Accueil / Horor / Pelet Kopi Darah Haid / bab 5. pelet yang menyiksa Tio

Partager

bab 5. pelet yang menyiksa Tio

Auteur: RKamila
last update Date de publication: 2026-04-10 12:54:24

"sepertinya Sekarang sudah waktunya pindah ke lokasi selanjutnya! " ujar Sumi memandang semua rekan kerjanya.

"Ayo ayo!” Ucap salah satu rekan kerja Sumi.

Semua bergegas membereskan alat kerja mereka, karna mereka harus segera berangkat ke lokasi berikut nya.

Lokasi kali ini adalah acara megah bergengsi fashion show, dimana semua para desainer kondang, dan fotografer profesional pun berkumpul.

Tak hanya Sumi, rekan kerjanya, yang lain juga diundang ke sana, termasuk Tio dan Sophia. Dua pasangan model yang Sumi kontrak tersebut.

Memang yang paling pas untuk merasakan busana berbagai macam model. Tak jarang jika Tio dan Sophia mendapatkan banyak job, karena ada campur tangan Sumi di dalamnya.

***

Semua model segera bergegas menuju ruang ganti, mereka akan memperagakan busana terkemuka, dari desainer terkenal.

Tio dan Sophia menggantikan pakaian ditemani oleh pembantu, yang sudah bertugas untuk merapikan busana mereka.

Wanita cantik dan menawan tersebut tersenyum menatap ke arah Tio, yang nampak di depannya. Laki-laki yang gagah dengan tubuh yang membuat semua mata terpanah, ditambah dengan kostum yang menawan.

"Kenapa, kamu, mulai menjauhiku? " ucap Sophia kepada Tio.

Ia sedang mencari kesempatan supaya tidak terlihat oleh Sumi, karna bagaimana pun ini masih di jam kerja mereka.

"Entahlah, Sophia, aku merasa jiwa ini benar-benar bimbang tak seperti dulu!" Ujar Tio membalas pertanyaan Sophia.

Tio menggelengkan kepala dengan pelan, sembari menarik nafas yang berat baginya.

Ia mulai bercerita bahwa dirinya merasa akhir-akhir ini Tio tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Di satu sisi ia mencintai cinta pertamanya yang bernama Sophia, rasa itu tak pernah berubah walau mereka sudah tumbuh dewasa, dan akan memasuki usia matang.

Namun, di sisi lain ia seakan tak bisa lepas dari Sumi, yang mana dulunya Tio hanya memanfaatkan Sumi untuk kepentingan pribadinya saja.

Bahkan Tio yang meminta Sumi Untuk mempekerjakan Sophia sebagai teman modelnya.

Namun akhir akhir ini, dirinya sangat tidak bisa mengontrol rasa di dalam dirinya sendiri.

Entah kenapa ia tak bisa merasa lepas dari Sumi, dan entah kenapa Tio selalu menuruti semua perintah sumi, walau itu sangat membuatnya merasa tak punya harga diri.

***

“Ehemm!”

Belum selesai Sophia mendengarkan perkataan dari Tio, sontak mereka dikejutkan Dengan kedatangan Sumi yang tiba-tiba .

"semoga saja ia tak mendengar percakapan kami!" Gumam sophia.

Sophia seakan canggung harus melakukan apa di hadapan Sumi, dirinya berpura-pura membenarkan rambut, yang sedari tadi sudah tersusun rapi.

"kamu, tampan sekali ,sayang!" Ujar Sumi hangat, dan memeluk Tio di hadapan Sophia.

“Ehemm!”

Sophia berdehem pelan, seakan cemburu melihat orang yang ia cintai di pelukan wanita lain, dan langsung meninggalkan mereka yang masih berpelukan.

Sumi yang mengetahui kepergian Sophia seakan tersenyum licik tanpa menghentikan pelukan Tio.

"Sayang, aku, sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan, aku, ya!" perkataan Tio yang lembut membuat Sumi semakin berbunga-bunga di buatnya.

Tak peduli para pembantu perias model tersebut berada di sana, yang jelas hati Sumi sangat senang dengan ucapan Tio tersebut.

Sumi membalas ucapan Tio dengan mengangguk, tak kunjung juga melepas pelukan Tio.

Entah kenapa, rasanya lain di mulut lain di hati yang Tio rasakan.

