tio yang memperlakukan Sumi layaknya Ratu, yang sedang berada di atas singgasananya.

***

Pagi ini Sumi bersiap-siap untuk berangkat kerja, di lokasi yang sudah disiapkan dengan job kerja samanya dengan salah satu brand terkenal.

Sumi yang kaget akan kedatangan Tio, membuat dirinya senang. Tio menjemput Sumi untuk berangkat bekerja bersama, tak hanya itu Tio juga memasukkan barang-barang, yang akan di gunakan nanti setibanya di sana.

Namun, terlihat aneh dari biasanya, Sumi mengerutkan kedua alisnya. Di saat ia melihat Tio, yang seperti orang bodoh.

"Atau mungkin karena Tio terlalu capek untuk pekerjaan kemarin!" gumam Sumi di dalam hati.

Bagaimana tidak terlihat bodoh, Tio yang sedari tadi masuk mobil untuk menyetir. Melirik sesekali ke arah Sumi dengan wajah yang terlihat bodoh.

pasalnya ia senyum sendiri tidak hanya di satu waktu. Namun, di setiap menit ia akan selalu begitu, membuat Sumi menjadi terheran-heran.

Apalagi setelah Sumi memanggil Tio, entah sudah berapa kali ia memanggil Tio. Namun Tio hanya menunjukkan sikap yang bodoh, sama halnya dengan anak yang mempunyai kelebihan down sindrom.

Tio benar-benar terlihat bodoh, membuat Sumi sedikit merasa jengkel, dan merasa ilfeel berada di dekatnya.

Tio yang ia idam-idamkan, karna tinggi dan ketampanannya yang ideal. Sekarang harus merasakan jengkel,dengan hubungan yang selama ini mereka jalani.

Sesampainya di tempat kerja, Sumi dan tim mulai menata alat, yang harus disiapkan karena kerja sebentar lagi akan dimulai.

Tidak hanya Sumi yang merasakan kejanggalan, yang dialami tio.

Para tim yang lainpun ikut keheranan, pasalnya Tio sedari tadi hanya.

hah... hoh.. hah.. hoh...

Saat rekan kerjanya meminta agar Tio masuk untuk di potret, namun reaksi tak terduga menunjukkan ekspresinya.

Tio yang tidak menyambung dengan pernyataan teman kerjanya, ia hanya berkata demikian untuk terus mengulangi pembicaraan.

Bahkan rekan kerjanya mengira ia seperti bodoh dan tolol, tidak seperti hari-hari biasanya yang segar dan waras.

Merasa ada yang tidak beres dengan perlakuan Tio, laki-laki yang Sumi sangat cintai hingga melakukan segala cara, agar semua berjalan mulus seperti yang direncanakan.

Sumi mulai menjauh dan mengeluarkan sebuah ponsel yang ia raih dari dalam tasnya.

Ia tampak tengah gusar dengan menekan ponsel miliknya, ia mencari salah satu nomor, yang ia kenali dan menelponnya secara mendadak tanpa ada suara yang kelewat besar dari mulutnya.

"Bu?” ujar Sumi pelan sembari meletakkan hp di dekat telinganya.

Tampak di sana sumi mulai menceritakan apa saja yang ia alami akhir-akhir ini. Kepada Ibunya yaitu Lasmi.

Ya, nomor yang Sumi telpon beberapa kali tersebut adalah Ibunya sendiri, yang selama ini membuat Sumi bisa berani melangkah jauh.

"kamu, memberikannya berapa kali?" terdengar suara dari dalam ponsel tersebut.

"kemarin dan kemarinnya lagi Bu!" ujar Sumi kepada Lasmi .

"kamu itu jangan gegabah, jangan terlalu sering memberikan pelet tersebut karena resikonya besar!" sentak Lasmi dari ponsel Sumi tersebut.

Deg,

Sumi menghela nafas panjang, ia tidak tahu bahwa pelet tersebut memiliki resiko yang besar.

"Resiko nya apa bu?" ujar Sumi khawatir

"Kamu mau punya laki-laki yang bodoh?" sentak kedua Lasmi dengan nada yang marah.

Sumi melirik ke arah Tio dimana ia terlihat seperti apa yang Ibunya katakan, sangat jelas di penglihatan Sumi bahwa laki-laki yang ia kagumi, karena ketampanannya tersebut. Sekarang sudah menjadi laki-laki bodoh.

"Lalu Sumi harus bagaimana Bu? " .ucap Sumi dengan getaran dada yang mulai memompa aliran darah dengan cepat.

Lasmi pun berkata agar tidak perlu di berikan pelet itu lagi, pelet tersebut hanya boleh digunakan sekali, selagi ia sedang menstruasi.

Paling bagus adalah di saat menstruasi hari pertama, namun jangan memberikannya lagi ketika sudah diberikan, karena harus menunggu waktu menstruasi bulan depan lagi.

Ketika menggunakan pelet tersebut kepada orang yang sama. Kalau tidak orang tersebut akan terkena efek yang membuatnya bimbang dan plin-plan.

Hanya cukup satu orang satu kali menstruasi harus ada jeda antar orang tersebut, kalaupun mangsanya lebih dari satu.

Tak apa memberikan mereka darah haid yang bersamaan ketika menstruasi, asal tidak dengan orang yang sama berkali-kali.

Ya, Lasmi adalah wanita asli kampung ia ibu dari Sumi yang merantau ke kota. Ibunya tak akan membiarkan Sumi pergi ke kota tanpa adanya buah tangan.

