Home / Horor / Pelet Kopi Darah Haid / Bab 7. Mengulur Waktu Part 1

Share

Bab 7. Mengulur Waktu Part 1

Author: RKamila
last update publish date: 2026-04-14 23:45:06

Sudah saatnya mereka pulang. Tio dan Sophia berpamitan kepada Simbah dan istri, untuk kembali pulang.

Tak lupa dengan wejangan Simbah didalam tadi, Tio mulai mengemudikan mobil. Tidak ada obrolan, yang menghidupkan suasana didalam mobil yang mulai melaju.

Pelan-pelan mulai meninggalkan kediaman Simbah, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sedang larut dalam pikirannya masing-masing, hingga mereka lupa, perut yang meminta jatahnya pun turut serta berbunyi.

Maklum saja ketika Sophia mengajaknya ke sini, Tio tak sempat untuk sarapan. Karna sangat terburu-buru sekali, bahkan untuk sekedar membawa rotipun Tio tak sempat.

Padahal sudah sedari tadi perutnya berbunyi. Namun Tio sedang tidak enak hati. Apa lagi di suasana genting seperti ini.

Di tengah perjalanan, mereka memutuskan untuk singgah disalah satu rumah makan. Mereka memesan makanan, dikala jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.

Artinya mereka berdua sudah melewatkan sarapan, dan juga makan siang.

"makan disini, ya!" kata Sophia.

"yaudah terserah, kamu," jawab Tio.

Mobilpun berhenti ditepi jalan, tidak apa asalkan masih bisa menikmati makan.

Ditengah mereka makan, tiba-tiba saja Sophia memberikan sebuah pertanyaan.

Hal itu, seketika membuat Tio jadi tersedak.

" apa, kamu, tidak curiga dengan pacar, mu? " Ujar Sophia dengan raut wajah bertanya-tanya.

" maksudnya, kamu, mengatakan jika, sumi, yang melakukannya? " ucap Tio Kembali menyudutkan pandangan.

" Siapa lagi kalau bukan, dia! " Jawab Sophia ketus.

" tapi.. ,aku, sangat mencintai, dia," Ujar Tio kembali.

Tio pun bimbang pada apa yang dia rasakan, apa benar Sumi yang melakukannya? . Kalaupun ia kenapa ia tega berbuat demikian.

Setelah dilanda perasaan hati yang tidak enak, mereka kembali ke rumah masing-masing. Sophia pamit untuk pulang ke rumahnya.

" jangan sampai misi, kita, menyelidiki ini sampai ketahuan orang " ujar Sophia.

Tio hanya mengangguk.

entah dia mengerti entah tidak Sophia meninggalkan dirinya pergi.

Tio kembali merasa gundah akan pikirannya sendiri, ia membolak-balikkan ponsel. Ia begitu menunggu kabar dari Sumi . Namun, kekasihnya itu tidak kunjung menghubungi dirinya.

Apa memang benar dia yang melakukannya, kenapa dia tega sekali?.

Hal itu yang membuat bayang-bayang Sumi selalu menghantui dirinya.

" Kenapa, dia, belum juga menelponku? " hati Tio resah.

Bagaimana tidak, kekasih yang biasanya ia bangga kan. Bahkan sering selalu menghubunginya setiap saat, tak mau ketinggalan sedikitpun keseharian Tio.

Sekarang malah menghilang tanpa jejak, tanpa meninggalkan aba-aba terlebih dahulu.

" Tak apa, besok akan bertemu di pekerjaan" gumamnya menenangkan pikirannya sendiri.

...

Disisi lain, pagi-pagi sekali Sumi sudah mendapatkan telepon yakni dari sang ibu, yang berada di desa.

Mata yang masih kantuk membuatnya sedikit bermalas-malasan untuk mengangkat telpon. Pekerjaan yang membuatnya tidak beristirahat dengan cukup, maka akan ia ganti di waktu cuti.

" halo, Bu!" Ucap Sumi .

Mata yang tadinya masih terasa amat kantuk, kini bak terbuka lebar setelah ibunya menelpon. Sekarang terlihat diraut wajah Sumi merasakan ketakutan.

keringat dingin mulai ia rasakan, padahal ini masih pagi.

Dengan cekatan Sumi bangun dari tempat tidur, ia tak membereskan kasur terlebih dahulu tempat tidurnya. Ia bergegas membersihkan diri  terlebih dahulu di kamar mandi dengan cepat.

Tidak seperti biasanya. Seakan terburu-buru, Sumi menancapkan gas mobil dengan begitu laju. Memang tak seperti biasanya.

Ternyata ibunya menelpon, dengan nada marah kepada Sumi. Entah perihal apa sang ibu begitu marah, dan meminta Sumi untuk ke desa saat itu juga.

Perjalanan yang harus di tempuh Sumi untuk ke desa, sangatlah panjang. Desa yang berada terpencil di ujung kecamatan. Membuat Sumi tak punya waktu, untuk sekedar membeli tiket bus ke desanya.

Ia memberanikan diri untuk melajukan mobil seorang diri, tanpa didampingi sopir ataupun sekedar teman untuk menemani.