Namun, ketika berada di dekat Sumi ia seakan tak punya kendali apapun.

Sumi Merapikan rambut tio, yang memang sudah terlihat rapi sedari tadi.

Matanya lagi-lagi terpanah melihat ketampanan sang pujaan. hidung yang tidak terlalu mancung, mata yang sedikit sipit membuat lirikan matanya indah, seakan menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.

Wajah bersih mulus tersebut Sumi benar-benar terpanah pada laki-laki itu.

Namun sayang sekali, entah nasib Tio akan selalu begitu ataupun takdirnya mengantarkan dirinya harus bertemu dengan wanita, yang selalu menginginkan sesuatu harus selalu didapatkan.

Padahal kalau dibandingkan dengan Sophia sangat jauh sekali tertinggal, walau di ubah bagaimana pun Sumi tetaplah gadis desa, yang tak bisa pas memilih model outfitnya sendiri.

Disandingkan dengan Tio saja sudah jauh berbeda meskipun Sumi adalah atasan Tio .

Namun, tetap saja orang-orang melihatnya akan terpesona dengan Tio seorang, bahkan Sumi kerap diperlakukan tidak adil jika mereka sedang bersama ketika tidak bekerja.

Seperti di area mall saja, Sumi selalu di kucilkan dari pandangan orang-orang, mereka lebih memilih untuk mendekati Tio, ketimbang harus mengajak ngobrol Sumi.

Namun, Tio yang di buat mabuk kepayang selalu saja melibatkan Sumi, dalam hal apapun itu.

Tidak bisa di pungkiri jika mereka selalu bersama.

Namun, ambisi dan keangkuhan sumi, yang selalu tak ingin pernah lepas dari pemuda tampan itu.

Entahlah Sumi semakin tergila-gila dengan Tio.

Sumi juga tak memperdulikan bagaimana caranya agar tidak menggunakan pelet itu lagi. Karena dengan pelet tersebut la Sumi bisa mendapatkan Tio.

Namun, apakah sampai menikah nanti ia akan tetap menggunakan pelet menjijikkan tersebut. Ia hanya sangat takut kehilangan Tio, ia akan selalu menghalalkan segala cara supaya Tio bertekuk lutut dengannya.

Sumi hanya ingin Tio bergantung pada dirinya, dengan adanya itu Tio tak akan bisa jauh darinya, dan tak bisa hidup tanpanya.

Memang terlihat licik, namun selama ini ia mampu menutupi kelicikannya tersebut.

***

Model satu persatu mulai keluar dari pintu kecil di samping panggung, berjalan lenggak lenggok sampai ke depan pentas, yang sudah disediakan sedemikian rupa.

Seakan menambah kesan mewah tempat tersebut, Sumi melakukan tugasnya dengan siap siaga memotret semua model yang sedang bergaya di atas panggung.

Dahi Sumi sedikit mengkerut saat Tio keluar dari dalam pintu, diiringi dengan Sophia di sebelahnya. Seakan sengaja membuat Sumi cemburu.

Namun, ia tetap menjalankan kerja secara profesional. Di jepret lah momen di mana Tio sedang bergaya di atas panggung.

Sungguh Sumi benar-benar merasa senang melihat Tio, yang sangat sempurna di matanya. Namun, senyuman Sumi sedikit luntur ketika ia juga melihat di sebelah Tio, terdapat Sophia juga ikut di potret Sumi.

Pasangan yang serasi namun sayang semua itu terhalang oleh Sumi,

"walau, aku, tak secantik dirimu, namun,Tio, tak akan bisa bersamamu!" gumam Sumi lirih.

Membuat senyum licik di bibirnya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, mereka benar-benar bekerja seharian penuh.

Hanya istirahat sebentar, yang membuat mereka rehat sejenak.