Namun, buah tangan yang di maksud di sini adalah, pegangan Sumi untuk hidup di kota, orang desa sering menyebutnya dengan jimat, mantra, atau yang lain juga yang tentunya mereka yakini.

Hidup di perantauan akan baik-baik saja. Tidak seperti yang orang lain lakukan, karena harus merasakan pahitnya hidup terlebih dahulu.

Hal itu terbukti ketika Sumi melangkahkan kaki di ibu kota, dirinya tak lepas dari kata Bejo.

Maklum Lasmi di desa memang terkenal akan ilmu para leluhurnya, bahkan tak jarang penduduk desa maupun seberang desa, meminta pertolongan dirinya.

Baik itu untuk urusan dagang bahkan urusan sakit hati seseorang. Tak lepas dari itu pula, Sumi juga selalu di awasi oleh ibunya dari kejauhan desa sana.

Tak ingin putrinya tersebut mendapatkan hari buruk di kota walau hanya sehari.

***

Sumi berjalan dan memindahkan posisi duduknya untuk sekedar menjauhi Tio, ia tau kondisi sedang tidak baik-baik saja.

Apa lagi ia sudah mengetahui jika Tio terkena efek dari pelet yang ia gunakan, namun lagi-lagi Tio bertingkah layaknya orang bodoh.

Sedang ditanya bukannya menjawab yang semestinya, melainkan hanya.

“ hah hoh hah hoh”

yang ia jawab. Seakan tidak mengerti, dan otaknya serasa membeku akibat tidak paham oleh obrolan, dan pertanyaan rekan kerjanya.

Tio mendekati Sumi dan bertingkah seperti anak kecil yang membutuhkan kasih sayang, tak hanya itu pula Tio bahkan bersikap konyol saat mengajak Sumi bermain bersamanya.

Sumi kembali tersenyum licik, pikirannya hanya ada kotoran yang bersarang di otaknya.

Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Sophia tidak lagi menjadi penggoda, untuk kembali mendekati Tio.

Ia kembali melakukan aksinya, bahkan kali ini ia memperbanyak mengambil darah yang menempel di pembalutnya.

Seakan tak memberikan waktu Tio untuk bernafas, Sumi kembali memberikan kopi bercampur darahnya tersebut. Alih-alih untuk membuat Sophia ilfeel, dan tak lagi mengganggu Tio.

Sumi kembali membawa kopi melewati rekan kerjanya, dan membawa kopi tersebut ke dalam toilet.

Sophia yang melihat Sumi membawa kopi untuk, yang kedua kali tersebut merasa keheranan.

"kalau kebelet apa harus dengan membawa kopi? " gumam Shopia lirih.

Dengan diam-diam tanpa meninggalkan suara, ia mulai mengikuti Sumi tanpa ada rekan kerja yang memperhatikannya.

Seperti seorang detektif, Sophia berjalan pelan seakan seperti tidak ada di area toilet tersebut. Sophia merasa ia harus menguping bahkan kalau bisa, ia harus mengintip sendiri.

untuk memastikan untuk apa orang itu masuk kedalam sembari memegang kopi.

Namun, yang Sophia dapatkan bukannya, kepuasan yang ia bayangkan sebelumnya.

Namun, ia harus menguping dengan sangat hati-hati bahkan Sumi seperti tidak melakukan aktivitas apapun, semua hening tidak ada percakapan di dalam toilet tersebut.

“Mungkin ini bukan waktunya!" gumam Sophia kembali melanjutkan istirahatnya.

Kopi diseruput hingga menyisakan separuh, dari sebelum ia meminumnya tadi. Tio terlihat sangat menikmati kopi buatan kekasihnya tersebut, tanpa merasakan rasa atau pun bau yang aneh di dalam kopinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 54. Benang Terakhir

    Naya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 53. Benang yang Kembali dari Kota

    Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 52. Naya Menjadi Dukun Baru di Desa

    Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 51. Jahitan Pertama Naya

    Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 50. Penjaga Baru

    Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 49. Sumi Dayang Desa

    Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 7. Mengulur Waktu Part 1

    Sudah saatnya mereka pulang. Tio dan Sophia berpamitan kepada Simbah dan istri, untuk kembali pulang.Tak lupa dengan wejangan Simbah didalam tadi, Tio mulai mengemudikan mobil. Tidak ada obrolan, yang menghidupkan suasana didalam mobil yang mulai melaju. Pelan-pelan mulai meninggalkan kediaman S

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 6. sedikit lagi akan terungkap

    Mereka Kembali ke rumah masing-masing, atau kontrakan masing-masing.Sumi kembali ke kontrakannya untuk membersihkan diri, dan mengistirahatkan badannya.Untung saja besok mereka dan tim, hanya ada job di sore hari. Membuat Sumi agak tenang untuk mengistirahatkan badannya dengan nyenyak, setidaknya

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 2. rintangan yang begitu mudah

    Perayaan semalam membuat hati Sumi begitu berbunga-bunga, hingga ia terlalu bersemangat untuk menjalani hari seperti biasa. Tidak pernah sepi job bahkan di waktu hari besar dan weekend, jasa Sumi dan tim selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemesan yang sudah pernah di potret oleh tim Su

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 1. Perasaan yang Sedang Berbunga-bunga

    Banyaknya debu di sekitar kota itu, tidak membuat hati Sumi kesal ataupun bermalas-malasan. Untuk keluar bekerja, tidak seperti hari-hari sebelumnya, yang hanya bermodalkan nekad untuk bekerja mencari uang. Padahal didalam hatinya ia malas untuk bekerja di luar ruangan. Pasalnya Sumi, yang setiap h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status