Memakan waktu 3 jam perjalanan, benar-benar membuat Sumi lelah. Tanpa mengambil pemberhentian, untuk sekedar beristirahatpun tidak ia lakukan.

Begitu takutnya Sumi akan perkataan sang ibu.

Akhirnya tiba lah ia di desa tercintanya, desa yang masih terlihat asri.

Bahkan jalanpun masih tanah, rumah-rumah yang masih dari kayu pohon, membuat pemandangan masih sangat sejuk. Seakan masih menyatu dengan alam sekitar.

Untungnya tidak ada sungai yang membatasi jalan ke desa tersebut, membuat Sumi bisa membawakan mobilnya, untuk sampai di halaman rumah. Tanpa harus menyebrangi sungai.

Sumi turun dari mobil, dan mengunci mobil tersebut dengan alarm. Ia masuk ke dalam rumah, yang entah sudah berapa tahun ia tak pulang.

Sekalinya pulang ia begitu sangat terburu-buru, hingga tak sempat membelikan buah tangan untuk sang Ibu.

Di dalam rumah sudah terlihat sang ibu, yang menunggu kedatangan putri tercintanya. Sumi memeluk sang ibu dengan begitu kuat, tidak terasa wajah ibunya sudah semakin terbawa usia.

Namun, kecantikannya masih sama seperti waktu muda dulu.

" bagaimana pekerjaan, mu, di sana, nduk!" tanya sang ibu.

Sumi tersenyum dan berkata bahwa pekerjaan di sana baik-baik saja, bahkan jobnya pun tak pernah sepi. Sumipun berterima kasih pada sang ibu, karena berkat doa ibu ia bisa sampai sesukses sekarang ini.

Ya, karna sang ibu membantu Sumi lewat doa sang ibu, dan tentunya juga dengan cara supranatural. Semua orang desa tahu bahwa ibunda Sumi adalah dukun di desa tersebut.

Di pikiran orang desa, sudah tak heran jika Sumi bisa sesukses ini.

" belakangan ini, ibu, sangat khawatir dengan, mu, nak!" Ucap sang ibu.

Mereka duduk di kursi kayu tempat ruang tamu tersebut, ibunya kembali menjelaskan jika, pengambilan langkah Sumi akhir-akhir ini sangat beresiko untuk dirinya.

"Apa lagi jika ada seseorang yang tahu, kamu, menggunakan pelet, dan orang tersebut pergi ke tempat orang yang lebih tahu, itu akan membuat celaka hidupmu, nduk!" Menik menasehati Sumi.

Apa lagi media yang Sumi gunakan adalah darahnya sendiri, tentu saja itu sangat membahayakan dirinya.

apalagi jika darah Sumi digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

tentu saja itu akan membuat sumi celaka, karena darah adalah satu hal yang penting di dunia spiritual. Jika sudah menggunakan darah, sama halnya sudah mengambil langkah tertinggi, juga resiko yang akan di raih nantinya.

Ibunya menjelaskan perihal laki-laki, yang dicintai Sumi. Bahwasanya mereka sudah mengetahui, jika laki-laki itu terkena pelet.

Jika saja mereka mengetahui siapa yang mempunyai pelet tersebut. Maka habislah Sumi.

Sumi tertegun, merasa tidak percaya. Bahwa ritualnya selama ini bisa diketahui oleh seseorang. Ritual yang ia tutup serapat mungkin.

"bagaimana ini, Bu?" kata Sumi, raut wajahnya panik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 54. Benang Terakhir

    Naya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 53. Benang yang Kembali dari Kota

    Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 52. Naya Menjadi Dukun Baru di Desa

    Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 51. Jahitan Pertama Naya

    Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 50. Penjaga Baru

    Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 49. Sumi Dayang Desa

    Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 5. pelet yang menyiksa Tio

    "sepertinya Sekarang sudah waktunya pindah ke lokasi selanjutnya! " ujar Sumi memandang semua rekan kerjanya. "Ayo ayo!” Ucap salah satu rekan kerja Sumi.Semua bergegas membereskan alat kerja mereka, karna mereka harus segera berangkat ke lokasi berikut nya.Lokasi kali ini adalah acara megah ber

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 4. efek dari pelet

    Sophia berjalan masuk ke dalam toilet, yang bersebelahan dengan toilet yang di masuki Sumi.Sumi kembali melakukan aksi gilanya tersebut, ia membuka celana dan memasukkan darah segarnya ke dalam segelas kopi.Tak lupa untuk membaca jampi jampi menggunakan nama sang kekasih.Bau darah yang ia buka m

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 3. wanita penggoda

    Kini sesi pemotretan sedang fokus kepada Sophia dan Tio. Sumi yang terbakar api cemburu tersebut, masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh.Disana terlihat sekali tangan Sophia yang sudah berani mencolek salah satu dada bidang laki-laki tampan itu.Tak sesekali juga Sumi meli

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 2. rintangan yang begitu mudah

    Perayaan semalam membuat hati Sumi begitu berbunga-bunga, hingga ia terlalu bersemangat untuk menjalani hari seperti biasa. Tidak pernah sepi job bahkan di waktu hari besar dan weekend, jasa Sumi dan tim selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemesan yang sudah pernah di potret oleh tim Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status