Setelah acara selesai, semua rekan terlihat lelah dan mulai kehabisan tenaga. Termasuk juga sumi.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 54. Benang Terakhir

    Naya jatuh terduduk, jarum bening di tangannya kini punya garis kesembilan. Garis berwarna merah muda. Rumput bening di halaman berdiri lagi dengan tegak, Naya tersenyum rasanya lelah sekali. “Kak, ternyata menjahit orang jahat juga bagian dari menjaga ya?” Angin menjawab dengan desiran pelan, malamnya ia menulis di buku kecilnya. “Hari ini benang kesembilan, Sophia bukan dijahit tapi sengaja dipulangkan, ternyata ada orang yang benangnya kusut karena tidak pernah diberi rumah dan tugasku memberi jalan pulang,”Naya menutup buku, di luar saung Tio datang lagi kali ini bersama Sophia. Ia sedang membawa benang putihnya sendiri, bahkan sudah tidak kusut lagi. “Latihan,” katanya sambil tersenyum malu. Naya mengangguk, kini Desanya semakin tenang. Karena sekarang, bahkan benang yang paling kusut pun punya kesempatan untuk pulang. Naya mengerti satu hal lagi, kak umi memilih kosong agar orang lain bisa bebas. Naya memilih menjaga agar orang lain bisa pulang, dua sisi dari benang yang

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 53. Benang yang Kembali dari Kota

    Tiga malam setelah Tio berhasil dirapikan, rumput bening di halaman Naya telah berubah menjadi layu. Bukan mati hanya menunduk, semua helainya mengarah ke timur. Ke arah kota. Naya duduk di depannya dengan hati yang cemas dan gelisah, jarum bening ia letakkan di pangkuannya. Garis pelangi di jarum itu kini sudah menjadi delapan. “Kak Sumi,” bisiknya. “Ada yang tidak beres?”Rumput itu bergetar sekali dengan keras, angin malam itu datang dengan membawa bau. Bau parfum yang mahal, Naya menebaknya itu datang dari kota. Namun bau itu tidak seharusnya ada di desa mereka. Pagi harinya, ada seorang kurir yang datang ke saungnya. Ia tampak membawa kotak kardus, tidak ada nama pengirim yang ada hanya alamat Naya, itupun ditulis dengan spidol hitam. “Dari kota,” kata kurir. “Katanya penting!”Naya membuka kotak itu di luar saung, tidak di dalam karena takut akan terjadi apa-apa. Di dalamnya ada bungkusan kain sutra berwarna merah. Saat kain itu dibuka, Naya mundur dengan terkejut. “Ben

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 52. Naya Menjadi Dukun Baru di Desa

    Berita menyebar dengan sangat cepat, karena anak Mbak Lurah bisa berbicara lagi. Bahkan Mbak Lurah merekomendasikannya, pada orang-orang kota dan juga desa sebrang. Malam itu juga Dimas makan hingga habis dua piring, membuat ibunya merasa sangat senang. Karena Naya yang masih kecil sudah bisa menyembuhkan orang. Desas-desus warga terdengar di telinga Naya, rumah bekas Pak Wira, atapnya roboh dengan sendirinya di keesokan paginya. Orang-orang desa mulai menyebut saung itu “Saung Benang”. Bahkan mereka juga ikut menjaga tempat itu, juga menjaga Naya. Hari berikutnya datanglah Pak Karso, seorang petani tua. Benangnya berwarna kuning, Naya melihatnya karena ia berhutang pada tengkulak. Bahkan benang itu menjadi sangat kusut, membuatnya seakan menarik perutnya tiap malam. Naya berhasil meluruskannya kembali. Lalu datang Mbak Yuni, seorang janda muda yang cantik menawan. Benangnya berwarna merah, benang itu ditarik mantan suaminya dari kota. Membuat hidup Mbak Yani terasa kosong dan

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 51. Jahitan Pertama Naya

    Di malam Jumat Kliwon, Naya selalu duduk di depan rumput bening itu. Ia bercerita tentang desa dan tentang orang, rumput itu selalu bergetar sebagai jawaban. Karena Naya sangat yakin bahwa Kak Sumi tidak benar-benar pergi, bagi Naya kak Sumi menjadi langit dan angin. Menjadi benang bening yang sekarang ada di tangan Naya. Selama ada satu orang yang memilih untuk menjaga, bukan mengikat maka desa tidak akan pernah punya rantai lagi. Naya kini sudah mendirikan Saung yang berdiri di pematang, menghadap sawah dindingnya terbuat dari bambu. Atapnya ijuk dan di dalamnya hanya ada tikar, kendi air, dan satu kotak kayu kecil. Di dalam kotak itu tersimpan dengan baik jarum bening pemberian Sumi, belum pernah ia pakai. Tiga minggu sejak Pak Wira diusir, orang mulai datang kesana. Bukan karena sakit, bukan pula karena kerasukan tapi karena benangnya terasa salah.Mereka berkata bahwa dadanya sesak saat melewati rumah seseorang, jari mereka gatal saat memegang uang dari orang tertentu. Bahk

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 50. Penjaga Baru

    Naya tidak menjawab. “Aku tahu kamu bisa melihat benang, makanya aku datang karena desa ini kosong sekarang dan tempat kosong, harus diisi!”Ia menunjuk koper. “Ini warisan, sama seperti buku kulit kambing milik Buyutnya Sumi hanya berbeda bentuk!”“Ka– kkamu mau mengikat kami lagi?” tanya Naya, suaranya kecil tapi jelas. Pak Wira tertawa. “Mengikat itu kata kasar, aku hanya mau menata, manusia tanpa ikatan itu akan kacau,” Naya mengangkat boneka kainnya. “Benangku tidak akan bisa kamu sentuh!”Benang bening itu melesat, menusuk koper. Koper itu berteriak bukan suara manusia, tapi suara rantai. Pak Wira terkejut, ia meraih kopernya tapi sudah terlambat. Benang bening itu membelah koper, gulungan benang di dalamnya perlahan berhamburan. Saat benang merah darah itu menyentuh lantai, tanah mulai bergetar. Dari retakan sumur tua, asap hitam itu keluar lagi. “Tidak!” Pak Wira menjerit. “Itu Rantai Iblis! Kamu membebaskannya!” Naya mundur. “Kamu yang membawanya!”Asap itu berkumpul,

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 49. Sumi Dayang Desa

    Dari dadanya keluar benang merah, tipis, kuat dan bebas. Ia menatap ke arah sumur yang sudah rata dengan tanah. “Terima kasih, Kak Sumi,” bisiknya. Angin seakan datang membawa jawaban, bukan sepatah kata tapi hanya suara desir. Seperti seseorang mengangguk dari jauh. Di tempat Sumi berdiri terakhir kali, tumbuh satu helai rumput hitam satu-satunya. Naya memetiknya, lalu ia lilitkan di pergelangan tangannya. Bukan untuk mengikat, tapi ini ia anggap untuk mengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang memilih kosong, agar orang lain bisa bebas. Naya akhirnya tahu bahwa rantai yang paling berat bukanlah dari besi, tapi dari harapan untuk dicintai dan mencintai. Bahwa kadang, kemenangan sejati adalah saat kamu bisa melepaskan semuanya, termasuk dirimu sendiri. Tiga hari setelah Sumi menghilang, desa berubah dalam sekejap mata. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab.Tidak ada anak yang menangis tengah malam karena dicekik sesuatu yang tak terlihat, tidak ada lagi yang me

  • Pelet Kopi Darah Haid   Bab 7. Mengulur Waktu Part 1

    Sudah saatnya mereka pulang. Tio dan Sophia berpamitan kepada Simbah dan istri, untuk kembali pulang.Tak lupa dengan wejangan Simbah didalam tadi, Tio mulai mengemudikan mobil. Tidak ada obrolan, yang menghidupkan suasana didalam mobil yang mulai melaju. Pelan-pelan mulai meninggalkan kediaman S

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 6. sedikit lagi akan terungkap

    Mereka Kembali ke rumah masing-masing, atau kontrakan masing-masing.Sumi kembali ke kontrakannya untuk membersihkan diri, dan mengistirahatkan badannya.Untung saja besok mereka dan tim, hanya ada job di sore hari. Membuat Sumi agak tenang untuk mengistirahatkan badannya dengan nyenyak, setidaknya

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 4. efek dari pelet

    Sophia berjalan masuk ke dalam toilet, yang bersebelahan dengan toilet yang di masuki Sumi.Sumi kembali melakukan aksi gilanya tersebut, ia membuka celana dan memasukkan darah segarnya ke dalam segelas kopi.Tak lupa untuk membaca jampi jampi menggunakan nama sang kekasih.Bau darah yang ia buka m

  • Pelet Kopi Darah Haid   bab 3. wanita penggoda

    Kini sesi pemotretan sedang fokus kepada Sophia dan Tio. Sumi yang terbakar api cemburu tersebut, masih bisa mengendalikan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh.Disana terlihat sekali tangan Sophia yang sudah berani mencolek salah satu dada bidang laki-laki tampan itu.Tak sesekali juga Sumi meli

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status